NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kehidupan kedua

Saat Jinyu membuka matanya, ia menatap langit-langit ruangan putih. Tangannya sedikit sakit. Saat ia melihat ke arah tangannya, ia melihat jarum infus. Sepertinya ia diinfus karena terlalu lama terpapar udara dingin.

Ia perlahan bangun dan bersandar di kepala tempat tidur, lalu menatap sekeliling. Sepertinya ruangan pribadi, tidak ada satu pun ranjang pasien lain. Dindingnya bercat putih bersih, jendela kaca besar dengan gorden bermotif sederhana, dan di sudut ruangan ada wastafel kecil serta lemari obat. Meja di samping ranjangnya bahkan diisi beberapa buku bacaan—mungkin untuk pasien dewasa, tapi tak ada salahnya melihat nanti.

Saat ia melamun, pintu terbuka dan pria bernama Su Yichen itu masuk.

"Kamu sudah bangun, Nak? Aku membawakanmu bubur. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama 2 hari." Ia duduk di kursi samping ranjang pasien, meletakkan mangkuk bubur hangat di meja. Wanginya harum, campuran jahe dan ayam.

"Terima kasih sudah menolongku." Jinyu masih belum sepenuhnya nyaman dengan orang baru, jadi nadanya masih sedikit dingin. Ia terbiasa waspada—di dunia kiamat, kebaikan sering kali adalah jebakan.

"Sama-sama. Aku harus melapor ke militer sebentar, jadi sebelum pergi, aku perlu tahu siapa namamu, umurmu, dan kenapa kamu berada di gang seperti itu sendirian."

"Namaku Tian Jinyu, 4 tahun. Aku baru saja diusir karena orang tua angkatku sudah menemukan anak kandungnya, jadi mereka menganggapku beban." ucapnya sambil menerima mangkuk berisi bubur itu. Tangannya yang kecil sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena lemah. Ia mulai memakannya perlahan, merasakan kehangatan menjalar ke tubuh.

Pria itu sedikit terkejut dengan informasi yang dia dapat. Alisnya terangkat.

"Kamu berumur 4 tahun? Aku pikir umurmu 8 atau 9 tahun, badannya tinggi sekali." Tatapannya mengamati Jinyu dari ujung kepala sampai kaki sangat tinggi, memang di atas rata-rata anak seusianya.

Tian Jinyu menatap prajurit itu dengan tatapan bingung. Ia menyelesaikan makannya dan mengembalikan mangkuk kosong ke meja. "Tidak, aku masih 4 tahun. Aku harusnya 3 tahun, tapi orang tua angkatku mengubah akta kelahiran ku dan sekarang umurku 4 tahun." Ia sengaja menyebut bulan lahir yang benar—Desember, bukan Agustus seperti di dialog awal. Konsistensi itu penting.

"Tinggimu tidak sesuai umurmu." Su Yichen mengerutkan dahi, tapi bukan karena curiga, lebih karena heran.

Tian Jinyu menatap dirinya yang bertubuh mungil yang anehnya sudah setinggi 1,2 meter. Ia mengingat-ingat: di dunia asalnya, ras iblis memang tumbuh lebih cepat, tapi di sini? Mungkin efek sisa kekuatannya, atau mungkin tubuh ini memang spesial. "Aku tidak tahu. Setiap tahun aku akan selalu bertambah tinggi." Jawabannya jujur tapi samar cukup untuk tidak menimbulkan kecurigaan.

Su Yichen terdiam sejenak, lalu mengangguk. Mungkin ia berpikir ini hanya masalah gizi atau genetika. "Baiklah kalau begitu. Sebenarnya, aku ingin menawarkanmu menjadi putriku. Apakah kamu mau?"

Tian Jinyu menatapnya bingung. Apa maksudnya? Apakah ini penipuan baru? Di dunia kiamat, tak ada yang menawarkan adopsi gratis. Semua ada harga.

Su Yichen yang memperhatikan raut wajah Tian Jinyu yang penuh curiga hanya bisa terkekeh pelan. Ia mengerti—anak sekecil ini, sudah diusir, pasti trauma. "Aku hanya memiliki 3 anak laki-laki. Selama ini aku dan istriku selalu menginginkan seorang putri, tapi istriku tidak bisa hamil lagi. Jadi, karena kamu juga tidak memiliki orang tua, makanya aku bertanya padamu. Tak ada maksud buruk."

Tian Jinyu hanya mengedipkan mata dengan bingung, masih mencerna. Di era ini, anak laki-laki biasanya lebih dihargai, mereka bisa meneruskan garis keluarga, bekerja, merawat orang tua di masa tua. Lalu pria ini bilang kelebihan anak laki-laki? Aneh.

