Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAN SORE ITU TERJADI
Sore itu, Ana masih berada di perpustakaan Joglo pribadi milik Adi. Mungkin karena hujan deras yang mengguyur sejak siang tadi, hingga sore menjelang tidak ada satu pun pengunjung yang datang, hanya ada mereka berdua di antara aroma buku dan kayu jati. Dan di atas meja diantara buku-buku, draf skripsi Ana penuh coretan merah dari tangan Adi.
Ana berdiri di depan meja tempat Adi duduk dengan wajah kesal.
“Mas… tapi ini sudah revisi kesekian, minggu ini,” ucapnya dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak pecah menjadi tangisan frustrasi. Karena di luar kampus, Ana memanggil Adi dengan panggilan santai.
Adi bersandar di kursinya. Ia menatap Ana dengan tatapan datar yang sanggup membuat nyali mahasiswa paling berani sekalipun menciut. “Tapi ini masih belum cukup, Ana.”
Ana mendengus pelan, namun tawa sarkatik lolos dari bibirnya. “Mas apa nggak terlalu perfeksionis?.”
Mendengar itu, Adi perlahan bangkit. Langkahnya tenang namun mengintimidasi saat ia mengitari meja dan berhenti tepat di depan Ana. Jarak mereka kini terkikis.
“Kalau kamu tidak keras kepala,” bisik Adi dengan nada rendah yang berat, “skripsi ini mungkin sudah selesai sejak lama.”
Ana mengangkat dagu menantang, emosinya benar-benar tersulut. Namun dia tetap mencoba menata nada bicaranya agar tidak terlalu frontal, “Kalau mas nggak terlalu perfeksionis, aku juga nggak akan segini keras kepalanya. Apa yang aku sampaikan juga berdasarkan data lho mas.”
Hening menyergap. Mereka saling menatap dalam jarak yang berbahaya. Begitu dekat hingga Ana bisa merasakan embusan napas Adi yang hangat menerpa keningnya. Di tengah kemarahan itu, sesuatu yang selama ini ia tekan dalam-dalam mendadak bergejolak. Ada getaran aneh di dadanya yang menolak untuk diabaikan—sebuah ketegangan yang bukan lagi soal akademik.
Tatapan Adi berubah. Ketajaman yang biasanya dingin kini terasa lebih dalam, lebih gelap. “Kenapa kamu selalu menentang saya?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan pada diri sendiri.
Ana menghela napas pelan, mencoba mendapatkan kembali kontrol dirinya “Saya nggak menentang, pak. Tapi Bapak kayaknya gak pernah mau mendengar masukan saya.” Ana sudah benar-benar kesal sengaja beralih ke panggilan formal untuk membentengi diri.
Adi menggeleng kecil. “Saya mau skripsi kamu sempurna, makanya kamu harus mendengarkan arahan saya."
"Tapi ini skripsi saya, pak. Bukan skripsi Bapak. Saya punya cara pandang saya sendiri yang dapat saya pertanggungjawabkan sesuai dengan konteks dari pandangan generasi saya." Ana sudah benar-benar kehilangan kesabaran.
Adi menatap Ana lekat-lekat, memerhatikan bagaimana gadis di depannya ini terengah karena amarah. "Kamu benar-benar gadis yang menyulitkan."
“Bapak juga sama, bapak sangat menyulitkan saya.”
Suasana mendadak kaku. Ana tanpa sadar menggigit bibir bawahnya—bagi Ana ini adalah sebuah mekanisme pertahanan agar tidak memaki pria di depannya. Namun bagi Adi, gestur itu adalah pemantik. Pertahanannya yang dibangun dengan logika dan profesionalisme runtuh seketika saat melihat bibir yang memerah karena gigitan itu.
Tanpa peringatan, Adi meraih pergelangan tangan Ana dan menariknya mendekat. Ana terkesiap, namun ia tidak menarik diri. Matanya justru menatap Adi semakin tajam, seolah berani bertaruh sejauh mana pria ini akan melangkah.
“Ini salah,” gumam Adi dengan suara serak, matanya terkunci pada bibir Ana.
Ana mengangkat alis, keberaniannya memuncak. “Lalu kenapa Bapak nggak melepaskan saya?”
Adi tidak menjawab dengan kata-kata. Bukannya melepaskan, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Ana, mengunci tubuh gadis itu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. Logika telah kalah. Adi merunduk dan membungkam bibir Ana dengan ciuman.
Ciuman itu awalnya terasa seperti sebuah ledakan singkat—sebuah kesalahan yang bisa dihentikan dalam sekejap. Namun, Ana tidak menjauh dan justru membalasnya, Ia semakin mendekat dan mulai membuka mulutnya, seakan memberi sinyal agar Adi melakukan hal yang lebih jauh. Ciuman itu berubah menjadi lebih dalam. Lebih panas.
