NovelToon NovelToon
NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

NAPAS TERAKHIR LUMINA Rahasia Yang Terukir di Jantung Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Panqeran Sipit

Judul: Napas Terakhir Lumina

Dunia Aethelgard yang damai terusik saat Anya, sebuah entitas mekanis "cacat" dengan perasaan, jatuh ke pelukan keluarga Sena dan Elara. Dianggap saudara oleh Alisha, Anya mulai memahami arti jiwa. Namun, masa lalu Anya sebagai aset eksperimen antar dimensi memicu perang besar. Demi menyelamatkan keluarga yang memberinya cinta, Anya harus bertransformasi menjadi Lumina dan memberikan napas terakhirnya untuk menyegel kehancuran. Apakah pengorbanannya akan membebaskan dunia organik selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panqeran Sipit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Jaring-Jaring Lilith: Gema yang Tertinggal

Kemenangan atas Valerius di Kastil Hitam ternyata meninggalkan rasa hambar yang aneh di lidah Kai. Meski kepulangannya disambut dengan sorak-sorai dan dentang lonceng pahlawan di Hutan Lumina, Kai sering mendapati dirinya terjaga di tengah malam. Ia akan duduk di tepi ranjangnya, menatap telapak tangannya yang kini dihiasi bekas luka bakar sihir permanen—sebuah peta trauma yang mengingatkannya bahwa kegelapan tidak pernah pergi tanpa meninggalkan jejak.

​Sena dan Elara, sebagai mentor yang telah melewati ribuan musim perang, tidak membiarkan perayaan berlangsung lama. Mereka tahu bahwa Valerius hanyalah bidak catur yang dikorbankan untuk mengukur kekuatan Kai.

​Di balik pintu kayu ek yang tebal di ruang dewan, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara luar. Peta wilayah utara terbentang di meja bundar, kini dipenuhi tanda silang merah yang menyerupai luka terbuka.

​"Lilith bukan sekadar penyihir yang haus kekuasaan," Elara berkata, suaranya rendah namun tajam saat ia menatap titik-titik merah itu. "Dia adalah seorang penenun. Dia tidak menyerang dinding kita dengan gada atau api; dia menyerang benang-benang pikiran orang di dalamnya. Dia tidak butuh meruntuhkan gerbang kita jika dia bisa membuat kita membuka gerbang itu sendiri dari dalam."

​Investigasi di Desa Tanpa Suara

​Kai tidak pergi sendirian kali ini. Keputusan Sena untuk mengirimkan tim kecil adalah ujian kepemimpinan pertama bagi Kai. Di sampingnya ada Mara, seorang penyembuh berbakat yang selalu melihat dunia dengan kacamata skeptis; Jace, pemuda pendiam dengan mata tajam yang mampu melacak jejak kaki seekor semut di atas batu; dan Lia, gadis yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap aliran energi—ia bisa mendengar "nyanyian" sihir bahkan sebelum mantra diucapkan.

​Mereka menyamar sebagai rombongan pemain musik keliling. Kai membawa seruling kayu yang retak, Mara membawa kecapi kecil, sementara Jace dan Lia mengurus kereta kuda yang penuh dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Namun, semakin jauh mereka melangkah ke arah utara, semakin sedikit musik yang terdengar di udara. Burung-burung berhenti berkicau, dan pepohonan tampak seperti saksi bisu yang membeku dalam ketakutan.

​Mereka tiba di Oakhaven saat senja mulai jatuh dengan warna kelabu yang menyesakkan. Desa ini seharusnya menjadi pusat perdagangan yang ramai, namun yang mereka temukan adalah pemukiman hantu. Tidak ada anak-anak yang berlarian mengejar bola kayu. Penduduk desa hanya duduk di ambang pintu rumah mereka, menatap kosong ke arah langit yang tertutup awan pekat.

