Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.
Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.
Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - Uang Pertama
Pagi itu, Aureliana Virestha berdiri cukup lama di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamar rumah sakit. Pantulan wajahnya terlihat sama seperti hari-hari sebelumnya, sedikit pucat, mata masih menyimpan lelah yang belum sepenuhnya hilang, namun ada sesuatu yang berubah di balik tatapan itu. Ia tidak lagi terlihat hanya menahan keadaan, melainkan mulai memikirkan langkah berikutnya dengan lebih sadar.
Ia menunduk pelan, memperhatikan kantong kain sederhana yang ia genggam sejak tadi. Isinya tidak banyak, hanya beberapa sayuran kecil dan daun hijau yang ia pilih dengan hati-hati dari ruang miliknya. Ia sengaja tidak membawa terlalu banyak, karena ia tahu perubahan yang terlalu cepat hanya akan mengundang perhatian yang tidak ia butuhkan.
“Pelan saja… jangan terburu-buru.”
Kalimat itu keluar pelan dari bibirnya, lebih seperti pengingat daripada sekadar ucapan. Ia mengangkat kembali pandangannya ke cermin, memastikan ekspresinya tetap tenang sebelum akhirnya berbalik dan bersiap keluar dari ruangan.
Koridor rumah sakit masih belum terlalu ramai saat ia melangkah keluar. Beberapa perawat berjalan melewati, suara roda tempat tidur pasien terdengar samar di kejauhan, semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus, dan itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Begitu keluar dari gedung, udara pagi langsung menyambutnya. Tidak terlalu dingin, tetapi cukup segar untuk membuat pikirannya lebih jernih. Aureliana menarik napas perlahan, lalu mulai berjalan menuju jalan utama dengan langkah yang terukur.
Pasar kecil yang ia tuju tidak terlalu jauh. Tempat itu bukan pasar besar yang penuh hiruk pikuk, melainkan area sederhana dengan pedagang yang menjual kebutuhan sehari-hari. Ia sudah sering melewatinya, tetapi baru kali ini ia benar-benar datang dengan tujuan.
Saat sampai di sana, suasananya sudah mulai hidup. Beberapa pedagang sibuk menata barang dagangan, pembeli berjalan santai dari satu lapak ke lapak lain, suara percakapan bercampur dengan tawar-menawar ringan yang terdengar di berbagai sudut. Semuanya terasa biasa, namun bagi Aureliana, ini adalah sesuatu yang baru.
Ia tidak langsung masuk ke tengah keramaian. Ia berdiri sejenak di pinggir, memperhatikan pola yang terjadi di sana. Siapa yang ramai, siapa yang sepi, bagaimana orang memilih barang, bagaimana mereka berinteraksi. Semua itu ia amati dengan tenang, mencoba memahami tanpa terlihat mencurigakan.
Setelah beberapa saat, ia menemukan satu sudut kecil yang tidak terlalu mencolok. Tidak berada di jalur utama, tetapi masih cukup terlihat oleh orang yang lewat. Ia berjalan ke sana, lalu duduk perlahan sambil membuka kantong kain yang ia bawa.
Sayuran itu ia tata dengan rapi. Tidak banyak, namun cukup untuk terlihat menarik. Warna hijaunya segar, teksturnya masih bersih, jauh lebih baik dibanding beberapa yang ia lihat di sekitar. Ia menyadari hal itu, dan justru itulah yang membuatnya sedikit waspada.
Beberapa orang mulai melirik, meskipun hanya sekilas. Tidak ada yang langsung mendekat, tetapi tatapan itu cukup untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menahan diri untuk tidak terlihat gelisah, menjaga gerakannya tetap santai.
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berhenti di depannya. Tatapannya langsung tertuju pada sayuran yang ia jual, lalu sedikit menyipit seolah membandingkan dengan yang lain.
“Ini baru dipetik ya?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi cukup membuat Aureliana harus memilih kata dengan hati-hati. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, lalu memberikan senyum tipis yang tidak berlebihan.
“Iya, Bu. Masih segar.”
Wanita itu mengambil salah satu, memeriksa bagian daunnya, lalu mengangguk kecil. Tidak banyak bicara, ia langsung memilih beberapa dan menyerahkan uang tanpa banyak tawar-menawar. Transaksi itu berlangsung cepat, hampir terlalu mudah.
Aureliana menerima uang itu dengan tangan yang tetap berusaha stabil. Ia tidak langsung melihat jumlahnya, hanya menyimpannya dengan rapi. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang bergerak pelan.
