NovelToon NovelToon
Ketika Mantan Istri Mas Kapten, Hadir

Ketika Mantan Istri Mas Kapten, Hadir

Status: tamat
Genre:Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:260.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Rumah tangga yang baru dibina satu tahun dan belum diberi momongan itu, tampak adem dan damai. Namun, ketika mantan istri dari suaminya tiba-tiba hadir dan menitipkan anaknya, masalah itu mulai timbul.

Mampukah Nala mempertahankan rumah tangganya di tengah gempuran mantan istri dari suaminya? Apakah Fardana tetap setia atau justru goyah dan terpikat oleh mantan istrinya?

Ikuti kisahnya yuk.

IG deyulia2022

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kedatangan Orang Tua Dana

     Ucapan Nala tadi pagi masih terngiang di telinga Dana sampai dirinya berada di kantor. Dana termenung dan terus memikirkan ancaman Nala yang memintanya dilepaskan jika dirinya tidak tegas terhadap Raina dan Devana.

     Dana seakan sedang dalam posisi yang serba salah. Memilih Nala, lalu bagaimana dengan Raina, sementara Raina adalah anak semata wayangnya.

     Sementara itu di rumah Dana, saat ini sedang kedatangan tamu, yaitu kedua orang tua Dana. Bu Diana datang ke rumah setelah mendapat kabar dari Dana bahwa di rumahnya ada Raina sedang liburan. Dengan senang hati Bu Diana mendatangi rumah Dana bersama suaminya Pak Damar.

     Mereka berdua sama seperti Dana, sudah lama tidak bertemu cucunya setelah Dana dan Devana bercerai.

    "Assalamualaikum," ucap Bu Diana dan Pak Damar. Kedatangannya disambut Bi Marni yang kebetulan sedang beres-beres di ruang tamu.

     "Waalaikumsalam, Bu, Pak." Bi Marni menyambut kedua orang tua majikan laki-lakinya dengan hormat, lalu mempersilahkan mereka masuk.

     "Kata Dana, cucuku ada di sini, mana dia, kok sepi Marni?" tanya Bu Diana tidak lama setelah dia duduk. Matanya menatap ke ruang tengah mencari kehadiran Raina.

     "Eummm, ada, Bu. Sebentar saya panggilkan di kamar."

     Sebelum Bi Marni menuju tangga, Raina sudah menuruni tangga dan berlari kecil menghampiri nenek dan kakeknya.

     "Nenek, kakekkkkk." Raina berlari dengan senang, lalu merangkul Bu Diana dan Pak Damar yang sudah kurang lebih lima tahun tidak bertemu.

     "Ya ampun cucu nenek, sudah besar rupanya. Dulu nenek dan kakek terakhir bertemu kamu saat masih kelas dua SD. Sekarang kamu sudah kelas satu SMP."

     Bu Diana memeluk Raina dengan penuh kerinduan. Maklum, selama ini Devana tidak pernah mempertemukan Raina dengan nenek dan kakek dari Dana, dengan alasan sibuk dan tidak sempat.

     "Kamu senang tinggal sama papa kamu, Rai? Tinggal saja di sini, atau sama nenek dan kakek saja. Nenek dan kakek sepi di rumah," bujuk Bu Diana sembari menciumi rambut Raina yang masih wangi.

     "Raina betah di sini, tapi pengen sama mama," ceplos Raina, sukses ucapannya membuat Bu Diana dan Pak Damar saling lempar tatap kaget.

     "Tidak bisa dong Sayang, di sini sudah ada mama Nala. Papa dan mama Raina sudah tidak bisa bersama lagi."

     "Kenapa tidak bisa, Nek? Raina bahagia jika mama ada di sini." Ucapan Raina masih berlanjut.

     "Tidak bisa, Sayang." Bu Diana mengulang jawaban yang sama. Tapi Raina seperti belum paham kenapa tidak bisa.

     "Iya Nek, tapi kenapa mama tidak bisa bersama papa lagi?" tanya Raina semakin penasaran.

     "Tidak boleh, karena mama dan papanya Raina sudah berpisah. Juga tidak boleh bersama lagi, karena papa Raina sudah menikah lagi dengan mama Nala," jelas Bu Diana.

     "Raina nggak mau bersama Tante Nala. Tante Nala judes," ujarnya. Bu Diana dan Pak Damar saling lempar tatap kembali. Kali ini mereka tersentak mendengar pengakuan Raina.

     "Judes? Judes kenapa?" Bu Diana semakin terpancing rasa ingin tahunya dengan pengakuan Riana.

