NovelToon NovelToon
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Jf

BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 — “Hari di Mana Aku Mulai Bangkit”

Pagi itu Arga membuka matanya dengan perasaan yang berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak langsung merasa sesak ketika bangun tidur. Meski kamar kontrakannya masih sempit dan udara terasa panas, ada sedikit ketenangan yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

Ia duduk di pinggir kasur sambil menatap ponselnya yang layar kacanya sudah retak di bagian sudut. Tidak ada pesan penting. Tidak ada kabar baik. Tapi anehnya, pagi itu Arga merasa hidupnya perlahan mulai bergerak ke arah yang lebih baik.

Di luar, suara kendaraan mulai memenuhi jalan kecil depan kontrakan. Orang-orang sibuk berangkat kerja, pedagang lewat sambil menawarkan dagangan, dan langit mendung seolah ikut menemani suasana pagi itu.

Arga mengambil napas panjang.

“Gue harus berubah,” gumamnya pelan.

Kalimat itu sederhana, tapi terasa begitu berat bagi seseorang yang sudah terlalu lama hidup dalam rasa gagal.

Setelah mandi dan bersiap, Arga memakai kemeja hitam favoritnya. Meski warnanya mulai pudar, ia tetap merapikannya dengan penuh hati-hati. Hari itu ia kembali mencoba melamar pekerjaan baru setelah beberapa kali ditolak di tempat lain.

Dulu penolakan selalu membuatnya hancur. Tapi sekarang ia mulai sadar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Di perjalanan, Arga duduk di dalam angkot sambil melihat jalanan kota yang ramai. Matanya memperhatikan orang-orang yang berjalan cepat mengejar waktu. Ada yang terlihat bahagia, ada yang tampak lelah, dan ada juga yang mungkin sedang menyembunyikan banyak masalah seperti dirinya.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan dari Alya muncul di layar.

"Semangat ya hari ini. Jangan overthinking terus."

Tanpa sadar Arga tersenyum kecil. Alya memang selalu hadir dengan cara sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Arga terasa lebih tenang.

"Siap bos," balas Arga singkat.

Beberapa detik kemudian Alya kembali membalas.

"Aku percaya kamu pasti bisa."

Arga menatap pesan itu cukup lama. Tidak banyak orang yang pernah percaya padanya seperti itu.

Sesampainya di tempat interview, rasa gugup mulai datang lagi. Gedung itu terlihat cukup besar dibanding tempat kerja lamanya dulu. Beberapa pelamar lain tampak jauh lebih rapi dan percaya diri.

Arga sempat menunduk.

Rasa minder perlahan muncul kembali.

“Apa gue pantas ada di sini?”

Namun sebelum pikiran buruk itu semakin jauh, ia mengingat semua perjuangan yang sudah ia lewati. Tentang malam-malam saat ia hampir menyerah. Tentang rasa sakit yang pernah menghancurkannya. Tentang semua tangisan yang selama ini ia sembunyikan sendiri.

Kalau ia bisa melewati semua itu, seharusnya ia juga bisa melewati hari ini.

Namanya akhirnya dipanggil masuk.

Di dalam ruangan interview, seorang pria paruh baya duduk sambil membuka berkas miliknya.

“Kamu Arga?” tanyanya singkat.

“Iya, Pak.”

Pria itu membaca CV Arga beberapa saat lalu menatapnya pelan.

“Pengalaman kerja kamu lumayan berat ya.”

Arga tersenyum kecil. “Saya cuma berusaha bertahan hidup, Pak.”

Jawaban itu membuat pria tersebut terdiam sejenak.

“Kenapa kamu ingin kerja di sini?”

Arga menarik napas panjang. Ia tahu ini pertanyaan biasa, tapi baginya jawabannya sangat berarti.

“Saya ingin memperbaiki hidup saya, Pak,” ucapnya pelan. “Saya tahu saya belum sempurna. Tapi saya mau belajar dan saya siap kerja keras.”

Ruangan menjadi hening beberapa detik.

Pria itu lalu tersenyum tipis.

“Jarang ada orang yang jawab sejujur itu.”

Interview berlangsung cukup lama. Ketika semuanya selesai, Arga keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Ia belum tahu apakah akan diterima atau tidak.