Ini berbeda.
Sangat berbeda dari yang biasa ia lakukan.
Beberapa menit kemudian, pembeli lain datang. Seorang pria muda yang hanya membeli sedikit, lalu seorang ibu yang membawa anak kecil yang tampak penasaran dengan warna sayuran yang cerah. Percakapan yang terjadi singkat, tidak ada yang terlalu mencurigakan, dan semuanya berjalan dengan wajar.
Semakin lama, isi kantong kain itu semakin berkurang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa apa yang ia bawa memang layak dijual. Aureliana tidak banyak bicara, ia hanya menjawab seperlunya, membiarkan barang itu berbicara sendiri.
Setelah beberapa waktu, semua yang ia bawa habis. Tidak ada sisa yang tertinggal, dan itu membuatnya sedikit terdiam. Ia menatap tangannya yang kini menggenggam beberapa lembar uang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Jumlahnya memang tidak besar. Jika dibandingkan dengan pekerjaan tetap, ini mungkin terlihat kecil. Namun jika melihat bagaimana ia mendapatkannya, rasanya berbeda.
Ia tidak diperintah.
Ia tidak ditekan.
Ia tidak harus menahan ucapan orang lain.
Semua ini ia lakukan dengan kendali penuh di tangannya sendiri.
Aureliana berdiri perlahan, merapikan kantong kain yang kini kosong, lalu meninggalkan tempat itu tanpa menarik perhatian. Langkahnya terasa lebih ringan, meskipun pikirannya tetap waspada terhadap sekeliling.
Ia tidak langsung merasa aman.
Karena ia tahu, semakin sering ia melakukan ini, semakin besar kemungkinan seseorang akan mulai memperhatikan.
Dalam perjalanan kembali, ia menggenggam uang itu sedikit lebih erat. Perasaan di dalam dirinya tidak sepenuhnya tenang. Ada kepuasan, tetapi juga ada kegelisahan yang tidak bisa ia abaikan.
Ia harus berbohong.
Setiap kali ada yang bertanya, ia tidak bisa mengatakan dari mana semua ini berasal. Ia harus terlihat seperti pedagang biasa, seperti orang lain yang menjual hasil kebun.
Hal itu membuatnya tidak nyaman.
Namun ia juga tahu, ini adalah satu-satunya cara.
Jika ia jujur, semuanya bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Aureliana akhirnya kembali ke kamar rumah sakit sebelum siang. Tidak ada yang menanyakan ke mana ia pergi, tidak ada yang terlihat curiga. Semuanya berjalan seperti biasa, dan itu sedikit menenangkan.
Ia duduk di tempat tidur, membuka tangannya perlahan. Uang itu masih ada, tidak berubah, tidak menghilang. Ia menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
Bukan karena jumlahnya.
Melainkan karena arti di baliknya.
Ini adalah bukti bahwa ia bisa melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Bahwa hidupnya tidak sepenuhnya terkunci oleh keadaan seperti sebelumnya.
Namun tanpa ia sadari, apa yang terjadi di pasar tadi tidak sepenuhnya berlalu begitu saja.
Di salah satu sudut, ada seseorang yang memperhatikan lebih lama dari yang lain. Seorang pria yang tidak ikut membeli, tidak ikut bertanya, tetapi tidak juga pergi.
Ia berdiri dengan jarak yang cukup, memperhatikan sejak awal bagaimana Aureliana menata barang, bagaimana orang-orang tertarik, dan bagaimana semua itu terjual tanpa banyak usaha.
Ada sesuatu yang tidak biasa.
Kesegaran barang itu.
Jumlahnya yang pas.
Dan cara Aureliana bersikap yang terlihat terlalu hati-hati untuk pedagang biasa.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengamati, menyimpan detail kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain. Tatapannya tidak sekadar penasaran, melainkan seperti seseorang yang mencoba memahami sesuatu yang tersembunyi.
Ketika Aureliana pergi, ia tidak langsung mengikuti. Ia tetap berdiri di sana beberapa saat, seolah memastikan bahwa apa yang ia lihat memang nyata.
Lalu perlahan, ia berbalik dan berjalan ke arah yang berbeda.
Sementara itu, Aureliana sudah kembali ke dunianya sendiri. Ia duduk di tempat tidur, mulai memikirkan langkah berikutnya dengan lebih serius. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, seseorang mulai memperhatikan.
Dan perhatian seperti itu…
jarang berakhir sederhana.