Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Singgasana yang Terlalu Tinggi
Ruang tahta itu sunyi—namun sunyinya seperti jurang tanpa dasar.
Pilar-pilar raksasa menjulang menopang langit-langit yang dipenuhi ukiran Dao kuno. Lantai kristal putih membentang luas, memantulkan cahaya keemasan dari obor-obor surgawi yang menyala tanpa bahan bakar. Setiap hela napas di dalam ruangan ini terasa berat, seakan hukum alam sendiri berdiri berjajar dan mengawasi.
Di ujung ruang, di atas undakan sembilan tingkat, berdiri sebuah singgasana.
Bukan singgasana biasa.
Ia ditempa dari inti bintang yang telah padam, disempurnakan oleh api surgawi selama ribuan tahun. Ukirannya membentuk naga dan burung phoenix yang saling melingkar, kepala mereka bertemu tepat di sandaran punggung.
Dan di sanalah ia duduk.
Zhao Tianyu.
Punggungnya tegak. Satu tangan bertumpu ringan di sandaran. Wajahnya tenang seperti permukaan laut sebelum badai. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di bahu, mahkota kecil berkilau lembut di bawah cahaya.
Di bawahnya—
Ratusan bawahan berlutut dalam diam.
Aura mereka bukan aura biasa. Setiap satu dari mereka adalah penguasa wilayah, penjaga hukum, atau eksistensi yang bisa memusnahkan satu dunia fana dengan satu pikiran. Namun kini, kepala mereka tertunduk rendah.
Di luar istana, ratusan ribu lainnya berlutut memenuhi alun-alun surgawi. Lautan manusia, ras kuno, makhluk suci, semuanya menunggu satu kata.
Di sisi kanan dan kiri singgasana berdiri tujuh sosok.
Tujuh Pilar Dunia Atas.
Tujuh eksistensi tertinggi setelah dirinya.
Cang Xuandi berdiri paling depan—Pilar Pertama. Wajahnya tegas, matanya setajam pedang surgawi. Enam lainnya berdiri dengan wibawa yang tak kalah mengguncang.
Namun di hadapan Zhao Tianyu—
Mereka hanyalah bawahan setia.
Keheningan berlangsung cukup lama hingga bahkan waktu terasa enggan bergerak.
Zhao Tianyu akhirnya membuka suara.
“Xuandi.”
Suaranya tidak keras, tetapi bergema lembut ke seluruh ruang.
Cang Xuandi segera melangkah maju setengah langkah dan menangkupkan tangan.
“Tuan Agung.”
“Sudah berapa lama aku pergi?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun membuat udara terasa menegang.
Cang Xuandi menjawab tanpa ragu, meski nada hormatnya semakin dalam.
“Tuan Agung telah mengurung diri untuk berkultivasi selama… tiga abad.”
Tiga abad.
Zhao Tianyu terdiam.
“Sudah selama itu… ya?”
Ia bersandar perlahan ke singgasana. Tatapannya terangkat ke langit-langit yang dihiasi bintang buatan.
Tiga ratus tahun.
Bagi makhluk fana, itu adalah sejarah. Bagi eksistensi di sini, itu hanya sekejap mata.
Namun baginya—
Itu tetap waktu.
“Perjalanan yang melelahkan ini…” gumamnya lirih. “Akhirnya berakhir.”
Ia memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari gerbang kultivasi, pikirannya tidak dipenuhi Dao, tidak dipenuhi hukum alam, tidak dipenuhi keseimbangan semesta.
Melainkan—
Kenangan.
Semua ini bermula dengan cara yang… konyol.
“Entah bagaimana ceritanya,” pikirnya dalam hati, “aku tiba-tiba masuk ke dunia murim ini.”
Isekai?
Ya, istilah itu lebih cocok.
Padahal ia tidak pernah ditabrak truk legendaris itu.
Tidak ada cahaya putih dramatis.
Tidak ada dewi yang memberinya pilihan.
