NovelToon NovelToon

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

BAB 1 — PRIA BERMATA BIRU SAFIR

Roma, Italia — Pukul 23.47

Hujan mengguyur jalanan Roma ketika Bianca Elena Laurent melangkah keluar dari taksi hitam yang membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat kota. Gaun hitam sederhana membungkus tubuhnya, sementara rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai melewati bahu.

Ia tidak pernah menyukai tempat seperti ini.

Terlalu banyak orang kaya yang tersenyum sambil menyembunyikan kebohongan. Terlalu banyak pria berjas mahal yang menganggap uang bisa membeli segalanya.

Namun, malam ini Bianca tidak punya pilihan.

Ayahnya menghilang tiga hari lalu. Kakaknya tidak bisa dihubungi. Dan sebuah pesan misterius yang diterimanya satu jam sebelumnya memaksanya datang ke hotel tersebut.

Jika kau ingin mengetahui keberadaan Adrian, datanglah sendirian. Jangan membawa polisi.

Bianca menggenggam ponselnya erat-erat.

Adrian adalah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya setelah ibunya meninggal. Sebagai perempuan keturunan Spanyol dari pihak ibu dan Timur Tengah dari pihak ayah, Bianca tumbuh dengan dua kebudayaan yang mengajarkannya tentang kehormatan keluarga. Ia bisa saja merasa takut, tetapi ia tidak akan membiarkan keluarganya hancur tanpa perlawanan.

Seorang pria bertubuh besar menghampirinya di depan pintu hotel.

"Bianca Laurent?"

Bianca mengangguk.

"Ikuti saya. Tuan Vieri sudah menunggu."

Nama itu membuat dadanya terasa sesak.

Vieri.

Ia pernah mendengar nama tersebut dari percakapan ayahnya yang terputus setiap kali dirinya memasuki ruangan. Sebuah nama yang selalu diucapkan dengan suara rendah, seolah menyebutnya terlalu keras dapat mengundang kematian.

"Siapa Tuan Vieri?" tanyanya, meskipun ia sudah menduga jawabannya.

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya membukakan pintu menuju lift pribadi.

Dan Bianca, dengan firasat buruk yang semakin kuat, melangkah masuk.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas.

Lorong panjang membentang di hadapannya, diterangi lampu keemasan. Di ujung lorong terdapat pintu ganda berwarna hitam, dijaga dua pria dengan setelan formal dan ekspresi tanpa emosi.

Salah seorang membuka pintu.

Bianca melangkah masuk.

Ruangan itu luas, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan Roma di bawah hujan. Sebuah meja panjang berdiri di tengah ruangan. Gelas kristal, botol minuman mahal, dan beberapa map hitam tertata rapi di atasnya.

Seorang pria berdiri membelakanginya.

Setelan hitamnya tampak sempurna. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan satu tangannya memegang gelas berisi minuman berwarna keemasan.

"Keluar," katanya.

Dua penjaga segera meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

Bianca kini sendirian bersama pria yang bahkan belum memperlihatkan wajahnya.

"Anda mengirim pesan tentang kakak saya?" tanyanya.

Pria itu meletakkan gelasnya.

"Adrian Laurent."

Ia mengucapkan nama itu seolah sedang membaca vonis hukuman.

"Ya. Di mana dia?"

Pria itu berbalik.

Untuk sesaat, Bianca lupa bagaimana caranya bernapas.

Wajah pria itu memiliki ketegasan yang hampir tidak masuk akal. Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan rambut hitamnya disisir rapi ke belakang. Ada bekas luka tipis di dekat alis kirinya, nyaris tersembunyi oleh bayangan.

Namun, yang paling menarik perhatian Bianca adalah matanya.

Biru safir.

Dingin, tajam, dan menakutkan.

Mata seorang pria yang terbiasa melihat orang lain menundukkan kepala sebelum ia perlu mengangkat suara.

"Aku Dante Alessandro Vieri," katanya. "Dan kakakmu telah mencuri sesuatu milikku."

Bianca menegakkan bahunya.

"Kalau begitu, laporkan dia kepada polisi."

Senyum tipis muncul di bibir Dante.

"Polisi?"

Ia berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tetapi setiap gerakan memancarkan ancaman yang tidak perlu dijelaskan.

"Kau benar-benar tidak tahu siapa aku, bukan?"

"Aku tidak tertarik mengetahui kehidupan pribadi orang asing."

"Sayangnya, kehidupan keluargamu sudah terhubung dengan kehidupanku."

Dante berhenti beberapa langkah di hadapannya.

Bianca bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar, bercampur dengan aroma hujan dari jasnya. Ia membenci kenyataan bahwa pria itu memiliki daya tarik yang sulit diabaikan.

Tetapi ketampanan bukan alasan untuk mempercayai seseorang.

Terutama seseorang yang memandang manusia seperti bidak catur.

"Apa yang dicuri kakak saya?" tanyanya.

"Dokumen."

"Dokumen apa?"

"Sesuatu yang bisa membuat beberapa keluarga kehilangan kekuasaan mereka."

