Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Pasar Gelap
Lin Xiaoyu tidak berbohong soal satu hal: ia benar-benar tahu jalan tikus di Kota Debu.
Gadis itu memimpin Zeng Niu dan Bao Tuo melewati labirin gang kumuh yang baunya merupakan perpaduan antara daging busuk dan dupa spiritual murahan. Setelah berbelok tajam di balik sebuah rumah bordil reyot, Xiaoyu berhenti di depan sebuah kedai daging anjing liar yang dijaga oleh dua pria berotot dengan golok besar.
Xiaoyu melemparkan sekeping koin tembaga berukir tengkorak kepada salah satu penjaga. Pria itu mendengus, lalu menggeser sebuah rak daging berdarah, memperlihatkan lorong tangga batu yang menurun ke dalam kegelapan.
"Pasar Gelap Bawah Tanah," bisik Xiaoyu, menoleh ke arah Zeng Niu dengan senyum kaku. "Tuan-tuan, ingat aturan utamanya: jangan pernah bertanya dari mana barang berasal, dan jangan pernah memperlihatkan kekayaan yang tidak bisa kalian lindungi dengan nyawa."
Bao Tuo menelan ludah. Si gendut itu sangat bersyukur atas insting penakutnya. Sebelum memasuki kota, ia telah diam-diam memindahkan material taring dan sayap kelelawar ke dalam sebuah karung goni bau, menyembunyikan cincin ruang penyimpanannya dalam-dalam di balik pakaian kotornya. Menggunakan Cincin Spasial di tempat seperti ini sama saja dengan menelanjangi diri di kandang serigala kelaparan.
Mereka menuruni tangga dan disambut oleh pemandangan yang membuat napas Bao Tuo sesak.
Ruangan bawah tanah itu sangat luas, diterangi oleh pendaran batu hijau. Ratusan kultivator berpakaian jubah hitam pekat atau bertopeng berjual-beli dalam suara bisikan. Ada yang menukar teknik kultivasi berlumur darah, ada yang menjual botol berisi pil penawar racun, dan ada yang melelang wanita fana berwajah cantik. Aura kelam dan niat membunuh menguar dari setiap sudut.
Zeng Niu melangkah dengan tenang. Tatapannya tidak tertuju pada barang-barang di lapak, melainkan menilai jalur evakuasi dan titik buta di ruangan tersebut. Pikirannya selalu bersiap untuk membunuh atau lari.
Xiaoyu membawa mereka ke sebuah meja batu di pojok ruangan. Di balik meja itu, duduk seorang lelaki tua kurus kering dengan satu mata putih buta dan mata lainnya menatap tajam seperti burung pemakan bangkai. Ia sedang mengisap pipa tembakau spiritual.
"Penatua Gui," sapa Xiaoyu dengan nada manis yang dibuat-buat. "Xiaoyu membawakanmu tamu. Mereka punya barang keras dari Hutan Kematian."
Penatua Gui menghembuskan asap hijau dari hidungnya. Matanya yang tajam menyapu Bao Tuo yang gemetar, lalu beralih ke Zeng Niu yang mengenakan baju compang-camping tanpa memancarkan Qi sedikit pun. Lelaki tua itu mendecakkan lidah meremehkan.
"Seorang kultivator gemuk Tahap Dua dan seorang budak fana? Hmph. Paling-paling hanya bangkai Serigala Retak," gerutu Penatua Gui. "Keluarkan barangnya. Waktuku adalah Kristal Roh."
Bao Tuo dengan enggan meletakkan karung goninya di atas meja dan membukanya.
Bau darah yang sangat pekat dan aura buas yang tertahan langsung menyeruak keluar. Penatua Gui yang awalnya bersandar santai, seketika mencondongkan tubuhnya ke depan. Mata tunggalnya membelalak lebar.
Di atas meja batu, tergeletak dua taring gergaji sepanjang lengan orang dewasa dan selembar kulit sayap yang tebalnya seperti zirah besi hitam.
"Taring... Kelelawar Wajah Manusia?" suara Penatua Gui bergetar kecil. "Dan kualitasnya... ini utuh! Tidak ada kerusakan akibat benturan energi pedang! Ini adalah material Yao Aberasi Tingkat Brutal!"
Hanya kultivator Foundation Establishment yang bisa membunuh monster Tingkat Brutal. Penatua Gui menatap dua pemuda di depannya dengan kecurigaan yang mendalam. Jelas mereka tidak membunuhnya sendiri. Mereka pasti memungut bangkai dari pertarungan master senior, pikir si tua licik itu.
Keserakahan menyala di mata Penatua Gui. Ia menekan tangannya ke atas sayap kulit itu dan menggelengkan kepala dengan ekspresi kecewa palsu.
