NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 1: “Mahar yang Membelenggu”

​Lantai marmer kediaman Adnan Dirgantara yang biasanya tenang, kini terasa panas oleh hawa ketegangan. Di sudut ruang tamu yang megah, seorang gadis berusia 18 tahun dengan celana jeans sobek di lutut dan kaos oversize hitam tampak bersedekap dada. Rambutnya yang dicat cokelat terang berantakan, senada dengan raut wajahnya yang penuh pemberontakan.

​"Aku, nggak mau, Pa! Ini zaman apa sih? Pakai acara jodoh-jodohan segala. Aku, baru lulus SMA, masih mau kuliah, masih mau bebas!" teriak Shania Ayunda Salsabilla.

​Adnan mengurut pangkal hidungnya. Di sampingnya, Shifa, sang ibu, hanya bisa mengusap dada dengan mata berkaca-kaca. Shania adalah putri tunggal mereka, permata hati yang sayangnya tumbuh menjadi gadis yang sulit disentuh oleh aturan agama. Balapan liar, pulang pagi, hingga membangkang perintah orang tua sudah menjadi menu harian.

​"Keputusan Papa sudah bulat, Shania. Kamu, sudah di luar kendali. Hanya satu orang yang bisa membimbingmu, dan dia akan datang malam ini," tegas Adnan dengan suara bergetar menahan amarah sekaligus kesedihan.

​"Siapa? Ustadz tua bangka pilihan Papa itu? Paling juga pria yang nggak laku-laku makanya mau dijodohin sama anak kecil kayak, aku!" cibir Shania pedas.

​Tepat saat kata-kata itu terlontar, bel rumah berbunyi.

“​Kedatangan Sang Murabbi”

​Pintu terbuka, menampakkan sesosok pria tinggi tegap mengenakan koko putih bersih dengan bordir sederhana di bagian kerah, dipadukan dengan sarung tenun berkualitas dan peci hitam yang terpasang rapi. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya berwibawa, Kiai Abdullah Muammar, dan istrinya, Umi Zainab.

​Pria muda itu adalah Zain Malik Muammar. Wajahnya bersih, dengan rahang tegas yang dihiasi jambang tipis yang terawat. Matanya tajam namun teduh, meskipun saat ini tatapannya sedingin es saat mendengar teriakan Shania tadi.

​"Assalamualaikum," suara Zain terdengar rendah, berat, dan penuh wibawa.

​Adnan segera menyambut mereka dengan hangat. Namun, Shania tetap berdiri di posisinya, memandang Zain dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan.

​"Jadi ini orangnya? Idih, beneran ustadz. Pasti hidupnya cuma bolak-balik masjid-rumah-masjid. Nggak seru!" batin Shania.

​Setelah proses perkenalan singkat yang penuh kecanggungan dari sisi Shania, Kiai Abdullah memulai pembicaraan inti tentang perjanjian lama antara dua keluarga. Zain hanya diam, mendengarkan dengan saksama tanpa sekali pun melirik ke arah Shania yang terus-menerus menguap dengan sengaja atau memainkan ponselnya.

​"Zain, bagaimana menurutmu?" tanya Kiai Abdullah.

​Zain mengalihkan pandangannya pada Adnan, lalu perlahan menoleh ke arah Shania. Tatapannya datar, tanpa ekspresi kagum sedikit pun meski Shania memiliki paras yang cantik.

​"Jika ini adalah bentuk bakti saya kepada orang tua dan amanah untuk membimbing hamba Allah, saya terima," jawab Zain singkat dan tegas.

​Shania tertawa hambar. "Heh, Pak Ustadz! Denger ya, saya ini bukan barang yang bisa dipindah tanganin. Lagian, situ mau sama saya? Saya nggak bisa masak, nggak bisa ngaji, dan hobi saya bikin masalah. Mending mundur deh sebelum nyesel!"

​"Shania! Jaga mulutmu!" bentak Adnan.

​Zain tetap tenang. Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Shania tepat di matanya.

"Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda bahwa wanita dinikahi karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kau akan beruntung."

​Zain menjeda sejenak, membuat Shania terpaku sesaat oleh wibawanya.