Semua ketegangan yang mereka tahan selama berbulan-bulan akhirnya menemukan jalan keluar. Ana mencengkeram kerah kemeja Adi. Sementara kedua tangan Adi secara refleks meraih pinggang Ana, menariknya lebih dekat. Jarak di antara mereka benar-benar hilang. Napas mereka bercampur. Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang. Adi akhirnya menarik diri sedikit, napasnya berat. Matanya menatap Ana dengan campuran kaget dan keinginan yang belum sepenuhnya hilang.
“Ana…”
Suara itu rendah. Hampir seperti peringatan pada dirinya sendiri. Namun Ana justru tersenyum tipis. Matanya masih menantang.
“Jadi… revisi saya masih salah juga, Pak?”
Adi tertawa pendek, suara tawa yang jarang didengar siapa pun. Ia tidak menyangka dalam situasi seintim ini, Ana masih sempat melontarkan candaan yang menantang. Menyadari bahwa Ana menikmati setiap detiknya, Adi tidak lagi memberi celah. Ia kembali menciumnya—kali ini tanpa keraguan. Lebih dalam, lebih menuntut, sesekali menyesap bibir Ana seolah ingin menuntaskan seluruh dahaga yang ia tahan selama ini di balik tumpukan buku dan coretan merah.
- - -
Sore itu, ruang baca di perpustakaan Joglo bukan lagi sekadar ruangan tempat mereka bertemu untuk bimbingan skripsi, ruangan itu telah berubah menjadi saksi bisu dari sebuah ledakan emosi yang selama ini tertimbun di balik tumpukan jurnal Psikologi dan perdebatan metodologi penelitian.
Napas Adi masih memburu, terasa hangat di permukaan kulit wajah Ana. Jarak mereka masih sangat dekat, hanya menyisakan beberapa sentimeter ruang kosong yang terasa bergetar oleh sisa-sisa adrenalin.
Ana tidak mundur. Ia tetap berdiri di sana, menatap lurus ke dalam mata tajam di balik kacamata tipis itu. Tatapan yang biasanya membuat nyali mahasiswa menciut, kini terlihat rapuh, penuh keterkejutan, sekaligus keinginan yang belum sepenuhnya padam.
Adi tertawa pendek—tawa kering yang lebih terdengar seperti ejekan untuk dirinya sendiri. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menarik kembali sisa-sisa kendali diri yang baru saja hancur berkeping-keping.
“Ana…” suaranya rendah, nyaris menyerupai bisikan parau.
Ana masih berdiri kokoh, dagunya terangkat sedikit, mempertahankan harga diri yang selalu menjadi ciri khasnya di depan Adi. “Iya, Pak?”
Panggilan "Pak" itu terdengar kontras, hampir ironis, mengingat apa yang baru saja mereka lakukan di atas meja penuh coretan merah itu. Adi mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya.
“Ini… tidak seharusnya terjadi,” kata Adi akhirnya. Kalimat klise yang sering diucapkan pria yang baru saja melanggar batasannya sendiri.
Ana memiringkan kepalanya sedikit, menatap Adi dengan binar jahil yang belum hilang. “Kenapa? Karena etika profesi?”
Adi menatapnya serius, mencoba mengembalikan wibawa dosennya yang kini terasa compang-camping. “Kamu mahasiswa bimbingan saya, Ana. Ada garis yang sangat jelas di antara kita.”
Ana menyilangkan tangan di depan dada, sama sekali tidak terlihat terintimidasi. “Menarik. Tadi Bapak tidak kelihatan terlalu memikirkan 'garis' itu saat menarik saya lebih dekat tadi.”
Adi terdiam, sudut bibirnya sedikit berkedut. Ia hampir tertawa mendengar keberanian gadis di depannya ini. “Itu karena kamu selalu memancing, Ana. Kamu tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk membuat saya kehilangan kesabaran.”
“Wah, sekarang saya yang disalahin?” sahut Ana dengan nada sarkas yang kental. “Bukankah Bapak yang selalu bilang kalau argumen saya kurang kuat? Padahal tadi itu cuman cara saya memperkuat argumen aja sih, Pak.”
Adi menggeleng pelan, masih tidak percaya dia kalah mempertahankan logika karena gadis di depannya.
*
Keheningan kembali menyergap. Ruangan itu semakin redup, Adi menyandarkan pinggulnya ke tepian meja kerjanya, menatap Ana yang kini tampak lebih lembut di bawah pencahayaan yang remang.
