"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelamatan
“Kenapa hidup ini nggak pernah berpihak sama aku?! Kenapa?!”
Teriakan Mika melayang di udara sore. Ia berdiri di ujung jembatan. Angin berembus kencang, membuat rambutnya berantakan.
“Kalian semua jahat!” Suara Mika semakin pecah.
Di kepalanya terngiang kembali suara-suara yang ia dengar sepanjang hari. Tawa, cemoohan, bisikan jijik.
“Diam ... kalian diam!” Ia menutup telinganya kuat-kuat. Mika terlihat seperti orang yang benar-benar trauma dan frustasi.
Perlahan ia melangkah naik ke atas pembatas jembatan. Air sungai yang gelap mengalir deras di bawahnya. Ia menarik napas panjang. Bersiap melompat.
Namun, tepat saat tubuhnya hendak terjun—sebuah tangan besar tiba-tiba meraih lengannya.
Tubuh Mika tertarik ke belakang. Ia jatuh ke dalam pelukan seseorang. Pikirannya yang sudah kacau membuat pandangannya terasa semakin berat. Segalanya berputar. Hingga akhirnya, Mika pingsan.
Sementara itu, Arlan sedang mencari Mika ke mana-mana. Ia memerintahkan semua bawahannya menyisir kota. CCTV jalan diperiksa satu per satu. Tetapi, Mika masih belum ditemukan.
“Kalian ini kerja kayak apa, sih?!” bentak Arlan. “Cuma cari satu orang aja nggak bisa?!”
Amarahnya memuncak.
Tetapi di balik itu, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. “Pasti sekarang dia lagi cemas, takut, dan asmanya bisa kambuh,” batinnya gelisah.
Arlan segera mengambil ponselnya. Ia menelepon dokter yang sebelumnya menangani Mika, yaitu Dokter Reza. Dokter kepercayaan keluarga Gavriel. Beberapa detik kemudian panggilan terangkat.
“Ada apa, Tuan?” tanya Dokter Reza.
“Tolong bantu aku cari keberadaan Mika sekarang.” Nada suara Arlan terdengar jauh lebih tegang dari biasanya. “Cek rumah sakit mana pun. Apa pun yang bisa kamu lakukan!”
Dokter itu langsung bingung. “Memang ada apa dengan gadis itu?”
Arlan menarik napas tajam. “Lakukan aja dulu yang aku minta,” katanya cepat. “Nanti aku jelasin.” Ia mengepalkan tangannya. “Aku takut penyakitnya kambuh.”
“Baiklah, segera aku cari.”
Tuut!
Panggilan terputus. Dokter itu menatap layar komputernya sambil mengernyit. “Ada apa sebenarnya dengan Mika?” gumamnya. “Kelihatannya Tuan Arlan khawatir banget—”
Ia menggeleng pelan. “Nggak biasanya dia kayak gitu ke seseorang.”
Dokter Reza mulai memeriksa data rumah sakit di komputernya. Sekitar satu jam kemudian—akhirnya ia menemukan sesuatu. Ia segera menelepon Arlan kembali.
“Tuan, Mika ada di Rumah Sakit Yos.”
Arlan langsung berdiri dari kursinya. Namun, dokter itu tiba-tiba menyadari sesuatu.
“Tunggu sebentar—” Ia menatap layar lagi. “Bukannya rumah sakit itu juga milik keluarga Gavriel Group?”
Dokter Reza terdengar semakin bingung. “Kenapa Mika bisa ada di sana?”
Arlan terdiam beberapa detik. “Temui aku di sana,” katanya singkat. “Kamu ikut aku. Aku tunggu.”
“Siap, Tuan.”
Dokter Reza langsung menutup telepon. Ia segera meraih laptop dan tas dinasnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia bergegas keluar menuju mobil.
Beberapa jam kemudian, Arlan dan Dokter Reza akhirnya tiba di Rumah Sakit Yos. Begitu masuk ke dalam, Dokter Reza langsung menuju resepsionis untuk menanyakan pasien yang baru saja datang.
Para petugas di sana baru menyadari bahwa Arlan berdiri di belakang dokter. Mereka langsung bergerak cepat membuka laporan pasien.
“Ada, Dok,” kata resepsionis sambil memeriksa layar komputer. “Pasiennya sedang berada di IGD.”
Arlan dan Dokter Reza langsung mempercepat langkah menuju ruang IGD. Begitu mereka masuk, semua perawat dan dokter yang sedang bertugas langsung memberi hormat pada Arlan.
“Siapa yang membawa pasien ini ke rumah sakit?” tanya Reza.
Seorang perawat segera menjawab. “Tristan Gavriel, Dok.”
