cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Malam harinya, Riyan pulang dengan keadaan badan yang sangat lelah. Pakaian yang tadi pagi rapih kini sudah terlihat kusut dan berantakan. Riyan turun dari mobil setelah parkir dengan benar digarasi rumah.
Berjalan pelan menuju pintu, membukanya dan masuk, menutupnya kembali lalu berjalan menuju kamarnya. Dia ingin segera mandi dan istirahat. Begitu sampai dikamar, Riyan melihat Niya yang sudah tertidur meringkuk dengan selimut yang hampir menutup seluruh tubuhnya.
Riyan memalingkan wajah, karena kembali ingat kejadian tadi pagi ditempatnya bekerja. Setitik rasa kasihan itu ada. Tapi, Niya yang mengkhianatinya diam diam membuatnya lebih dominan marah.
Riyan menaruh tas kerjanya diatas nakas sisi tempat tidur. Dia mulai membuka kancing kemejanya, melepasnya dan melemparnya kedalam keranjang baju kotor. Lanjut melepas celana bahannya dan melemparnya kedalam keranjang baju kotor juga, menyisakan celana kolornya saja.
Riyan mengambil handuk digantungan belakang pintu. Membawanya keluar dari kamar menuju kamar mandi.
Ting
Ting
Niya menyibak selimut karena Riyan sudah tidak ada dikamar. Tadi dia belum benar benar tidur. Dia hanya pura pura tidur. Niya sengaja menunggu mas Riyan pulang karena ingin menyelesaikan masalah tadi pagi.
Ting
Mendengar denting ponsel Niya turun dari tempat tidur. Menilik ponsel dibawah bantal tapi ternyata bukan miliknya yang berdenting. Niya membuka tas milik suami. Mengambil ponsel disana. Ternyata benar ponsel mas Riyan yang dapat pesan karena layarnya sudah menyala menampilkan nama Luna.
[ Riyan, makasih ya sudah temani aku jalan jalan, sudah temani aku beli motor baru dan antar aku pulang juga. ]
[ Kau sudah sampai rumah belum? ]
[ belum sampai ya? ]
"Oh, jadi mas Riyan habis jalan jalan sama Luna?" Niya tersenyum getir.
Cek klek
Pintu kamar terbuka, Niya berbalik dan menatap suaminya. Riyan masuk hanya dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Melihat Niya yang berdiri sambil menggenggam ponselnya, Riyan mengambilnya cepat.
"Apa yang kau lakukan?" suaranya dingin tidak selembut biasanya. Entah kenapa kini merasa kesal melihat Niya ada didepannya.
"Kau habis dari mana saja sama Luna? Apa kau tidak memikirkan perasaan istrimu Mas? Tadi pagi ditempat kerjamu kau baru saja memperlakukanku sekasar itu. Apa kau tidak merasa bersalah atau menyesal sedikit pun?" kedua mata Niya sudah berkaca kaca.
"Aku akan kemana saja dengan siapa saja, itu bukan urusanmu."
Niya menatap Riyan tak percaya. "Mas, aku ini istrimu. Sudah seharusnya aku tahu apapun tentangmu dan menjadi urusanku semua yang kau lakukan diluar sana."
"Itu berlaku untuk istri yang setia!"
"Aku juga setia, Mas! Tidak pernah aku mengkhianatimu Mas!"
"Lalu tadi pagi itu apa?! Apa masih kurang jelas?! Atau matamu sudah rabun?!"
Niya menggeleng air matanya sudah jatuh tak terhitung lagi. Tuduhan yang mas Riyan berikan untuknya terlalu dalam. Terlu menyakitinya.
"Aku tidak bohong Mas. Itu bukan aku, apa kau tidak pernah berpikir jika foto juga bisa editan Mas? Bisa jadi Luna merekayasa semuanya, membuat seolah olah aku berselingkuh dengan pria lain,"
Kali ini Riyan yang menggeleng. Riyan benar benar tidak percaya pada pemikiran Niya yang cetek itu. Bisa bisanya dia menuduh Luna merekayasa semuanya.
