Allyssa harus meninggalkan hidup nyamannya di Bandung dan memulai semuanya dari awal di Jakarta. Di sekolah barunya, ia mencoba menjalani kehidupan remaja seperti biasa, meski perlahan ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya.
Pertemuan dengan orang-orang baru, termasuk sosok misterius yang sulit dipahami, membuat hidup Allyssa berubah. Kejadian demi kejadian datang tanpa ia duga, seolah membawanya masuk ke dalam rahasia yang lebih besar.
Di tengah semua itu, ia hanya berpegang pada satu hal yang paling berarti—saudara kembarnya. Namun sebuah kejadian di malam yang seharusnya biasa saja, mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Allyssa menyadari bahwa tidak semua cerita berjalan sesuai harapan. Ada yang harus berhenti di tengah jalan—dan tak pernah sempat selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aynaaa12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 2
...FLASHBACK ON...
2 Hari yang lalu
Di ruang makan di sebuah rumah tampak keluarga tengah menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Terlihat sepasang suami istri dan 2 remaja perempuan yang tampak seumuran juga turut duduk di sana. Keduanya memakai seragam sekolah yang pastinya pagi itu mereka akan ke sekolah. Tapi setelah diperhatikan, keduanya memakai seragam sekolah yang berbeda.
“Kenapa kalian gak sekolah di tempat yang sama aja, Sayang?" Tanya Ibu kedua remaja itu lembut, mengawali perbincangan. Sementara di tempat yang sama, keduanya hanya saling memandang singkat.
“Papa juga heran sama deh sama kalian. Bukannya kalau kalian satu sekolah itu lebih bagus. Kalian bisa saling lindungi satu sama lain. Dari dulu juga kan selalu bareng. Apa salahnya sekarang sekolahnya juga di tempat yang sama”. Timpal pria paruh baya yang bisa ditebak itu adalah ayah kedua gadis tersebut.
“Mah, Pah. Sebelumnya hal ini kan udah kita bahas sebelum pindah. Waktu itu Mamah & Papa setuju sama permintaan kita. Kenapa sekarang di bahas lagi sih!” Ujar Allyssa mulai gak mood. Bahkan aktivitas makanya langsung terhenti. Makanan yang masih ada di piringnya tak lagi dihabiskan.
“Allyssa bener. Lagian Runa juga gak masalah kalau di sekolah sendiri. Runa tahu kalian khawatir sama kondisi Runa. Sekarang, Runa udah baik-baik aja kok. Runa janji bakal jaga diri! Tolong hargai keputusan kita ya Mah, Pah!” Ujar saudari Allyssa lembut, memberi pengertian kepada orangtuanya.
Sementara Allyssa yang mendengar itu sedikit lega mendengar pengertian yang diberikan saudarinya. Keduanya memang sangat akrab, mereka adalah saudara kembar tapi gak identik dan yang saling menyayangi. Sejak dulu keduanya menempel seperti perangko. Kemanapun salah satunya pergi, yang satu juga pasti ikut. Keduanya sedekat itu. Ditambah didikan orangtua mereka yang mengajarkan untuk saling menjaga dan menyayangi satu sama lain.
“Baiklah, kalau memang itu keinginan kalian. Tapi kalau berubah pikiran dan kalian berniat untuk satu sekolah, mamah & papa akan segera urus.” Ujar pria paru bayah itu. Percuma saja dia berdebat dengan kedua anak kesayangannya itu.
“Siap, Pah. Aruna setuju! Makasi atas pengertiannya.” Ujar Aruna senang.
“Udah jam 7 lewat nih, Lyssa berangkat sekarang ya! Takut telat di hari pertama.” Ujar Allyssa sambil bangkit dari kursinya hendak menyalami orang tuanya.
“Sekolah bukannya masuk Pukul 08.00 ya? Lagian nggak mungkin telat, sekolah aja cuman 7 KM dari rumah. Itu juga makanan dihabisin dulu sayang.” Ujar Ibu Allysa.
“Eh, gini Mah. Aku lupa ngasih tau. Mulai sekarang aku ke sekolahnya sendiri aja. Mau mandiri, boleh ya?” Ujar Allysa sedikit nyengir, berharap orang tuannya mengizinkan.
“Lah biasanya juga sebelum pindah Pak Yanto yang nganterin. Kenapa sekarang tiba-tiba pengen mandiri? Kamu juga kan baru semingu di Jakarta. Emang tau sekolahnya di mana?” Kali ini papanya yang berbicara.
“Kan bisa pakai taksi Mah. Pak Yanto nganterin Aruna aja. Sekolahnya dia juga kan lumayan jauh. Kasian Pak Yanto nanti harus muter balik”. Ujar Allyssa menyakinkan.
“Ok deh. Tapi hati-hati ya! Jangan deket sama orang asing! Jangan gampang percaya juga!” Ujar Mama Allyssa menasehati anaknya itu.
“Siap Mah! Allysa Pergi sekarang ya. Aruna Gue duluan!” Ujar Allysa senang sambil menyalami kedua orangtuanya. Tak lupa berpamitan sama saudarinya diikuti dengan jawaban,
“Hati-hati Lys”... Ujar Aruna.
“Hati-hati sayang...” Ujar orang tuanya.