Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Malam itu, lokasi proyek di pinggiran Jakarta tampak seperti siluet raksasa yang menakutkan. Pagar seng yang mengelilingi lahan luas itu berderit tertiup angin kencang, sementara alat berat yang diam mematung menambah kesan sunyi yang mencekam. Sheila berdiri di samping mobil SUV Jeremy, memeluk tubuhnya sendiri karena hawa dingin yang mulai menusuk blus tipisnya.
Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Jeremy masih sibuk memeriksa denah maket di tabletnya, seolah-olah waktu kerja belum berakhir. Sheila, yang sudah merasa jenuh dan sedikit waspada, diam-diam merogoh ponsel di saku roknya. Jarinya bergerak lincah di bawah cahaya layar yang diredupkan agar tidak tertangkap basah oleh Jeremy.
Pertama, ia membuka chat dengan Alena.
"Len, ini darurat asmara! Kamu datang ke lokasi yang aku sharelock sekarang ya. Aku lagi diajak Jeremy ke sini, katanya survei lokasi tapi kok malah kayak uji nyali. Ini kesempatan kamu buat jadi 'cahaya' di kegelapan buat dia. Buruan ya!"
Setelah menekan tombol kirim, ia beralih ke kontak paling atas di daftar pesannya. Malik.
"Sayang, jemput aku ya. Aku share lokasinya sekarang. Aku nggak tenang di sini cuma berdua sama Pak CEO tengil itu. Lokasinya agak masuk ke dalam, kamu hati-hati ya jalannya gelap. I love you, cepetan ya!"
Sheila menarik napas lega setelah kedua pesan itu terkirim. Ia merasa memiliki jaring pengaman sekarang. Namun, ketenangannya buyar saat tiba-tiba seluruh lampu sorot konstruksi yang tadinya menyala redup di kejauhan mendadak padam total. Suasana seketika menjadi gelap gulita, hanya menyisakan cahaya bulan yang tertutup awan mendung.
"Astaga!" Sheila memekik, refleks mendekat ke arah pintu mobil Jeremy.
Jeremy keluar dari mobil, menyalakan senter dari ponselnya yang sinarnya membelah kegelapan. Wajahnya tampak tenang, bahkan cenderung dingin seperti biasanya.
"Pak! Ini mati lampu atau gimana sih? Gelap banget kayak Bapak, nggak ada pencerahannya sama sekali!" gerutu Sheila dengan suara bergetar, mencoba menutupi rasa takutnya dengan sindiran.
Jeremy terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sedikit menggoda di tengah kesunyian itu. "Gelap itu tenang, Sheila. Dan kalau kamu bilang aku gelap, berarti aku tenang dan penuh misteri, kan? Lagipula, ini cuma gangguan trafo di depan tadi. Orang lapangan lagi benerin."
Jeremy melangkah mendekat, membuat Sheila terpojok ke badan mobil. Cahaya senter dari ponsel Jeremy kini menyorot ke arah kaki mereka, menciptakan bayangan panjang yang tumpang tindih.
"Kenapa? Takut? Katanya asisten hebat, masa takut gelap?" goda Jeremy, suaranya kini tepat berada di atas kepala Sheila.
"Bukan takut, Pak. Cuma... ya nggak nyaman saja. Lagian ngapain sih survei lokasi jam segini? Besok pagi kan bisa!" balas Sheila sambil membuang muka, berusaha mengabaikan aroma parfum maskulin Jeremy yang mulai memenuhi indra penciumannya.
"Kalau pagi, aku nggak bisa lihat sisi lain dari tempat ini. Dan aku nggak bisa lihat sisi lain dari kamu yang ternyata... kalau takut, larinya ke aku juga," bisik Jeremy.
Sheila hendak membalas dengan kalimat pedas, namun tiba-tiba suara deru motor yang sangat ia kenali memecah kesunyian. Cahaya lampu depan motor matic yang khas menyinari area depan gerbang proyek. Di belakangnya, sebuah taksi online juga tampak berhenti, dan sesosok wanita dengan gaun yang sangat kontras dengan lokasi konstruksi turun dari sana.
Itu Malik dan Alena. Datang di waktu yang hampir bersamaan.
Malik langsung turun dari motornya tanpa melepas helm, langkahnya terburu-buru menghampiri Sheila. "Sheila! Kamu nggak apa-apa?"
