Bab 4: Runtuhnya Kerajaan Bahar

Alana menatap uluran tangan besar yang bersih tanpa noda itu dengan tatapan kosong. Pikirannya masih berdengung kencang, berusaha mencerna semua kejadian gila yang baru saja berlangsung dalam waktu kurang dari lima menit. Tiga orang preman raksasa bertato, algojo paling kejam milik Juragan Bahar yang ditakuti di seluruh wilayah ini, baru saja ditumbangkan hingga tak sadarkan diri oleh pria yang berdiri di depannya.

​Dengan tangan gemetar, Alana akhirnya membalas uluran tangan itu. Genggaman tangan Xander terasa begitu kokoh dan hangat, menarik tubuh mungil Alana berdiri dari lantai yang dingin.

​"K-kau... bagaimana kau bisa melakukan semua itu?" suara Alana terdengar parau. Sepasang matanya menatap tajam ke dalam manik obsidian Xander, mencari kebohongan. "Kau mengalahkan mereka seolah-olah kau adalah seorang pembunuh bayaran profesional. Siapa kau sebenarnya, Xander?"

​Xander menatap balik mata gadis yang dipenuhi ketakutan dan kecurigaan itu. Sang triliuner tahu, satu langkah salah dalam memberikan alasan akan menghancurkan penyamaran amannya malam ini. Otak jeniusnya segera memutar sebuah narasi baru yang masuk akal.

​Tiba-tiba, Xander tertawa hambar. Tawa yang terdengar sarat akan rasa pahit dan keputusasaan yang dipalsukan dengan sangat sempurna. Pria itu mengacak-acak rambutnya yang setengah kering.

​"Pembunuh bayaran? Astaga, Alana. Imajinasi novel macam apa itu?" Xander tersenyum miring, lalu berjalan mendekati sisa-sisa meja dapur yang hancur. "Kau ingat saat aku bilang aku punya hutang besar pada sindikat lintah darat kasino?"

​Alana mengangguk pelan, masih menjaga jarak.

​"Selama lima tahun terakhir, demi mencicil bunga hutang gila itu, aku dipaksa bekerja sebagai tukang pukul dan penjaga pintu di klub malam bawah tanah milik mereka," ucap Xander dengan nada suara yang dibuat terdengar penuh penyesalan. "Setiap malam aku harus menghadapi para pemabuk berandalan, petarung jalanan, hingga mafia kelas teri. Kalau aku tidak belajar membela diri secara brutal, aku pasti sudah mati membusuk di selokan sejak lama. Preman-preman ibumu tadi belum ada apa-apanya dibandingkan monster-monster di klub bawah tanah."

​Mendengar penjelasan itu, sorot mata Alana perlahan berubah. Logika gadis itu mulai menerima alasan tersebut. Tentu saja! Pria malang ini terjebak dalam lingkaran setan rentenir, sama sepertinya. Lingkungan yang keras pasti telah memaksanya menjadi beringas demi bertahan hidup. Rasa curiga di hati Alana seketika menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang amat dalam karena telah menuduh pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

​"Maafkan aku, Xander," bisik Alana, menundukkan kepalanya. "Aku tidak bermaksud menuduhmu yang macam-macam. Kau baru saja menyelamatkanku, tapi aku malah mencurigaimu. Aku benar-benar berterima kasih. Kalau tidak ada kau malam ini... aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku."

​Xander tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini entah mengapa terasa sedikit lebih tulus dari sebelumnya. "Tidak perlu berterima kasih, Istriku. Mulai malam ini, itu sudah menjadi tugasku."

​Malam itu, mereka berdua bekerja sama menyingkirkan tubuh dua preman yang pingsan ke lorong luar apartemen. Karena engsel pintu kayu sudah hancur total, Xander dengan mudah mengangkat sebuah lemari pakaian yang cukup berat dan menggesernya untuk memblokir celah pintu, memastikan tidak ada yang bisa masuk menerobos saat mereka tidur.

​Keheningan perlahan menyelimuti apartemen kecil itu. Di atas sofa usang yang sempit, sang penguasa dunia bawah yang biasanya tidur di atas ranjang king size seharga ratusan juta, kini terlelap dengan kedua kaki panjangnya yang menggantung di ujung sofa. Anehnya, malam ini Xander tertidur lebih nyenyak dari biasanya, tanpa perlu memikirkan ancaman pembunuhan dari rival bisnisnya.

