Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.
Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.
Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Mengakui
Kantor ruang kerja Arvin rapi dan elegan. Didominasi warna hitam dan coklat tua. Terkesan hangat, bercampur pemiliknya yang dingin nan tegas.
“Ada perlu apa?” Arvin bertanya malas.
“Saya mengantar bekal makan siang.” Ayu hati-hati menaikkan tas bekalnya ke atas meja.
“Kamu jauh-jauh ke sini cuma untuk itu?”
Ayu terdiam, menunduk mencari kata-kata pas untuk disampaikan. Tentu saja bukan cuma untuk mengantar makanan.
“Sebenarnya …. saya minta izin, mau melanjutkan kuliah. Apa boleh?”
Alis sebelah Arvin terangkat.
Sejak peristiwa kelam menghilangkan tiga kertas penting milik Arvin, Ayu yakin intelektualnya memang rendah.
Dia sadar diri. Arvin itu orang pintar, dirinya tidak.
Ayu dulu pernah kuliah di kota kecil, dekat dengan desanya, tapi terputus karena ayahnya tiba-tiba mendesaknya agar menjadi istri Arvin.
Paling tidak, berhasil mendapatkan gelar S1 saja, Ayu akan merasa sukses menjadi orang pintar seperti Arvin. Dan sedikit merasa pantas menjadi bagian dari keluarga Pradipta — meski Arvin mungkin tidak akan pernah mengakui.
Arvin kembali sibuk mengetik. “Terserah kamu saja. Yang penting tidak mengganggu pekerjaanku.”
“Kalau begitu saya permisi.”
Di lobi kantor menuju lift, Ayu melangkah senang.
Elena yang daritadi menunggu gelisah segera keluar dari persembunyian, melesat mendatangi Ayu.
Tak tanggung-tanggung, wanita itu langsung menarik kasar lengan Ayu, menyentaknya ke belakang hingga Ayu hampir terjungkal.
Elena mengayunkan tangan cepat.
Plaak!
Pipi Ayu pedih memerah. Dadanya terlonjak kaget.
Beberapa orang kantor yang kebetulan berlalu lalang berhenti menengok.
“Kenapa mba tiba-tiba nampar saya?” suara Ayu bergetar kaget.
Elena melotot sinis. “Enak ya jadi wanita simpanan pak Arvin.”
“Maksud Mba?”
“Jangan sok polos! Kamu pacar pak Arvin kan. Pura-pura nganter makanan padahal habis bermesraan!”
“Saya bukan pacar pak Arvin, tapi —”
“Halah! Banyak omong. Sini!”
Rambut atas Ayu ditarik dengan sekali genggaman.
“Auuw! Mba … sakit!”
“Diam!”
Elena menarik paksa rambut Ayu menuju ke toilet wanita di ujung lorong sana, agar leluasa memberi pelajaran.
Orang-orang hanya bisa melihat, sementara Ayu berusaha melepas diri sambil tak henti meringis kesakitan.
Di arah belakang, Arvin baru keluar, dan matanya sontak membulat melihat Ayu diperlakukan seperti itu.
“ELENA!” suara keras dan lantang Arvin menggema ke sepanjang ruangan.
Semua orang menoleh.
“Pak Arvin!” gugup Elena, melepas cengkraman tangannya dari rambut Ayu.
Baru Ayu kemudian ikut menoleh dengan napas tersengal-sengal.
“Kau apakan istriku?”
Semuanya melongo.
Suara bisik-bisik mulai melantun.
“Hah istri?”
“Pak Arvin sudah menikah?”
“Beneran, kah?”
“Berita besar ini!”
“Ya Tuhan. Aku patah hati!”
Orang-orang di area itu heboh terkaget-kaget. Tidak ada yang menyangka dan tidak ada yang tahu CEO mereka sudah menikah, karena Arvin sendiri tidak melangsungkan pernikahan mewah atau mengundang orang-orang.
Namun, kaget dan syoknya mereka tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Elena sekarang.
Sekujur tubuhnya seakan membantu, retak, lalu runtuh.
Hancur menjadi serpihan debu.
“Bapak tadi … bilang … apa? Is–tri?” Elena tergagap.
