"Mobil untuk besok dan 1 bulan ini sudah aku kirimkan ke rumah mu."
"Ok." Jujur saja Yura tidak tertarik membicarakan hal lain kepada pria sombong itu.
"Maksud Abang akan menjadikan Yura sebagai supir?" Gerald menatap tak percaya kepada sang Abang.
"Bukan hanya menjadi supir tetapi juga menjadi Sekretaris dan juga asisten pribadi tuan Gheo Cristiano, hebat kan aku?" Yura berkata sinis dengan nada menyindir.
"Wah..wah... Abang keterlaluan, pantes tadi Doni Papa suruh terbang ke Jogja buat menangani perusahaan di sana."
"Itu pantas dia dapatkan karena sudah membuat hidung ku hampir patah." Gheo tidak sadar jika dirinya baru saja keceplosan. Yang menyebabkan Gerald menganga karena masih belum paham seperti apa ceritanya.
"Itu juga pantas didapatkan oleh orang yang merendahkan harga diri saya!" Yura berkata tanpa menoleh ke arah kedua kakak beradik itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clareisya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Saat ini keluarga Cristiano dan juga beserta Yura dan Elsa sedang barbequean di taman belakang rumah mewah tersebut.
Yura dan Gerald di bagian memanggang, sedangkan Elsa dan Mika di bagian meracik bumbu olesan.
Sedangkan di bangku taman lengkap dengan mejanya, Pak Satria dan juga istrinya sedang berbicara serius dengan Gheo.
Namanya juga seorang Ibu sekecil apapun luka yang ada di tubuh anaknya tak bisa lepas dari penglihatannya.
"Gheo apa yang terjadi dengan hidung mu?"
"Tidak apa-apa hanya terjadi kecelakaan kecil di ruang gym kemarin." Gheo bersikap setenang mungkin karena dia tidak mungkin mengatakan kalau itu adalah cap stempel tangannya Yura.
"Bagaimana bisa kecelakaan hanya hidung mu yang memar!" Kali ini Pak Satria memperhatikan dengan seksama karena sebenarnya dia juga baru menyadarinya.
"Ini hanya masalah sepele, mengapa kalian selalu mempertanyakan hal yang tidak penting." Gheo melihat ke arah Yura dan Gerald yang tampak akrab, entah apa yang mereka bicarakan karena Yura selalu saja tertawa.
"Apa kamu tertarik padanya?" Sebagai sesama pria tentu saja Pak Satria mengerti tentang tatapan anak sulungnya itu.
"Tidak." Gheo masih saja memasang wajah datarnya.
"Mengapa? Menurut mama Yura itu gadis yang baik dan apa adanya, Mama suka karakter yang seperti itu." Ny. Satria tersenyum lembut menatap wajah tampan Gheo yang masih berekspresi datar.
"Padahal kalau saja Gerald tidak memiliki kekasih Papa berencana menjodohkannya dengan Yura. Kelihatannya mereka mudah cocok sejak pertemuan pertama mereka."
Bukannya menjawab Gheo malah pergi menghampiri Gerald dan Yura, yang masih saja asik ngobrol sambil membolak-balik panggangan mereka.
"Lihatlah anak mu yang satu itu ma, hidupnya terlalu kaku dan tidak peka dengan perasaannya sendiri." Pak Satria Hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Papa benar aku juga bingung apa yang ada dalam otaknya itu, tidak ada yang dipikirkannya selain pekerjaan."
"Lihatlah ma sepanjang makan malam tadi dia terus saja memperhatikan Yura, tapi masih saja bersikap seolah tidak mengenal Yura."
"Papa benar, Mama sangat senang kalau Gheo ada rasa padanya! Dan mama akan ikut andil mendekatkan mereka." Ny.satria tersenyum licik dan Pak Satria tahu betul arti senyuman itu.
Karena terlalu asik mengobrol Gerald dan Yura, tidak menyadari jika Gheo sudah berdiri di belakang mereka.
Ehmmm.! Geo berdehem cukup keras untuk menghentikan obrolan adik dan juga Sekretarisnya.
"Kamu pulang sama siapa?"
Yura dan Gerald saling pandang karena mereka tidak tahu siapa yang Gheo maksud. Karena Gerald juga tinggal di rumah pribadi miliknya, Hanya mika yang tinggal bersama Papa dan mamanya.
"Maksud Abang aku?" Gerald menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan! Tapi Yura."
"Aku dijemput kakak ku!" Yura kembali fokus mengipasi daging yang hampir matang.
"Mobil untuk besok dan 1 bulan ini sudah aku kirimkan ke rumah mu."
"Ok." Jujur saja Yura tidak tertarik membicarakan hal lain kepada pria sombong itu.