Sementara itu, Alena yang mengenakan high heels tampak kesusahan berjalan di atas tanah proyek yang tidak rata. "Kak Jeremy! Ya ampun, kok di sini gelap-gelapan sih? Aku khawatir banget pas Sheila bilang kalian di sini!"
Suasana yang tadinya sunyi dan intens antara Sheila dan Jeremy mendadak berubah menjadi kacau. Jeremy menjauhkan tubuhnya dari Sheila, wajahnya berubah drastis dari penggoda menjadi sangat kesal. Ia menatap Malik dengan pandangan membunuh, lalu beralih ke Alena dengan dahi berkerut dalam.
"Kalian... kenapa bisa ada di sini?" tanya Jeremy, suaranya berat dan penuh penekanan.
Sheila segera berlari ke samping Malik, menggandeng lengan pacarnya itu dengan erat. "Ah, Malik! Untung kamu cepet sampai. Tadi aku beneran takut pas mati lampu."
Malik menatap Jeremy dengan tajam, tangannya merangkul bahu Sheila secara protektif. "Maaf ya, Pak. Saya rasa survei lokasinya sudah cukup. Pacar saya sudah capek dan ini sudah lewat jam kerja. Saya bawa dia pulang sekarang."
Jeremy mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Dia masih punya tugas yang belum selesai, Malik. Jangan seenaknya main bawa asisten orang."
"Tugas bisa dikerjakan besok, Kak!" Alena tiba-tiba sudah berada di samping Jeremy, dengan berani memegang lengan sang CEO. "Aduh, Kak Jeremy badannya dingin banget. Pasti masuk angin ya? Tadi aku bawa termostat sama jahe anget di tas, kita duduk di mobil dulu yuk? Biar Sheila pulang sama cowoknya, Kakak sama aku saja."
Sheila hampir saja tertawa melihat ekspresi wajah Jeremy yang tampak sangat menderita karena didekati Alena dengan begitu agresif. Alena benar-benar menjalankan perannya dengan sangat baik.
"Alena, lepas," desis Jeremy, mencoba menarik tangannya, tapi Alena malah semakin erat memeluk lengannya.
"Nggak mau! Kakak itu kerja terlalu keras. Kasihan lho, nanti kalau sakit siapa yang urus? Aku kan sudah bilang sama Sheila kalau aku mau jagain Kakak," ucap Alena dengan nada manja yang membuat Sheila ingin memberikan tepuk tangan berdiri.
Sheila menatap Jeremy dengan senyum penuh kemenangan. "Betul kata Alena, Pak. Bapak butuh istirahat. Ya sudah, saya duluan ya, Pak. Alena, titip Pak CEO ya, dia memang agak rewel kalau lagi laper."
"Siap, Shei! Beres pokoknya!" sahut Alena semangat.
Jeremy hanya bisa berdiri terpaku saat melihat Malik membantu Sheila naik ke atas motor matic-nya. Ia ingin mengejar, ingin meneriakkan soal denda kontrak, atau setidaknya melarang Sheila pergi. Tapi posisi Alena yang "bergelayut" di lengannya membuatnya tidak bisa bergerak bebas tanpa terlihat konyol.
"Sheila! Besok pagi jam tujuh kamu harus sudah di ruangan saya!" teriak Jeremy saat motor Malik mulai menjauh.
Sheila hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh, meninggalkan Jeremy di tengah kegelapan lokasi proyek bersama Alena yang mulai bercerita panjang lebar tentang manfaat jahe hangat bagi kesehatan CEO yang stres.
Malam itu, di atas motor Malik, Sheila memeluk punggung kekasihnya dengan perasaan puas. Meskipun besok pagi ia tahu akan ada "neraka" yang lebih panas di kantor, setidaknya untuk malam ini, ia berhasil memberikan serangan balik yang telak bagi sang CEO tengil.
"Makasih ya, Sayang," bisik Sheila di balik helmnya.
"Sama-sama. Tapi besok-besok, jangan nekat lagi ya. Aku beneran khawatir," jawab Malik sambil mengencangkan pegangan tangan Sheila di pinggangnya.
Di kejauhan, lampu sorot proyek tiba-tiba menyala kembali, menyinari sosok Jeremy yang tampak sangat frustrasi mencoba melepaskan diri dari perhatian "maut" Alena.