Bianca menggeleng tidak percaya.

"Anda menculik kakak saya hanya karena selembar kertas?"

Tatapan Dante berubah.

"Jangan pernah menyederhanakan sesuatu yang tidak kau pahami."

"Aku tidak akan takut hanya karena Anda memakai jas mahal dan memiliki penjaga di setiap pintu."

Keheningan jatuh.

Dante menatapnya lama, seakan baru saja menemukan sesuatu yang tidak biasa.

Kebanyakan orang yang berdiri di hadapannya akan menunduk, meminta ampun, atau berusaha menyenangkan hatinya. Perempuan ini justru menatap balik dengan kemarahan yang nyaris menyala di matanya.

"Berani juga," gumamnya.

"Aku tidak datang untuk menghibur Anda."

"Tidak. Kau datang karena ingin menemukan kakakmu."

Dante mengambil sebuah map dari meja, lalu meletakkannya di hadapan Bianca.

Di dalamnya terdapat beberapa foto.

Foto ayahnya sedang berbicara dengan seorang pria di sebuah gudang. Foto Adrian memasuki gedung yang tidak dikenalnya. Dan foto terakhir membuat darah Bianca terasa membeku.

Ayahnya.

Terbaring di ranjang rumah sakit, dengan dua penjaga berdiri di dekat pintu.

"Kapan foto ini diambil?" Suara Bianca melemah.

"Tiga hari lalu."

"Di mana dia?"

"Tempat yang aman."

"Apakah dia terluka?"

Dante tidak segera menjawab.

Bianca mencengkeram tepi meja.

"Jawab saya!"

"Dia masih hidup."

Kedua kata itu seharusnya melegakan. Namun, Bianca tahu ada sesuatu yang belum dikatakan pria itu.

"Apa yang Anda inginkan?"

Dante menutup map tersebut.

"Kau akan menikah denganku."

Bianca menatapnya tanpa berkedip.

Lalu ia tertawa pendek, bukan karena merasa lucu, melainkan karena tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

"Maaf?"

"Pernikahan kita akan dilangsungkan tiga hari dari sekarang."

"Anda gila."

"Mungkin."

"Saya bahkan tidak mengenal Anda!"

"Kau akan memiliki cukup waktu untuk mengenalku."

Bianca mendorong map itu menjauh.

"Saya tidak akan menikahi pria yang mengancam keluarga saya."

Dante tidak tampak tersinggung. Ia justru mengambil sebuah dokumen lain dan membuka halaman terakhirnya.

"Perusahaan ayahmu memiliki utang besar kepada keluargaku. Saham pengendali perusahaan itu sekarang berada dalam bahaya. Pernikahan ini akan menghentikan proses pengambilalihan dan memastikan keluargamu tetap memiliki hak atas bisnisnya."

Bianca membaca dokumen tersebut dengan tangan gemetar.

Tanda tangan ayahnya tertera di sana.

Tetapi ada sesuatu yang terasa janggal pada tanggal penandatanganannya.

"Ini tidak mungkin," bisiknya. "Ayah saya tidak pernah menyebutkan perjanjian ini."

"Barangkali karena dia tidak ingin kau mengetahui seberapa jauh dia telah terlibat."

Bianca mengangkat wajahnya.

"Jadi, Anda ingin saya menikahi Anda demi sebuah kesepakatan bisnis?"

"Bukan hanya itu."

Dante melangkah mendekat sekali lagi. Kali ini, ia berhenti cukup dekat hingga Bianca dapat melihat pantulan cahaya pada iris biru safirnya.

"Ada seseorang di dalam keluargaku yang ingin melihatmu mati."

Jantung Bianca berdegup keras.

"Apa hubungannya dengan saya?"

"Orang itu percaya bahwa kakakmu membawa bukti yang dapat menghancurkan kami. Selama kau berada di luar perlindunganku, kau akan menjadi sasaran."

"Dan menikahi Anda akan membuat saya aman?"

"Menikah denganku akan membuat semua orang berpikir dua kali sebelum menyentuhmu."

Bianca menatap pria itu, berusaha menemukan kebohongan di balik ekspresinya.

"Kenapa saya?"

Untuk pertama kalinya, Dante terdiam lebih lama daripada yang diperlukan.

Lalu ia menjawab dengan suara rendah.

"Karena ayahmu membuat kesepakatan dengan ayahku bertahun-tahun lalu. Kesepakatan yang seharusnya tidak pernah dilanggar."

"Kesepakatan apa?"

"Itulah yang harus kita cari tahu."

Bianca mundur satu langkah.

"Aku tidak akan menjadi istri rahasia seorang mafia."

Dante menatapnya dengan dingin.

"Kalau begitu, temukan cara lain untuk menyelamatkan keluargamu sebelum matahari terbit."

Ia kembali ke meja, seolah percakapan mereka telah selesai.

Bianca berdiri terpaku.

Ia ingin membenci pria itu. Ingin menampar wajah tampannya dan meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh lagi.