"Maksud Abang akan menjadikan Yura sebagai supir?" Gerald menatap tak percaya kepada sang Abang.
"Bukan hanya menjadi supir tetapi juga menjadi Sekretaris dan juga asisten pribadi tuan Gheo Cristiano, hebat kan aku?" Yura berkata sinis dengan nada menyindir.
"Wah..wah... Abang keterlaluan, pantes tadi Doni Papa suruh terbang ke Jogja buat menangani perusahaan di sana."
"Itu pantas dia dapatkan karena sudah membuat hidung ku hampir patah." Gheo tidak sadar jika dirinya baru saja keceplosan. Yang menyebabkan Gerald menganga karena masih belum paham seperti apa ceritanya.
"Itu juga pantas didapatkan oleh orang yang merendahkan harga diri saya!" Yura berkata tanpa menoleh ke arah kedua kakak beradik itu.
"Ini maksud kalian gimana sih? Aku tambah bingung! Hidung memar, harga diri. Apaan sih?" Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudahlah tidak usah dibahas kak Gerald, bikin mood berantakan aja." Yura pergi meninggalkan mereka dan duduk bareng mika dan juga Elsa.
"Jadi Yura yang memukul abang begitu?" Gerald seolah tidak percaya jika kenyataan itu benar adanya.
"Hmmm." Gheo mengambil kipas yang tadi diletakkan Yura begitu saja.
"Wwuahaha serius? Hahahha sumpah ini tuh lucu banget." Gerald mengusap matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
"Awas kalau mulut kamu bocor." Gheo menatap Gerald dengan tajam.
"Tenang aja kali, aku gak mungkin merusak kharisma Abang ku yang galak ini hahaha."
Setelah acara barbeque selesai, Yura memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.00.
"Ra jadi beneran Lo pulang dijemput kak Hans?" Elsa menghentikan langkahnya di depan pintu mobilnya.
"Iya, lagian rumah Lo sama rumah gue berlawanan arah. Ini sudah terlalu malam jika Lo antar gue dulu. Lagian kak Hans sudah hampir sampai."
"Ya udah gue nunggu kak Hans Dateng bareng Lo disini." Elsa menyandarkan tubuhnya ke mobil.
"Kakak kamu belum datang?" Gheo tiba-tiba muncul yang mengagetkan Yura dan Elsa.
"Dia sudah hampir sampai." Yura merespon seperlunya saja.
"Ingat! jangan telat menjemput ku besok." Gheo hanya berekspresi datar.
"Baik." Wajah Yura juga tak kalah dingin.
Sedangkan Elsa hanya diam tanpa ikut berbicara.
Setelah beberapa menit Mobil yang di Kendarai Hans terlihat memasuki halaman rumah mewah tersebut.
"Kalau begitu kami permisi tuan. Ayo Elsa!" Yura melangkah menghampiri mobil Hans.
Elsa melirik Gheo "Kami pulang dulu Pak Gheo."
"Aku bukan Bapak mu, jangan panggil aku seperti itu." Gheo pergi begitu saja belum sempat Elsa menjawab perkataannya.
"Oh my God! Tuh orang ganteng-ganteng tapi sombong! Benar kata Yura pria itu bikin orang kesel." Elsa mulai menyalakan mobilnya dan menyusul mobil Hans keluar.
Di dalam mobil Yura langsung merebahkan tubuhnya ke kursi penumpang karena dia sudah sangat mengantuk.
"Jadi pria itu yang menjadi bos mu?" Hans melihat Yura Yang memejamkan matanya.
"Hmm."
"Kalau tidak salah dia dulu senior ku di kampus."
"Aku gak perduli!" Yura mendengus dengan kesal.
"Dulu dia juga cowok idola di kampus, Tapi sikapnya yang sombong membuat banyak yang tidak suka padanya."
"Sudahlah aku malas membicarakannya!"
"Tadi ada yang mengantarkan mobil ke rumah, katanya itu mobil kerja kamu. bukannya selama ini kamu menggunakan mobil mu?"
"Sudahlah kak! aku capek. Lain kali aku bakalan cerita ke kakak. jadi sebaiknya sekarang kakak diam ok!" Yura menutup wajahnya menggunakan Hoodie milik Hans yang tersedia di dalam mobil.
"Nih anak udah aku jemput bukanya temenin aku ngobrol malahan tidur dasar si Tuti."
Yura sama sekali tidak meladeni Hans, menurutnya tidur di dalam mobil adalah hal yang lebih baik supaya perjalanan tidak terasa.
Bersambung 💞 💞💞💞💞💞
jangan lupa like and Komen....