Bab 3: Membangunkan Sang Iblis

Suara hantaman keras pada pintu kayu apartemen Alana terdengar bagaikan dentuman takdir yang kejam. Alana mencengkeram erat pinggiran meja dapur, buku-buku jarinya memutih, dan seluruh tubuhnya seketika bergetar hebat. Di luar sana, suara tawa melengking Melinda—ibu tirinya—berbaur dengan deru angin malam yang kencang dan ketukan kasar sepatu boots para preman suruhan Juragan Bahar.

​"Alana! Keluar kamu anak gila! Jangan harap kamu bisa bersembunyi setelah mengacaukan kesepakatan besar dengan Juragan Bahar!" pekik Melinda dari balik pintu, suaranya melengking penuh kemarahan.

​Ketakutan yang luar biasa seketika melumpuhkan seluruh syaraf di tubuh Alana. Pikirannya mendadak kosong. Gadis itu tahu benar bagaimana watak Melinda yang manipulatif serta kekejaman Juragan Bahar yang tidak akan pernah segan-segan bermain fisik jika segala keinginannya tidak terpenuhi. Air mata keputusasaan yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupis mata indahnya.

​Namun, di tengah badai kepanikan yang nyaris membuat kesadaran Alana hilang, sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba mendarat dengan kokoh di atas bahunya. Sentuhan itu terasa begitu tenang dan menyejukkan. Alana mendongak dengan perlahan, menemukan sepasang mata obsidian milik Xander yang kini menatapnya lurus. Tidak ada lagi sisa-sisa kejenakaan atau ekspresi pria malang yang berpura-pura panik seperti di gang sempit tadi. Yang ada hanyalah sebuah ketenangan sedingin es yang luar biasa mematikan.

​"Masuklah ke dalam kamar mandi, Istriku. Kunci pintunya rapat-rapat dari dalam dan jangan pernah keluar sampai aku menyuruhmu," bisik Xander. Nada suaranya begitu rendah, namun sarat akan otoritas mutlak yang sama sekali tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

​"Tapi Xander... mereka banyak dan mereka sangat berbahaya! Mereka semua membawa preman bersenjata!" potong Alana dengan suara berbisik yang tercekat di tenggorokan. Ia sangat takut pria asing yang baru disewanya beberapa jam lalu ini akan menjadi korban keberingasan orang-orang suruhan Melinda.

​Xander tidak menjawab kekhawatiran itu dengan kata-kata. Pria itu hanya memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat misterius, seolah-olah menganggap keberadaan segerombolan preman di luar sana tidak lebih dari sekadar sekumpulan semut pengganggu yang mengesalkan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Xander mendorong tubuh mungil Alana masuk ke arah area belakang ruangan, memaksanya berlindung.

​BRAKKK!

​Belum sempat kaki Alana melangkah mencapai pintu kamar mandi, pintu kayu apartemennya sudah hancur berantakan setelah dihantam dengan satu tendangan keras dari luar. Engsel-engsel besinya patah berkeping-keping, menyisakan debu-debu kayu tua yang beterbangan di udara redup ruangan tersebut.

​Melinda melangkah masuk terlebih dahulu dengan angkuh, mengenakan pakaian bermerek mencolok yang dibeli dari uang hasil berhutang. Di belakang wanita itu, berdiri tiga orang pria berbadan besar dengan tato yang memenuhi seluruh lengan mereka serta wajah penuh bekas luka robekan. Mereka adalah para algojo andalan yang paling ditakuti milik Juragan Bahar.

​"Oh, jadi kamu benar-benar bersembunyi di tempat kumuh ini, anak sialan!" Melinda berkacak pinggang, menatap Alana dengan pandangan yang dipenuhi rasa benci. Namun, tatapan mata Melinda segera terhenti ketika pandangannya menangkap sosok Xander yang berdiri tegak lurus di tengah ruangan, menghalangi jalannya dengan kokoh.

​Melinda mendengus sinis, matanya mengamati penampilan Xander dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemeja hitam polos yang basah dan sedikit kusut membuat Melinda langsung menarik kesimpulan instan yang meremehkan. "Siapa pria gembel ini, Alana? Jadi ini alasanmu berani menolak Juragan Bahar? Kamu melarikan diri dari rumah hanya demi pria miskin tak berguna seperti dia?!"