Namun, bayangan ayahnya di ranjang rumah sakit membuat kakinya tidak bergerak.

"Jika saya setuju," katanya akhirnya, "ada satu syarat."

Dante menoleh.

"Katakan."

"Saya ingin bukti bahwa ayah dan kakak saya masih hidup. Saya juga ingin jaminan bahwa mereka tidak akan disentuh oleh siapa pun dari keluarga Anda."

Dante memperhatikannya beberapa detik.

"Kau sedang mencoba bernegosiasi denganku?"

"Saya sedang melindungi keluarga saya."

Senyum samar muncul di wajah pria itu.

"Baiklah, Bianca Laurent. Aku menerima syaratmu."

Ia mengulurkan tangan.

Bianca memandangi tangan itu seolah sedang menatap seekor ular berbisa.

"Jangan salah paham," katanya. "Saya menyetujui kesepakatan ini, bukan Anda."

"Aku tidak membutuhkan cintamu."

"Bagus. Karena saya tidak akan pernah mencintai Anda."

Dante mendekatkan wajahnya sedikit, tanpa menyentuhnya.

"Kita lihat saja nanti, cara mia."

Bianca tidak mengerti mengapa dua kata itu terdengar seperti janji sekaligus ancaman.

Ia akhirnya menjabat tangan Dante.

Hangat.

Kuat.

Dan entah mengapa, genggaman itu membuatnya sadar bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Di luar jendela, petir menyambar langit Roma.

Sementara Bianca sibuk memikirkan keluarganya, Dante menatap perempuan itu dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.

Ada satu hal yang tidak ia ceritakan.

Ia tidak memilih Bianca semata-mata karena perjanjian lama kedua keluarga.

Ia memilihnya karena sebuah foto yang ditemukan di ruang kerja ayahnya bertahun-tahun lalu.

Foto seorang perempuan muda yang memiliki mata persis seperti Bianca.

Perempuan yang meninggal pada malam ketika ibu Dante dibunuh.

Dan di belakang foto itu, terdapat sebuah kalimat yang ditulis dengan tinta merah:

Jangan pernah biarkan putri keluarga Laurent menikah dengan seorang Vieri. Jika itu terjadi, kebenaran tentang kematian ibumu akan terungkap.

Bab 2 — Kesepakatan Berdarah.

BAB 2 — KESEPAKATAN BERDARAH

Roma, Italia — Pukul 00.15

Hujan belum juga berhenti ketika Bianca Laurent berdiri di hadapan Dante Alessandro Vieri, pria yang baru saja mengubah seluruh hidupnya hanya dengan beberapa kalimat.

Pernikahan.

Tiga hari lagi.

Dengan seorang pria yang bahkan tidak ia kenal, seorang pria yang tatapan biru safirnya mampu membuat ruangan terasa lebih dingin daripada malam di luar jendela.

Bianca menarik tangannya dari genggaman Dante.

“Kalau Anda mengira saya akan menerima semua ini tanpa mengetahui kebenarannya, Anda salah besar.”

Dante memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Kalau kau mengira aku terbiasa menjelaskan setiap keputusanku, kau juga salah besar.”

“Lalu bagaimana kita akan membuat kesepakatan kalau Anda bahkan tidak mau menjawab pertanyaan saya?”

“Dengan tanda tangan.”

Dante menunjuk dokumen di atas meja.

Bianca menatap lembaran-lembaran itu. Ada puluhan halaman berisi istilah hukum, angka-angka besar, dan nama perusahaan yang selama ini dikelola ayahnya. Ia mengenali sebagian besar nama tersebut, tetapi beberapa perusahaan tampak asing.

Yang paling mencurigakan adalah satu klausul di halaman terakhir.

Pernikahan harus dirahasiakan dari publik selama jangka waktu yang ditentukan oleh pihak pertama.

Bianca mengangkat wajah.

“Mengapa harus dirahasiakan?”

“Karena musuh-musuhku tidak boleh mengetahui bahwa aku memiliki kelemahan.”

“Dan saya adalah kelemahan Anda?”

Dante mengangkat alis.

“Jangan terlalu cepat merasa istimewa, Bianca.”

Panas menjalar ke pipi Bianca, kali ini bukan karena malu, melainkan karena kesal.

“Percayalah, saya sama sekali tidak ingin menjadi istimewa bagi pria seperti Anda.”

“Bagus. Berarti kita memiliki satu kesamaan.”

Dante menarik kursi di seberang meja.

“Duduklah. Ada beberapa hal yang perlu kau ketahui sebelum memutuskan apakah kau ingin menyelamatkan keluargamu atau membiarkan mereka menghadapi konsekuensinya sendiri.”

Bianca ingin menolak, tetapi nama ayah dan kakaknya membuatnya akhirnya duduk.

Dante membuka sebuah map hitam.

“Enam bulan lalu, ayahmu menerima dana dari sebuah perusahaan yang berada di bawah kendali keluargaku. Dana itu seharusnya digunakan untuk menyelamatkan bisnisnya dari kebangkrutan.”

