NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyongsong hari di tengah keterpurukan

Dengan berbekal ketekatan,dan kondisi keluarga,Cantika bertekad,untuk berjuang demi keluarganya.

Di desa mencari pekerjaan sangat sulit,walaupun Cantika punya ijazah,Tapi tetap ia kesulitan untuk mencari pekerjaan yang layak,dan dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan memproduksi dan menjual kripik singkong.

Pagi masih gelap adzan shubuh belum berkumandang, bahkan embun pun belum sempat menetes dari ujung daun pisang, namun dapur kecil di belakang rumah Cantika sudah terang oleh nyala api tungku.

Semenjak ia menjadi tulang punggung keluarga,Cantika bangun lebih pagi dari biasanya .

Beberapa menit kemudian Suara sreng -sreng dari spatula besi yang beradu dengan wajan besar menjadi musik pembuka harinya. Asap kayu bakar mulai mengepul, memerihkan mata, namun Cantika sudah terbiasa. Baginya, asap itu adalah tanda bahwa hari ini keluarganya punya harapan untuk makan.

Sudah tiga bulan berlalu sejak kepergian Ayahnya. Kehidupan ekonomi keluarga mereka benar-benar berada di titik nadir.

Cantika yang semula hanya memproduksi satu bakul kecil, kini berusaha meningkatkan jumlah dagangannya. Ia sadar, biaya sekolah Gilang dan Rara tidak bisa dibayar hanya dengan recehan sisa kembalian susu Dodo.

"Nduk, istirahat dulu. Biar Ibu yang lanjut mengiris," suara Bu Asih memecah keheningan. Ibunya berjalan tertatih, tangannya yang masih sering gemetar mencoba meraih pisau pasah (alat pengiris singkong tradisional).

Cantika menggeleng cepat sambil menyeka keringat dengan ujung daster kumalnya. "Ibu jangan. Ibu lanjut bungkus yang sudah dingin saja. Tangan Ibu nanti luka kalau kena pisau ini, biar Cantika saja yang selesaikan gorengan terakhir."

Cantika tahu fisik ibunya tidak sesehat dulu,ibunya sangat ringkih dan sakit -sakitan,apalagi semenjak Ayahnya meninggal .

##

Sore harinya setelah berjualan kripik Cantika memutuskan untuk mampir kewarung sembako pak haji ,kebetulan dagangan sudah habis,sebagian terjual kontan dan sebagian ia titipkan di warung langganannya.

Seperti biasa Cantika akan berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari dan juga bahan baku untuk berjualan besok.

"Pak ,beli minyaknya dua liter ."

"Harga minyak melambung tinggi,Cantika ."

Cantika mengernyitkan dahi saat berada di warung kelontong Pak Haji,dan mendengar ucapan pak haji

"Dua puluh ribu seliternya, Cantika. Harga minyak lagi naik dari pusatnya," ucap Pak Haji dengan wajah tidak enak hati.

Jantung Cantika berdegup kencang. "Naik lagi, Pak? Kemarin kan masih tujuh belas ribu. Kalau harganya segini, untung Cantika habis buat minyak saja, belum buat beli singkong kalau kebun belakang sudah gundul."

"Ya mau bagaimana lagi, Nduk. Pak Haji juga nggak ambil untung banyak."pak Haji menatap penuh iba pada Cantika.

"Ya sudah pak ,Aku beli dua liter ." Cantika memberikan uang selembar lima puluhan dan segera meninggalkan warung pak haji .

Cantika pulang dengan langkah gontai. Di rumah, ia menghitung kembali modalnya. Jika harga minyak naik, ia punya dua pilihan menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran plastik. Namun, warga desa sangat sensitif soal harga. Naik lima ratus rupiah saja, mereka akan protes.

"Rara, Gilang, sini Dek !," panggil Cantika sore itu. Kedua adiknya mendekat.

"Mulai besok, kita harus lebih hemat ya? Uang jajan sekolah Kakak kurangi dulu, tapi Kakak ganti dengan bekal nasi goreng dari rumah. Mau ya?"

Gilang, yang paling mengerti kondisi kakaknya, mengangguk mantap. "Nggak apa-apa, Kak. Gilang juga bisa bantu cari kayu bakar pulang sekolah nanti, biar Kakak nggak usah beli arang lagi."

Mendengar itu, Cantika harus sekuat tenaga menahan tangis. Adik-adiknya dipaksa dewasa oleh keadaan.

 ###

Hujan dan Bakul yang Masih Penuh

Seringkali, musuh terbesar Cantika adalah cuaca. Suatu sore, langit tiba-tiba berubah gelap. Awan hitam pekat menggantung rendah, dan dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur desa.

Cantika yang sedang berada di tengah jalan menuju pasar desa langsung panik. Ia segera menutup bakulnya dengan plastik lebar, namun dirinya sendiri basah kuyup.

Ia berteduh di sebuah pos ronda yang sepi. Di dalam bakulnya, masih ada sekitar tiga puluh bungkus keripik yang belum laku.

Jika air hujan merembes masuk, keripik itu akan melempem dan tidak layak jual. Itu berarti kerugian besar.

"Ayo laku ... tolong Tuhan, beri rezeki buat bayar buku Gilang besok," bisiknya sambil memeluk bakulnya erat-erat agar tidak terkena cipratan air

Hujan tak kunjung reda hingga Maghrib. Cantika pulang dengan badan menggigil. Sesampainya di rumah, ia melihat ibunya sedang mengompres Dahi Dodo yang demam.