     "Pokoknya judes. Raina tidak suka Tante Nala. Raina hanya ingin mama dan papa saja," kekeuhnya sembari bibirnya mengerucut tanda tidak suka.

     Disela-sela obrolan mereka, Bi Marni tiba-tiba datang menenteng baki yang isinya minuman dan camilan untuk Bu Diana dan Pak Damar.

     "Silahkan, Bu, Pak, airnya diminum," ucap Bi Marni.

     "Tidak usah Marni, saya bisa ambil sendiri, kenapa kamu repot-repot?" ucap Bu Diana berbasa-basi.

     "Marni, istrinya Dana ke mana? Apakah pergi? Tapi, motornya masih ada di luar?" Bu Diana tiba-tiba mempertanyakan Nala yang tidak kelihatan. Dia tahu Nala memang suka ke toko, akan tetapi motornya masih ada di garasi.

     "Anu, Bu... Non Nala sedang sakit dari semalam. Sebentar, saya kasih tahu Non Nala kalau Ibu dan Bapak datang." Bi Marni kembali ke belakang setelah meletakkan air minum di atas meja.

     "Nala sakit? Sakit apa dia? Pantas motornya ada. Papa, dengar kata Raina tadi, Nala itu judes. Apa benar? Kalau benar, tega banget dia sebagai ibu sambung," bisik Bu Diana di samping telinga Pak Damar.

     Pak Damar menggeleng pelan, dia juga tidak tahu apa cerita Raina itu benar atau tidak.

     Bu Diana dan Pak Damar serta Raina kembali terlibat obrolan yang sesekali diselingi tawa. Hingga siang tiba, Raina yang terlihat ngantuk, akhirnya ketiduran di atas sofa.

     Pak Damar mengangkat tubuh Raina menuju kamarnya lalu ditidurkan di sana.

     Sementara itu Bi Marni, kini sedang berada di kamar tamu. Sebetulnya ia tidak tega membangunkan Nala yang sedang sakit. Tapi, Bi Marni terpaksa memberi tahu, dijumpai atau tidak bukan urusannya.

     "Non, di depan ada mertua Nona," beritahu Bi Marni seraya menggoyang pelan bahu Nala. Meskipun merasa tidak enak, tapi semua Bi Marni lakukan dengan terpaksa.

     "Non."

     Nala mulai bergerak, kepalanya menoleh pelan ke arah Bi Marni yang barusan menepuk bahunya.

     "Maafkan bibi, sudah membangunkan Non Nala. Tapi, di depan ada mertua Nona," ujar Bi Marni tidak enak.

     Perlahan Nala bangkit dari ranjang, kepalanya yang sakit kini terasa lagi saat bangkit dari pembaringan. Tubuhnya juga masih panas.

     "Ada mertua saya, Bi. Berdua atau sendiri?" Nala meyakinkan.

     "Berdua, Non."

     "Baik. Saya akan temui mereka," jawab Nala seraya bangkit untuk mendudukan tubuhnya di tepa ranjang. Bi Marni sigap membantu.

     "Kalau Non Nala nggak kuat, nggak usah ditemui, Non. Biar bibi katakan kalau Nona benar-benar sakit. Ibu dan Bapak pasti paham," ujar Bi Marni iba.

     "Tidak apa-apa, Bi. Saya nggak enak kalau tidak menemui mereka."

     Bi Marni mengangguk paham. Lantas ia membantu Nala bangkit dan menuntunnya keluar dari kamar tamu.

     "Kepala saya sakit, Bi Marni. Berat dan nyut-nyutan kalau diajak berdiri seperti ini," keluh Nala.

     "Kalau begitu, sebaiknya Non Nala berobat saja. Nona duduk saja di sini, bibi akan ambilkan obat deman yang ada di kotak P3K dulu sebelum Nona berobat."

     "Tidak, Bi. Biar saja. Demam meriang seperti ini biasa untuk saya, dan saya tidak suka minum obat," tolak Nala.

     Bi Marni tidak bisa memaksa. Dia hanya bisa patuh.

     "Ayo, Bi. Sakit kepalanya sudah hilang kalau didiamkan dulu seperti barusan," ujar Nala.

     "Benar Non Nala kuat?"

     Nala mengangguk, lagipula dia tidak enak kalau sampai tidak menemui mertuanya. Apalagi seperti diketahuinya, ibu mertuanya sedikit kurang suka terhadap Nala, terlebih karena Nala belum bisa memberinya cucu yang pernah beberapa kali dipertanyakannya karena ingin cucu.