​Salah satu preman berbadan paling besar, yang memegang sebatang balok kayu tebal di tangan kanannya, melangkah maju dengan angkuh. Pria bertato itu menunjuk tepat ke arah dada Xander menggunakan ujung balok kayunya yang kotor. "Heh, anak muda! Jangan coba-coba berlagak jadi pahlawan kesiangan di sini kalau kau masih sayang dengan nyawamu sendiri. Singkirkan badanmu yang kerempeng itu dari hadapan kami, atau kupastikan besok pagi kau hanya tinggal nama!"

​Xander melirik perlahan ke arah ujung balok kayu yang menyentuh permukaan kemeja hitam mahalnya. Kilat di sepasang matanya mendadak berubah menjadi luar biasa mengerikan. Di dunia bawah, bahkan para pemimpin mafia tingkat tinggi sekalipun akan langsung berlutut gemetar jika Xander sudah menatap mereka dengan tatapan dingin seperti itu.

​"Kau baru saja mengotori kemejakupakai kayu murahan itu," ucap Xander dengan nada suara yang sangat datar, hampir tanpa emosi sama sekali. Namun, bagi siapa pun yang mengenal sosok asli sang penguasa kegelapan, nada datar itu adalah sebuah pertanda mutlak bahwa pembantaian berdarah akan segera dimulai.

​"Kurang ajar! Berani-beraninya kau berbicara seperti itu padaku—"

​KRAKKK!

​Belum sempat preman bertato itu menyelesaikan kalimat ancamannya, sebuah gerakan secepat kilat yang sama sekali tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang telah terjadi. Xander telah mencengkeram pergelangan tangan pria besar tersebut, lalu memutarnya ke arah berlawanan hingga terdengar suara patahan tulang yang sangat mengerikan menggema di dalam ruangan. Balok kayu tebal itu langsung jatuh berdentum keras ke atas lantai.

​"AAAARGHHH!!!" Preman besar itu menjerit histeris kesakitan, langsung berlutut di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini terkulai layu dengan sudut yang tidak wajar.

​Dua preman lainnya yang menyaksikan hal itu terkejut setengah mati. Namun, sebagai petarung jalanan kawakan, mereka segera bergerak bersamaan untuk mengeroyok Xander dari dua arah. Salah satu dari mereka melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Xander, sementara yang satunya lagi mencoba menerjang bagian pinggangnya.

​Xander hanya menggeser kaki kanannya sedikit ke belakang dengan sangat tenang, menghindari pukulan pertama dengan gerakan yang sangat elegan mirip seorang penari profesional. Detik berikutnya, tangan kanan Xander bergerak mencengkeram kuat leher preman kedua, lalu dengan satu hentakan kasar, ia menghantamkan wajah pria itu ke atas permukaan meja dapur dengan kekuatan yang luar biasa besar.

​BRAKKK!

​Meja dapur kayu yang tebal itu seketika retak menjadi dua bagian, dan preman kedua langsung ambruk tidak berdaya ke atas lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan darah segar yang mengalir deras dari hidungnya. Preman ketiga yang melihat kedua rekannya tumbang hanya dalam hitungan detik mendadak menciut drastis. Nyalinya hilang tanpa sisa. Kakinya gemetar hebat, dan ia melangkah mundur dengan wajah pucat pasi layaknya sepotong mayat.

​Melinda yang menyaksikan seluruh rentetan kejadian mengerikan itu menjerit histeris ketakutan. Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, sama sekali tidak percaya bahwa tiga algojo paling kejam milik Juragan Bahar bisa dikalahkan dengan begitu mudah, cepat, dan brutal oleh seorang pria yang beberapa menit lalu ia sebut sebagai 'gembel'.

​Xander melangkah maju satu demi satu dengan santai, mendekati Melinda yang kini terus bergerak mundur hingga punggungnya menabrak kusen pintu yang sudah rusak. Aura membunuh yang menguar kuat dari tubuh tegap Xander begitu pekat hingga membuat Melinda merasa sesak napas dan tercekik.

​Xander menundukkan sedikit tubuh tingginya, menyejajarkan wajahnya tepat di depan Melinda yang kini sedang menangis ketakutan di lantai. "Sampaikan pesan ini baik-baik pada tuanmu yang malang, Juragan Bahar," bisik Xander dengan nada suara yang sangat dingin menyengat hingga ke dalam dada. "Gadis ini adalah istri sahku. Jika ada satu saja dari kalian yang berani menginjakkan kaki kotor kalian di tempat ini lagi, atau mencoba menyentuh seujung rambutnya... kupastikan seluruh keluarga dan garis keturunan kalian akan lenyap dari muka bumi ini tanpa sisa."