​"Mereka tidak sakit secara fisik, Kai," bisik Mara setelah ia mencoba memeriksa seorang lelaki tua yang bahkan tidak berkedip saat lalat hinggap di matanya. "Napas mereka teratur, jantung mereka kuat. Tapi jiwanya... seolah-olah ditarik keluar melalui mimpi mereka. Mereka ada di sini, tapi mereka tidak benar-benar 'hidup'."

​Kai merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan sihir penghancur; ini adalah sihir pengisap harapan.

​Gereja Tua dan Aroma Pembusukan

​Ketegangan memuncak saat Jace menemukan jejak energi yang pekat menuju ke sebuah gereja tua di puncak bukit desa. Bangunan batu itu tampak merana, tertutup lumut hitam yang seolah-olah merayap seperti pembuluh darah. Udara di sekitarnya tidak lagi berbau kemenyan yang menenangkan, melainkan bau anyir bunga mawar yang membusuk di atas tanah basah.

​Saat mereka mendobrak pintu gereja yang berderit, pemandangan di dalamnya membuat napas mereka tercekat. Di tengah aula, di bawah cahaya bulan yang masuk melalui atap yang bolong, berdiri Lilith.

​Ia tidak tampak mengerikan seperti Valerius. Lilith tampil anggun dengan jubah sutra hitam yang seolah-olah terbuat dari asap yang dipadatkan. Ia sedang membelai rambut seorang wanita yang terikat di altar—Putri Althea. Namun, sang putri tidak berteriak. Matanya tertutup, bibirnya terus menggumamkan bahasa kuno yang terdengar seperti desisan ular, menciptakan frekuensi yang membuat kepala Kai berdenyut menyakitkan.

​"Kai," ucap Lilith lembut. Suaranya tidak keras, namun terasa seperti melodi yang langsung menyusup ke pusat saraf. "Aku sudah menantimu. Apakah Sena tidak memberitahumu bahwa cahayamu sebenarnya hanyalah lilin kecil di tengah badai yang sedang menunggu untuk ditiup?"

​"Lepaskan dia, Lilith!" Kai menghunuskan belatinya, namun tangannya gemetar.

​Lilith tertawa, tawa yang indah namun kosong. "Melepaskannya? Dia tidak ingin dilepaskan, Kai. Di dalam mimpinya, dia adalah ratu dari dunia yang tidak mengenal rasa sakit. Kenapa kau ingin membawanya kembali ke dunia yang penuh dengan luka ini?"

​Pertempuran Bayangan

​Pertempuran pecah seketika. Jace mencoba melepaskan anak panahnya, namun bayangan di dinding gereja mendadak bangkit dan menangkap anak panah itu di udara. Lilith tidak menyerang dengan bola api; ia mengubah bayangan para Penjaga menjadi monster yang menyerupai ketakutan terbesar mereka.

​Jace terjatuh berlutut saat bayangan ayahnya yang sudah meninggal muncul di depannya, menatapnya dengan kekecewaan yang dalam. Lia berteriak histeris saat dunianya mendadak menjadi gelap total—ketakutan terbesarnya akan kehilangan penglihatan sihirnya.

​Kai sendiri harus berhadapan dengan bayangan dirinya sendiri. Sosok Kai yang lain berdiri di depannya, mengenakan jubah kegelapan, berdiri di atas puing-puing Hutan Lumina yang terbakar. "Kau gagal, Kai. Kau selalu gagal melindungi apa yang kau cintai," bisik bayangan itu.

​Rasa mual dan putus asa mulai menguasai Kai. Namun, di saat kesadarannya hampir meredup, ia merasakan logam dingin dari jimat pemberian Elara di balik bajunya. Dengan nekat, ia meremas jimat itu hingga tepiannya yang tajam merobek telapak tangannya.

​Rasa sakit fisik itu tajam, nyata, dan berhasil menariknya kembali dari hipnotis bayangan. "Ini tidak nyata!" teriak Kai. Ia melepaskan ledakan cahaya murni—bukan untuk menyerang Lilith, tapi untuk menyinari seluruh ruangan, menghapus bayangan-bayangan yang mencekik teman-temannya.