"Dodo panas, Cantika. Tadi ia kehujanan waktu main di depan," ucap Bu Asih cemas.

Cantika langsung meletakkan bakulnya dan mendekati adiknya. "Obatnya masih ada, Bu?"

"Sudah habis. Ibu mau beli ke apotek, tapi uangnya tadi dipakai beli beras."

Cantika menghela napas panjang. Ia membuka bakulnya, mengambil beberapa bungkus keripik yang sedikit basah di bagian pinggir, lalu keluar lagi menembus gerimis. Ia pergi ke rumah Bu Bidan di ujung jalan, menukar keripik singkongnya dengan beberapa butir obat penurun panas. Rasa malu sudah ia buang jauh-jauh. Di pikirannya hanya ada keselamatan adiknya.

Cantika berdiri di depan pintu rumah Bu Bidan dengan napas tersengal. Gerimis masih turun pelan, membasahi bahu bajunya yang sudah lembap. Tangannya memegang tiga bungkus keripik singkong yang agak basah di pinggirnya. Lampu teras rumah Bu Bidan menyala redup, menerangi wajah Cantika yang pucat karena kedinginan.

“Assalamualaikum, Bu …” panggilnya pelan sambil mengetuk pintu kayu berwarna putih

Tak lama, pintu terbuka. Bu Bidan, perempuan paruh baya berkerudung cokelat, muncul dengan wajah ramah. “Waalaikumsalam. Cantika? Kok malam-malam begini, Nak? Masuk dulu, hujan deras tadi.”

Cantika menggeleng pelan. “Maaf mengganggu, Bu. Dodo demam tinggi. Obatnya habis, dan Ibu bilang uangnya habis untuk beras tadi. Saya … saya bawa ini.” Ia mengulurkan keripiknya dengan tangan gemetar. “Mungkin Bu Bidan mau tukar dengan obat penurun panas? Apa saja yang ada, Bu. Saya tidak punya uang sekarang.”

Bu Bidan memandang bungkusan keripik itu, lalu menatap wajah Cantika yang basah dan menggigil. Matanya langsung melembut. Ia tahu betul keadaan keluarga Cantika. Ayahnya sudah meninggal tiga bulan lalu, meninggalkan tiga anak yang masih kecil. Cantika, yang baru lulus SMA kemarin dan setiap sore berjualan keripik keliling desa demi membantu biaya sekolah adik-adiknya.

“Masuklah dulu, Cantika,” kata Bu Bidan lembut sambil menarik tangan gadis itu ke dalam. “Kamu basah kuyup. Duduk di sini.”

Cantika duduk di kursi rotan sambil memeluk bakulnya. Bu Bidan pergi ke dalam sebentar, lalu kembali membawa kotak obat kecil. Ia mengambil dua strip paracetamol, satu botol kecil sirup penurun panas untuk anak, dan sebotol kecil madu untuk campuran.

“Ini, Nak. Paracetamol untuk sekarang, sirupnya diminum malam ini juga. Madunya biar tidak pahit,” ujar Bu Bidan sambil meletakkan obat-obatan itu di pangkuan Cantika.

Cantika terkejut. “Tapi Bu … ini terlalu banyak. Keripik saya cuma tiga puluh bungkus, dan agak basah pula. Harga obatnya pasti lebih mahal …”

Bu Bidan tersenyum ikhlas, tangannya menyentuh bahu Cantika dengan lembut. “Sudah, Nak. Ibu kasihan melihat kamu. Baru saja kehujanan, sekarang lari-lari lagi cari obat untuk adik. Keripiknya Ibu ambil saja, tapi obat ini Ibu beri karena Ibu mau. Harga tidak sebanding, tapi rezeki itu bukan cuma soal hitung-hitungan uang. Yang penting Dodo cepat sembuh.”

Air mata Cantika hampir jatuh. “Terima kasih banyak, Bu … Saya janji besok kalau keripik laku, saya bayar obatnya.”

Bu Bidan menggeleng. “Tidak usah dipikirkan. Besok pagi kalau Dodo masih panas, bawa ke sini. Ibu periksa gratis. Kamu pulang sekarang, hujan masih gerimis. Hati-hati di jalan.”

Cantika berdiri, memeluk obat-obatan itu erat di dada. “Terima kasih, Bu Bidan. Semoga Allah balas kebaikan Bu.”

Ia berjalan pulang dengan langkah lebih ringan meski tubuhnya masih menggigil. Di dalam hati, ia berdoa agar Gilang bisa tetap sekolah besok dan Dodo cepat sembuh. Malam itu, meski hujan masih turun, hati Cantika terasa sedikit lebih hangat karena kebaikan seorang tetangga.

Sesampainya di rumah, ibunya langsung menyambutnya dengan wajah cemas. Cantika menyerahkan obat itu sambil tersenyum lemah. “Sudah dapat, Bu. Bu Bidan kasih.”

Bu Asih memeluk anak sulungnya erat. “Kamu hebat, Cantika. Ibu bangga.”

Malam itu, setelah memberi obat kepada Dodo, Cantika duduk di pinggir tempat tidur adiknya sambil mengusap dahi kecil yang masih hangat. Tiga puluh bungkus keripik yang tersisa di bakulnya mungkin tidak laku besok, tapi ia tahu, ada rezeki lain yang lebih berharga: kebaikan hati manusia.

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!