“Bisnis ayah saya tidak pernah bangkrut.”

“Secara resmi, mungkin tidak.”

Dante menggeser sebuah laporan ke arahnya.

“Tetapi seseorang mengalihkan sebagian besar uang itu ke rekening yang tidak terdaftar. Ketika kami menyelidikinya, semua jejak mengarah kepada Adrian.”

Bianca membaca dokumen tersebut dengan napas tertahan.

“Tidak mungkin. Kakak saya tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Semua orang mengatakan hal yang sama tentang keluarganya sampai bukti menunjukkan sebaliknya.”

“Anda tidak mengenal Adrian.”

“Dan kau tidak mengenal dunia yang sedang kau bela.”

Bianca menutup map itu dengan keras.

“Kalau Anda sudah memutuskan bahwa kakak saya bersalah, mengapa Anda masih membutuhkan saya?”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Dante berubah.

Ada sesuatu di balik tatapan dinginnya. Sesuatu yang tampak seperti kemarahan, tetapi juga menyerupai ketakutan yang telah lama disembunyikan.

“Karena ada seseorang yang ingin dokumen itu tetap hilang.”

“Siapa?”

“Orang yang sama yang mencoba membunuhku dua malam lalu.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Bianca menatapnya, berusaha menentukan apakah pria itu sedang mengancamnya atau mengatakan kebenaran.

“Jika Anda hampir dibunuh, mengapa Anda tidak melapor kepada polisi?”

Dante tertawa pendek tanpa sedikit pun kegembiraan.

“Karena polisi bukan satu-satunya pihak yang menerima uang dari orang-orang yang ingin melihatku mati.”

Sebelum Bianca sempat menjawab, terdengar tiga ketukan keras dari pintu.

Seorang pria berjas abu-abu masuk setelah mendapat izin.

“Tuan Vieri, kami menemukan sesuatu.”

Pria itu meletakkan sebuah amplop di atas meja. Wajahnya tegang.

Dante membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar foto.

Senyumnya menghilang.

Bianca memperhatikan perubahan itu.

“Ada apa?”

Dante tidak menjawab. Ia menyerahkan foto tersebut kepadanya.

Bianca merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya menghilang.

Foto itu memperlihatkan Adrian sedang berdiri di depan sebuah bangunan tua. Di sebelahnya terdapat seorang pria dengan bekas luka panjang di leher.

Namun, bukan pria asing itu yang membuat Bianca ketakutan.

Di belakang mereka, terlihat jelas sosok ayahnya.

Tanggal pada foto tersebut menunjukkan bahwa gambar itu diambil hanya dua hari lalu.

“Adrian masih hidup,” bisik Bianca.

“Sepertinya begitu.”

“Di mana tempat ini?”

“Kami sedang mencarinya.”

Bianca menatap Dante dengan mata berkaca-kaca.

“Kalau Anda menyakiti kakak saya—”

“Aku tidak membutuhkan ancaman kosong.”

“Saya serius!”

Dante bangkit dari kursinya. Tubuhnya yang tinggi membuat Bianca harus mendongak ketika pria itu berdiri di dekatnya.

“Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak menculik kakakmu. Aku juga tidak mengetahui keberadaannya sejak dia menghilang. Kalau aku ingin membunuhnya, kau tidak akan menerima foto ini.”

“Bagaimana saya bisa mempercayai Anda?”

“Kau tidak bisa.”

Jawaban itu begitu jujur hingga Bianca terdiam.

Dante melanjutkan, “Kepercayaan tidak bisa dipaksakan. Tetapi waktu kita hampir habis. Seseorang mengetahui bahwa kau datang ke sini malam ini.”

Seolah hendak membuktikan ucapannya, ponsel Bianca bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Sebuah pesan masuk.

Jangan menikahi Dante Vieri. Dia tidak akan menyelamatkan keluargamu. Dia akan menghancurkan mereka seperti yang dilakukan ayahnya dahulu.

Bianca membaca pesan itu berulang kali.

“Apa maksudnya?”

Dante mengambil ponselnya, membaca pesan tersebut, lalu rahangnya mengeras.

“Siapa yang mengirimnya?” tanyanya.

“Saya tidak tahu.”

“Apakah ada orang lain yang mengetahui kau datang ke sini?”

“Tidak.”

Dante menoleh kepada pria berjas abu-abu.

“Tutup seluruh akses keluar. Periksa semua kendaraan di halaman. Tidak seorang pun boleh meninggalkan gedung tanpa pemeriksaan.”

“Baik, Tuan.”

Setelah pria itu keluar, Dante kembali menatap Bianca.

“Sekarang kau mengerti mengapa pernikahan ini harus dilakukan?”

“Tidak. Saya justru semakin yakin bahwa ada sesuatu yang Anda sembunyikan.”

“Memang ada.”

Bianca membeku.

Dante mendekat ke meja dan mengambil pena hitam.

“Aku tidak akan berpura-pura menjadi pria baik. Aku memiliki musuh, rahasia, dan masa lalu yang tidak akan membuatmu tidur nyenyak. Jika kau menikah denganku, kau akan memasuki dunia yang tidak mengenal belas kasihan.”