​Dengan sisa tenaganya, Kai menerjang altar, memutus rantai energi yang mengikat Althea.

​Kemenangan yang Diragukan

​Lilith tidak membalas. Ia hanya berdiri di pintu gereja yang kini mulai dijilat api sihir, membiarkan Kai membawa Althea yang pingsan keluar.

​"Simpan dia baik-baik, Penjaga Kecil," teriak Lilith, suaranya terbawa angin malam yang kian dingin. "Dia adalah bejana yang sudah retak. Dan kau tahu apa yang terjadi pada bejana yang retak? Ia tidak akan pernah bisa menyimpan cahaya dengan utuh. Aku selalu punya kunci cadangan."

​Kembali di Hutan Lumina, Putri Althea dirawat di bawah pengawasan ketat, namun suasananya tidak lagi tenang. Althea sering terbangun sambil berteriak tentang "Jantung Kegelapan"—sebuah artefak yang menurutnya telah ditanamkan Lilith ke dalam jiwanya secara tidak langsung.

​Sena dan Elara tampak lebih tua sepuluh tahun dalam semalam. Mereka tahu, membawa Althea pulang mungkin adalah bagian dari rencana Lilith untuk memasukkan "kuda troya" ke dalam jantung pertahanan mereka.

​Kai berdiri di balkon menara, menatap ke arah utara. Ia menyadari bahwa pedang dan mantra tidak akan cukup untuk mengalahkan musuh yang bertarung di dalam pikiran.

​"Aku harus melakukan sesuatu yang gila," gumam Kai pada dirinya sendiri.

Saat Kai sedang merenung, ia merasakan liontin di lehernya bergetar hebat. Saat ia menariknya keluar, batu permata di jimat itu tidak lagi berwarna biru cerah, melainkan mulai menunjukkan bintik-bintik hitam yang menyebar cepat, seperti tinta yang jatuh ke dalam air jernih. Di saat yang sama, suara Putri Althea terdengar dari ruang perawatan di bawah, namun suaranya bukan lagi suara sang putri, melainkan suara Lilith yang berbisik: "Terima kasih sudah membawaku masuk, Kai."

​Kai berbalik dan melihat kabut hitam mulai merayap keluar dari celah pintu ruang perawatan, menuju langsung ke arah pohon raksasa pusat Hutan Lumina. Apa yang akan dilakukan Kai saat ia menyadari bahwa pahlawan yang ia selamatkan justru menjadi ancaman terbesar bagi rumahnya?

1
Alia Chans
semangat✍️👈😍
T28J
terimakasih 👍
Alia Chans
semangat thor😍





jangan lupa mampir jg ya🙏😍😍😍😍😍
T28J
lanjuuuut ✍️
Dindinn
makasiiihhh💪😍
T28J
ceritanya agak cepat, cocok buat platform online👍
T28J
wiih udha bertahun tahun aja 👍
T28J
stasiun senen, jangan jangan authornya tetangga saya ni 👍
T28J
semoga lebih cepat update nya thor
BOS MUDA
next buat yg lebh seruu lg ya
BOS MUDA
panjangnya💪🙏🙏😄
BOS MUDA
mantap ceritanya, panjang bener💪🤭😍
LAMBE TURAH
bagus kali ceritanya
NANDA'Z OFFICIAL
🧐😮😧😱
T28J
cocok dikasih like👍cocok dikasih hadiah💪
semoga sampai tamat 🙏
mampir juga ketempat saya kak.
Dindinn: makasih kak semangat 💪💪💪💪😍🤭🙏
total 1 replies
absurd
semangat💪
absurd
🤠
absurd
semoga lebih baik dan seru lagi ya ceritanya 🤩
bagus
💪👍
bagus
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!