Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan pemilik kontrakan
Elang merasa lebih lega setelah ia memberi izin dan meminta izin pada pemilik kontrakan soal keberadaan Arumi di kontrakannya .
"Berhubung urusannya sudah selesai ,saya pamit dulu ya, pak,soalnya istri saya menunggu ."
"Nanti dulu lah Nak Elang ,belum terlalu malam juga ,kita ngobrol dulu ,ngopi - ngopi dulu ."
"Tapi ..pak ."
"Sudah ... Ayo duduk dulu ,kita cerita cerita dulu ngapa juga buru - buru pulang ." Pak Hadi menarik tangan Elang untuk kembali duduk ,istrinya sudah membuatkan kopi untuknya ,Elang tidak bisa menolak dia hanya bisa pasrah dan kembali duduk ditempatnya .
"Kita ngobrol -ngobrol dulu ,sudah lama kita tidak ngobrol ."
Setelah urusan laporan selesai, suasana menjadi lebih cair. Pak Ridwan mulai menggoda Elang dengan senyum jahilnya.melihat Elang yang nampak tidak tenang
"Cie... pengantin baru pengen cepat-cepat pulang ya? Padahal biasanya betah duduk di sini sampai jam dua pagi."
Wajah Elang seketika memerah. Ia yang biasanya terlihat kaku dan serius, kini tampak salah tingkah."Ah, Bapak ini ... bisa saja."
"Ya wajar, Pak Malam pertama mana boleh dilewatkan dengan main catur!" timpal Ibu Hadi yang ikut-ikutan menggoda.
Tawa meledak di teras itu, membuat Elang semakin menundukkan kepala karena malu. Namun, di balik tawa mereka, ada rasa haru yang menyelusup. Mereka senang pemuda sebaik Elang akhirnya menemukan pendamping, meski caranya sangat tidak biasa.
"Tapi Nak Elang, Ibu masih penasaran," kata Ibu Hadi lagi, seolah tak mau melepaskan mangsanya. "Bagaimana ceritanya sampai bisa bertemu Arumi di taman tadi? Padahal katanya belum pernah kenal sebelumnya."
Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Awalnya saya hanya berniat menawarkan bakso bakar seperti biasa, Bu. Kebetulan malam Minggu, saya berharap dagangan cepat habis karena banyak anak muda nongkrong. Lalu saya melihat ada wanita duduk sendirian, melamun dengan wajah sangat sedih. Niatnya menawarkan dagangan, eh ... malah berakhir di depan penghulu," ceritanya sambil terkekeh canggung.
"Wah, kalau dijadikan judul novel, ini cocoknya: jodoh Dadakanku Penjual Bakso Bakar!" seru Pak Ridwan disambut tawa yang lain.
"Iya, itu bagus!" sahut Ibu Hadi.
Elang kembali menggaruk tengkuknya lagi, wajahnya masih memerah karena godaan yang bertubi-tubi. Tawa Pak Ridwan dan Ibu Hadi masih bergema di teras kecil itu, sementara aroma kopi hitam yang baru diseduh menyelimuti udara malam.
“Wah, jodoh dadakan penjual bakso bakar! Judulnya mantap sekali, Pak!” seru Ibu Hadi sambil menepuk pahanya sendiri. “Bayangin, Nak Elang cuma mau jualan bakso, eh malah dapat istri cantik. Orang-orang bilang jualan bakso itu rezekinya nomor satu, tapi ini sudah level dewa!”
Pak Hadi ikut tertawa sambil mengaduk kopinya. “Iya, biasanya penjual bakso cuma dapat duit receh. Elang ini dapat bonus istri sekaligus. Untung banget, Nak. Tapi serius, kok bisa secepat itu? Dari taman langsung ke penghulu? Kamu nggak kasih waktu Arumi buat mikir dulu apa?”
Elang tersenyum canggung, tangannya memegang cangkir kopi lebih erat. “Ya, Pak … semuanya terjadi begitu saja. Saya lihat dia sedih banget, matanya bengkak. Saya cuma mau nawarin bakso bakar, tapi pas ngobrol, dia cerita kalau keluarganya mau jodohin dia sama orang yang nggak dia suka. Dia bilang lebih baik kawin sama siapa saja daripada dipaksa. Nah, kebetulan saya ada di depannya. Jadi … ya gitu deh.”
“Cieeee … pahlawan bakso bakar!” goda Pak Ridwan lagi dengan suara melengking.
“Biasanya cowok nunggu bertahun-tahun buat dapat istri. Elang cuma nunggu sepuluh menit di taman, langsung dapat. Enak banget sih jadi laki-laki baik hati!”