Namun satu hal yang pasti—

Hari itu ia berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

Saat keluar dari gedung, hujan kecil mulai turun membasahi jalanan kota. Arga berdiri sebentar di bawah langit mendung sambil menatap keramaian di depannya.

Dulu ia selalu merasa hidupnya paling berat.

Tapi sekarang ia mulai mengerti bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Arga lalu tersenyum kecil sambil berjalan perlahan menembus gerimis.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkahnya terasa lebih ringan.

Karena hari itu…

Adalah hari di mana ia mulai benar-benar bangkit.

Namun perjalanan pulang tidak langsung membuat pikirannya tenang. Di dalam angkot yang mulai penuh oleh penumpang sore hari, Arga kembali termenung sambil menatap tetesan hujan di jendela. Kota terlihat sibuk seperti biasa, tetapi hatinya terasa jauh lebih sunyi dibanding keramaian di luar sana.

Ia teringat masa-masa saat hidupnya terasa begitu kacau.

Tentang pekerjaan lamanya yang hilang begitu saja. Tentang teman-teman yang perlahan menjauh ketika hidupnya mulai berantakan. Tentang malam-malam panjang saat ia hanya bisa duduk sendirian di kamar kontrakan sambil bertanya pada dirinya sendiri kenapa hidup terasa begitu tidak adil.

Ada waktu di mana Arga benar-benar ingin menyerah.

Ia pernah merasa dirinya gagal sebagai laki-laki. Tidak punya cukup uang. Tidak punya masa depan yang jelas. Bahkan untuk membahagiakan dirinya sendiri saja ia belum mampu.

Tapi hari itu sesuatu terasa berbeda.

Mungkin karena untuk pertama kalinya ia berhenti membenci dirinya sendiri.

Ponselnya kembali bergetar.

Alya meneleponnya.

“Hallo?” jawab Arga pelan.

“Gimana interview-nya?” suara Alya terdengar lembut di seberang sana.

Arga tersenyum kecil. “Lumayan. Gue gak tau diterima atau enggak, tapi setidaknya tadi gak gugup banget.”

“Kan aku bilang juga apa. Kamu pasti bisa.”

Arga diam beberapa detik sebelum akhirnya berbicara pelan.

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

“Karena masih percaya sama gue.”

Di ujung telepon Alya ikut terdiam.

“Ga, semua orang punya masa sulit. Kamu cuma lagi capek aja, bukan gagal.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah kenapa terasa sangat menenangkan bagi Arga.

Setelah telepon ditutup, Arga memandangi langit sore yang mulai gelap. Hujan turun lebih deras sekarang. Jalanan mulai macet, suara klakson bersahutan di mana-mana, dan udara dingin perlahan memenuhi kota.

Sesampainya di kontrakan, Arga langsung merebahkan tubuhnya di kasur tipis. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya terasa lebih ringan dibanding biasanya.

Ia menatap langit-langit kamar sambil tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa punya harapan lagi.

Malam mulai datang perlahan.

Lampu kamar yang redup membuat suasana terasa semakin sunyi. Dari luar terdengar suara hujan yang belum juga berhenti sejak sore tadi.

Arga mengambil gitar tuanya yang berada di sudut kamar. Jari-jarinya mulai memainkan beberapa nada pelan. Musik selalu menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa meluapkan semua perasaannya tanpa harus berbicara.

Ia memainkan lagu sederhana sambil memejamkan mata.

Dan tanpa sadar, air matanya jatuh perlahan.

Bukan karena sedih.

Tapi karena akhirnya ia sadar bahwa dirinya masih kuat bertahan sampai hari ini.

Semua luka, semua kecewa, semua rasa sakit yang pernah menghancurkannya ternyata tidak benar-benar membuatnya kalah.

Justru semua itu perlahan membentuk dirinya menjadi lebih kuat.

Arga mengusap wajahnya pelan lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.

“Hidup ternyata belum selesai ya,” gumamnya lirih.

Di luar sana, hujan masih turun membasahi kota.

Namun di dalam kamar kecil itu, seseorang yang dulu hampir menyerah akhirnya mulai menemukan cahaya kecil dalam hidupnya lagi.

Dan meski jalannya masih panjang…

Setidaknya sekarang Arga tahu satu hal—

Ia tidak ingin menyerah lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!