Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11:debu yang terangkat
Satu minggu berlalu sejak malam di tepi sungai itu. Bengkel jam Sora kini tampak berbeda. Ia mengecat ulang dindingnya dengan warna putih yang bersih, membuang tirai-tirai kusam yang dulu ia gunakan untuk bersembunyi dari dunia luar. Detak ribuan jam di sana tidak lagi terdengar seperti ejekan, melainkan seperti orkestra yang menyemangati langkahnya.
Ponsel Sora tetap menyala, namun ia telah memblokir nomor Ezra. Bukan karena ia benci, tapi karena ia butuh ruang untuk bernapas tanpa gangguan dari masa lalu.
Suatu sore, lonceng pintu berdenting. Bukan pelanggan, melainkan Vanya Elara yang datang dengan biola di punggungnya. Gadis itu tampak lebih santai, meski wajahnya tetap menyimpan ketajaman.
"Kak Ezra sedang depresi," ucap Vanya tanpa basa-basi sambil duduk di kursi pelanggan. "Dia dan Liora tinggal bersama sekarang, tapi dia sering duduk berjam-jam menatap kunci cadangan yang kamu kembalikan malam itu. Dia seperti kehilangan kompasnya."
Sora yang sedang membersihkan lensa mikroskop hanya tersenyum tipis. "Dia tidak kehilangan kompasnya, Vanya. Dia hanya sedang belajar bahwa setiap pilihan punya harga yang harus dibayar. Dia memilih Liora, dan harga yang harus dibayarnya adalah kehilangan sahabatnya."
Vanya menatap Sora dengan kagum. "Kamu berubah banyak, Ra. Kamu terlihat... lebih hidup. Lebih berwarna."
"Mungkin karena aku berhenti hidup di dalam jam orang lain," jawab Sora.
Vanya kemudian mengeluarkan sebuah amplop kecil. "Ini dari Hael. Dia menitipkannya padaku karena dia terlalu gengsi untuk datang sendiri. Katanya, ada barang antik baru di tokonya yang butuh sentuhan tanganmu."
Sora membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah sketsa jam tangan matahari kuno dan sebuah pesan singkat dengan tulisan tangan yang kasar namun tegas: 'Waktu tidak menunggu siapapun, tapi koin di puncak bukit itu masih menunggumu jika kamu ingin melihat matahari terbit lagi. Datanglah ke toko jam 7 malam.'
Sora merasakan debaran aneh di dadanya. Debaran yang berbeda dari apa yang ia rasakan untuk Ezra. Ini bukan debaran kecemasan, melainkan debaran harapan.
Sora menoleh ke arah jendela, menatap toko antik Hael di seberang jalan. Ia melihat Hael sedang memindahkan sebuah lemari kaca tua, pria itu tampak berkeringat namun tetap memiliki aura misterius yang kini terasa menarik bagi Sora.
"Bilang padanya, aku akan datang jam 7 tepat," ucap Sora pada Vanya.
Vanya tersenyum penuh arti sebelum pergi. Sora kembali pada pekerjaannya, namun kali ini ia melakukannya dengan bersenandung kecil. Ia menyadari bahwa melepaskan Ezra bukan berarti akhir dari hidupnya, melainkan pembukaan gerbang menuju dunia yang jauh lebih luas—dunia di mana ia adalah tokoh utamanya.
Vanya tersenyum penuh arti sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan denting lonceng pintu yang perlahan memudar. Sora kembali pada meja kerjanya, namun kali ini ada yang berbeda. Jemarinya yang biasanya kaku karena kecemasan, kini bergerak lincah membersihkan sisa-sisa minyak pada roda gigi jam saku pelanggan. Tanpa sadar, sebuah melodi lembut keluar dari bibirnya—ia bersenandung kecil, sebuah nada yang sudah lama tidak ia nyanyikan sejak Ezra memutuskan untuk menetap di Paris.