​Keesokan paginya, sinar matahari pagi menyelinap dari celah tirai yang tipis, menyilaukan mata Alana. Gadis itu menggeliat pelan, terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia lihat saat keluar dari area tempat tidur adalah sosok Xander. Pria itu masih tertidur lelap di sofa. Wajahnya yang tegas tampak begitu damai, mirip seperti sesosok malaikat pelindung, sangat jauh berbeda dengan iblis berdarah dingin yang mematahkan tulang preman tadi malam.

​Tanpa sadar, sudut bibir Alana terangkat membentuk senyuman kecil. Ia segera bergegas ke dapur mini. Menggunakan sisa-sisa bahan makanan seadanya di kulkas, Alana memasak dua porsi nasi goreng telur sederhana. Aroma gurih bawang putih dan kecap segera menguar, memenuhi ruangan kecil itu.

​Aroma masakan itu rupanya berhasil membangunkan Xander. Pria itu membuka matanya perlahan, mengerjap menyesuaikan cahaya. Ia duduk dan menatap hidangan sederhana yang sudah tersaji di atas meja kecil ruang tengah. Di mansion mewahnya, Xander selalu dilayani oleh koki pribadi asal Prancis pemegang bintang Michelin. Namun pagi ini, melihat seorang gadis memakai celemek memasak untuknya, ada sebuah kehangatan aneh yang menyusup ke dalam hatinya yang selama ini beku.

​"Makanlah. Maaf hanya ada nasi goreng telur seadanya," ucap Alana sambil menyodorkan segelas teh hangat.

​Xander menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Matanya sedikit membesar. "Ini enak. Sangat enak," pujinya jujur.

​Alana tersipu malu. Ia lalu duduk di seberang Xander, bersiap menyantap sarapannya sebelum berangkat kerja sebagai desainer perhiasan junior di sebuah perusahaan. Sambil mengunyah, Alana meraih ponselnya yang sedang diisi daya untuk memeriksa notifikasi.

​Baru saja ia membuka layar beranda, sebuah notifikasi berita sela Headline News nasional langsung memenuhi layar ponselnya dengan huruf kapital berwarna merah menyala.

​"BREAKING NEWS: KERAJAAN BISNIS JURAGAN BAHAR RUNTUH SEMALAMAN! ASET DISITA, KASINO BAWAH TANAH HANGUS TERBAKAR, DAN SANG RENTENIR KINI BERSTATUS BURONAN NEGARA!"

​Sendok di tangan Alana langsung terjatuh berdenting ke atas piring. Gadis itu ternganga, matanya membelalak lebar membaca rentetan paragraf berita tersebut. Dilaporkan bahwa tadi malam, sebuah kekuatan misterius yang sangat masif telah menghancurkan seluruh pusat operasi Juragan Bahar. Semua lumbung uangnya dirampok bersih, perusahaannya dinyatakan bangkrut karena sahamnya anjlok 100%, dan Bahar sendiri kini sedang diburu oleh polisi atas berbagai tuduhan kejahatan berat.

​"Astaga... Ya Tuhan... Xander! Lihat ini!" jerit Alana histeris, menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah pria itu. Tangannya bergetar karena syok sekaligus bahagia yang tak terkira.

​Xander melirik sekilas ke arah layar ponsel itu. Pria itu lalu menyesap teh hangatnya dengan sangat elegan, diam-diam menyembunyikan seringai iblis di balik cangkirnya. Pekerjaan Dante dan anak buahnya memang selalu memuaskan.

​"Juragan Bahar hancur, Xander! Rentenir gila itu bangkrut semalaman! Ini keajaiban! Tuhan benar-benar menjawab doaku!" ucap Alana dengan mata berkaca-kaca menahan tangis haru. Mimpi buruknya selama ini akhirnya sirna begitu saja. Beban berat seolah baru saja diangkat dari kedua pundaknya.

​"Begitulah," sahut Xander dengan nada suara datar namun menyimpan nada geli yang tersembunyi. "Tuhan memang selalu bekerja dengan cara yang sangat misterius, Alana."

​Alana langsung bangkit berdiri dan melompat kegirangan. "Aku harus segera mandi dan berangkat kerja! Hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku!"

