"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
“Bos, aku udah nyelidikin anak itu. Ternyata dia gadis berprestasi di sekolah ini!”
Salah satu pengawal melaporkan hasil penyelidikannya. Pria itu langsung mengenakan jas biru gelapnya.
“Kita berangkat sekarang.”
Sebuah mobil Mercedes telah siap. “Telepon kepala sekolahnya. Kabarkan aku mau datang.”
“Siap!”
Sementara itu, Mika masih menggenggam kertas mading. Jantungnya berdetak tak terkendali. Raut cemas di wajahnya benar-benar tak bisa ia sembunyikan.
“Mik, mending kamu jangan sampai berurusan sama dia, deh. Bisa gawat!” bisik seorang siswa.
Mika menunduk, lalu pergi. Saat sampai di dalam kelas, para siswi sudah ramai bergosip tentang pria tersebut. Mika langsung memasang headset dan menutup telinganya.
“Eh, kalian tahu nggak? Katanya dia donatur besar di SMA kita, lho!”
“Serius?!”
“Iya, aku dengarnya sih, gitu. Tapi nggak tahu pasti. Bisa aja dia bukan cuma donatur, tapi malah pemilik sekolah ini!”
“Bisa jadi. Ih, serem, ya.”
“Kalau sampai kita punya masalah sama dia … wah, jangan harap bisa hidup tenang!”
Beberapa siswi lain hanya mengangguk serius.
“Tapi kalau dilihat dari poster ini, dia tampan juga.”
“Ih, meskipun tampan dan kaya, aku ogah punya pacar kayak dia. Bukan bahagia, hidupku malah tiap hari terancam!”
“Tapi dia punya pacar nggak, sih?”
“Kayaknya nggak. Emang ada yang betah pacaran sama orang kayak gitu?”
Gosip itu terus berlanjut dengan penuh antusias. Mika tetap memasang headset, meski sesekali suara mereka masih terdengar samar.
Dug! Dug!
Wali kelas mereka tiba-tiba masuk ke kelas. Ia mengumumkan bahwa pelajaran hari itu diliburkan. Para murid diminta melakukan kegiatan apa pun sampai bel sekolah berbunyi.
Mendengar pengumuman itu, Mika segera merapikan buku dan beberapa pulpennya. Ia berniat pergi ke perpustakaan, tetapi langkahnya terhenti.
“Mika, kamu ikut Bapak ke ruang kepala sekolah,” ucap wali kelasnya.
Tanpa bertanya apa pun, Mika menuruti perintah itu.
Entah kenapa, jantungnya yang sejak tadi berdebar kini berdetak semakin cepat.
“Ayo, Mika, kamu kenapa, sih? Ngapain kamu takut. Dia itu bukan monster berdarah dingin. Dia manusia, sama kayak kamu, yang makan nasi,” batinnya berusaha menenangkan diri.
“Eh, tunggu … kenapa pikiranku malah ke pria itu? Belum tentu aku dipanggil karena dia, ’kan? Mika tenangin pikiranmu.”
Tatapan para siswa-siswi mengikuti langkah Mika dengan penuh tanda tanya, seolah menandakan sesuatu yang besar akan terjadi. Mika hanya berharap semua ini hanyalah firasat buruk yang konyol.
Cklik!
Pintu ruang kepala sekolah terbuka.
“Mika, masuk,” ujar wali kelasnya sambil mempersilakan.
Tak lama setelah Mika masuk, ia terkejut saat pintu itu dikunci dari luar.
“Pak … kok dikunci?” tanyanya gugup.
Namun, wali kelasnya hanya berkata, “Tenang saja, Mika. Duduk yang nyaman.”
Untuk kesekian kalinya, Mika menuruti tanpa bertanya apa pun.
Tiba-tiba kursi kepala sekolah berputar perlahan. Betapa terkejutnya Mika saat melihat siapa yang kini duduk di hadapannya—Arlan Gavriel.
Pria itu mengangkat tangannya, memberi isyarat agar kepala sekolah dan wali kelas segera keluar dari ruangan. Keduanya hanya menunduk patuh. Begitu berada di luar, mereka saling berbisik.
“Pak, Mika aman, ’kan?” tanya wali kelas dengan nada cemas.
“Iya, kita doakan aja,” jawab kepala sekolah ragu. Ia tak berani memastikan keselamatan Mika, karena selama berurusan dengan pria itu, hidup seseorang bisa hancur kapan saja.
Sementara itu, kondisi Mika di dalam ruangan semakin membuat jantungnya berdebar hebat. Arlan melemparkan bet nama milik Mika ke atas meja.
“Itu punyamu, ’kan?” tanyanya dingin. Raut wajahnya sama sekali tanpa senyum atau keramahan.
“I-iya … itu punyaku,” sahut Mika gugup.
Arlan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. “Kamu tahu apa salahmu?”
Mika mengerutkan kening. “Nggak!”
Bruak!
Seorang pengawal menggebrak meja.
“Bisanya kamu nggak tahu! Heh, bocah!” bentaknya sambil menjambak rambut Mika. “Kamu itu udah lihat hal yang seharusnya nggak kamu lihat!”