“Lalu apa yang akan saya dapatkan selain bahaya?”

“Perlindungan. Akses kepada orang-orang yang bisa menemukan Adrian. Dan kesempatan untuk mengetahui siapa yang menghancurkan keluargamu dari dalam.”

“Sebagai gantinya, saya harus menjadi istri rahasia Anda.”

“Benar.”

“Tanpa cinta?”

Dante terdiam sesaat.

“Cinta tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan ini.”

Bianca menatapnya lama. Ia ingin pulang, mengunci pintu kamar, dan berpura-pura bahwa malam ini tidak pernah terjadi.

Namun, ia teringat ayahnya. Terbayang wajah Adrian ketika mereka masih kecil, ketika kakaknya selalu berdiri di depannya setiap kali seseorang mencoba menyakitinya.

Ia tidak bisa meninggalkan mereka sekarang.

“Baik,” katanya akhirnya. “Saya akan menikahi Anda.”

Dante tidak tersenyum.

“Tetapi saya memiliki tiga syarat.”

“Katakan.”

“Pertama, saya harus mendapatkan bukti bahwa ayah dan kakak saya masih hidup. Kedua, Anda tidak boleh memaksa saya melakukan sesuatu yang tidak saya setujui. Ketiga, begitu keluarga saya aman, saya berhak meninggalkan pernikahan ini.”

Dante memperhatikannya dengan tatapan tajam.

“Syarat pertama akan kupenuhi. Syarat kedua tidak perlu kau khawatirkan. Untuk syarat ketiga, kita akan membicarakannya ketika waktunya tiba.”

“Tidak. Saya ingin semuanya tertulis.”

Bianca mendorong pena ke arahnya.

Dante menatap pena itu, kemudian menatap Bianca.

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Kau benar-benar tidak tahu kapan harus takut.”

“Saya takut,” jawab Bianca jujur. “Saya hanya tidak akan membiarkan ketakutan mengendalikan hidup saya.”

Sesuatu dalam tatapan Dante berubah, begitu cepat hingga Bianca hampir mengira dirinya salah melihat.

Ia mengambil pena dan menuliskan persetujuannya pada dokumen tambahan.

Kemudian ia menandatangani setiap halaman yang diperlukan.

“Selamat datang dalam keluarga Vieri, Bianca.”

Dante menyerahkan dokumen itu kepadanya.

“Mulai malam ini, kau tidak lagi sendirian.”

Bianca menerima dokumen tersebut tanpa menjawab.

Ia belum tahu bahwa kalimat itu kelak akan menjadi janji paling menyakitkan sekaligus paling berarti dalam hidupnya.

Pukul 01.03, Bianca meninggalkan ruang kerja Dante dengan ditemani seorang pengawal perempuan bernama Sofia.

Namun, sebelum pintu lift tertutup, ia menoleh sekali lagi.

Dante masih berdiri di balik dinding kaca ruang kerjanya, berbicara dengan seseorang melalui telepon.

Wajahnya tampak jauh lebih dingin daripada sebelumnya.

“Tidak,” suara Dante terdengar samar. “Pernikahan itu tetap dilaksanakan.”

Ia berhenti mendengarkan lawan bicaranya.

“Kalau Luciano keberatan, katakan kepadanya bahwa aku akan menanganinya sendiri.”

Bianca mengerutkan kening.

Luciano.

Nama itu belum pernah ia dengar sebelumnya.

Sesaat kemudian, Dante mengangkat pandangan dan mata mereka bertemu melalui kaca.

Bianca buru-buru berbalik ketika pintu lift menutup.

Ia tidak melihat bagaimana Dante meletakkan teleponnya, membuka laci rahasia di meja, dan mengeluarkan sebuah foto tua.

Foto seorang perempuan berambut hitam dengan mata cokelat keemasan.

Di belakang foto itu tertulis nama yang membuat Dante membeku selama bertahun-tahun.

Elena Laurent.

Ibu Bianca.

Dante menggenggam foto tersebut erat-erat.

“Maafkan aku,” bisiknya kepada perempuan yang telah lama meninggal itu.

Kemudian ia menatap kota Roma yang berkilauan di bawah hujan.

Pernikahan ini seharusnya menjadi cara untuk melindungi kerajaan keluarganya.

Namun, kini Dante mulai menyadari kemungkinan yang jauh lebih mengerikan.

Bagaimana jika Bianca bukan sekadar kunci untuk menemukan pengkhianat?

Bagaimana jika perempuan yang baru saja menyetujui pernikahan dengannya adalah satu-satunya orang yang dapat menghancurkan seluruh keluarga Vieri?

Dan bagaimana jika, sebelum semua rahasia itu terungkap, ia sudah terlanjur jatuh cinta kepada istrinya sendiri?

Bersambung ke Bab 3 — Harga Sebuah Pernikahan.