"Sayang sekali," keluh Penatua Gui, menghela napas panjang. "Aura Qi kacaunya sudah banyak menguap. Kulitnya juga terlalu kaku untuk dijadikan jubah tingkat menengah. Karena Nona Xiaoyu yang membawa kalian, aku akan berbaik hati. Sepuluh keping Kristal Roh kelas rendah untuk semuanya."
"Sepuluh?!" Bao Tuo memekik, melupakan rasa takutnya sejenak. "Tuan Tua, kau merampok kami! Ini material Tingkat Brutal! Di Paviliun Dagang resmi, ini bernilai setidaknya empat puluh keping!"
"Ini Pasar Gelap, Bocah Gemuk!" Penatua Gui mendengus dingin. Seketika, aura Pengumpulan Qi Tahap 6 meledak dari tubuh rentanya, menekan Bao Tuo seperti batu penggilingan raksasa.
Bao Tuo langsung tersedak, mundur dua langkah dengan wajah pucat pasi. Lin Xiaoyu juga memucat, bersembunyi di balik punggung Bao Tuo.
"Ambil sepuluh keping itu dan pergi, atau aku akan melaporkan pada Geng Pasir Hitam bahwa kalian mencuri material ini dari wilayah mereka. Di sini, nyawa kalian berdua tidak bernilai setengah Kristal Roh pun!" ancam Penatua Gui, tersenyum kejam. Ini adalah taktik standarnya untuk memeras pengembara lemah.
Namun, senyum lelaki tua itu seketika pudar saat sebuah tangan kurus berlumur debu menutupi taring kelelawar di atas meja.
Zeng Niu melangkah maju. Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh tekanan Qi Tahap 6. Tubuh Penempatan Tubuh Tahap 4 miliknya jauh melampaui tekanan udara semacam itu.
Zeng Niu menatap lurus ke dalam mata Penatua Gui. Tatapan itu sedingin gletser, kosong dari emosi manusia, seperti dasar jurang yang menelan ribuan mayat. Niat membunuh yang murni dan absolut, yang ditempa dari mengunyah inti monster dan meminum darah, merembes keluar dari pori-pori Zeng Niu.
Penatua Gui merasa seolah seekor naga berdarah sedang menempelkan taring ke lehernya. Keringat dingin seketika membasahi dahi lelaki tua itu. Aura pembunuh pemuda fana ini... jauh lebih mengerikan daripada pembunuh bayaran mana pun yang pernah ia temui.
Tanpa memutuskan kontak mata, tangan kanan Zeng Niu mengambil sebuah pemberat timbangan batu keras sebesar kepalan tangan dari atas meja Penatua Gui.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Zeng Niu meremas pemberat batu itu.
KRETAK! PRANG!
Batu padat yang digunakan untuk menimbang emas itu hancur berkeping-keping di dalam cengkeraman tangan kosong Zeng Niu, berubah menjadi bubuk kerikil yang berjatuhan dari sela-sela jarinya.
Mata Penatua Gui nyaris copot dari rongganya. Menghancurkan batu biasa itu mudah bagi kultivator dengan Qi, tapi menghancurkannya murni dengan cengkeraman otot daging fana tanpa setitik Qi pun?! Ini adalah Kultivator Fisik yang melampaui batas manusia! Pemuda kurus ini bisa memutar lehernya sebelum ia sempat merapalkan teknik pertahanan.
"Lima puluh Kristal Roh kelas rendah," ucap Zeng Niu, suaranya sangat pelan, namun menggema seperti vonis kematian di telinga Penatua Gui. "Dan informasi lengkap tentang ujian masuk Akademi Jiannan. Tolak, dan aku akan menjual barang ini ke tempat lain setelah aku menggunakan tulang rusukmu sebagai tusuk gigi."
Penatua Gui menelan ludah dengan susah payah. Niat membunuhnya menguap tak bersisa. Di dunia bawah, orang pintar tahu kapan harus mundur sebelum kepalanya terpisah dari leher.
"E-empat puluh lima! T-tuan, empat puluh lima adalah batas keuntunganku..." tawar Penatua Gui, suaranya bergetar.
Zeng Niu diam selama dua tarikan napas, lalu melepaskan taring tersebut. "Sepakat."
Lelaki tua itu segera merogoh laci dengan tangan gemetar, mengeluarkan sebuah kantong sutra kecil berisi empat puluh lima Kristal Roh kelas rendah yang memancarkan pendar biru menawan. Ia mendorongnya dengan cepat ke arah Bao Tuo.
"D-dan untuk informasi Akademi Jiannan..." Penatua Gui mengusap keringat di dahinya. "Pendaftaran dibuka tiga hari lagi, tepat saat Bulan Darah mencapai zenit. Tempatnya di Lembah Pedang Patah, seratus mil di utara kota ini. Tahun ini... Akademi sangat kekurangan murid karena serangan monster di perbatasan."
