NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Deru Baja dan Tangan Besi

Rasa pahit itu tidak sekadar menempel di lidah; ia meresap ke dalam pori-pori, mengalir di pembuluh darah, dan mengendap di dasar paru-paru.

​Dara Kirana menatap pantulan dirinya di cermin toilet sekolah keesokan paginya. Wajahnya terlihat pucat, namun bukan karena ketakutan. Ramuan akar Pasak Bumi dan getah Daun Ruruhi yang dicekokkan Kakek Danu semalam bekerja dengan cara yang sangat invasif. Setiap kali Dara menarik napas, ia bisa merasakan aroma tanah basah dan belerang menguar dari napasnya sendiri. Ramuan itu seolah menjadi selimut gaib berbahan lumpur yang menutupi pendar energi murni dari darah Pawangnya.

​Namun, perlindungan itu datang dengan harga mahal. Kepala Dara berdenyut konstan, dan suhu tubuhnya terasa lebih dingin dari biasanya.

​Saat ia berjalan menyusuri koridor menuju kelas XI-IPA 1, efek dari ramuan Kakek Danu langsung terlihat. Dua hari yang lalu, setiap kali Dara melewati sekelompok murid, ia bisa merasakan tatapan tajam dan bisik-bisik yang seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata. Pagi ini, ia hanyalah angin lalu. Bahkan Tio dan Adi—si kembar Ajag yang ditugaskan Bumi untuk mengawasinya—sempat kebingungan saat Dara berjalan melewati mereka di gerbang sekolah. Mata si kembar memicing, hidung mereka mengendus udara dengan bingung, sebelum akhirnya menyadari bahwa gadis yang lewat itu memang benar-benar Dara.

​Ramuan ini benar-benar menghapus aromaku, batin Dara, sedikit lega namun juga merasa terasing di dalam tubuhnya sendiri.

​Keberhasilan ramuan itu diuji pada puncaknya saat jam istirahat pertama.

​Dara sedang berjalan menuju perpustakaan utama—bukan perpustakaan tua di sayap barat yang kini disegel dengan pita kuning—ketika ia berpapasan dengan tiga bersaudara Bagaskara di lorong tengah.

​Langkah Dara otomatis melambat. Instingnya menegang.

​Maya berjalan di depan, Raka di kanan, dan Indra... Indra berjalan dengan langkah yang diseret. Penampilan pemuda Cindaku itu pagi ini sangat mengerikan. Jika kemarin ia terlihat seperti singa yang sedang menahan murka, hari ini Indra terlihat seperti raja hutan yang sedang sekarat akibat racun.

​Kulit pucat Indra dipenuhi peluh dingin. Kemeja seragamnya tidak dimasukkan, lengannya digulung asal-asalan. Urat-urat halus di leher dan rahangnya tampak menonjol berwarna kehitaman. Namun yang paling kentara adalah matanya. Warna keemasan di pupilnya meredup, berkedip-kedip tak stabil seolah sedang berperang melawan kegelapan yang berusaha menelan akal sehatnya. Bulan baru tinggal dua hari lagi, dan Nafsu Rimba di dalam darahnya sedang berada di titik didih.

​Saat jarak mereka menyusut menjadi tiga meter, Indra mengangkat wajahnya secara refleks. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, sebuah gerakan otomatis yang selalu ia lakukan setiap kali Dara berada di dekatnya, mencari 'obat penenang' dari aroma sang Pawang.

​Namun, tidak ada apa-apa.

​Mata Indra membelalak. Dadanya naik turun dengan kasar. Ia mengendus udara dengan panik, mencari aroma manis yang menyejukkan, aroma yang menjadi satu-satunya jangkarnya pada kewarasan. Yang ia dapati hanyalah bau debu, bau keringat manusia biasa, dan bau pahit belerang yang memuakkan.

​"Indra," bisik Maya cepat, menyadari adiknya kehilangan keseimbangan. Maya langsung mencengkeram lengan Indra dengan kuat. Raka juga bergerak maju, memasang badan untuk menutupi Indra dari pandangan murid-murid lain.

​Indra tidak memedulikan kedua saudaranya. Pandangannya terkunci pada Dara yang berdiri kaku di pinggir lorong.

​Ada badai kebingungan, frustrasi, dan penderitaan yang luar biasa di dalam tatapan pemuda itu. Indra tahu itu adalah Dara. Matanya melihat gadis itu. Namun insting binatangnya menolak untuk mengenalinya karena aroma penawar itu telah hilang tak berbekas. Sang Harimau Putih di dalam dada Indra meraung marah karena 'oase'-nya telah dirampas secara paksa.

