NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Kebangkitan Aura I

Matahari semakin naik lebih tinggi ke langit. Awan-awan putih yang tebal seperti kapas bergerak lebih lambat ke arah tenggara, pertanda bahwa hari ini tidak turun hujan.

Di lapangan pelatihan yang luas, banyak pria dan wanita terlihat sedang mengayunkan pedang. Mereka berlatih di bawah teriknya matahari sebagai latihan untuk bertahan di suhu yang selalu berubah-ubah karena lingkungannya.

Keringat mengalir deras di sekujur tubuh dan menetes di tanah. Baju yang mereka pakai bahkan basah kuyup dan terasa lengket di kulit seperti air lumpur yang menempel.

Napas yang terengah-engah menjadi bukti usaha keras mereka setelah berlatih. Tangan mereka kasar dan juga kaku, karena tidak pernah melepaskan genggamannya.

Itulah latihan yang harus mereka jalani sehari-hari.

Berat, tapi hasilnya akan sepadan dengan usaha mereka.

"Semuanya, biasakan untuk mengontrol kekuatan kalian."

Instruktur menarik pedangnya dan berjalan ke tengah.

"Perhatikan gerakan yang aku lakukan ini baik-baik."

Setelah memasang kuda-kuda, ia mengayunkan pedang.

Slash!

Instruktur memperagakan contohnya dengan melakukan tebasan bertempo lambat, dan boneka kayu yang ada di tengah lapangan terpotong dengan potongan sempurna.

Para prajurit takjub saat melihat adegan yang luar biasa itu. Boneka kayu dipotong dengan mudah seperti kertas.

"Jika kalian semua bisa mengatur kekuatan sesuka hati, itu artinya kalian bisa menjadi lebih kuat lagi." tegasnya.

Semua prajurit di lapangan pun serentak menjawab,

"Baik, instruktur Dio! Kami akan berusaha keras!"

Rasa lelah yang mereka rasakan perlahan hilang dibakar oleh api semangat mereka. Tanpa beristirahat, mereka mempraktikkan pelajaran yang baru saja mereka terima.

Suasana di lapangan pelatihan pun menjadi lebih panas.

Sementara itu...

Di antara para prajurit muda itu, Aurora juga ada di sana.

"Itu layak untuk dicoba!" ucapnya dengan nada rendah.

Setelah mengembalikan buku panduan yang dia pinjam, Aurora segera pergi menuju tempat pelatihan. Dia tidak boleh meninggalkan latihannya hanya karena kelelahan.

Berhentilah ketika sudah selesai, bukan ketika kau lelah.

Aurora mengingat kalimat yang diucapkan ibunya dulu, dan menjadikannya motivasi agar dia lebih giat berlatih.

"Kontrol kekuatan yang digunakan ..." gumamnya sambil melakukan kuda-kuda dan menarik napas yang panjang.

Berbekal pengalaman dan tekad, Aurora mencoba untuk meniru gerakan instruktur Dio barusan. Pada percobaan pertama, dia gagal karena sulit mengontrol kekuatannya.

Pada percobaan berikutnya juga seperti itu, tapi Aurora tidak putus semangat dan terus mencoba. Hingga pada akhirnya, dia berhasil meniru gerakan pedang instruktur.

Slash!

Boneka kayu terpotong dan jatuh ke atas tanah.

'A-aku berhasil!' batinnya dengan hati berbunga-bunga.

Meskipun sama, tapi kekuatan yang dihasilkan berbeda.

Hal itu bisa dilihat pada kerusakan yang diterima boneka kayu. Walaupun tidak mirip dalam segi kualitasnya, tapi itu sudah cukup untuk membuat semua prajurit kagum.

"Seperti yang diharapkan dari nona Aurora!"

"Bagaimana caranya dia meniru gerakan instruktur?"

Semuanya saling berdiskusi membicarakan Aurora.

Dan di sisi lain, instruktur Dio menatapnya dengan sinis.

'Dasar jenius berbakat sialan!' umpatnya dalam hati.

Gerakan yang barusan diperagakan instruktur Dio adalah salah satu bentuk teknik gerakan pedang yang dia miliki.

Instruktur Dio butuh waktu hampir tiga bulan lebih untuk menguasainya, namun Aurora bisa menguasainya dalam beberapa menit. Itulah yang menjadi letak kekesalannya.

Melihatnya dapat menguasai gerakan itu lebih cepat dari dirinya membuat instruktur Dio tidak senang. Dan secara tidak sengaja, dia melihat salah satu wanita yang ada di dekatnya juga sedang menatapnya dengan tatapan sinis.

Instruktur menyeringai dan bergumam, "Aku punya ide."

Saat semuanya sedang terfokus pada Aurora, instruktur tiba-tiba bertepuk tangan dan menarik perhatian mereka.

Plok! plok! plok!

"Itu gerakan yang bagus, nona Aurora." ucapnya sembari berjalan mendekat. "Sepertinya proses belajar anda lebih cepat daripada yang lain. Jika terus seperti ini, mungkin anda dapat menjadi pengguna Aura termuda di kerajaan."

"Terima kasih, instruktur. Ini semua juga berkat anda."