​"Saya, tidak melihat poin keempat pada dirimu saat ini, Shania. Tapi saya percaya pada janji Allah bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja. Tugas saya bukan hanya menjadi suamimu, tapi menjadi tameng agar kamu tidak terperosok lebih jauh ke dalam lubang api neraka."

​"Sok suci!" maki Shania dalam hati, meski ia sedikit tergetar oleh nada bicara Zain yang tidak meledak-ledak namun menusuk.

“​Pernikahan Kilat”

​Tanpa menunggu waktu lama, atas permintaan Adnan yang takut Shania akan kabur lagi—setelah tiga kali tertangkap pengawal saat mencoba melompati pagar belakang—pernikahan pun dilangsungkan satu minggu kemudian secara sederhana di kediaman Adnan.

​Shania dipaksa mengenakan kebaya putih panjang dan hijab yang membuatnya merasa tercekik. Sepanjang akad, ia hanya merengut. Saat Zain mengucapkan ijab kabul dengan satu napas yang mantap, Shania merasa dunianya runtuh.

​"Saya, terima nikahnya dan kawinnya Shania Ayunda Salsabilla binti Adnan Dirgantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Sah?"

​"Sah!"

​Seperangkat alat shalat dan mushaf Al-Qur'an serta emas batangan menjadi maharnya. Bagi Shania, mahar itu bukanlah tanda cinta, melainkan belenggu yang akan merenggut kebebasannya.

“​Malam Pertama yang Dingin”

​Kini, mereka telah berada di kamar pengantin yang didekorasi cantik dengan bunga mawar putih. Shania langsung melempar jilbabnya ke sembarang arah dan duduk di tepi tempat tidur dengan wajah ditekuk.

​Zain masuk setelah menyelesaikan shalat sunnah bakdiyah nikah di masjid bawah. Ia melihat kekacauan di kamar itu—baju-baju Shania berserakan dan pemiliknya tampak seperti singa yang siap menerkam.

​"Tutup pintunya, tapi jangan harap bisa sentuh, aku!" bentak Shania saat Zain baru saja menutup pintu.

"Denger ya, pria tua mesum! Kita nikah karena terpaksa. Jangan pikir karena kita udah sah, kamu bisa seenaknya minta 'jatah'. Aku nggak sudi disentuh sama orang kaku kayak, kamu!"

​Zain tidak marah. Ia berjalan menuju meja kecil, meletakkan jam tangannya dengan tenang. Ia melepas peci dan menyisir rambut hitamnya yang tebal ke belakang dengan jari. Tindakan sederhana itu entah mengapa membuat Shania menelan ludah; ustadz ini ternyata cukup tampan jika dilihat dari dekat tanpa peci.

​Zain berbalik, menatap Shania dengan mata yang tetap datar.

"Sudah bicaranya?"

​"Belum! Pokoknya kita buat aturan. Kamu urusan kamu, aku urusan aku. Jangan atur-atur cara berpakaianku, jangan larang aku main sama temen-temenku, dan yang paling penting... tidur di lantai!"

​Zain berjalan mendekat. Shania refleks mundur hingga punggungnya menabrak kepala tempat tidur. Zain berhenti tepat di depan Shania, memberikan tekanan aura yang sangat kuat.

​"Pertama," suara Zain terdengar sangat rendah dan berwibawa.

"Usia saya 30 tahun, bukan pria tua yang tidak laku. Dalam Islam, pria di usia ini adalah masa keemasan secara fisik dan intelektual, seperti para sahabat Rasulullah yang memimpin pasukan perang di usia muda."

​"Kedua," Zain melanjutkan sambil mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat Shania menahan napas.

"Saya, tidak memiliki niat sedikit pun untuk menyentuh wanita yang belum mengerti cara menghargai suaminya. Kewajiban istri dalam Islam sangat berat, Shania. Rasulullah SAW bersabda, 'Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya.' (HR. Tirmidzi)."

​Shania mencibir, "Tuh kan, baru mulai udah ceramah. Bosen tahu nggak!"

​Zain berdiri tegak kembali.