​Dara menelan ludah. Hatinya mencelos melihat betapa tersiksanya Indra. Gadis itu nyaris melangkah maju untuk menyentuh pemuda itu, untuk memberikan energi dari segelnya secara langsung. Namun, bayangan wajah Willem yang pucat dan mematikan kembali melintas di benaknya. Ia tidak boleh membuka penyamarannya. Belum.

​Dara menundukkan kepalanya, memutus kontak mata dengan Indra, dan berjalan cepat melewati mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Di belakangnya, ia bisa mendengar suara napas Indra yang menderu kasar dan geraman rendah yang nyaris lolos dari tenggorokan pemuda itu, disusul oleh suara Maya yang setengah menyeret adiknya menjauh dari keramaian.

​Bertahanlah, Indra, batin Dara pedih. Hanya sampai kita bertemu Sutan Agung sore ini.

​Lonceng pulang sekolah adalah suara paling melegakan hari itu.

​Sesuai rencana, Dara tidak akan pulang ke rumah. Kakek Danu telah mengiriminya pesan singkat saat jam istirahat siang: "Tunggu Kakek di simpang tiga Jembatan Merah. Kita akan langsung mendaki ke Lereng Utara. Jangan bicara pada siapa pun."

​Jembatan Merah adalah sebuah jembatan gantung tua peninggalan Belanda yang berjarak sekitar dua kilometer dari sekolah, berada di jalur melingkar yang membelah tebing menuju wilayah hutan yang lebih tinggi.

​Dara mengambil sepeda ontelnya di parkiran. Kabut turun lebih awal, menyelimuti Lembah Marapi dalam selubung abu-abu yang pekat. Rintik hujan mulai turun, membuat jalanan aspal yang sudah berlubang menjadi licin dan berbahaya.

​Dara mengenakan jas hujan plastik tipisnya dan mulai mengayuh.

​Jalan Raya Lereng Marapi bukanlah jalanan yang ramah. Di sebelah kiri adalah tebing batu cadas yang menjulang vertikal, sementara di sebelah kanan adalah jurang curam yang dasar pepohonannya tidak terlihat tertutup kabut. Jalanan ini menanjak dan dipenuhi oleh tikungan tajam (blind corner). Sialnya lagi, jalur ini adalah urat nadi utama bagi truk-truk raksasa pengangkut kayu gelondongan (logging trucks) dari hutan produksi di wilayah atas.

​Napas Dara terengah-engah melawan hawa dingin dan tanjakan curam. Sepeda ontel Kakek Danu yang berat membuatnya harus berdiri di atas pedal untuk bisa terus melaju. Jarak pandangnya ke depan mungkin hanya sekitar lima belas meter akibat kabut dan hujan.

​Semuanya berjalan normal, sesunyi biasanya, hingga ia mencapai tikungan tapal kuda (hairpin turn) yang diapit oleh tebing batu setinggi dua puluh meter.

​Dari arah atas tebing, menembus kabut tebal, terdengar suara raungan mesin diesel yang dipaksakan melebihi kapasitasnya. Raungan itu disusul oleh suara klakson angin yang dibunyikan secara brutal dan terus-menerus. TINNNN! TINNNNNN!

​Dara menghentikan kayuhannya. Bulu kuduknya meremang.

​Suara klakson itu tidak terdengar seperti sapaan, melainkan sebuah jeritan panik.

​Sedetik kemudian, dari balik tikungan buta di atasnya, sebuah truk logging enam roda muncul dengan kecepatan yang sama sekali tidak masuk akal untuk jalanan menurun yang licin. Truk itu mengangkut belasan batang pohon mahoni dan pinus yang diameternya lebih besar dari tubuh manusia dewasa.

​Dara terkesiap. Matanya membelalak lebar.

​Ban-ban besar truk itu terkunci, terseret di atas aspal yang basah dan menimbulkan kepulan asap putih yang berbau karet terbakar serta kampas rem yang hangus. Percikan api menyala dari bawah sasis truk saat logam bergesekan dengan jalan.

​Truk itu mengalami blong rem. Dua puluh ton baja dan kayu sedang meluncur turun tak terkendali, dan arahnya mengarah tepat ke tikungan tempat Dara berada.

​Lari, otaknya memerintah. Namun, tubuhnya menolak bekerja sama.

​Kengerian yang absolut mencengkeram sistem saraf Dara. Sensasi ini—suara raungan mesin yang memekakkan telinga, bau logam dan bahan bakar yang terbakar, dan pemandangan sebuah benda raksasa yang meluncur membawa kematian—memicu tombol trauma terdalam di alam bawah sadarnya.

​Dara kembali ke enam bulan lalu. Ia kembali ke kursi penumpang pesawat 737 itu. Ia bisa merasakan guncangan gravitasi yang merobek isi perutnya. Ia bisa mendengar jeritan ibunya.

​Waktu seolah melambat (slow motion).

