NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:141.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Dua Orang

Kertas itu bergetar di tangan Ayza. Napasnya tercekat saat matanya mulai membaca.

Satu baris. Dua baris. Lalu berhenti. Tubuhnya membeku.

Kuitansi hotel.

Nama tamu: Kaisyaf Al-Fath.

Tanggal: semalam.

Ayza menggeleng pelan.

“Tidak…” bisiknya lirih.

Tangannya semakin gemetar saat membaca baris berikutnya.

Jumlah tamu: dua orang.

Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras.

Ayza mundur selangkah.

Kertas itu hampir terlepas dari genggamannya.

“Gak mungkin…” suaranya pecah.

Semalam…

Bukankah semalam Kaisyaf pulang?

Bukankah semalam ia tidur bersamanya?

Bukankah semalam—

Ayza terdiam. Ingatan itu datang tiba-tiba. Kaisyaf datang larut. Wajahnya sedikit pucat. Sikapnya dingin.

Dan… Ia tidak menyentuh Ayza sama sekali.

Jantung Ayza berdetak semakin cepat. Pikirannya mulai menghubungkan satu per satu potongan yang selama ini ia abaikan.

Pulang malam. Sering menghilang. Bersikap dingin.

Dan sekarang…

Hotel. Dengan orang lain.

"Tak mungkin masuk kamar hotel dengan seorang pria 'kan? Gak mungkin urusan bisnis dibicarakan di kamar hotel."

Pikiran itu membuatnya sulit bernapas seolah udara menipis.

Tangan Ayza mengepal, meremas kertas itu tanpa sadar. Air matanya mulai jatuh. Satu. Dua. Lalu tak terbendung.

“Jadi… ini alasannya?” suaranya bergetar. “Ini alasan Abi ingin bercerai?”

Dadanya terasa sesak. Lebih sakit daripada saat mendengar kata cerai semalam.

Kalau hanya benci… ia masih bisa bertahan. Tapi kalau ada orang lain…

Ayza menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Tubuhnya perlahan jatuh terduduk di lantai.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia menjaga pernikahan itu.

Sepuluh tahun ia mencintai pria itu tanpa ragu.

Dan semua itu…

Hancur hanya dalam satu malam.

***

Ayza menyiapkan sarapan seperti biasa. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh suaminya.

Ia masih tidak percaya Kaisyaf berselingkuh.

Dua belas tahun mengenal satu sama lain… sepuluh tahun berbagi hidup sebagai suami istri. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Terlebih pria yang telah sepuluh tahun berbagi ranjang dengannya.

"Pasti ada sesuatu yang Abi sembunyikan, 'kan?" batinnya.

Entah karena ia tidak ingin mengakui kenyataan pahit itu, atau memang karena keyakinannya begitu kuat.

Entahlah.

Tangannya meletakkan dua gelas susu dan dua piring di atas meja.

Biasanya ada tiga. Kini hanya dua.

"Apa Abi sudah bosan dengan masakanku?" pikirnya, mengingat Kaisyaf semakin jarang makan di rumah.

“Umi…”

Suara kecil itu membuat Ayza menoleh.

Alvian, putranya, berjalan menghampirinya. Rambut bocah itu masih lembap, tetapi pakaiannya sudah rapi.

Ayza tersenyum. Sejenak, kegelisahan di hatinya mereda.

“Anak Umi sudah besar,” ucapnya sambil mengusap lembut rambut tebal Alvian.

“Tentu saja. Tiap hari Umi masak makanan bergizi, jadi Al cepat besar,” jawab Alvian dengan nada bangga.

Ayza tersenyum lagi, mencubit gemas hidung putranya. “Ayo sarapan.”

Alvian mengangguk, lalu duduk rapi di kursinya. Saat Ayza mengambilkan makanan, Alvian menatapnya.

“Umi…”

Ayza menoleh.

Alvian melirik sekilas ke arah kamar orang tuanya. “Abi nggak pulang lagi?” tanyanya pelan. Sorot matanya memancarkan kerinduan.

Gerakan tangan Ayza terhenti di udara. Hanya sesaat. Lalu ia kembali tersenyum.

“Semalam pulang. Tapi pagi-pagi sekali sudah pergi. Abi sepertinya sedang sangat sibuk.”

Alvian mengangguk pelan, berusaha mengerti.

Senyum di wajah Ayza perlahan berubah pahit. Ia tahu betul betapa dekatnya Alvian dengan ayahnya.

Sejak kecil, Kaisyaf selalu meluangkan waktu untuk mereka. Bermain, bercanda, pergi liburan… di tengah kesibukannya, ia selalu berusaha hadir untuk keluarga.