“Iya!” tegas Arvin.
Arvin menghampiri Ayu. Dengan sigapnya, dia memeriksa serta telaten merapikan rambut Ayu.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?”
Leher Ayu tercekat. Mulutnya membuka lebar.
“Saya … anu.. Pak … ini!”
Arvin cepat-cepat rebut posisi, melindungi Ayu di balik tubuh tegap tingginya.
“Kenapa kamu kasar ke istriku!?”
“Saya cuma …”
“Apa kamu tahu konsekuensinya?”
“Pak, saya tidak tahu Bapak sudah—”
“Kamu saya pecat!”
Dada Elena tertusuk. Wajah cantiknya langsung suram. Matanya memerah.
Suara bisik-bisik makin terdengar ramai.
“Pak. Tolong jangan pecat saya. Saya minta maaf! ” Elena memohon melas sambil menyatukan dua tangan.
Arvin mendengus kasar. Dadanya naik turun.
“Berani-beraninya kamu kurang ajar kepada keluarga Pradipta. Salah satu nama keluarga paling disegani di negeri ini. Aku tidak hanya bisa memecatmu, tapi mampu menjebloskanmu ke penjara!”
Dua lutut putih Elena turun menyentuh lantai. Berlutut.
“Jangan Pak. Aku mohon. Saya tidak mau masuk penjara. Saya juga masih butuh bekerja di sini. Kasihani sayaaa!”
“Kalau begitu. Cepat minta maaf ke istriku!
Arvin mempersilahkan Ayu melangkah maju.
Dengan dahi yang mulai basah, Ayu membiarkan Elena menyalami dan mencium punggung tangannya.
“Mba … saya minta maaf.”
“Panggil dia Nyonya!” koreksi Arvin, membentak.
“Heh!” Ayu berseru.
“Baik Pak Arvin.” Elena mengulangi salaman dan cium punggung tangan Ayu.
“Nyonya. Saya minta maaf. Saya benar-benar menyesal!”
“I–iya. Sudah kumaafin ko. Udah ya…”
Selesai mendapatkan maaf Ayu, Elena beralih menghadap Arvin.
“Saya sudah minta maaf ke … Nyonya.”
“Sekarang pergi. Dan jangan kamu ulangi lagi!”
“Baik Pak, saya izin pergi. Nyonya, saya permisi.”
Menghilangnya Elena dari pandangan Arvin dan Ayu tidak membuat kehebohan ini selesai. Justru orang-orang kantor makin banyak berkerumun, mengajukan ribuan pertanyaan layaknya wartawan.
“Pak Arvin. Jadi wanita cantik ini beneran istri bapak?”
“Kenapa bapak tidak memberitahu kami sebelumnya?”
“Kapan bapak melangsungkan pernikahan?”
“Pak Arvin butuh istri kedua? Saya siap!”
Arvin lantas menjawab pertanyaan mereka satu persatu dengan santai dan tenang.
“Dengar semua. Saya memang sengaja tidak memberitahu pernikahan kami kepada siapapun. Tapi saya sudah berencana untuk mengumumkan terang-terangan di pesta perayaan hari jadi perusahaan nanti. Tapi gara-gara masalah tadi, akhirnya kalian semua tahu duluan.”
“Oh jadi begitu.”
Sepanjang sesi tanya-jawab, Ayu hanya bisa terdiam dengan wajah pucat.
Ini benar-benar aneh. Apalagi sepanjang itu juga, tangan sebelah Arvin betah melingkari pinggul Ayu. Menariknya pelan agar tetap menempel ke pria itu.
Seolah-olah Arvin tidak mau melepas Ayu pergi.
Seperti pasangan suami-istri romantis.
Seperti … Arvin benar-benar telah berubah.
Ayu bingung harus percaya yang mana.
Ketika menengadahkan kepala ke samping, dia jelas menangkap wajah Arvin menikmati situasi ini.
Itu membuat mata Ayu berbinar haru tak percaya.
Dengan tarikan napas panjang, Ayu pun segenap hati percaya kalau dia telah mengakui dirinya.
Dan tidak jauh dari Ayu berdiri, Elena mengintip dengan penuh benci.
“Awas kau!” desisnya.