​Truk raksasa itu membanting setir ke kiri untuk menghindari jurang, membuat bagian belakangnya oleng. Tali rantai baja pengikat kayu di bak belakang terdengar merintih sebelum akhirnya putus dengan bunyi TANG! yang nyaring. Beberapa gelondongan kayu raksasa terlempar keluar, menghantam aspal dengan bunyi debuk yang menggetarkan bumi.

​Kepala truk kayu itu—dengan bumper baja padat yang dilapisi bullbar besi berkarat—kini mengarah lurus ke tebing cadas di sisi kiri jalan.

​Lurus ke arah Dara yang berdiri membeku di atas sepedanya.

​Dara tidak menjerit. Ia tidak menangis. Trauma telah membuat sistem tubuhnya shutdown. Gadis itu hanya memejamkan matanya rapat-rapat, melepaskan pegangannya dari setang sepeda, dan menunggu gravitasi baja itu mencabut nyawanya untuk menyusul orang tuanya.

​Tuhan, aku pulang, batinnya pasrah.

​Satu detik. Dua detik.

​Namun, bukannya benturan mematikan yang menghancurkan tulang-tulangnya, Dara justru merasakan embusan angin yang luar biasa kuat dan panas menabrak wajahnya dari arah depan. Angin itu membawa aroma yang sangat spesifik: aroma daun pinus kering yang terbakar dan bau besi berkarat.

​Lalu, terdengar suara dentuman yang paling mengerikan yang pernah didengar Dara seumur hidupnya.

​BAMMMMMMM! KRAAAKKK!

​Bukan suara tubuh manusia yang tertabrak kendaraan, melainkan suara baja padat yang berbenturan dengan sesuatu yang memiliki kepadatan berkali-kali lipat lebih keras. Benturan itu memicu gelombang kejut (shockwave) di udara yang menyapu bersih hujan dan kabut dalam radius lima meter.

​Dara terlempar ke belakang akibat gelombang angin tersebut. Punggungnya menghantam tanah basah dengan keras, membuat udara di paru-parunya terdorong keluar. Sepedanya terlempar ke tepi jurang, hancur berkeping-keping akibat sisa benturan.

​Telinga Dara berdenging panjang. Hujan seolah berhenti turun di area sekitarnya.

​Dengan napas tersengal dan pandangan yang berkunang-kunang, Dara membuka matanya, berusaha mencerna pemandangan mustahil yang tergelar di hadapannya.

​Kurang dari satu meter di depan tempatnya terjatuh, kepala truk raksasa itu telah berhenti total. Asap putih tebal mengepul dari radiator yang hancur, bercampur dengan uap panas yang aneh.

​Di antara asap tebal dan gerimis, berdirilah sesosok punggung.

​Itu adalah punggung yang sangat ia kenal. Kemeja seragam sekolah yang berantakan, berkibar liar tertiup angin dari kipas radiator truk yang masih berputar pincang.

​Indra Bagaskara.

​Pemuda itu berdiri dengan kuda-kuda yang sangat rendah, kakinya menancap hingga merobek lapisan aspal jalan layaknya paku bumi. Kedua lengannya terentang ke depan.

​Napas Dara tercekat. Logika manusia di dalam kepalanya menjerit hingga nyaris putus.

​Indra tidak menghindar. Indra menabrakkan dirinya secara sukarela ke arah kepala truk tersebut. Dan yang lebih tidak masuk akal lagi... Indra menghentikan laju monster baja seberat dua puluh ton itu murni menggunakan kedua telapak tangan kosongnya.

​Kedua telapak tangan Indra menancap dalam pada bullbar baja di moncong truk. Kekuatan benturan itu seharusnya menghancurkan tubuh manusia menjadi bubur berdarah. Namun alih-alih tubuh Indra yang hancur, justru moncong truk itulah yang melengkung parah. Bagian depan truk itu penyok ke dalam membentuk huruf 'V', seolah baru saja menabrak pilar beton penahan jembatan tol.

​Roda-roda belakang truk masih berputar liar, berdecit mencari cengkeraman di aspal yang basah karena mesinnya masih menyala, berusaha mendorong truk maju. Namun Indra tidak bergeser satu milimeter pun.

​Otot-otot di lengan dan punggung pemuda itu menegang dengan ekstrem hingga urat-uratnya terlihat seolah akan meledak dari balik kulit pucatnya. Uap panas yang luar biasa pekat memancar dari seluruh tubuh Indra, mengubah rintik hujan yang jatuh di sekitarnya menjadi desisan uap air bahkan sebelum air itu menyentuh tanah.

​"In...dra..." panggil Dara, suaranya berupa cicitan serak yang nyaris tak terdengar.

​Mendengar suara rapuh itu, Indra merendahkan bahunya dan mengeluarkan sebuah geraman yang mengguncang udara. Bukan suara remaja SMA, melainkan raungan murni dari raja hutan.