BAB 3 — HARGA SEBUAH PERNIKAHAN

Roma, Italia — Pukul 08.15 pagi

Bianca Laurent tidak tidur semalaman.

Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat sepasang mata biru safir milik Dante Alessandro Vieri. Tatapan dingin itu seolah menembus pikirannya, mengingatkannya bahwa ia baru saja menyetujui sebuah pernikahan dengan pria yang mungkin lebih berbahaya daripada semua cerita buruk yang pernah didengarnya.

Pernikahan yang bahkan tidak didasari cinta.

Bianca berdiri di depan jendela kamar hotel, memandangi matahari yang perlahan menyinari atap-atap bangunan Roma. Kota itu tampak begitu indah pada pagi hari, seakan tidak pernah menyimpan rahasia gelap di balik bangunan-bangunan megahnya.

Ponselnya tergeletak di atas meja.

Tidak ada kabar dari Adrian.

Tidak ada panggilan dari ayahnya.

Hanya satu pesan singkat dari nomor tak dikenal yang terus menghantui pikirannya.

Jangan menikahi Dante Vieri.

Bianca meremas ponselnya.

“Siapa sebenarnya dirimu, Dante?” bisiknya.

Ketukan di pintu membuatnya menoleh.

“Signorina Laurent?” Suara perempuan terdengar dari luar. “Saya Sofia. Tuan Vieri meminta Anda sarapan bersamanya.”

Bianca menghela napas.

Tentu saja pria itu tidak akan membiarkannya menikmati pagi dengan tenang.

“Beri tahu Tuan Vieri bahwa saya tidak lapar.”

Hening sejenak.

Kemudian Sofia menjawab dengan sopan, “Beliau mengatakan Anda boleh tidak sarapan, tetapi Anda tetap harus menghadiri pertemuan pukul sembilan.”

Bianca memejamkan mata.

“Pria menyebalkan.”

“Saya tidak akan membantah Anda, Signorina.”

Bianca hampir tersenyum mendengar jawaban jujur itu.

Lima belas menit kemudian, ia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, lalu keluar dari kamar dengan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai. Ia tidak berniat berdandan demi seorang pria yang telah mengatur hidupnya tanpa meminta izin.

Namun, ketika memasuki ruang makan pribadi, ia mendapati Dante sudah duduk di ujung meja panjang.

Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi justru membuatnya terlihat semakin menawan.

Dante mengangkat pandangan.

“Kau terlambat tujuh menit.”

“Dan Anda terlalu sibuk menghitung waktu saya.”

“Ketepatan waktu adalah kebiasaan yang menyelamatkan nyawa.”

“Kalau begitu, semoga kebiasaan Anda juga bisa menyelamatkan kesabaran saya.”

Seorang pelayan menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.

Dante hanya menunjuk kursi di hadapannya.

“Duduklah, Bianca.”

Ia duduk dengan enggan.

Di atas meja telah tersedia roti hangat, buah-buahan, telur, kopi, dan berbagai hidangan yang tampak lebih cocok untuk jamuan keluarga bangsawan daripada sarapan biasa.

Dante menuangkan kopi ke cangkirnya.

“Bagaimana tidurmu?”

“Buruk.”

“Karena aku?”

“Karena saya baru saja setuju menikahi orang asing yang mengancam keluarga saya.”

Dante meletakkan teko kopi.

“Setidaknya kau masih memiliki selera humor.”

“Itu bukan humor.”

“Aku tahu.”

Untuk beberapa saat, mereka makan dalam diam. Bianca berusaha mengabaikan kehadiran pria itu, tetapi tatapan Dante beberapa kali tertuju kepadanya.

Akhirnya, ia meletakkan garpunya.

“Apa lagi yang harus saya lakukan?”

Dante mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jas yang tergantung di sandaran kursinya.

“Pernikahan kita akan berlangsung besok malam.”

Bianca nyaris tersedak kopinya.

“Besok?”

“Ya.”

“Anda mengatakan tiga hari!”

“Keadaan berubah.”

“Keadaan berubah atau Anda memang tidak pernah berniat memberi saya waktu?”

Dante membuka kotak itu.

Di dalamnya terletak sebuah cincin berlian dengan batu safir biru di bagian tengah, dikelilingi berlian kecil yang berkilauan terkena cahaya pagi.

Cincin itu sangat indah.

Dan entah mengapa, Bianca justru merasa sesak melihatnya.

“Ini milik keluarga Vieri,” kata Dante. “Cincin ini diwariskan kepada perempuan yang menikah dengan kepala keluarga.”

Bianca menatap batu safir tersebut.

“Apakah semua istri Anda mendapatkan cincin seperti ini?”

“Tidak pernah ada istri sebelumnya.”

Jawaban itu membuat Bianca terdiam sesaat.

Ia tidak tahu mengapa pengakuan sederhana tersebut terasa begitu pribadi.

Dante menggeser kotak itu ke arahnya.

“Cobalah.”

“Saya tidak mau.”

“Bianca.”

“Saya bilang tidak mau.”

Dante bersandar di kursinya.