​"Pe-pergi... ayo kita segera pergi dari sini!" teriak Melinda histeris kepada preman ketiga yang masih sehat. Tanpa memedulikan lagi dua rekan premannya yang terkapar mengenaskan di lantai, Melinda dan preman tersisa itu berlari terbirit-birit menuruni anak tangga apartemen seolah-olah mereka sedang dikejar oleh sosok iblis paling mengerikan dari neraka.

​Suasana di dalam apartemen kecil itu mendadak berubah menjadi sangat sunyi senyap, hanya menyisakan suara deru napas Alana yang masih syok berat di sudut ruangan. Gadis itu menatap punggung tegap Xander dengan pandangan yang dipenuhi perpaduan antara rasa tidak percaya, kagum, sekaligus ngeri yang luar biasa.

​Xander membalikkan tubuhnya perlahan, menatap wajah Alana yang masih membeku kaku seperti patung. Seketika itu juga, tatapan matanya yang kejam kembali berubah melembut dengan sangat cepat. Pria itu berjalan mendekat lalu mengambil ponsel pintarnya dari dalam saku celana. Sembari melangkah menghampiri Alana, jemari panjangnya bergerak lincah di atas layar sentuh, mengirimkan sebuah pesan singkat berisi perintah mutlak kepada Dante:

​“Hancurkan seluruh lini bisnis milik Juragan Bahar malam ini juga. Jangan sisakan satu sen pun kekayaan untuknya.”

​Xander memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu mengulurkan tangannya yang bersih tanpa noda darah sedikit pun ke hadapan wajah Alana yang masih terpaku. "Kau tidak apa-apa, Istriku? Maaf ya, aku terpaksa bertindak sedikit kasar tadi karena mereka semua sangat berisik dan mengganggu waktu istirahat kita."

​Alana menatap telapak tangan besar itu dengan penuh keraguan. Pikiran logisnya berputar keras. Siapa sebenarnya identitas asli dari suami sewaan barunya ini? Seorang pria pengangguran biasa yang sedang dikejar hutang tidak mungkin memiliki kemampuan bertarung brutal yang setara dengan pasukan elite militer.