Ibu Hadi menyikut suaminya pelan. “Eh, jangan cuma digoda. Kasihan Nak Elang. Tapi bener lho, Bu. Malam ini kan malam pertamanya. Pasti dia gelisah pengen cepat pulang. Istrinya lagi nunggu di kamar, sendirian … siapa tahu lagi mandi, pakai baju tidur yang tipis-tipis ... ”
“Buuu!” Elang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tawa meledak lagi di teras. Bahkan Pak Hadi yang biasanya pendiam ikut terkekeh sampai bahunya bergoyang.
“Ya ampun, Ibu ini!” kata Pak Ridwan sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa. “Jangan bikin Elang tambah merah mukanya. Nanti Arumi lihat suaminya pulang kayak kepiting rebus.”
Elang menggeleng-geleng kepala, tapi sudut bibirnya tetap tersenyum. “Bapak-Ibu ini … biasanya saya betah ngobrol sampai subuh, tapi malam ini memang beda. Arumi pasti lagi bingung sendiri di kamar. Saya nggak mau dia merasa ditinggalin.”
Ibu Hadi mengangguk-ngangguk mengerti, tapi matanya masih berbinar jahil. “Pantesan buru-buru. Malam pertama itu penting, Nak. Jangan sampai dilewatin cuma karena ngopi sama kami. Tapi ingat ya, jangan kasar-kasar. Arumi kan kelihatan lembut. Pelan-pelan aja, biar dia nyaman.”
“Bu … saya mohon…” Elang nyaris tertawa karena malu. “Kita ngobrol yang lain dong. Ini sudah keterlaluan.”
Pak Hadi akhirnya kasihan juga. “Sudah, sudah. Jangan digoda terus. Tapi serius, Nak Elang. Kalau ada apa-apa, bilang aja sama kami. Kontrakan ini rumah kedua buat kamu. Kalau Arumi butuh teman ngobrol atau bantu di dapur katering, bilang. Ibu senang ada yang bantu. Daripada dia sendirian di kamar terus, nanti bosan.”
“Terima kasih banyak, Bu. Nanti saya sampaikan,” jawab Elang tulus. “Arumi kelihatannya orangnya baik. Dia cuma butuh waktu buat adaptasi. Tapi saya janji, lain kali saya ajak dia ke sini.”
Pak Ridwan menepuk bahu Elang pelan. “Bagus. Kami senang lihat kamu bahagia. Dulu kamu selalu sendirian, sekarang ada yang nunggu di rumah. Rasanya lega ya?”
Elang mengangguk pelan. “Lega banget, Pak. Tadinya saya takut Arumi nyesel. Tapi setelah saya izin ke Bapak, dan dia juga sudah bilang oke, rasanya beban saya hilang.”
Suasana teras kembali hangat
Godaan-godaan tadi perlahan berganti obrolan ringan tentang rencana Elang ke depan, pekerjaan, dan bagaimana menjaga Arumi. Sesekali masih ada celetukan jahil dari Ibu Hadi, tapi Elang sudah mulai bisa menjawab dengan santai
"Eh, Nak Elang, lain kali ajak Arumi main ke sini ya. Ibu ingin kenalan. Kalau dia bosan di kamar, dia bisa bantu-bantu Ibu di dapur katering. Daripada sendirian, kan?"
"Terima kasih, Bu. Arumi sepertinya punya kesibukan sendiri, tapi nanti akan saya sampaikan tawarannya."
Tiba-tiba, Elang tersentak. Ia teringat jam di dinding rumah Pak Hadi sudah menunjukkan pukul dua belas malam "Astaghfirullah!"
"Ada apa, Nak Elang?" tanya mereka serentak.
"Saya terlalu lama di sini! Arumi pasti ketakutan sendirian di kamar. Ini pertama kalinya dia tinggal di lingkungan seperti ini, apalagi dia baru saja mengalami kejadian berat. Saya permisi dulu, Pak, Bu, Pak Ridwan!"
Dengan langkah terburu-buru,Elang berpamitan. Sebelum benar-benar pergi, ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya.
"Ini Pak, ada sedikit rezeki untuk beli kopi dan camilan teman main catur," ujarnya sambil meletakkan uang seratus lima puluh ribu rupiah
Tanpa menunggu penolakan, ia segera berlari kecil menuju kamar nomor tujuh. Pikirannya melayang pada sosok Arumi yang mungkin sedang meringkuk ketakutan di dalam kamar sempitnya. Ia merasa bersalah karena meninggalkan istrinya terlalu lama di tempat asing.