Namun akhir-akhir ini…

Tidak lagi.

Pria itu bahkan terasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

***

Usai sarapan, Ayza mengantar Alvian ke sekolah.

Mobil melaju dengan kecepatan standar. Di kursi sebelah, Alvian membuka bukunya, matanya serius membaca.

“Umi… kalau air dipanasin terus sampai hilang jadi asap gitu, kenapa?”

Ayza tersenyum kecil.

“Itu bukan hilang, Sayang. Airnya berubah jadi uap.”

“Oh…” Alvian mengangguk. “Kalau uapnya jadi air lagi?”

“Itu bisa terjadi kalau uapnya kena udara dingin.”

Alvian tersenyum puas.

“Berarti air bisa berubah-ubah ya, Umi.”

“Iya. Tapi tetap air,” jawab Ayza lembut.

Ayza terdiam sejenak setelah mengucapkannya. Seolah tanpa sadar… ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Alvian kembali menatap bukunya, lalu menutupnya saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Ia melepas sabuk pengaman, lalu mengecup punggung tangan Ayza.

“Al berangkat, Umi. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati ya,” ujar Ayza lembut.

“Iya, Umi.”

Alvian tersenyum, lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sekolah.

Ayza menatap punggung kecil itu hingga menghilang di balik gerbang.

Baru setelah itu ia mengalihkan pandangan, lalu melajukan mobil kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, Ayza melangkah masuk ke ruang kerja.

Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi.

Ia duduk di kursinya, meraih buku sketsa, lalu memegang pensil. Namun ujung pensil itu tak juga menyentuh kertas.

Kosong. Seperti pikirannya.

Akhir-akhir ini ia bahkan tak punya ide untuk menggambar. Perubahan sikap Kaisyaf begitu memengaruhinya.

Tak biasanya ia seperti ini. Namun jika menyangkut Kaisyaf… Pria itu memang satu-satunya yang mampu mengusik seluruh hatinya.

Ayza menghela napas pelan.

“Ya Allah… hamba tahu, tak seharusnya mencintai seseorang terlalu dalam…

Suaranya lirih.

"...karena saat ia pergi… hamba seperti kehilangan segalanya.”

Matanya perlahan menatap sekeliling ruangan itu.

Dan ingatan itu kembali datang.

“Ini desain baru kamu?” Suara itu terdengar hangat di telinganya.

Ayza menoleh. Kaisyaf berdiri di belakangnya, menatap sketsa di tangannya.

“Iya. Gimana?” tanya Ayza sambil tersenyum.

Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, lalu duduk di samping Ayza. “Bagus,” ujarnya singkat.

Ayza menyipitkan mata. “Bagus doang? Abi biasanya cerewet kalau ngomentarin desainku.”

Kaisyaf tersenyum tipis. “Kalau bagus ya aku bilang bagus.”

“Bohong. Pasti ada yang mau dikritik.”

Kaisyaf terkekeh pelan, lalu menunjuk bagian sketsa itu. “Di sini… coba kamu buat lebih tegas. Biar karakternya lebih kuat.”

Ayza memerhatikan, lalu mengangguk. “Hmm… iya juga.”

Kaisyaf menatap Ayza beberapa detik. “Tapi satu yang nggak pernah berubah.”

Ayza menoleh. “Apa?”

“Desain kamu… selalu punya ‘rasa’.”

Ayza tersenyum kecil. “Karena aku bikin pakai hati.”

Kaisyaf ikut tersenyum. “Makanya aku suka.”

Ayza tersentak. Ia kembali ke kenyataan.

Tangannya masih memegang pensil. Namun kertas di depannya tetap kosong. Senyumnya perlahan memudar.

“Sekarang…” bisiknya pelan, “bahkan aku nggak tahu harus menggambar apa.”

Dulu, ruangan ini penuh suara mereka. Sekarang… hanya tersisa kenangan yang tak bisa ia sentuh lagi.

Ayza menatap kertas itu sekali lagi.

Lalu perlahan berdiri.

“Aku harus tahu kebenarannya.”

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua kebenaran datang dengan suara keras....

...Kadang, ia hanya berupa selembar kertas… yang cukup untuk menghancurkan segalanya."...

..."Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan, tapi menyadari bahwa yang selama ini kita percaya…...

...ternyata bukan lagi milik kita."...

..."Beberapa perubahan tidak langsung terasa....

...Sampai suatu hari, kita sadar…...

...semuanya sudah tidak lagi sama."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Dew666
💜💜💜💜
Anonim
Ternyata Reza mengikut Fahri dan keluarganya yang sedang berada di pantai. Benar-benar penguntit sejati.

