NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Skakmat di Depan Mikrofon

Aiswa merasa harga dirinya sedang diobral di tengah terik matahari Bali. Begitu ia melangkah masuk ke gazebo utama, ratusan pasang mata peserta seminar, yang mayoritas adalah rekan sejawatnya, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada yang iri, ada yang kagum, dan ada yang sudah menyiapkan ponsel untuk memotret.

Namun, puncaknya adalah ketika MC menepuk mikrofon dan bersuara dengan nada riang yang ingin sekali Aiswa sumbat dengan tisu.

"Selamat siang semuanya! Sebelum materi dimulai, mari kita sambut tamu VVIP kita, Bapak Devan Argian, investor utama acara ini. Dan... tentu saja yang sangat istimewa, di sebelah beliau ada Nona Aiswa, calon istri Bapak Devan Argian!"

Glek.

Aiswa merasa jantungnya merosot sampai ke jempol kaki. Dunia seolah berhenti berputar. Ia terpaksa memasang senyum pepsodent paling palsu sepanjang sejarah hidupnya.

"Tante Guru beneran bakal jadi Mama Zianna, ya?" bisik Zianna polos, menatap Aiswa dengan mata berbinar di barisan depan.

Aiswa menoleh, mencoba tetap terlihat seperti guru yang penyayang meski hatinya sedang meronta.

"Enggak, Sayang... itu Mbak MC-nya lagi latihan drama kayaknya. Salah paham itu. Tante duduk di sini cuma karena... emm, kursinya lebih empuk," bisik Aiswa lembut, tapi matanya melirik tajam ke arah Devan yang duduk tepat di sisi lainnya.

Aura permusuhan Aiswa sudah selevel level naga yang siap menyemburkan api. Namun, Devan? Pria itu justru tampak sangat tenang, menyesap air mineralnya dengan gaya elegan seolah baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.

Aiswa tidak tahu saja. Devan sudah merancang semua ini sejak awal. Jangankan saran Mbak Suci soal "jalan-jalan ke kebun binatang lain", kepala yayasan Aiswa saja bisa dia buat bertekuk lutut, apalagi hanya siasat kecil seorang guru TK. Aiswa terlalu polos jika mengira bisa bersekutu dengan Suci untuk mengalahkannya.

"Yah... padahal Zianna seneng banget kalau beneran Tante Guru jadi Mama," gumam Zianna lagi dengan nada sedikit kecewa.

Aiswa hanya bisa mengusap punggung Zianna.

Kamu senang, Zianna sayang, tapi Tante Guru geram setengah mati sama Bapakmu. Senyumnya itu, lho... kayak punya rencana jahat di film-film thriller. Menyebalkan! batin Aiswa berteriak.

Ia sempat melirik Suci di barisan belakang. Tatapan Aiswa seolah bertanya.

"Gimana sih?! Katanya mau bantuin kabur?!"

Suci hanya bisa mengangkat bahu dengan wajah pucat, seolah berkata 'Maaf Mbak, kekuasaan Tuan Muda nggak ada lawan'.

Begitu sesi seminar "fiktif" itu selesai, Aiswa tidak menunggu penutupan. Ia langsung lari secepat kilat menuju kamarnya, membanting pintu, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan napas terengah-engah.

"Gila! Benar-benar duda gila! Heran gue, dia makan apa sih sampai urat malunya putus begitu?" omel Aiswa sambil memukuli bantal.

Di tengah amarahnya, ponselnya bergetar. Panggilan dari Aditya. Aiswa langsung mengangkatnya, meluapkan semua kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun.

"Jadi dia beneran bilang kamu calon istrinya di depan semua orang?" tanya Aditya di seberang telepon.

Suaranya terdengar tenang, bahkan ada nada canda. Ia terlalu percaya diri bahwa Aiswa tidak akan berpaling darinya.

"Iya, Sayang! Aku malu banget! Rasanya pengen aku bungkus pake karung terus aku tendang ke laut," adu Aiswa merajuk.

"Wah, bahaya nih tendangan kamu. Harus hati-hati tuh Tuan Muda-nya," goda Aditya tertawa.

"Tapi jujur, kamu nggak tertarik sama CEO muda, tajir, dan ganteng itu?"

"Sayang! Kamu kok malah nanya gitu sih? Aku lihat dia saja rasanya pengen aku karungin, masa iya mau sama dia. Kalau bukan karena Zianna yang baik banget, sudah aku tendang dia dari muka bumi!"

"Iya, iya, aku bercanda. Ya sudah, aku ada meeting sebentar lagi. Kamu baik-baik di sana ya. Love you."

"Love you too, bye bye," sahut Aiswa lemas.

Begitu telepon tertutup, ia langsung memejamkan mata, mencoba melupakan kegilaan hari ini.

Tanpa Aiswa sadari, di kamar Presidential Suite beberapa lantai di atasnya, Devan sedang duduk santai di balkon. Ia melepas earphone kecil dari telinganya, alat yang terhubung dengan penyadap mini yang secara ilegal (tapi efisien) ia pasang di tas Aiswa melalui bantuan Lucas.

Satu sudut bibir Devan terangkat. Sebuah tawa rendah yang dingin namun penuh obsesi keluar dari mulutnya.

"Aku menanti tendanganmu itu... Aiswa," desisnya pelan.

Matanya menatap tajam ke arah laut lepas.

"Karena semakin kamu melawan, semakin aku tidak akan membiarkanmu pergi."

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!