Dokter Reza langsung menoleh ke arah Arlan. “Tuan ... itu ‘kan—”
Arlan mengepalkan tangannya. Nama itu jelas ia kenal. Namun, saat ini, kondisi Mika jauh lebih penting untuk ia ketahui.
“Gimana kondisinya?” tanya Arlan dingin.
“Untuk saat ini normal, Tuan,” jelas perawat itu. “Hanya ada sedikit guncangan.”
Ia kemudian melanjutkan. “Menurut penjelasan Tuan Tristan, dia menemukan gadis ini saat itu mau melompat dari jembatan.”
Dokter Reza langsung terkejut. Arlan justru semakin mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Saat mereka masih membicarakan kondisi Mika—perlahan gadis itu mulai membuka mata.
“Mika, kamu udah sadar?” tanya Dokter Reza lega.
Mika menyipitkan matanya. Ia mencoba bangun perlahan dan bersandar di tempat tidur. Ketika pandangannya mulai jelas—ia langsung melihat Arlan berdiri di sana. Air matanya tiba-tiba menetes.
“Tuan ... kamu apakan Mika?” tanya Dokter Reza pada Arlan.
Namun, sebelum Arlan sempat menjawab—Mika tiba-tiba menangis semakin keras. Ia langsung memeluk Arlan di depan dokter itu.
Dokter Reza langsung tertegun. Mika memeluk Arlan erat, seolah seluruh beban hidupnya tumpah dalam pelukan itu.
“Apa aku pantas dapat semua kesialan ini?” tanyanya pilu.
Ia menatap Arlan dengan mata penuh luka. “Jawab, Tuan—”
Dokter Reza melongo tanpa berkedip. Melihat situasi yang jelas bukan lagi urusannya, ia langsung berdeham pelan.
“Ehem ... sepertinya kalian perlu bicara.”
Ia segera berbalik dan berjalan keluar dari ruang IGD. “Selesaikan masalah kalian saja,” katanya sebelum menutup pintu.
Begitu berada di luar ruangan, Dokter Reza menggeleng tidak percaya.
“Wah, gadis itu agresif juga,” gumamnya pelan. “Bisa bikin Tuan Arlan yang terkenal anti perempuan sampai diam begitu.”
Ia terkekeh kecil. “Hebat juga.”
Sementara Mika masih menangis dipelukan Arlan.
“Kelinci kecil lagi rapuh!” batin Arlan sambil mengrigit giginya kesal.
Mika menangis tersedu-sedu. “Me-mereka menghinaku ... menertawakanku ... apa aku sehina itu?”
Arlan menuduk sedikit tepat di depan wajah Mika. Menatap mata sembabnya. Sambil memegang pundak Mika. “Kelinci kecil ... jangan menangis lagi, aku udah membereskan semuanya!”
“Haa.” Mata polos itu kembali menatap Arlan, seolah Mika bertanya, “Apakah benar?”
Mika langsung memeluk kembali Arlan. “Terima kasih, Tuan! ... terima kasih!”
Tiba-tiba Mika kembali pingsan. Arlan panik. Ia meminta perawat dan dokter memeriksanya. Sementara dokter yang bersama Arlan juga ikut panik.
“Tenangkan dirimu!” kata Dokter Reza.
“Aku nyesal udah lalai jaga dia!” Sesal Arlan, yang sebenarnya bukan salahnya.
Dokter tak banyak berkata. Ia mengelus punggung Arlan, agar dirinya lebih tenang.
Keesokan harinya, Mika sudah kembali segar. Wajahnya lebih cerah dari sebelumnya. Namun, Mika masih terlihat murung. Tak banyak yang ia katakan. Meskipun lebih segar dari sebelumnya, ia masih terlihat murung.
“Lagi mikirin apa?” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
Mika masih tertunduk murung. Pria itu semakin mendekat. Ia menyerahkan buket bunga di depan Mika.
Pandangan Mika langsung terfokus pada bunga itu. “Ada angin apa kamu ngasih aku bunga!” ujar Mika yang tidak langsung melihat siapa yang datang.
“Sepertinya aku selalu begini sama orang yang special!” katanya halus.
Mika masih melihat bunga itu. Senyum tipis terlihat di ujung bibirnya. “Hem, habis minum berapa botol sama ucapanmu sopan?!” Mika ketus.
Mika benar-benar tidak mengetahui siapa yang sedang ada dihadapannya. Ketika perawat memasuki kamar rawat Mika. Perawat itu terkejut. “Tuan Tristan!”
Mika langsung menganggak kepalanya. “Ka—kamu siapa?”
“Nona Mika, dia yang selamati Anda,” sahut perawat.