“Jadi… habis ini kita pura-pura tidak terjadi apa-apa?” tanya Ana santai. Pertanyaan itu terdengar ringan, namun keduanya tahu bahwa mulai detik ini, tidak akan ada yang benar-benar sama lagi.
Adi menatapnya dalam. “Menurut kamu sendiri gimana?”
Ana mengangkat bahu kecil. “Kalau di kelas kita tetap berdebat seperti biasa, mungkin orang-orang juga nggak akan curiga. Lagipula, siapa yang percaya kalau dosen killer paling dingin se-fakultas ini bisa khilaf hanya karena revisi skripsi?”
Adi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini tidak mengandung nada merendahkan. “Orang memang tidak akan pernah curiga pada apa yang tidak ingin mereka lihat.”
Ana menatapnya penuh arti. “Masalahnya bukan apa yang dilihat orang, Pak. Masalahnya ada di sini,” katanya sambil menunjuk dadanya sendiri, lalu beralih menunjuk dada Adi.
Adi terdiam. Ia memahami maksudnya. Rahasia ini bukan tentang opini publik, tapi tentang bagaimana mereka akan menatap satu sama lain di bimbingan-bimbingan berikutnya. Bagaimana ia bisa tetap objektif mencoret-coret draf Ana jika ia baru saja merasakan kehangatan napas gadis itu?.
Ana kemudian mengalihkan pandangannya ke meja, tempat draf skripsinya tergeletak dengan penuh noda tinta merah—jejak-jejak kekejaman intelektual Adi. Ia mendesah kecil sambil mengambil map tersebut.
“Masih banyak revisi ya, Pak?” gumamnya sambil membolak-balik halaman.
Adi mendekat lagi sedikit ke arah meja, aura profesionalnya perlahan-lahan kembali meski tidak sepenuhnya. “Iya. Bab empat kamu masih butuh penguatan di bagian analisis data primer.”
Ana menatapnya sebentar, matanya menyipit penuh selidik. “Bapak tetap bakal jadi dosen killer juga habis ini? Nggak ada diskon sedikit pun?”
Adi menatap balik tanpa ragu, matanya kembali tajam namun kali ini terselip kehangatan yang asing. “Untuk standar skripsi kamu? Tetap. Saya tidak akan meloloskan tulisan yang medioker hanya karena kejadian tadi.”
Ana tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan jujur. “Ya ampun. Benar-benar nggak ada ampun ya pak dosen?.”
Ia menutup map skripsinya dengan suara "plak" yang mantap, lalu memasukkannya ke dalam tas selempangnya. “Baru juga habis ciuman panas, hitungan menit kemudian sudah disuruh revisi data primer. Bapak benar-benar tidak punya perasaan.” Ana menyindir dengan candaan sarkas.
Adi akhirnya benar-benar tertawa pelan kali ini. Suara tawa yang sangat jarang terdengar, tawa itu membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda, jauh lebih manusiawi di mata Ana.
Ana memperhatikannya sebentar, menikmati pemandangan langka itu sebelum ia memutuskan untuk mengakhiri sore yang gila ini. Ia mengambil tasnya dan merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.
“yaudah kalau begitu, Saya pulang dulu, mas...eh pak,” pamitnya.
Adi tersenyum menanggapi candaan Ana, lalu mengangguk, kembali menjadi sosok dosen yang berwibawa meski matanya masih mengikuti setiap gerak-gerik Ana. “Besok pagi, kirim revisinya lagi ke email saya. Jangan telat.”
Ana berhenti tepat di depan pintu kayu ruangan itu. Ia menoleh sedikit ke arah Adi, rambutnya yang tergerai jatuh menutupi sebagian wajah cantiknya. Tatapan mereka bertemu kembali untuk terakhir kalinya di hari itu. Kali ini suasananya lebih tenang, namun jauh lebih rumit daripada soal-soal teori Psikologi mana pun.
Ana tersenyum kecil—senyum manis yang jarang ia tunjukkan di dalam kelas. “Baik, Pak Adi.”
Lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang kini terasa berbeda di dalam ruangan itu.
Adi tetap berdiri di tempatnya selama beberapa saat, mendengarkan suara langkah kaki Ana yang menjauh. Matanya jatuh pada tumpukan buku di mejanya, lalu beralih ke kursi kosong tempat Ana duduk tadi. Ia menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis masih tertinggal di sudut bibirnya.
“Gadis keras kepala…” gumamnya pelan.
Ia tahu, mulai besok pagi, ia akan kembali menjadi Pak Adi yang dingin dan perfeksionis. Ia akan kembali mencoret-coret draf Ana dengan pena merahnya. Namun ia juga tahu satu hal pasti: setiap debat, setiap kerutan di dahi Ana, dan setiap tantangan yang dilontarkan gadis itu, kini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
- - -
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