Kepala Mika dihempaskan ke meja. Tubuhnya gemetar.
“Kamu juga lupa satu hal!” Suara Arlan kembali terdengar, datar namun, tajam. “Kamu udah nabrak aku.”
Mika spontan mendongakkan kepala.
“Ha? Ja-jadi … yang aku tabrak semalam itu kamu?”
Arlan mengangguk pelan.
“Astaga, semalam aku ngomong kasar ke dia. Tamatlah riwayatku,” batin Mika panik.
“Apa yang bakal kamu kasih buat ganti rugi?” tanya Arlan sambil menyalakan sebatang rokok.
“Ganti rugi? Bukannya aku udah minta maaf? Terus soal kejadian yang lainnya, aku janji nggak bakal nyebarin!” jawab Mika, kali ini sedikit lebih tegas.
Arlan mengisap rokoknya dalam-dalam. Asapnya kemudian diembuskan tepat ke wajah Mika, membuat napasnya mendadak sesak.
“Uhuk! Uhuk!”
Mika refleks membuka tasnya dan segera merogoh inhaler asma. Arlan menatap datar pada benda kecil di tangan Mika, seolah penderitaan gadis itu hanyalah tontonan menarik baginya
“Penyakitan?” Arlan menyeringai tipis. “Lemah. Gadis miskin. Apa kamu udah bosan hidup?” ucapnya dingin.
Mika berdiri tegap. Dadanya masih naik turun, tetapi tatapannya tajam. “Heh, cuma itu yang bisa kamu katakan?” Suaranya terdengar menantang.
Entah kenapa, rasa takut yang tadi mencengkeramnya perlahan menghilang, digantikan oleh keberanian yang bahkan Mika sendiri tak mengerti asalnya. Seolah ada energi asing yang tiba-tiba mengalir deras dalam tubuhnya—membuatnya berani melawan Arlan secara langsung.
Arlan terdiam. Untuk sesaat, ruangan itu dipenuhi keheningan yang menekan. Asap rokok masih menggantung di udara, sementara tatapan Arlan menelusuri wajah Mika tanpa berkedip.
Sudut bibir Arlan terangkat samar. Senyum tipis yang sama sekali tidak hangat.
“Berani juga kamu,” katanya pelan, nyaris seperti gumaman. “Jarang ada orang yang masih bisa berdiri tegak setelah aku perlakukan kayak gitu.”
Ia bangkit dari kursinya. Langkahnya perlahan, berat, dan terukur—setiap pijakan membuat jantung Mika berdetak semakin keras.
“Biasanya,” lanjut Arlan sambil berhenti tepat di depan Mika, “mereka nangis. Ngemis. Atau pingsan.”
Arlan menunduk sedikit, menatap Mika dari jarak yang terlalu dekat. “Tapi kamu malah nantangin aku.”
Mika menelan ludah, tapi ia tidak mundur. “Kalau mau bunuh aku, ya bunuh aja,” ucapnya tegas. “Ngapain banyak bacot?”
“Ih, bocah nggak tau diri!” Pengawal hampir memukul Mika namun, dihalangi oleh Arlan. “Tapi Bos?!”
Tatapan Arlan mengeras pada pengawal, pertanda bahwa ia tidak boleh menyentuh gadis itu. Mata Arlan menyipit. Lalu, ia tertawa kecil.
“Gila,” gumamnya. “Kamu ini bener-bener aneh.”
Tangannya terangkat, jari-jarinya menyentuh dagu Mika, memaksanya mendongak. Pegangannya tidak kasar—justru terlalu tenang, membuat Mika merinding.
“Kamu tahu nggak?” bisiknya. “Orang kayak kamu itu biasanya mati paling cepat dan itu udah aku katakan juga sama kamu, ‘kan!”
Ia mendekatkan wajahnya.
“Atau ….” Suaranya merendah, “jadi milikku.”
Napas Mika tercekat.
“Tenang,” Arlan tersenyum tipis. “Aku belum mutusin apa-apa.”
Ia melepas dagu Mika, lalu berbalik mengambil rokoknya kembali.
“Tapi satu hal pasti,” lanjutnya tanpa menoleh. “Aku nggak suka saksi. Apalagi saksi yang terlalu berani.”
Pengawal melangkah maju, siap bertindak.
“Tapi,” Arlan mengangkat tangan, menghentikan mereka. “Gadis ini beda.”
Ia menoleh lagi ke Mika. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Kita bikin kesepakatan.”
Jantung Mika terasa mau meledak.
“Kamu tutup mulut,” ujar Arlan. “Ikut semua aturanku.” Ia tersenyum miring. “Sebagai gantinya ... aku pastiin hidupmu aman. Untuk sementara.”
“Apa untuk sementara? Pria ini gila!” batin Mika.
Ruangan itu terasa makin sempit.
“Kalau nolak?” tanya Mika dengan suara bergetar. Arlan mengembuskan asap rokok, matanya dingin.
“Kalau kamu nolak,” katanya santai, “keluargamu yang bakal nanggung akibatnya. Kali ini aku nggak main-main!”