"Luna tidak mungkin melakukan itu Niya. Kau tahu kan siapa dia? Otakmu benar benar pendek! Jangan lagi berpikir seperti itu! Itu sama saja kau menyakiti hati Luna, Niya."
"Kau memikirkan perasaan wanita lain tapi tidak memikirkan perasaan istrimu sendiri?"
Niya menatap nyalang suaminya. Air mata yang berderai membuat wajah Niya terlihat berantakan. "Kau benar benar tidak punya hati!"
"Lalu bagaimana denganku Niya?! Kau menjalin hubungan dengan pria yang aku kenal secara diam diam, dia adalah i---"
"STOP..!"
"Stop Mas, stop! Aku muak mendengarnya dan muak sudah menjelaskan semuanya padamu. Terserah kau saja akan percaya atau tidak, aku tidak peduli!"
Niya berjalan menuju pintu, dia ingin tidur dikamar Zona malam ini, tapi dia teringat surat yang Zona dapatkan tadi pagi. Niya masih menyimpannya di tas miliknya. Mungkin jika surat itu dia perlihatkan pada suaminya. Mas Riyan akan percaya jika mereka ketahuan berselingkuh dibelakangnya bukan dirinya yang menduakan mas Riyan.
Riyan memilih tidak peduli. Niya ingin tidur diluar, di sofa, atau dikamar Zona serta Arfi silakan saja. Itu bukan urusannya. Itu sama sekali tidak mampu membuatnya kasihan. Dia yang menyakitinya jadi biarkan saja Niya melakukan apa yang dia mau tapi Riyan tidak akan kasih uang sepeser pun.
Riyan membuka lemari, mengambil pakaian santai untuk tidur. Memakainya dan mulai merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tubuhnya sangat lelah hari ini karena ada problem di kerjaan dan juga menemani Luna sepulang bekerja. Di tambah Niya yang mengkhianatinya menjadi dia berpikir lebih keras.
"Ini,"
Niya menyodorkan surat itu tepat di depan wajah Riyan yang sudah berbaring di kasur. Pokoknya suaminya harus tahu kalau yang mengkhianatinya adalah dia, dan bukan dirinya. Surat ini sudah membuktikan jika selama ini mas Riyan diam diam berhubungan dengan Luna, di belakangnya. Dan jujur saja Niya tidak terima di tuduh selingkuh oleh mas Riyan karena faktanya Niya selalu setia.
"Apa?!" nadanya ketus malas untuk berkomunikasi dengan Niya.
"Baca, itu surat yang aku dapet tadi pagi. Zona yang nerima. Di situ jelas siapa yang salah...."
Niya melipat kedua tangan di dada setelah Mas Riyan menerima surat yang dia berikan. Niya memperhatikan wajah Riyan, dan wajah itu berubah ubah dalam berekspresi, kadang mengerut kadang juga seperti marah.
"Apa apaan ini?!"
Riyan melempar surat itu tepat mengenai wajah Niya, yang membuat Niya kaget. Dia pikir suaminya akan meminta maaf dan tidak akan pernah mengulangi lagi kesalahannya. Tapi...yang dia lihat justru sebaliknya. Mas Riyan terlihat marah dan tidak merasa bersalah, atau malah tidak terima kelakuan buruknya terungkap?
"Kau sengaja menulis surat seperti ini Niya? Kampungan sekali.." Riyan menatap sinis wanita yang masih berstatus istrinya. Jika saja Riyan sudah tidak mencintainya, mungkin sekarang Riyan sudah menjatuhkan ta-lak.
"Untuk apa aku berbuat seperti itu? Ini asli Mas, asli Luna yang nulis. Kau lihat baik baik, di surat ada nama Luna di sana. Sudah lah mas, akui saja hubungan gelap mu bersama dia! Jangan menutupinya dengan membalikan keadaan dengan menuduh ku selingkuh. Faktanya kau yang mengkhianati ku bukan aku yang mengkhianati mu!"
Niya sudah muak dengan masalah ini. Niya memilih keluar kamar ini dan memilih tidur di kamar Arfi saja.
BRAKKK
Niya menutup pintu dengan kencang membuat Riyan sedikit terlonjak. Sesaat Riyan termenung, diam menatap surat yang masih dia genggam.
pesan dari siapa?