Mendengar pujian, tentu saja Aurora senang. Sayangnya, dia tidak sadar kalau juga ada orang yang membencinya.

Instruktur Dio hampir saja tertawa saat melihat ekspresi wanita di belakang Aurora. Dia menggigit bibirnya sambil mengepalkan tangan dengan erat. Tatapan iri dan dengki di matanya membuat instruktur menjadi lebih semangat.

'Ini menjadi semakin menarik.' batin instruktur Dio.

Dia menyembunyikan senyum di wajahnya dan berkata,

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita adakan latih tanding sebelum latihan hari ini selesai? Bukankah ini akan jadi pengalaman yang baik untuk latihan kita ke depannya?"

Setelah mengatakan hal itu, sebagian besar prajurit yang minim pengalaman setuju. Itu bisa menjadi pengalaman pertama mereka bertarung dengan orang selain monster.

Aurora juga berpikir kalau saran yang diajukan itu bagus.

"Baiklah, aku setuju." jawab Aurora sambil mengangguk.

Jawaban itu sesuai dengan yang diperkirakan instruktur.

"Karena semuanya setuju, aku akan memilih pasangan latih tanding yang cocok untuk kalian." kata instruktur Dio dan mulai menunjuk prajurit satu per satu. "Untuk kalian yang sudah aku tunjuk, silahkan bertarung di mana pun."

Di tim 4 yang dikelola instruktur Dio, total ada 64 prajurit muda termasuk Aurora. Mereka adalah bibit-bibit unggul yang telah disaring dan dipilih langsung oleh ketua tim 1.

Tidak diragukan lagi, mereka adalah pemula yang kuat.

"Kamu dan kamu. Dia yang di sana dengan kamu."

Instruktur memilihnya secara acak dan sembarangan.

Setelah 62 prajurit menemukan pasangan latih tanding, tinggal tersisa dua orang. Mereka berdua adalah Aurora dan seorang prajurit wanita muda yang bernama Seilan.

"Baiklah, setelah kalian menemukan pasangan, aku akan menjelaskan peraturannya." instruktur Dio mengangkat jarinya dan melanjutkan, "Pertama, tidak diperbolehkan menyerang titik vital lawan seperti kepala dan kemaluan."

Instruktur Dio dengan tegas kemudian berkata, "Kedua, kalian bisa bertarung sekuat tenaga. Anggap saja kalau ini adalah pertarungan nyata, jadi jangan menahan diri."

Peraturan pertama memang sudah seharusnya, namun peraturan kedua yang membuat semua prajurit khawatir.

"Apa ini akan baik-baik saja? Bukankah ini berlebihan?"

"Aku takut nanti akan ada yang terluka karena ini."

"Untung aku tidak berpasangan dengan nona Aurora."

Beberapa lega, dan yang lain merasa sangat gelisah.

"Instruktur Dio," panggil Aurora dan berbicara mengenai kegelisahan semua orang. "Kami tidak masalah dengan peraturan pertama, tetapi untuk peraturan yang kedua ..."

Aurora merasa tidak nyaman untuk melanjutkannya.

Melihat kegelisahan mereka, instruktur pun menjawab,

"Kalian tidak perlu khawatir." dengan nada penuh percaya diri. "Jika aku melihat kalian berlebihan, aku sendiri yang akan menghentikannya. Aku akan terus memperhatikan."

Mendengar ucapannya membuat mereka semua merasa lega, namun tidak dengan Aurora. Dia justru makin tidak tenang, apalagi dengan tatapan Seilan yang cukup tajam.

Aurora yang gelisah pun menunduk dan berpikir.

'Apa ini sungguh akan baik-baik saja?'

****

Setelah semuanya berpasangan, mereka pun bertarung.

Dentingan pedang terdengar di mana-mana. Panas sang mentari membuat kepala mereka pusing dan kepanasan.

Di sisi lain, Aurora dan Seilan masih berdiri mematung di lapangan sebelah timur. Mereka saling bertukar tatapan mata dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

"Kenapa kau diam saja, nona Aurora?"

Seilan tiba-tiba saja membuka percakapan. Bahasa yang ia gunakan cukup informal dan membuat Aurora terkejut.

'Ada apa dengannya?' pikir Aurora, bingung.

Sikapnya yang kasar membuat Aurora tidak senang, tapi ia mengabaikan hal itu karena dia seumuran dengannya.

"Apa kau punya masalah, Seilan?" tanya Aurora dengan nada khawatir. "Jika kau punya masalah, tolong jangan bawa ke tempat latihan. Itu akan menjadi contoh buruk."

Pernyataannya justru membuat Seilan jadi makin kesal.

'Dasar gadis sombong!' cela Seilan di dalam hatinya.

"Ya, aku punya masalah." kata Seilan sambil menatapnya dengan penuh permusuhan. "Karena itu, aku akan serius melawanmu. Aku pasti akan membuatmu menyesali ini!"

Setelah mengatakan itu, Seilan menghunuskan pedang.

"Lawanlah aku dengan serius, Aurora!"

Bagaimana pertarungan mereka ke depannya?

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!