     Nala dan Bi Marni tiba di ruang tamu. Nala langsung menghampiri kedua mertuanya lalu menyalaminya hormat.

     "Mama, Papa, sudah lama?" ujarnya basa-basi, sesekali wajahnya meringis karena merasakan sakit di tubuhnya.

     Nala duduk berhadapan dengan mama mertuanya.

     "Ada setengah jam lalu. Kamu sakit Nala. Kenapa tidak berobat? Kalau sakit itu, segera berobat, minimal obat warung. Jangan dibiarkan seperti ini. Kalau ditidurkan sepanjang hari, sakitmu itu akan lama. Jangan dibiasakan memanjakan penyakit," ujar Bu Diana.

     Alih-alih menasehati, tapi Nala merasa ibu mertuanya sedang mengomelinya. Wajahnya saja kurang ramah.

     "Sudah tadi pagi diurut Bi Marni, Ma. Nala bukan memanjakan penyakit. Tapi, kali ini demamnya disertai sakit kepala." Nala memberi alasan.

     "Iya makanya, kamu berobat. Biar tahu sakitmu apa."

     "Iya, Ma. Nanti kalau keterusan Nala pasti berobat." Nala mengangguk, lagipula dia tidak mau berdebat dengan ibu mertuanya.

     "Gimana kabar Mama dan Papa, sehat?" lanjut Nala basa-basi.

     "Seperti yang kamu lihat," tukasnya datar.

     "Oh iya, tadi Raina bilang sama kami, kalau kamu itu judes sama dia. Apa itu benar? Kalau itu benar, tega banget kamu," lanjut Bu Diana sambil menatap Nala tajam.

     Nala tersentak, dia kaget mendengar dirinya dikatakan judes oleh Raina. Sudah sakit, lalu kini malah dituding judes oleh Raina. Rasanya Nala ingin menangis jerit-jerit saat ini juga di depan kedua mertuanya.

1
Siti Maulidah
ceritanya menarik
Nasir: Mksh Kak.... lanjut ya...
total 1 replies
Surati
bagus ceritanya 👍
Nasir: Makasih byk Kak... sehat sllu ya...
total 1 replies
ayu cantik
suka
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Katherina Ajawaila
keren thour, ngk ngecewain pembaca, sukses selalu thoyr/Drool/
Nasir: Mksh byk Kak.... 🙏🙏🙏🥰🥰
total 1 replies
Katherina Ajawaila
akhirnya menjadi kel yg bahagia, bersyukur mertua juga bangga cucu nya yg di idam" kan menjadi kebanggan kel /Drool/
Katherina Ajawaila
makaanya jd suami jgn egois, mantan di takutin pd hal hidup nya penuh tipu, senang sih mas Dana di tipu dgn senyuman padahal yudas
😖
Katherina Ajawaila
keren Outhour, setelah pelakor cabut seribu langkah 🤭
Nasir: Mksh Kak..

🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Katherina Ajawaila
pasti znal


pasti Nala, semoga anak mu laki" dan gagah pula, pasti Is the Best /Drool/
Nasir: Hehehehe....
total 1 replies
Katherina Ajawaila
pinternya si jalang berinteraksi, ancam aja Dana biar sekali kali msk prodeo turun langsung pamor ibu guru /Toasted/
Katherina Ajawaila
Belagu juga Nala lama" kalau. jamin nya knpa" apa ngk nyesek
Katherina Ajawaila
bawa ke dokter Dana, tulslit! amat sih jd suami😀
Nasir: Wkkwkw...
total 1 replies
Katherina Ajawaila
blng donk. manah lg hamil
Katherina Ajawaila
istri aja SMP skrng Dana deorg kapten ngk tau kalau istrinya sedang mrngandung
Katherina Ajawaila
suami nego pantes aja gampang di kafalin sama jalang dan anak kompak xRaina
Katherina Ajawaila
pelacur mudahan ngk malu mantan loh,, jijikx/Toasted/
Katherina Ajawaila
ngk peka istri lg hamil, orang mual" tau sakit aja, sakit karna lendirmu jd anak
Katherina Ajawaila
ceritain bu Azizah k pak kapten, biar mikir dia jgn anak Arini aja yg di alem 😄
Katherina Ajawaila
jalang hanya modal topeng menjijiksn🤭
Katherina Ajawaila
mlg an ibu mertua terlalu ikut campur urusan anak. repot kalau ada org ke tiga ngk jelas 😖
Katherina Ajawaila
bawa sn orok sih jadi ya gitu deh mut nya angkt" an 🤭
Nasir: Bnr Kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!