Yang ia ingat terakhir kali hanyalah—
Ia sedang membaca light novel kesukaannya.
Begadang seperti biasa.
Kopi di meja. Laptop menyala. Deadline kerja menunggu. Notifikasi pesan dari atasan berdatangan seperti spam kiamat.
Lalu…
Kosong.
Zhao Tianyu mengusap wajahnya perlahan.
Gerakan kecil itu—
Membuat ratusan orang di ruangan berkeringat dingin.
Mereka tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Agung. Mereka hanya tahu bahwa satu gerakan kecil saja bisa berarti kehancuran satu ras.
“Sepertinya aku… meninggal karena kebiasaanku itu, ya?”
Ia tersenyum getir dalam hati.
Jadwal makan berantakan.
Tidur dua jam sehari.
Pekerjaan menumpuk tanpa akhir.
Eksploitasi tenaga kerja yang dibungkus kata ‘dedikasi’.
Gaji yang tak sebanding dengan jiwa yang terkikis.
Ia bergidik ngeri.
Dunia itu kejam—bukan karena monster atau iblis, melainkan karena sistem yang perlahan menggerogoti semangat.
Namun ironisnya—
Berkat semua itu, ia memulai hidup baru di dunia ini.
Dunia tanpa deadline.
Tanpa atasan cerewet.
Tanpa alarm pagi yang terasa seperti hukuman.
Lamunannya buyar ketika suara Cang Xuandi terdengar, sedikit gemetar.
“Apakah ada yang salah, Tuan?”
Zhao membuka mata.
Ratusan kepala masih tertunduk.
Tujuh Pilar berdiri tegang.
Ah.
Ia hampir lupa bahwa sekarang dirinya adalah eksistensi tertinggi.
Ia mengibaskan tangan pelan.
“Tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan sesuatu.”
Nada suaranya ringan.
Namun tetap saja membuat semua orang merasa lega luar biasa.
Zhao menatap ruangan itu.
Semua ini.
Istana megah.
Kekuatan tak terbatas.
Loyalitas tanpa syarat.
Tentu saja tidak mudah untuk didapatkan.
“Mau tahu keseluruhan ceritanya?” pikirnya dalam hati.
Ah.
Malas.
Jika diceritakan dari awal sampai titik ini, mungkin akan menghabiskan ribuan chapter.
Kasihan author.
Jadi ia merangkum dalam pikirannya sendiri.
Ia terlahir di keluarga ternama di dunia fana.
Tidak miskin. Tidak pula penguasa.
Cukup terpandang untuk memiliki sumber daya, cukup rendah untuk tetap merasa lapar akan ambisi.
Ia berlatih.
Dan berlatih.
Dan berlatih.
Menjadi jenius di antara jenius.
Melompati ranah demi ranah seperti menaiki tangga yang sudah ia hafal polanya.
Mengapa?
Karena ia sudah katam dengan dunia per-isekaian.
Ia tahu klise.
Ia tahu jebakan.
Ia tahu bahwa bakat harus dipamerkan secukupnya, musuh harus dihancurkan tuntas, dan peluang harus direbut tanpa ragu.
Dengan kata lain—
The power of MC, boy.
Begitulah ceritanya.
Tamat.
Zhao hampir tertawa keras.
Namun ia menahannya.
Apa yang baru saja ia pikirkan?
Ia, eksistensi tertinggi Dunia Surgawi Atas, berbicara dalam hati seperti remaja chunibyou akut.
Memalukan.
Benar-benar memalukan.
Ia menekan senyum yang hampir lolos.
Tujuh Pilar memperhatikan dengan cermat.
Aura Tuan Agung berubah-ubah, meski hanya sepersekian detik. Mereka tak berani bertanya.
Tiba-tiba—
Zhao Tianyu bangkit dari singgasananya.
Gerakan sederhana itu membuat seluruh ruangan terkejut.
Ratusan bawahan menunduk lebih dalam.
