"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya
Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pengkhianatan Sang Putri Wijaya
Udara di ruang kerja puncak Menara Elhaz mendadak membeku
Ujung belati dingin milik Isabella menekan tipis kulit leher Vandiko, meninggalkan jejak merah yang sangat kecil..
Melalui pantulan kaca jendela, Vandiko bisa melihat wajah Isabella yang biasanya tenang kini tertutup topeng kedinginan yang sempurna .
"Isabella," suara Vandiko tetap stabil, tidak ada sedikit pun nada gentar. "
Kau mempertaruhkan seluruh kerja sama kita hanya untuk sebilah belati?"
"Kerja sama?" Isabella terkekeh pelan di dekat telinga Vandiko"
Vandiko, kau terlalu naif untuk ukuran pria yang memegang Sistem, Kau pikir keluarga Wijaya menjadi nomor satu di negeri ini hanya karena bisnis bersih?
Kami adalah penjaga gerbang untuk para Naga, Dan kau...
kau adalah variabel pengganggu yang harus dijinakkan."
[Peringatan! Pengguna Sistem Terdeteksi!]
[Nama: Isabella Wijaya]
[Sistem: Sistem Dominasi Ratu (Level 45)]
[Skill Aktif: Pesona Mematikan (Mengunci gerakan lawan dalam radius 1 meter)]
Vandiko menyipitkan mata, Jadi ini alasannya mengapa sistemnya tidak mendeteksi Isabella sebelumnya
Isabella memiliki sistem yang dirancang untuk penyusupan dan manipulasi..
"Jadi, kau mendekatiku hanya untuk mencuri akses data dari Arka?" tanya Vandiko
"Lebih dari itu, Aku ingin sistemmu, Vandiko .
Sistem 'Kompensasi Penderitaan' memiliki kapasitas energi yang jauh lebih besar daripada sistemku
Ayahku butuh energi itu untuk membangkitkan Subjek Zero di Laboratorium Bawah Laut," bisik Isabella sembari menekan belatinya lebih dalam
Namun, Isabella melakukan satu kesalahan besar, Ia meremehkan amarah seorang pria yang sudah pernah kehilangan segalanya
"Isabella... kau bilang aku naif?" Vandiko tiba-tiba tertawa rendah
"Kau lupa satu hal, Sistemku aktif karena pengkhianatan Dan pengkhianatanmu saat ini...
baru saja memberiku bonus energi yang tidak pernah kau bayangkan."
[Ting! Pengkhianatan dari Orang Terdekat Terdeteksi!]
[Kompensasi Darurat: 100 Triliun Rupiah & Mode 'Overload' Aktif!]
[Otoritas Dewa: Ditingkatkan menjadi Otoritas Kaisar!]
BOOM!
Sebuah gelombang energi biru meledak dari tubuh Vandiko, melempar Isabella hingga menghantam dinding kaca kantor
Belati di tangannya hancur menjadi serpihan kecil .
Isabella terbatuk darah, matanya terbelalak melihat Vandiko yang kini dikelilingi oleh aura hitam dan biru yang pekat
Penampilan Vandiko berubah; matanya bukan lagi sekadar bersinar, tapi tampak seperti lubang hitam yang siap menelan apa saja,
"Kau ingin energiku?" Vandiko berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat lantai marmer retak
"Ambil jika kau mampu menahan beban penderitaan yang aku rasakan setiap hari."
Vandiko mencengkeram leher Isabella, mengangkatnya tinggi-tinggi
Di layar sistem Isabella, muncul peringatan merah
[Sistem Error! Lawan Terlalu Kuat! Melarikan diri adalah satu-satunya pilihan!]
"Gia!" panggil Vandiko
Dalam sekejap, Gia muncul dari bayangan, namun ia tidak menyerang Isabella, Ia justru menodongkan senjatanya ke arah Vandiko
"Maaf, Tuan," suara Gia bergetar, namun matanya tegas
"Keluarga Wijaya memegang chip peledak di otak adikku, Aku tidak punya pilihan."
Vandiko tertegun sejenak, Ia dikepung dari dua arah oleh dua wanita yang ia anggap sebagai tangan kanan dan sekutunya
Di dalam ruangan itu, ia benar-benar sendirian,
"Hahaha!" Vandiko tertawa liar "Bagus! Sangat bagus!
Inilah dunia yang sebenarnya!
Pengkhianatan di atas pengkhianatan!"
Vandiko melepaskan Isabella dan merentangkan tangannya
"Ayo! Ledakkan aku! Serang aku! Karena setiap inci rasa sakit yang kalian berikan sekarang, akan aku kembalikan dalam bentuk neraka yang akan menghanguskan seluruh kota!"
Tiba-tiba, suara Arka bergema di kepala Vandiko
"Vandiko, saatnya menggunakan kartu terakhirmu, Panggil 'The Sentinel of Void'."
Di luar gedung, langit kota yang cerah mendadak menjadi gelap gulita
Sebuah mesin raksasa yang belum pernah dilihat manusia mulai muncul dari balik awan, mengarahkan moncong meriamnya tepat ke Menara Elhaz