“Kau boleh membenciku sebanyak yang kau inginkan. Namun, besok malam, kau akan berdiri di sampingku sebagai istriku. Dunia mungkin tidak mengetahui pernikahan itu, tetapi keluarga Vieri akan mengetahuinya.”

Bianca memandangnya dengan tajam.

“Dan setelah itu? Apa yang Anda harapkan dari saya? Menjadi istri yang patuh? Tersenyum setiap kali Anda pulang? Berpura-pura bahagia di depan keluarga Anda?”

“Tidak.”

Dante menjawab terlalu cepat hingga Bianca terdiam.

“Aku mengharapkanmu tetap hidup,” lanjutnya. “Dan tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri.”

“Bagaimana kalau saya ingin pergi?”

“Kalau kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan kepada pengawalmu.”

“Bukan itu maksud saya.”

Dante memahami maksudnya, tetapi memilih diam.

Bianca mencondongkan tubuh ke depan.

“Saya tidak ingin menjadi burung di dalam sangkar emas, Dante. Saya tidak peduli seberapa besar rumah Anda atau seberapa mahal pakaian yang Anda berikan. Saya ingin tetap memiliki hidup saya sendiri.”

Tatapan Dante mengeras.

“Kau akan mendapatkan kamar sendiri, akses kepada uangmu sendiri, dan kebebasan untuk melanjutkan pekerjaanmu. Namun, selama ancaman terhadap keluargamu belum selesai, kau tidak boleh pergi tanpa pengamanan.”

“Jadi, Anda tetap akan mengawasi saya.”

“Aku akan memastikan tidak ada yang membunuhmu.”

“Apakah Anda selalu menyebut pengendalian sebagai perlindungan?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Dante menatap Bianca cukup lama sebelum menjawab.

“Tidak. Tetapi aku pernah kehilangan seseorang karena mengira membiarkannya pergi adalah bentuk perlindungan.”

Ada luka yang melintas begitu cepat di wajahnya.

Bianca hampir menanyakannya, tetapi Dante telah menutup kotak cincin dan berdiri.

“Habiskan sarapanmu. Setelah itu, kita akan menemui pengacara keluarga.”

Pukul sepuluh, sebuah mobil hitam membawa mereka menuju sebuah gedung tua di pusat kota Roma.

Di dalam mobil, Dante duduk di samping Bianca, sementara dua pengawal berada di kursi depan.

Bianca memandang jalanan melalui jendela. Ia berusaha mengingat setiap belokan, setiap bangunan, dan setiap persimpangan yang mereka lewati.

Dante menyadarinya.

“Kau sedang menghafal jalan?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Supaya saya tahu cara pulang.”

Dante menoleh kepadanya.

“Pulang ke mana?”

“Ke tempat yang tidak ada Anda di dalamnya.”

Salah seorang pengawal di depan berdeham pelan.

Dante justru tersenyum tipis.

“Kau akan membuatku menyesali keputusan ini.”

“Bagus. Berarti kita sudah memiliki sesuatu yang sama.”

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan berarsitektur klasik. Di lantai dua terdapat kantor hukum milik Lorenzo Bianchi, pengacara yang telah menangani urusan keluarga Vieri selama lebih dari dua puluh tahun.

Mereka memasuki ruangan dengan dinding kayu gelap dan rak-rak penuh dokumen.

Lorenzo, pria berusia enam puluhan dengan rambut perak, menyambut Dante dengan anggukan hormat.

“Tuan Vieri. Nona Laurent.”

“Jelaskan perjanjiannya,” perintah Dante.

Lorenzo membuka dokumen baru dan mulai membacakan ketentuan pernikahan mereka.

Sebagian besar berhubungan dengan aset, kerahasiaan, perlindungan keluarga, dan kepemilikan saham.

Namun, ketika sampai pada sebuah pasal tertentu, Bianca mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Lorenzo berhenti.

Bianca menunjuk paragraf di hadapannya.

“Di sini tertulis bahwa setelah pernikahan, sebagian hak pengelolaan perusahaan keluarga saya akan dialihkan kepada Dante.”

“Itu benar,” jawab Lorenzo. “Sebagai bagian dari kesepakatan penyelesaian utang.”

“Tidak. Dante mengatakan perusahaan ayah saya akan tetap memiliki hak atas bisnisnya.”

Bianca berbalik menatap pria di sampingnya.

“Anda mengatakan pernikahan ini akan menyelamatkan perusahaan keluarga saya.”

“Dan memang demikian.”

“Kalau begitu, mengapa Anda mengambil kendalinya?”

Dante tidak segera menjawab.

Lorenzo tampak gelisah.

“Peralihan itu hanya bersifat sementara, Nona Laurent.”

“Berapa lama?”

“Tidak ada batas waktu yang ditentukan.”

Bianca menatap Dante dengan kemarahan yang perlahan berubah menjadi kekecewaan.

“Anda sengaja menyembunyikan ini.”

“Aku belum selesai menjelaskan.”

“Tidak perlu. Saya sudah cukup mendengar.”

Bianca bangkit dari kursinya.