​Setengah jam kemudian, Alana berlari keluar dari apartemen menuju stasiun bus, meninggalkan Xander sendirian. Pria itu menatap kepergian istrinya dari jendela. Sesaat setelah Alana menghilang dari pandangan, ponsel di saku Xander bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Dante.

​"Tuan Besar," lapor suara Dante dari seberang telepon. "Tugas semalam sudah selesai tanpa jejak. Selain itu, jadwal Anda hari ini adalah melakukan inspeksi dadakan ke perusahaan perhiasan Viora yang baru saja kita akuisisi minggu lalu."

​Xander tersenyum miring. Viora. Itu adalah nama kantor tempat istri kecilnya bekerja.

​"Siapkan mobilku, Dante. Aku akan datang meninjau kantorku," perintah Xander, matanya berkilat penuh antisipasi.

​(Bersambung...)

Episodes
1 Bab 1: Suami Seharga Lima Juta
2 Bab 2: Sandiwara Sang Penguasa
3 Bab 3: Membangunkan Sang Iblis
4 Bab 4: Runtuhnya Kerajaan Bahar
5 Bab 5: Kedatangan Sang Penguasa
6 Bab 6: Murka Sang Penguasa
7 Bab 7: Sangkar Emas Sang Triliuner
8 Bab 8: Jerat Hukum Sang Triliuner
9 Bab 9: Pengadilan Sang Penguasa
10 Bab 10: Malam Pertama di Istana Leonidas
11 Bab 11: Kembalinya Sang Ratu Viora
12 Bab 12: Sabotase yang Mengundang Maut
13 Bab 13: Suaka Sang Ratu dan Ancaman Baru
14 Bab 14: Bayangan Hitam di Leonidas Tower
15 Bab 15: Gempuran di Langit Jakarta
16 Bab 16: Murka Sang Iblis
17 Bab 17: Pelarian ke Suaka Darah
18 Bab 18: Pengkhianat di Atas Awan
19 Bab 19: Menembus Badai Kematian
20 Bab 20: Terdampar di Samudra Kematian
21 Bab 21: Benteng di Ujung Dunia
22 Bab 22: Genderang Perang Rusia
23 Bab 23: Lahirnya Sang Ratu
24 Bab 24: Pelatuk Kematian dan Kehidupan
25 Bab 25: Jebakan Berselimut Salju
26 Bab 26: Neraka Putih Siberia
27 Bab 27: Jejak Darah di Taiga
28 Bab 28: Terperangkap di Ujung Dunia
29 Bab 29: Hujan Peluru di Padang Salju
30 Bab 30: Peti Mati Baja di Laut Laptev
31 Bab 31: Leviathan di Dasar Laptev
32 Bab 32: Pelarian di Bawah Es
33 Bab 33: Sinyal Kematian dari Dasar Arktik
34 Bab 34: Bayangan Kematian di Laut Barents
35 Bab 35: Runtuhnya Sang Musim Dingin
36 Bab 36: Eksekusi di Atas Geladak Berdarah
37 Bab 37: Tenggelamnya Sang Tikus dan Rahasia Koper Perak
38 Bab 38: Daftar Hitam Sang Dewa Perang
39 Bab 39: Bayangan Malam di Pulau Hantu
40 Bab 40: Perjamuan Berdarah Sang Pengkhianat
41 Bab 41: Penghakiman Sang Dewa Perang
42 Bab 42: Arsitek di Balik Bayangan
43 Bab 43: Kilau Berlian dan Belati Tersembunyi
44 Bab 44: Taruhan Darah di Meja Baccarat
45 Bab 45: Permainan Maut Sang Baron
46 Bab 46: Pengakuan di Ambang Kehancuran
47 Bab 47: Pelarian Udara di Pantai Azure
48 Bab 48: Benteng di Puncak Salju
49 Bab 49: Perangkap di Balik Dinding Es
50 Bab 50: Pembalik Papan Catur
51 Bab 51: Eksekusi Sang Arsitek dan Rahasia The Olympus
52 Bab 52: Terjun Menuju Jantung Olympus