Ia menyadari satu hal besar hari ini: melepaskan Ezra bukan berarti akhir dari detak hidupnya. Sebaliknya, itu adalah pembukaan gerbang menuju dunia yang jauh lebih luas—dunia di mana ia bukan lagi sekadar asisten di balik layar atau pelabuhan darurat bagi pria yang sedang tersesat. Di sini, di bawah cahaya lampu kerja yang fokus, Sora akhirnya menjadi tokoh utamanya.
Sora menatap amplop dari Hael yang tergeletak di meja. Sketsa jam matahari abad ke-17 itu tampak begitu menantang. Ia bisa merasakan gairah profesionalnya bangkit kembali—sesuatu yang sempat padam karena ia terlalu sibuk memperbaiki arloji porselen milik Liora dengan hati yang hancur.
"Jam tujuh malam," gumam Sora. Ia melihat jam dinding besar di sudut ruangan. Masih ada waktu tiga jam lagi.
Sora memutuskan untuk menutup bengkelnya lebih awal. Ia naik ke lantai dua, ke apartemen kecilnya yang bersahaja. Di depan cermin, ia menatap pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah matanya mulai memudar, digantikan oleh binar yang lebih hidup. Ia tidak memakai gaun mewah seperti Liora; ia hanya memilih kemeja linen berwarna krem dan celana kain yang nyaman, namun ia memoleskan sedikit parfum beraroma jeruk nipis yang segar—sangat kontras dengan aroma kayu manis yang selalu mengingatkannya pada Ezra.
Sebelum turun, Sora menyempatkan diri melihat ke luar jendela yang menghadap ke toko antik Hael. Di sana, ia melihat pria itu sedang memindahkan sebuah jam kakek (grandfather clock) yang sangat besar ke dekat jendela pajangan. Hael tampak fokus, otot lengannya menegang di balik kemeja flanelnya yang digulung. Pria itu seolah memiliki dunianya sendiri yang sunyi namun kokoh.
Sora menarik napas panjang, mengunci pintu bengkelnya dari luar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menoleh ke arah jalan raya berharap SUV putih Ezra lewat. Ia justru melangkah mantap menyeberangi jalan kecil yang memisahkan bengkelnya dengan toko antik Hael.
Udara sore yang mulai mendingin terasa segar di kulitnya. Begitu ia mendorong pintu toko Hael, aroma kayu tua dan kertas kuno langsung menyambutnya. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi, dan Hael yang sedang memegang obeng besar langsung mendongak.
"Kamu datang lima menit lebih awal," ucap Hael. Ia tidak tersenyum, tapi ada kilat kepuasan di matanya yang tajam.
"Tukang jam yang baik tidak pernah membuat waktunya menunggu, Hael," balas Sora sambil berjalan mendekat ke arah meja kerja besar di tengah toko.
Hael meletakkan obengnya dan menunjuk ke sebuah mekanisme mesin jam yang sudah dibongkar di atas beludru hijau. "Mekanisme ini macet sejak tahun 1920-an. Pemilik sebelumnya bilang jam ini dikutuk karena berhenti tepat saat pemiliknya meninggal. Tapi aku tahu, ini bukan kutuk. Ini hanya masalah gesekan yang salah pada poros utamanya."
Sora membungkuk, memperhatikan detail mesin itu dengan saksama. "Sama seperti manusia, ya? Seringkali kita berhenti bergerak bukan karena takdir, tapi karena kita membiarkan gesekan emosional menghambat poros hidup kita."
Hael terdiam sejenak mendengar ucapan Sora. Ia menatap wanita di sampingnya itu dengan cara yang berbeda. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah tangan 'penyelamatmu' bisa menghidupkan kembali apa yang sudah mati ini."
Malam itu, di antara ribuan barang antik yang menyimpan rahasia masa lalu, Sora tidak lagi merasa seperti bayangan. Ia merasa relevan. Ia merasa ada. Dan yang paling penting, ia merasa waktunya kini sepenuhnya miliknya sendiri untuk diputar.