Dante ikut berdiri.

“Duduklah.”

“Jangan memberi saya perintah!”

Kali ini suaranya bergetar, tetapi ia tidak peduli.

“Jika saya menikahi Anda, saya tidak akan menyerahkan seluruh hak keluarga saya begitu saja. Saya ingin klausul ini diubah. Kendali perusahaan tetap berada di tangan keluarga Laurent, dan Anda tidak boleh menjual atau mengalihkan sahamnya tanpa persetujuan tertulis dari saya dan ayah saya.”

Lorenzo menatap Dante, menunggu keputusan.

Dante memandang Bianca.

Ada sesuatu yang hampir menyerupai kekaguman di balik mata birunya.

“Kau tahu apa yang sedang kau lakukan?”

“Saya sedang memastikan Anda tidak mengambil keuntungan dari keadaan keluarga saya.”

“Dan kalau aku menolak?”

Bianca menarik napas panjang.

“Kalau begitu, tidak akan ada pernikahan.”

Hening.

Dua pengawal di dekat pintu saling bertukar pandang.

Tidak ada seorang pun yang berbicara seperti itu kepada Dante Vieri.

Namun, pria itu tidak berteriak. Ia tidak memukul meja. Ia bahkan tidak mengancam Bianca.

Ia hanya memandangnya, lalu menoleh kepada pengacaranya.

“Ubah klausul tersebut.”

Lorenzo berkedip.

“Maaf, Tuan?”

“Kau mendengarku. Hak pengelolaan perusahaan Laurent tetap berada pada keluarga Laurent. Tambahkan klausul yang melarang pengalihan saham tanpa persetujuan Bianca.”

Bianca tidak menyangka Dante akan menyetujuinya.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Dante menatapnya.

“Karena aku tidak membutuhkan seorang istri yang merasa dirinya telah dijual kepadaku.”

Kalimat itu membuat Bianca kehilangan jawaban.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda pada pria tersebut. Dante memang berbahaya, tetapi ia tidak sepenuhnya seperti monster yang dibayangkannya.

Sayangnya, perubahan itu tidak cukup untuk menghapus rasa curiganya.

Ketika mereka hendak menandatangani dokumen tambahan, Lorenzo mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari laci.

“Ada satu hal lagi yang perlu Anda ketahui, Tuan Vieri.”

Dante menatap amplop itu.

“Apa?”

“Dokumen ini ditemukan pagi tadi di kantor lama ayah Nona Laurent.”

Lorenzo menyerahkannya kepada Bianca.

Dengan jari gemetar, Bianca membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat selembar surat yang ditulis tangan oleh ayahnya.

Bianca, jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti aku gagal melindungimu dari masa lalu keluarga kita.

Air mata menggenang di mata Bianca.

Ia melanjutkan membaca.

Jangan pernah mempercayai nama Vieri sepenuhnya. Ada darah keluarga kita yang mengalir di dalam kerajaan mereka. Pernikahanmu dengan Dante mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk menemukan kebenaran, tetapi juga bisa menjadi awal kehancuranmu.

Bianca menurunkan surat itu.

Wajahnya pucat.

Dante mengambil surat tersebut dan membaca bagian terakhirnya.

Rahangnya mengeras.

“Apa maksudnya?” tanya Bianca. “Darah keluarga kami? Apa yang sebenarnya terjadi antara ayah kita?”

Dante menatap surat itu seakan-akan tulisan tersebut baru saja membangkitkan hantu dari masa lalunya.

“Aku tidak tahu.”

Namun, dari caranya menggenggam kertas itu, Bianca tahu pria tersebut sedang menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu yang jauh lebih besar daripada utang, perusahaan, atau pernikahan rahasia mereka.

Ponsel Dante berdering.

Ia mengangkatnya.

“Bicara.”

Suara seorang pria terdengar dari seberang, cukup keras hingga Bianca menangkap beberapa kata.

“Tuan, kami menemukan keberadaan Adrian.”

Dante langsung menegakkan tubuh.

“Di mana?”

“Di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Tetapi ada masalah.”

“Apa?”

Pria di seberang terdiam sesaat.

“Kami menemukan darah di dalam bangunan itu. Dan ada pesan yang ditinggalkan khusus untuk Anda.”

Dante menggenggam ponselnya erat.

“Bacakan.”

Suara di seberang terdengar semakin pelan.

“Biarkan Bianca menikah denganmu, Dante. Namun, sebelum matahari terbit pada hari pernikahan kalian, salah satu dari kalian akan mati.”

Panggilan terputus.

Bianca menatap Dante dengan jantung berdebar kencang.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria itu tidak berusaha menyembunyikan kemarahannya.

Ia memandang Bianca, lalu berkata dengan suara rendah yang membuat seluruh ruangan terasa membeku.

“Pernikahan ini bukan lagi sekadar kesepakatan.”

Dante memasukkan ponselnya ke saku.

“Sekarang, ini adalah perang.”

Bersambung ke Bab 4 — Pengantin di Tengah Malam.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!