​Dengan satu hentakan tenaga terakhir yang tak masuk akal, Indra menolak moncong truk itu ke arah kanan.

​Sasis truk mengerang putus asa. Ban depannya meletus. Kepala truk itu tergeser secara paksa sejauh setengah meter ke kanan, lalu menghantam tebing batu cadas dengan bunyi gemuruh yang memekakkan telinga. Kaca depannya pecah berhamburan. Mesinnya mati seketika. Sisanya hanyalah keheningan mati dan suara logam panas yang mendesis terkena air hujan.

​Sopir truk tersebut tampak terkulai tak sadarkan diri di atas setir kemudi, darah mengalir dari pelipisnya akibat benturan dengan tebing, beruntung karena airbag truk tua itu tidak berfungsi namun ia tidak terlempar keluar.

​Indra berdiri diam di tempatnya, terengah-engah hebat.

​Pemuda itu perlahan menarik kedua tangannya dari bumper baja truk. Saat ia menurunkan lengannya, Dara bisa melihat darah segar menetes dari jari-jari Indra, bercampur dengan air hujan. Telapak tangannya hangus, bukan karena panas radiator truk, melainkan karena suhu ekstrem dari ledakan tenaganya sendiri.

​Dalam kesunyian yang mencekam itu, mata Dara tertuju pada bumper baja tebal truk tersebut. Di sana, di tengah-tengah logam yang melengkung dan penyok parah, terdapat dua buah cetakan telapak tangan manusia yang sangat jelas. Lekukan besi itu begitu dalam, seolah logam sekeras itu hanyalah tanah liat basah saat berhadapan dengan kekuatan Cindaku.

​Indra memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap Dara yang terkapar di aspal basah.

​Mata cokelat keemasan pemuda itu menyala dengan sangat terang, namun kali ini, tidak ada arogansi atau dominasi predator di sana. Yang terlihat hanyalah keterkejutan, kepanikan, dan ketakutan yang murni.

​Indra baru saja melanggar hukum paling sakral yang dipegang teguh oleh kaumnya selama berabad-abad: Jangan pernah menunjukkan wujud dan kekuatan sejatimu di hadapan dunia manusia.

​Pemuda itu tidak peduli bahwa aroma Dara telah hilang ditutupi ramuan. Saat Indra melihat truk itu meluncur ke arah Dara dari kejauhan, insting melindunginya mengalahkan segala doktrin dan aturan klan. Ia melesat dengan kecepatan penuh, menembus kabut, dan mempertaruhkan nyawanya sendiri, serta rahasia eksistensi kaumnya, demi nyawa gadis rapuh ini.

​Dara menatap mata emas itu. Teror dari kecelakaan truk menguap, digantikan oleh gelombang emosi yang jauh lebih besar. Rasa terima kasih yang membanjir, rasa bersalah, dan sebuah pengakuan atas seberapa besar pengorbanan yang baru saja dilakukan pemuda ini untuknya.

​"Indra... tanganmu..." Dara mencoba bangkit, mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah pemuda itu, mengabaikan ramuan pelindungnya. Ia ingin memberikan energi penyembuhnya, ia tidak peduli jika itu akan memicu Nafsu Rimba Indra.

​Indra membelalakkan matanya saat menyadari langkah Dara. Ia melihat tangannya sendiri yang berdarah, lalu melihat ke arah kabut di ujung jalan. Suara bising dari truk yang menabrak tebing pasti akan menarik perhatian warga desa atau pengendara lain dalam beberapa menit ke depan.

​Jika ada yang melihatnya di sini, berdiri di samping besi baja yang hancur dengan cetakan tangannya, seluruh klan Bagaskara akan terseret ke dalam perburuan manusia.

​Indra menatap Dara satu kali lagi—sebuah tatapan yang menyiratkan pesan: Tolong lupakan apa yang baru saja kau lihat.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Indra berbalik. Ia menekuk lututnya, dan dengan satu tolakan kaki yang sangat bertenaga, tubuh pemuda itu melenting sejauh belasan meter ke udara. Ia mendarat di atas salah satu dahan pinus raksasa di tepi jurang, dan dalam sekejap mata, melesat menghilang ke dalam pekatnya Hutan Marapi, menyatu dengan bayang-bayang pepohonan.

​Meninggalkan Dara sendirian di tengah jalan, ditemani oleh rintik hujan, uap panas yang memudar, dan moncong truk hancur yang menjadi saksi bisu dari kekuatan sebuah takdir yang melampaui batas nalar manusia.

​Air mata Dara akhirnya menetes, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Ia tidak menangisi truk yang nyaris membunuhnya. Ia menangisi raungan kesepian pemuda harimau putih yang baru saja mengorbankan segalanya demi memberinya kesempatan hidup yang kedua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!