Ayza ke toilet. Reza bergerak mendekati bangunan toilet.

Ayza keluar dari toilet - Reza sudah berdiri di depannya. Bikin Ayza terkejut.

Reza sudah mendengar Ayza berkata yang sebenarnya. Apa masih kurang jelas - masihkah mengharapkan sesuatu yang tak mungkin dia miliki kembali.
Hanima
😍👍🙏
Anonim
Reza sebagai pengamat sejati ketika mereka makan pagi. Dia tahu kenapa Fahri terlihat berwajah cerah.

Melihat interaksi atara Fahri dan Ayza. Mendengar Alvian memanggil Abi untuk Fahri.

Semua itu membuat dada Reza terasa semakin sesak.

Alvian mau mancing di pantai. Mereka bertiga menuju pantai.

Reza mau ngapain keluar rumah juga dengan mobilnya.

Ditanya Bundanya - jawabnya ada urusan sedikit.

Sepertinya Rahman was-was terhadap Reza. Tidak akan tinggal diam kalau Reza sampai mengusik keluarga Fahri.
Rea
iya aku bacanya jg loncat krn nangis terus
🌠Naπa Kiarra🍁: Berarti sedihnya sampai nggak kuat ya, Kak 🥹

Tapi bacanya jangan lompat-lompat, kasihan retensinya 😭 Kita sesama penulis pasti tahu rasanya lihat grafik tiba-tiba jungkir balik.

Ujung-ujungnya reward melambaikan tangan dari kejauhan: waalaikumsalam 😂

Yang tersisa cuma mata panda gara-gara sistem baca model kodok.😭
total 1 replies
ngatun Lestari
masyaalloh.... banyak liku" hidup yg jadi pelajaran
Dek Sri
terima kasih atas karyanya kak, semoga sukses selalu
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
mery harwati
Terimakasih author 🙏
Sehat selalu ya 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
kisah yang haru biru sih, semoga kisah baru yang juga sudah dibaca juga seru yah🥰🥰
Sugiharti Rusli
bahkan pada akhirnya Fahri mengakui perasaan yang dia punya ke Ayza setelah dia sah sebagai suaminya,,,
Sugiharti Rusli
karena mau menolak seperti apapun Ayza, kalo takdirnya berjodog dengan Fahri makanya memang ada jalannya melalui Alvian yang sangat menyayanginya,,,
Sugiharti Rusli
dan Fahri juga tidak pernah melampaui batasannya, bahkan setelah Kaisyaf wafat, dan pada akhirnya takdirlah yang meruntuhkan hati Ayza,,,
Sugiharti Rusli
bahkan mungkin dulu saat akhirnya Ayza berjodoh sama mendiang Kaisyaf, dia tetap ada bersama mereka sebagai adik mereka
Sugiharti Rusli
yah memang pada akhirnya memenangkan hati Ayza bukan karena ambisi buta sih,,,
Eliermswati
trma ksh thor untuk semua cerita nya, smngt dan sukses untuk karya mu selanjutnya, 😍😍😍y q msh penasaran pengen d lnjut tentang alvian gede dan ank ayza sm fahri sih
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Asih Prawawati
Terima Kasih Thour..
Terima Kasih...akhir cerita yang indah .
aku suka .
Bukan sekedar bacaan...yg perlu di baca .
Tapi lebih dari itu ..ada pembelajaran juga .
🙏🙏🙏🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Dek Sri
saya sudah mampir kak
🌠Naπa Kiarra🍁: Iya, Kak. Makasih 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Juriah Juriah
trimakasih kepada author Nana atas crita bagus nya ga krasa aku mengikuti jln crita kisah kehidupan Ayza hingga season 2 dan sudah tamat ..dan sy akan mencoba mengikuti crita yg baru terbit semangat trus buat crita baru yg lebih bagus dan sukses selalu 🙏
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
tse
terima kasih ka. setiap ceritamu selalu banyak pengalaman berharga yang bisa kita ambil dalam memyikapi setiap masalah yang dtang dengan kepala dingin dan tidak terbawa emosi....
jadi penasaran apa kaka emang orangnya aslinya memang begini ya... ramah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain...
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih banyak, Kak 🥹 Kalau soal aslinya, mungkin aku bukan orang yang selalu tenang atau selalu kuat.

Aku juga pernah marah, sedih, kecewa, dan terluka. Cuma aku percaya, kalau emosi dipeluk terlalu lama, yang sesak biasanya diri sendiri.

Mungkin karena itu aku lebih suka memahami dan pelan-pelan belajar mengikhlaskan 😊
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Luar Biasa
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamin. 🤗🙏🙏🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!