"Bukankah itu berkah? Semua orang menginginkan anak laki-laki, bukan anak perempuan. Mereka hanya menganggap anak perempuan sebagai beban." Ia menguji, ingin melihat reaksi jujur.

Su Yichen tersenyum getir. "Di keluargaku terlalu banyak anak laki-laki, jadi mereka tidak menginginkan lagi. Aku juga terlalu pusing mengurus ketiga putraku. Mereka bertiga seperti anak nakal, susah diatur, selalu berantem. Istriku sampai bilang, lebih baik punya anak perempuan yang manis dan penurut. Jadi..." ia mengangkat bahu.

Tian Jinyu terdiam. Sikap dinginnya perlahan menghilang, digantikan oleh rasa aneh yang tak bisa dijelaskan. Kehangatan? Tawaran tulus? Di dunia lamanya, tak ada yang memberi tanpa pamrih. Tapi pria ini... matanya jujur.

"Baiklah, aku mau." Suaranya lirih, tapi cukup jelas.

Su Yichen menampilkan wajah bahagia—sangat bahagia, sampai matanya berbinar. Ia segera berdiri dari kursi. "Oke, mulai sekarang namamu Su Jinyu. Aku seorang komandan divisi, jadi kamu tidak perlu takut pada siapa pun. Kamu istirahat saja di sini. Aku harus ke barak militer sebentar, dan kita akan pulang nanti sore." Ia berbalik, melangkah ke pintu dengan semangat, lalu berhenti. "Oh ya, aku sudah bilang sama perawat, kalau kamu butuh sesuatu, langsung bilang saja." Pintu tertutup, meninggalkan Jinyu sendirian.

Su Jinyu karena sekarang namanya begitu menatap pintu yang tertutup dengan perasaan campur aduk. Baru beberapa jam lalu ia gelandangan di gang sempit, hampir mati kedinginan. Sekarang? Ia baru saja diadopsi oleh seorang komandan divisi. Hidup memang aneh.

"Hidup ini memang aneh," pikirnya sambil bersandar di bantal rumah sakit. "Di dunia kiamat, aku bisa menghancurkan kota dengan satu lambaian tangan. Di sini, aku senang karena dapat bubur hangat." Ironis.

Ia tertawa kecil dalam hati. Tawa yang getir, tapi juga lega. Mungkin ini awal yang lebih baik.

Tangannya meraba kain infus di punggung. Sakit, tapi masih bisa ditahan. Tubuh kecil ini terlihat lemah namun memiliki kekuatan di atas rata-rata anak seusianya, ia sudah merasakannya sejak pertama kali membuka mata di rumah keluarga Wang. Jantungnya berdetak lebih cepat, metabolismenya tinggi. Walaupun beberapa jam terpapar cuaca dingin ekstrem, ia hanya merasa sedikit menggigil tidak sampai hipotermia parah. Lalu kenapa ia bisa pingsan?

"Proses penyatuan jiwa," gumamnya dalam hati. Itu penjelasan paling masuk akal. Jiwanya yang sebesar ratu iblis masuk ke tubuh kecil ini pasti butuh adaptasi. Tubuh ini harus menyesuaikan dengan kekuatan jiwa yang luar biasa.

Ia mencoba merasakan tubuhnya lebih dalam. Ada sesuatu yang berbeda. Biasanya, di usianya yang dulu, ia bisa merasakan aliran energi iblis di setiap sel. Sekarang? Kosong. Tak ada setetes pun energi. Tapi... di kedalaman hatinya, ada sesuatu yang berdenyut. Samar, seperti jantung kedua. Mungkin itu sisa-sisa kekuatannya, terpendam rapat-rapat.

"Pokoknya harus perbaiki dan kuatkan kondisi fisikku dulu," tekadnya. "Kalau sampai mati kedinginan lagi, ratu iblis? Bahkan dengan julukan ratu iblis sekalipun, kalau mati kedinginan bisa malu dengan bawahanku. Sudah mati terpeleset di kamar mandi, masa harus mati kedinginan pula?"

Pintu terbuka kembali. Seorang perawat masuk dengan nampan berisi obat dan segelas air putih.

"Oh, sudah bangun, Nak? Bagus sekali," sapa perawat itu ramah. Wanita paruh baya dengan seragam putih bersih dan rambut disanggul rapi. Ia meletakkan nampan di meja samping, lalu memeriksa infus dengan gerakan cekatan. "Kamu kedinginan cukup parah, untung Komandan Su cepat menemukanmu. Kalau semalaman di luar, bisa..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Su Jinyu paham maksudnya. Bisa mati. Di usianya, sekian jam di suhu mendekati nol tanpa pakaian hangat, itu hukuman mati.

