NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: ALIANSI DI NEGERI MERLION

Gedung pusat perbankan milik keluarga Marcus Chen di Raffles Place menjulang tinggi, sebuah monumen beton dan kaca yang melambangkan kekuasaan finansial Singapura selama puluhan tahun. Nata melangkah masuk ke lobi yang sunyi dan aristokratis. Di sini, tidak ada kebisingan seperti di pasar induk Jakarta atau hiruk-pikuk kantor startup di Kuningan. Di sini, uang bergerak dalam kesunyian yang mematikan.

​Nata mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dijahit khusus, memberikan kesan dewasa yang melampaui usianya yang baru sembilan belas tahun. Di tangannya, ia hanya membawa sebuah tablet tipis—seluruh senjata dan pasukannya ada di sana.

​"Tuan Prawira, silakan lewat sini. Tuan Chen Senior sudah menunggu di ruang rapat utama," ucap seorang sekretaris dengan aksen Inggris yang kaku.

​Di dalam ruangan berpintu kayu mahoni, Nata disambut oleh dua orang. Marcus Chen, yang tampak gelisah, dan ayahnya, Arthur Chen, seorang pria tua dengan rambut perak dan tatapan mata seajam elang. Arthur adalah legenda hidup yang telah melewati berbagai krisis ekonomi sejak tahun 1990-an.

​"Duduklah, anak muda," suara Arthur tenang namun penuh otoritas. "Putraku bilang kamu punya kemampuan meramal masa depan melalui angka. Tapi di dunia perbankan, kami tidak percaya pada ramalan. Kami percaya pada jaminan."

​Nata duduk dengan tenang, meletakkan tabletnya di meja. "Saya tidak membawa ramalan, Tuan Chen. Saya membawa efisiensi. Bank Anda sangat kuat di sektor kredit tradisional, tetapi Anda kehilangan hampir tiga puluh persen potensi keuntungan karena lambatnya proses kliring internasional dan fluktuasi mata uang yang tidak terproteksi dengan baik."

​Arthur menyipitkan mata. "Dan kamu pikir mainan digitalmu, BitCore itu, adalah solusinya? Itu adalah aset tanpa dasar, Nata. Jika besok listrik padam di seluruh dunia, nilaimu nol."

​Nata tersenyum kecil, sebuah senyuman yang sering ia gunakan saat ia tahu ia memegang kartu as. "Jika listrik padam di seluruh dunia, uang kertas Anda pun hanya akan menjadi tumpukan sampah untuk menyalakan api unggun, Tuan Chen. Namun, selama peradaban ini berjalan di atas jaringan, BitCore adalah satu-satunya aset yang tidak bisa Anda cetak seenaknya seperti bank sentral. Saya tidak menawarkan Anda untuk membeli BitCore. Saya menawarkan sistem likuiditas cadangan yang terenkripsi."

​Nata membuka tabletnya, menampilkan diagram alur operasional Prawira Global yang telah terintegrasi dengan jaringan logistik di Indonesia.

​"Melalui Nusa-Trans di Jakarta, saya menguasai arus kas mikro dari jutaan transaksi harian. Jika perbankan Anda menjadi mitra kliring untuk transaksi internasional kami menggunakan protokol digital yang saya bangun, Anda akan mendapatkan akses ke data perilaku konsumen terbesar di Asia Tenggara. Itu adalah jaminan yang lebih nyata daripada emas di brankas Anda."

​Arthur Chen terdiam. Ia adalah seorang perencana tua yang pragmatis. Ia melihat potensi keuntungan yang sangat besar, namun juga risiko regulasi yang belum terjamah.

​"Aku butuh waktu untuk memeriksa legalitas ini," ucap Arthur.

​"Waktu adalah kemewahan yang tidak Anda miliki, Tuan Chen," balas Nata dengan berani. "Bulan depan, kompetitor Anda dari Malaysia akan meluncurkan inisiatif serupa. Saya memberikan Anda kesempatan untuk menjadi yang pertama. Jika tidak, saya akan berjalan keluar dari pintu ini dan menemui mereka di Kuala Lumpur sore ini juga."

​Marcus menatap Nata dengan kaget. Ia tidak menyangka Nata akan seberani itu menekan ayahnya. Namun, Arthur Chen justru tertawa. Sebuah tawa pendek yang kering.

​"Kamu punya nyali yang mengingatkanku pada diriku saat muda. Baiklah. Kita mulai dengan proyek percontohan senilai lima puluh juta dolar Singapura. Jika dalam tiga bulan sistemmu tidak memberikan imbal hasil sepuluh persen, kerja sama ini berakhir dan kamu harus menyerahkan algoritma analisismu pada kami."

​"Sepakat," jawab Nata tanpa ragu. Ia tahu sistemnya akan memberikan hasil lebih dari dua puluh persen.

​Setelah pertemuan yang melelahkan itu, Nata berjalan kaki menyusuri Marina Bay. Udara Singapura yang lembap namun bersih menerpa wajahnya. Ia segera menghubungi Yuda di Jakarta melalui jalur aman.