"Apa ujiannya?" tanya Zeng Niu singkat.
"Tiga tahap," jawab Penatua Gui cepat. "Pertama, Pilar Qi untuk mengukur batas kekuatan. Kedua, Tangga Langit untuk menguji tulang dan fondasi Dao. Dan yang ketiga... Formasi Ilusi Hati. Jika kalian tidak punya hati setegar baja, kalian akan mati gila di dalam sana. Hanya itu yang aku tahu, Tuan!"
Zeng Niu mengangguk kecil. Ia berbalik dan memberi isyarat pada Bao Tuo. Si gendut, yang masih tercengang melihat Zeng Niu memeras bos pasar gelap hanya dengan satu lirikan dan kepalan tangan, buru-buru memeluk kantong Kristal Roh itu seolah itu adalah nyawanya sendiri, lalu berlari mengekor Zeng Niu.
Begitu mereka keluar dari kedai daging, udara malam yang dingin menyambut mereka.
Lin Xiaoyu berjalan di belakang mereka dengan kepala tertunduk, meremas-remas ujung jubah kebesarannya. Otak liciknya bekerja keras. Ia telah melihat bagaimana Zeng Niu membunuh bos Geng Pasir Hitam di gerbang, dan kini, ia melihat pemuda ini menundukkan bos pasar gelap bawah tanah.
Bagi Gadis Tukang Tipu yang hidup sebatang kara, menempel pada paha yang kuat adalah satu-satunya cara bertahan hidup di Kota Debu. Dan paha pemuda dingin ini bukan sekadar kuat, ini adalah pilar baja pelapis maut!
Zeng Niu tiba-tiba berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Xiaoyu. Dari balik bajunya, Zeng Niu melemparkan lima keping Kristal Roh kelas rendah.
Xiaoyu menangkapnya dengan refleks pencuri yang cekatan. Matanya berbinar melihat kekayaan yang baru pertama kali ia pegang dalam jumlah sebanyak itu. Komisinya biasanya hanya beberapa keping perak!
"Ini bagianmu," desis Zeng Niu datar. "Urusan kita selesai. Pergilah."
Zeng Niu dan Bao Tuo kembali melangkah menjauh menuju penginapan kumuh.
Xiaoyu menggenggam lima Kristal Roh itu. Ini cukup untuk hidup nyaman selama sebulan penuh, atau melarikan diri ke kota lain. Namun, matanya yang polos sekaligus licik menatap punggung Zeng Niu yang semakin menjauh. Ia teringat cerita Penatua Gui tentang ujian Akademi Jiannan.
"Hei!" teriak Xiaoyu tiba-tiba, berlari kecil menyusul mereka.
Zeng Niu berhenti, tangannya sudah berada di gagang belati. "Kau ingin tanganku mengambil kembali batu itu dari tenggorokanmu?"
Xiaoyu menelan ludah ketakutan, tapi ia memaksakan sebuah senyum lebar. "K-kalian butuh pemandu ke Lembah Pedang Patah, kan? Di jalan ke sana ada banyak jebakan bandit! Dan... dan kudengar ujian Formasi Ilusi sangat mengerikan! Aku adalah ahli ilusi! Maksudku, yah, ilusi ringan... tapi aku tahu cara kerja formasi! Jika Tuan Pembunuh yang Terhormat membiarkanku ikut rombongan kalian... aku bisa membantu!"
Bao Tuo segera menengahi. "Saudara Niu, jangan dengarkan dia! Firasatku mengatakan dia hanya akan mencuri makanan kita!"
"Kalian tidak perlu memberiku makan! Aku bisa mencari sendiri!" balas Xiaoyu cepat, matanya menatap lurus ke arah Zeng Niu dengan determinasi yang jarang ia tunjukkan. "Di dunia ini, aku tidak punya siapa-siapa. Aku penipu karena jika aku jujur, aku sudah mati kelaparan. Biarkan aku ikut, dan aku bersumpah dengan jiwaku, ilusi murahan milikku ini akan menyelamatkan nyawa kalian!"
Zeng Niu menatap wajah Xiaoyu. Di balik kepolosannya yang dibuat-buat, ia bisa melihat keputusasaan yang sama dengan dirinya di dasar sumur Desa Daun Kering.
Zeng Niu melepaskan gagang belatinya.
"Jangan melambat," ucap Zeng Niu singkat, berbalik dan kembali berjalan.
Senyum cerah dan tulus (kali ini benar-benar tulus) mengembang di wajah Lin Xiaoyu. Ia melompat kegirangan dan segera berlari menyusul Bao Tuo, mengabaikan tatapan sinis si gendut. Di bawah bayang-bayang Era Keruntuhan Surga, tiga orang buangan fana yang paling tidak mungkin bersatu kini berjalan bersama, menuju Akademi Jiannan.