"Terima kasih, Kakak Perawat," ucapnya dengan suara kecil, ia sengaja menggunakan nada anak-anak agar tidak menimbulkan kecurigaan. Tapi matanya tetap waspada, mengamati setiap gerakan perawat.

Perawat itu tersenyum. "Oh, sopan sekali. Kamu anak baik. Tapi panggil saja Tante, ya. Aku sudah terlalu tua, seharusnya jadi Tante kamu." Ia tertawa kecil, suaranya ramah.

"Tapi kakak masih cantik kok." Jinyu mencoba tersenyum. Ini aneh, merayu orang dengan tubuh anak kecil. Tapi di dunia mana pun, pujian kecil bisa membuka hati orang.

Perawat itu tertawa lebih keras. "Aduh, manis sekali mulutmu, Nak. Nanti kalau besar pasti bisa membuat banyak orang jatuh hati." Ia mengambil termometer dari saku. "Suhu tubuhmu sudah normal sekarang. Coba buka mulut, ya." Ia memasukkan termometer, lalu menunggu beberapa saat. Setelah memeriksanya, ia mengangguk puas. "Normal. Komandan Su bilang kamu akan diadopsi? Selamat ya, Nak. Keluarga Komandan Su orang baik semua. Istrinya juga ramah, anak-anaknya mungkin sedikit nakal, tapi baik hati. Kamu pasti betah."

Su Jinyu hanya mengangguk. Ia belum siap berkomentar tentang keluarga baru yang belum dikenal.

Perawat itu kembali menyimpan termometer dan mengelus rambut Su Jinyu dengan lembut. "Besok kamu sudah bisa pulang, atau sampai infusnya habis juga bisa. Kamu tunggu saja di sini sampai Komandan Su datang. Mungkin sore ini ia akan menjemput."

"Baik, terima kasih, Tante Perawat."

"Sama-sama, sudah menjadi tugasku. Kalau lapar atau haus, tekan bel ini, nanti aku datang." Ia menunjuk tombol merah di samping ranjang. "Kalau begitu, aku keluar dulu. Istirahat yang cukup, ya."

Pintu tertutup pelan. Su Jinyu kembali sendirian.

Ia berbaring, menatap langit-langit putih. Keheningan rumah sakit hanya diisi suara detak jarum infus dan sesekali langkah kaki perawat di lorong. Di luar jendela, langit kelabu musim dingin, salju tipis masih turun. Pemandangan damai yang tak pernah ia lihat di dunia kiamat di sana, langit selalu merah darah, dipenuhi asap dan debu.

"Sial, aku tahu tentang transmigrasi seperti ini dari buku-buku yang pernah kubaca di perpustakaan reruntuhan, tapi aku tidak menyangka malah aku yang bertransmigrasi. Dan ke era begini lagi..."

Ia menatap kosong ke arah jendela. Pikirannya melayang.

"Bahkan ingatan pemilik tubuh ini juga tidak ada. Apa jangan-jangan aku bertransmigrasi ke buku? Atau dunia baru yang damai tempat yang selama ini aku inginkan?"

Di dunia kiamat, ia hanya bisa bermimpi tentang masa lalu, tentang era sebelum kehancuran. Kini ia ada di sana. Tapi ironisnya, sebagai anak kecil tanpa kekuatan, tanpa harta, tanpa siapa pun. Ia harus memulai dari nol.

Tangannya meraih buku di meja samping. Sampulnya sederhana, judulnya "Kisah Teladan untuk Anak Baik". Ia membuka halaman pertama, membaca dengan cepat. Tulisannya bahasa Mandarin standar, mirip dengan yang ia kenal. Bagus, setidaknya bahasa tidak jadi masalah.

Satu jam berlalu. Ia membaca setengah buku cerita-cerita moral tentang kejujuran, kerja keras, dan berbakti. Beberapa membuatnya tersenyum getir. Di dunianya, kejujuran adalah kelemahan, kerja keras tak menjamin apa-apa, dan berbakti hanya untuk yang kuat.

Mungkin ini awal kehidupan baru sang ratu iblis di dunia baru.

Sebagai ratu kiamat dengan darah iblis murni, dia menggunakan kekuatannya untuk menjadi penguasa dunia dan menjadi terhormat. Kehidupan sang ratu kiamat dengan darah iblis memulai kehidupan Keduanya.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!