53 Bab 53: Pendaratan Senyap di Olympus
54 Bab 54: Badai Darah di Lorong Emas
55 Bab 55: Runtuhnya Tiga Pilar dan Sapaan The Crown
56 Bab 56: Runtuhnya Olympus dan Penerbangan ke Delphi
57 Bab 57: Bayang-Bayang Masa Lalu di Delphi
58 Bab 58: Jejak Darah di Tanah Suci Delphi
59 Bab 59: Lima Menit Menuju Kehancuran
60 Bab 60: Runtuhnya Takhta Sang Pengkhianat
61 Bab 61: Fajar Baru Setelah Badai Usai
62 Bab 62: Beku di Ujung Dunia
63 Bab 63: Teror di Kedalaman Tartarus
64 Bab 64: Predator Puncak
65 Bab 65: Eksekusi Titik Beku
66 Bab 66: Hitung Mundur Menuju Kehancuran
67 Bab 67: Titik Koordinat Omega
68 Bab 68: Jatuh dari Langit
69 Bab 69: Penetrasi Superkavitasi
70 Bab 70: Ilusi Kematian dan Pasukan Abadi
71 Bab 71: Cacat Genetik
72 Bab 72: Lautan Amniotik
73 Bab 73: Menara Tirani
74 Bab 74: Kerapuhan Kaca Abadi
75 Bab 75: Detak Jantung Kehancuran
76 Bab 76: Anatomi Penderitaan
77 Bab 77: Ascensi Mematikan
78 Bab 78: Eksekusi Sang Tiran
79 Bab 79: Bayangan Ouroboros
80 Bab 80: Hujan Peluru di Atas Pasifik
81 Bab 81: Pusaran Baja dan Darah
82 Bab 82: Gelombang Kejut Elektromagnetik
83 Bab 83: Suar di Ujung Malam
84 Bab 84: Sindikat Teratai Emas
85 Bab 85: Penjemputan dalam Kabut
86 Bab 86: Labirin Beracun Teratai Emas
87 Bab 87: Eksekusi Siluman
88 Bab 88: Tarian Baja dan Darah
89 Bab 89: Eksekusi Nol Mutlak
90 Bab 90: Pelarian Gila di Puncak Teratai
91 Bab 91: Sayap Hitam Makau
92 Bab 92: Armada Hantu di Bawah Gelombang
93 Bab 93: Hantu di Bawah Samudra Beku
94 Bab 94: Menembus Jantung Erebus
95 Bab 95: Tarian Baja Merah
96 Bab 96: Badai Darah di Erebus
97 Bab 97: Monster di Puncak Dunia
98 Bab 98: Runtuhnya Sang Pemangsa
99 Bab 99: Takhta Sang Arsitek
100 Bab 100: Legenda yang Terlelap
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Suami Seharga Lima Juta
2
Bab 2: Sandiwara Sang Penguasa
3
Bab 3: Membangunkan Sang Iblis
4
Bab 4: Runtuhnya Kerajaan Bahar
5
Bab 5: Kedatangan Sang Penguasa
6
Bab 6: Murka Sang Penguasa
7
Bab 7: Sangkar Emas Sang Triliuner
8
Bab 8: Jerat Hukum Sang Triliuner
9
Bab 9: Pengadilan Sang Penguasa
10
Bab 10: Malam Pertama di Istana Leonidas
11
Bab 11: Kembalinya Sang Ratu Viora
12
Bab 12: Sabotase yang Mengundang Maut
13
Bab 13: Suaka Sang Ratu dan Ancaman Baru
14
Bab 14: Bayangan Hitam di Leonidas Tower
15
Bab 15: Gempuran di Langit Jakarta
16
Bab 16: Murka Sang Iblis
17
Bab 17: Pelarian ke Suaka Darah
18
Bab 18: Pengkhianat di Atas Awan
19
Bab 19: Menembus Badai Kematian
20
Bab 20: Terdampar di Samudra Kematian
21
Bab 21: Benteng di Ujung Dunia
22
Bab 22: Genderang Perang Rusia
23
Bab 23: Lahirnya Sang Ratu
24
Bab 24: Pelatuk Kematian dan Kehidupan
25
Bab 25: Jebakan Berselimut Salju
26
Bab 26: Neraka Putih Siberia
27
Bab 27: Jejak Darah di Taiga
28
Bab 28: Terperangkap di Ujung Dunia
29