Tujuh Pilar menegang.
Ia melangkah turun dari undakan.
Setiap langkahnya ringan, namun bergema jelas.
Ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap langit petang Dunia Atas.
Langit itu indah.
Gradasi emas dan ungu menyatu seperti lukisan hidup. Awan bergerak lambat, memantulkan cahaya seperti lautan kristal.
“Semua sudah kudapatkan,” gumamnya pelan.
“Harta.”
Ia memiliki gudang harta yang bisa membuat dewa lama menangis iri.
“Tahta.”
Tak ada yang lebih tinggi dari singgasananya.
“Kekuatan.”
Ia baru saja menembus ranah yang dianggap mustahil.
Namun—
Ada satu yang tak ia miliki.
Tangannya mengepal perlahan.
Ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Melainkan… kosong.
“Aku kangen kimchi.”
Tujuh Pilar terdiam.
Mereka tidak yakin apakah mereka salah dengar.
“Ramen…”
Cang Xuandi berkedip.
“Rendang…”
Adik Ketujuh mengerutkan kening.
“Nasi Padang juga oke…”
Ruangan itu hening total.
Zhao menghela napas panjang.
“Sial.”
Ia menutup mata.
“Aku juga… rindu keluargaku.”
Kalimat itu begitu pelan.
Namun mengguncang sesuatu di dalam dadanya.
Ayah.
Ibu.
Apakah mereka baik-baik saja?
Apakah mereka menangis saat aku pergi?
Apakah mereka tahu bahwa anak mereka hanya tertidur di depan laptop… dan tak pernah bangun lagi?
Kenangan datang tanpa izin.
Sebuah restoran kecil.
Meja kayu sederhana.
Aroma tumisan yang memenuhi udara.
Suara wajan beradu dengan spatula.
Ayahnya berkeringat di dapur.
Ibunya tersenyum melayani pelanggan.
Dan seorang anak kecil berdiri dengan mata berbinar.
“Aku akan jadi chef terkenal!” katanya dulu.
“Aku akan punya restoran sendiri!”
“Aku akan mengalahkan restoran Ayah!”
Ayahnya tertawa keras.
Ibunya menepuk kepalanya lembut.
“Baiklah, kami tunggu hari itu.”
Tidak ada ejekan.
Tidak ada larangan.
Hanya dukungan hangat.
Dada Zhao terasa sesak.
Ia telah menaklukkan langit.
Namun belum pernah menepati janji kecil itu.
Matanya tiba-tiba terbelalak.
Restoran.
Dadanya menghangat.
Ada satu hal yang belum ia wujudkan.
Satu hal yang bahkan lebih sulit daripada menembus ranah mustahil—
Cita-citanya.
Memiliki restoran sendiri.
Ia tertawa pelan.
Bukan tawa mengejek.
Melainkan tawa yang lahir dari kesadaran yang sederhana.
Ia telah berdiri di atas segalanya.
Namun mungkin—
Ia hanya ingin berdiri di balik meja dapur.
Dengan celemek.
Dengan wajan panas.
Dengan pelanggan yang tersenyum puas.
Zhao Tianyu memandang langit petang sekali lagi.
Tatapannya tidak lagi kosong.
Ada cahaya di sana.
Cahaya yang berbeda dari ambisi atau kekuasaan.
Cahaya seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang lebih penting daripada Dao.
Di belakangnya, ratusan orang masih berlutut menunggu perintah.
Tujuh Pilar berdiri dalam tegang.
Mereka mengira Tuan Agung akan mengumumkan restrukturisasi dunia.
Atau ekspansi wilayah.
Atau perang besar melawan kekosongan.
Zhao Tianyu tersenyum tipis.
“Xuandi.”
Cang Xuandi segera menangkupkan tangan.
“Tuan Agung.”
“Menurutmu,” Zhao berkata pelan, “bagaimana jika… Aku pensiun dan membuka sebuah restoran?”
Seketika suasana menjadi hening.