"Saya, tidak akan menyentuhmu malam ini. Bukan karena saya tidak mampu, tapi karena saya menghargai kesucian ibadah nikah ini. Namun, jangan harap kamu bisa bebas berbuat nakal seperti dulu. Mulai detik ini, kamu di bawah pengawasan saya. Besok pagi, jam 4 subuh, kamu harus sudah bangun untuk shalat."

​"Jam 4?! Kamu gila ya? Ayam aja belum bangun!"

​"Ayam bangun sebelum fajar menyingsing untuk bertasbih kepada Allah, Shania. Hanya manusia yang lalai yang tetap tidur saat sang Pencipta memanggil," jawab Zain dingin.

​Zain mengambil bantal dan selimut cadangan dari lemari. Namun, ia tidak tidur di lantai. Ia meletakkannya di sofa panjang di pojok kamar.

​"Tidur!" perintah Zain singkat.

"Dan satu lagi... mulai besok, panggil saya 'Mas' atau 'Ustadz'. Jika saya mendengar kata 'Pria tua' atau 'Mesum' lagi, saya punya cara sendiri untuk mendisiplinkan lisanmu."

​"Cara apa? Mau lapor, Papa?" tantang Shania.

​Zain menoleh sedikit, sebuah senyum tipis yang penuh arti—dan sedikit menyeramkan bagi Shania—muncul di sudut bibirnya.

"Ada cara yang lebih sesuai dengan syariat untuk mendidik istri yang nusyuz (pembangkang). Kamu tidak akan menyukainya."

​Zain mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram. Shania mendengus kesal, membanting tubuhnya ke kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

​"Liat aja ya, Ustadz mesum. Aku bakal bikin kamu nyesel udah setuju nikahin aku. Aku bakal bikin kamu minta cerai dalam waktu sebulan!" gumam Shania dalam gelap.

​Zain yang berada di sofa hanya memejamkan mata. Ia tahu, tugasnya tidak akan mudah. Membelenggu keliaran seorang Shania Ayunda tidak bisa dengan kekerasan fisik, melainkan dengan ketegasan prinsip dan kelembutan iman.

“​Pelajaran Subuh Pertama”

​Allahu Akbar! Allahu Akbar!

​Suara alarm dari ponsel Zain yang sangat nyaring—berupa rekaman adzan subuh yang merdu namun kuat—memekakkan telinga Shania.

​"Aaaaa! Matian nggak sih! Berisik banget!" Shania melempar bantal ke arah sumber suara.

​Puk!

​Bantal itu ditangkap dengan mudah oleh Zain yang sudah segar dengan wajah yang basah karena wudhu. Ia berdiri di samping tempat tidur Shania.

​"Bangun. Shalat Subuh," perintah Zain.

​"Lima menit lagi..." rengek Shania.

​"Tidak ada lima menit. Ash-shalatu khairum minan-naum. Shalat itu lebih baik daripada tidur," ucap Zain.

Ia kemudian mengambil segelas air kecil di atas nakas. Tanpa peringatan, ia mencelupkan ujung jarinya ke air dan memercikkannya ke wajah Shania.

​"Heh! Basah tahu!"

Shania melompat bangun, wajahnya merah padam karena marah.

​"Itu cara Rasulullah membangunkan keluarganya dengan lembut. Jika kamu tidak bangun juga, saya akan gunakan cara yang lebih 'basah' lagi," ancam Zain tenang.

​Shania menghentakkan kakinya dengan kesal.

"Iya, iya! Dasar ustadz menyebalkan! Awas ya!"

​Shania berjalan menuju kamar mandi dengan langkah kasar. Zain hanya menatap punggung istrinya sambil menghela napas panjang. Ia teringat kisah Nabi Luth dan Nabi Nuh yang diuji dengan istri yang tidak sejalan, namun ia berdoa agar ia diberikan kekuatan seperti Nabi Muhammad SAW yang mampu mengubah hati kaum yang paling keras sekalipun dengan akhlak.

​Perjalanan panjang baru saja dimulai. Antara syariat yang teguh dan jiwa yang liar, siapakah yang akan menang?

Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!