Bab 29: Hujan Peluru di Padang Salju
30
Bab 30: Peti Mati Baja di Laut Laptev
31
Bab 31: Leviathan di Dasar Laptev
32
Bab 32: Pelarian di Bawah Es
33
Bab 33: Sinyal Kematian dari Dasar Arktik
34
Bab 34: Bayangan Kematian di Laut Barents
35
Bab 35: Runtuhnya Sang Musim Dingin
36
Bab 36: Eksekusi di Atas Geladak Berdarah
37
Bab 37: Tenggelamnya Sang Tikus dan Rahasia Koper Perak
38
Bab 38: Daftar Hitam Sang Dewa Perang
39
Bab 39: Bayangan Malam di Pulau Hantu
40
Bab 40: Perjamuan Berdarah Sang Pengkhianat
41
Bab 41: Penghakiman Sang Dewa Perang
42
Bab 42: Arsitek di Balik Bayangan
43
Bab 43: Kilau Berlian dan Belati Tersembunyi
44
Bab 44: Taruhan Darah di Meja Baccarat
45
Bab 45: Permainan Maut Sang Baron
46
Bab 46: Pengakuan di Ambang Kehancuran
47
Bab 47: Pelarian Udara di Pantai Azure
48
Bab 48: Benteng di Puncak Salju
49
Bab 49: Perangkap di Balik Dinding Es
50
Bab 50: Pembalik Papan Catur
51
Bab 51: Eksekusi Sang Arsitek dan Rahasia The Olympus
52
Bab 52: Terjun Menuju Jantung Olympus
53
Bab 53: Pendaratan Senyap di Olympus
54
Bab 54: Badai Darah di Lorong Emas
55
Bab 55: Runtuhnya Tiga Pilar dan Sapaan The Crown
56
Bab 56: Runtuhnya Olympus dan Penerbangan ke Delphi
57
Bab 57: Bayang-Bayang Masa Lalu di Delphi
58
Bab 58: Jejak Darah di Tanah Suci Delphi
59
Bab 59: Lima Menit Menuju Kehancuran
60
Bab 60: Runtuhnya Takhta Sang Pengkhianat
61
Bab 61: Fajar Baru Setelah Badai Usai
62
Bab 62: Beku di Ujung Dunia
63
Bab 63: Teror di Kedalaman Tartarus
64
Bab 64: Predator Puncak
65
Bab 65: Eksekusi Titik Beku
66
Bab 66: Hitung Mundur Menuju Kehancuran
67
Bab 67: Titik Koordinat Omega
68
Bab 68: Jatuh dari Langit
69
Bab 69: Penetrasi Superkavitasi
70
Bab 70: Ilusi Kematian dan Pasukan Abadi
71
Bab 71: Cacat Genetik
72
Bab 72: Lautan Amniotik
73
Bab 73: Menara Tirani
74
Bab 74: Kerapuhan Kaca Abadi
75
Bab 75: Detak Jantung Kehancuran
76
Bab 76: Anatomi Penderitaan
77
Bab 77: Ascensi Mematikan
78
Bab 78: Eksekusi Sang Tiran
79
Bab 79: Bayangan Ouroboros
80
Bab 80: Hujan Peluru di Atas Pasifik
81
Bab 81: Pusaran Baja dan Darah
82
Bab 82: Gelombang Kejut Elektromagnetik
83
Bab 83: Suar di Ujung Malam
84
Bab 84: Sindikat Teratai Emas
85
Bab 85: Penjemputan dalam Kabut
86
Bab 86: Labirin Beracun Teratai Emas
87
Bab 87: Eksekusi Siluman
88
Bab 88: Tarian Baja dan Darah
89
Bab 89: Eksekusi Nol Mutlak
90
Bab 90: Pelarian Gila di Puncak Teratai
91
Bab 91: Sayap Hitam Makau
92
Bab 92: Armada Hantu di Bawah Gelombang
93
Bab 93: Hantu di Bawah Samudra Beku
94
Bab 94: Menembus Jantung Erebus
95
Bab 95: Tarian Baja Merah
96
Bab 96: Badai Darah di Erebus
97
Bab 97: Monster di Puncak Dunia
98
Bab 98: Runtuhnya Sang Pemangsa
99
Bab 99: Takhta Sang Arsitek
100
Bab 100: Legenda yang Terlelap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!