​"Yuda, siapkan gerbang pembayaran internasional kita. Kita baru saja mendapatkan lisensi 'bayangan' lewat perbankan keluarga Chen. Mulai minggu depan, semua transaksi besar Prawira Global akan diproses lewat Singapura," perintah Nata.

​"Siap, Bos. Tapi ada kabar lain. Kirana baru saja melaporkan bahwa ada beberapa orang yang mencoba mendekati ruko kita di Jakarta Barat. Mereka mengaku sebagai penagih hutang lama Paman Danu, tapi Ibu Sari curiga mereka adalah orang suruhan pesaing bisnis properti kita di Jawa Tengah," lapor Yuda.

​Nata menghentikan langkahnya tepat di depan Patung Merlion. Sorot matanya mendingin. "Katakan pada Ibu Sari untuk memperketat keamanan. Dan berikan data orang-orang itu kepada Pak Broto. Biarkan Pak Broto yang menggunakan jalur hukum untuk menekan mereka. Jika mereka berani menyentuh ruko itu, hancurkan reputasi perusahaan induk mereka lewat kebocoran data pajak mereka yang sudah kita kumpulkan."

​Nata sudah menyiapkan segalanya. Setiap musuh potensial yang mungkin muncul dari sisa-sisa kehancuran Paman Danu sudah ia petakan profilnya. Ia tidak akan membiarkan satu pun serpihan masa lalu merusak bangunan masa depan yang sedang ia susun.

​Malam harinya, Nata kembali ke kondominiumnya. Ia melihat layar monitor besar di ruang kerjanya. Harga BitCore melonjak menembus angka 700 dolar AS. Keuntungan pribadinya terus membengkak, namun yang lebih penting adalah pengaruhnya yang mulai merembes ke institusi keuangan tradisional.

​Ponselnya berdering. Kirana melakukan panggilan video. Di layar, Kirana tampak sedang berada di kantor ruko Jakarta Barat. Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dengan kacamata kerja dan rambut yang diikat rapi.

​"Kak, semuanya aman di sini. Ibu Sari baru saja mengirimkan somasi kepada orang-orang itu, dan mereka langsung menghilang. Arya juga sedang belajar untuk olimpiade sains," ucap Kirana dengan bangga.

​"Bagus, Kirana. Aku bangga padamu. Ingat, jangan pernah menunjukkan ketakutan di depan mereka. Di dunia bisnis, ketakutan adalah bau darah bagi hiu," pesan Nata.

​"Aku tahu, Kak. Oh ya, aku sudah memesan lahan tambahan di sekitar ruko. Sesuai instruksi Kakak, kita akan membangun pusat data kecil di sana sebelum stasiun kereta di depan selesai dibangun."

​Nata tersenyum. Kirana telah bertransformasi dari seorang adik yang lemah menjadi asisten yang sangat kompeten. Ini adalah bagian dari rencana jangka panjangnya: Diversifikasi Kepemimpinan. Ia tidak ingin seluruh imperium ini bergantung hanya pada dirinya.

​Setelah menutup telepon, Nata kembali menatap grafik di layarnya. Ia menyadari satu hal. Dunia sedang bergerak menuju krisis kecil di sektor komoditas tahun depan. Ia harus bersiap.

​Ia membuka folder baru di tabletnya bertuliskan: Operasi Naga Laut.

​Rencananya kali ini adalah menguasai rantai pasok logistik di selat Malaka menggunakan perusahaan-perusahaan cangkang yang didukung oleh pendanaan dari keluarga Chen. Nata tidak lagi hanya ingin menjadi orang kaya; ia ingin menjadi orang yang menentukan ke mana arah arus perdagangan di Asia Tenggara akan mengalir.

​"Satu langkah lagi," gumam Nata sambil menyesap teh hijaunya.

​Ia teringat masa-masa ia masih makan nasi dan garam di gang sempit Jakarta. Kenangan itu bukan lagi luka, melainkan pengingat mengapa ia harus terus bergerak. Ia adalah seorang perencana, seorang arsitek nasib yang telah melintasi waktu untuk memastikan bahwa nama Prawira tidak akan pernah lagi dipandang rendah.

​Malam itu di Singapura, di bawah gemerlap lampu kota yang tak pernah tidur, Nata Prawira menyusun strategi untuk langkah berikutnya. Ia tahu bahwa Arthur Chen akan mencoba memata-matai sistemnya, namun Nata sudah menyiapkan jebakan logika di dalam kodenya. Di dunia ini, tidak ada teman sejati, yang ada hanyalah kepentingan yang saling menguntungkan—dan Nata adalah orang yang paling tahu cara mengelola kepentingan itu.

​"Selamat datang di permainan yang sebenarnya, Tuan Chen," bisik Nata pada kegelapan, sebelum ia mematikan lampu dan membiarkan kota itu menjadi saksi bisu atas ambisinya yang tak bertepi.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!