Episodes
1 Bab 1: Suami Seharga Lima Juta
2 Bab 2: Sandiwara Sang Penguasa
3 Bab 3: Membangunkan Sang Iblis
4 Bab 4: Runtuhnya Kerajaan Bahar
5 Bab 5: Kedatangan Sang Penguasa
6 Bab 6: Murka Sang Penguasa
7 Bab 7: Sangkar Emas Sang Triliuner
8 Bab 8: Jerat Hukum Sang Triliuner
9 Bab 9: Pengadilan Sang Penguasa
10 Bab 10: Malam Pertama di Istana Leonidas
11 Bab 11: Kembalinya Sang Ratu Viora
12 Bab 12: Sabotase yang Mengundang Maut
13 Bab 13: Suaka Sang Ratu dan Ancaman Baru
14 Bab 14: Bayangan Hitam di Leonidas Tower
15 Bab 15: Gempuran di Langit Jakarta
16 Bab 16: Murka Sang Iblis
17 Bab 17: Pelarian ke Suaka Darah
18 Bab 18: Pengkhianat di Atas Awan
19 Bab 19: Menembus Badai Kematian
20 Bab 20: Terdampar di Samudra Kematian
21 Bab 21: Benteng di Ujung Dunia
22 Bab 22: Genderang Perang Rusia
23 Bab 23: Lahirnya Sang Ratu
24 Bab 24: Pelatuk Kematian dan Kehidupan
25 Bab 25: Jebakan Berselimut Salju
26 Bab 26: Neraka Putih Siberia
27 Bab 27: Jejak Darah di Taiga
28 Bab 28: Terperangkap di Ujung Dunia
29 Bab 29: Hujan Peluru di Padang Salju
30 Bab 30: Peti Mati Baja di Laut Laptev
31 Bab 31: Leviathan di Dasar Laptev
32 Bab 32: Pelarian di Bawah Es
33 Bab 33: Sinyal Kematian dari Dasar Arktik
34 Bab 34: Bayangan Kematian di Laut Barents
35 Bab 35: Runtuhnya Sang Musim Dingin
36 Bab 36: Eksekusi di Atas Geladak Berdarah
37 Bab 37: Tenggelamnya Sang Tikus dan Rahasia Koper Perak
38 Bab 38: Daftar Hitam Sang Dewa Perang
39 Bab 39: Bayangan Malam di Pulau Hantu
40 Bab 40: Perjamuan Berdarah Sang Pengkhianat
41 Bab 41: Penghakiman Sang Dewa Perang
42 Bab 42: Arsitek di Balik Bayangan
43 Bab 43: Kilau Berlian dan Belati Tersembunyi
44 Bab 44: Taruhan Darah di Meja Baccarat
45 Bab 45: Permainan Maut Sang Baron
46 Bab 46: Pengakuan di Ambang Kehancuran
47 Bab 47: Pelarian Udara di Pantai Azure
48 Bab 48: Benteng di Puncak Salju
49 Bab 49: Perangkap di Balik Dinding Es
50 Bab 50: Pembalik Papan Catur
51 Bab 51: Eksekusi Sang Arsitek dan Rahasia The Olympus
52 Bab 52: Terjun Menuju Jantung Olympus
53 Bab 53: Pendaratan Senyap di Olympus
54 Bab 54: Badai Darah di Lorong Emas
55 Bab 55: Runtuhnya Tiga Pilar dan Sapaan The Crown
56 Bab 56: Runtuhnya Olympus dan Penerbangan ke Delphi
57 Bab 57: Bayang-Bayang Masa Lalu di Delphi
58 Bab 58: Jejak Darah di Tanah Suci Delphi
59 Bab 59: Lima Menit Menuju Kehancuran
60 Bab 60: Runtuhnya Takhta Sang Pengkhianat
61 Bab 61: Fajar Baru Setelah Badai Usai
62 Bab 62: Beku di Ujung Dunia
63 Bab 63: Teror di Kedalaman Tartarus
64 Bab 64: Predator Puncak
65 Bab 65: Eksekusi Titik Beku
66 Bab 66: Hitung Mundur Menuju Kehancuran
67 Bab 67: Titik Koordinat Omega
68 Bab 68: Jatuh dari Langit
69 Bab 69: Penetrasi Superkavitasi
70 Bab 70: Ilusi Kematian dan Pasukan Abadi
71 Bab 71: Cacat Genetik
72 Bab 72: Lautan Amniotik
73 Bab 73: Menara Tirani
74 Bab 74: Kerapuhan Kaca Abadi
75 Bab 75: Detak Jantung Kehancuran
76 Bab 76: Anatomi Penderitaan
77 Bab 77: Ascensi Mematikan
78 Bab 78: Eksekusi Sang Tiran
79 Bab 79: Bayangan Ouroboros
80 Bab 80: Hujan Peluru di Atas Pasifik
81 Bab 81: Pusaran Baja dan Darah
82 Bab 82: Gelombang Kejut Elektromagnetik
83 Bab 83: Suar di Ujung Malam
84 Bab 84: Sindikat Teratai Emas
85 Bab 85: Penjemputan dalam Kabut
86 Bab 86: Labirin Beracun Teratai Emas
87 Bab 87: Eksekusi Siluman
88 Bab 88: Tarian Baja dan Darah
89 Bab 89: Eksekusi Nol Mutlak
90 Bab 90: Pelarian Gila di Puncak Teratai
91 Bab 91: Sayap Hitam Makau
92 Bab 92: Armada Hantu di Bawah Gelombang
93 Bab 93: Hantu di Bawah Samudra Beku
94 Bab 94: Menembus Jantung Erebus
95 Bab 95: Tarian Baja Merah
96 Bab 96: Badai Darah di Erebus
97 Bab 97: Monster di Puncak Dunia
98 Bab 98: Runtuhnya Sang Pemangsa
99 Bab 99: Takhta Sang Arsitek
100 Bab 100: Legenda yang Terlelap
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Suami Seharga Lima Juta
2
Bab 2: Sandiwara Sang Penguasa
3
Bab 3: Membangunkan Sang Iblis
4
Bab 4: Runtuhnya Kerajaan Bahar
5
Bab 5: Kedatangan Sang Penguasa
6
Bab 6: Murka Sang Penguasa
7
Bab 7: Sangkar Emas Sang Triliuner
8
Bab 8: Jerat Hukum Sang Triliuner
9
Bab 9: Pengadilan Sang Penguasa
10
Bab 10: Malam Pertama di Istana Leonidas
11
Bab 11: Kembalinya Sang Ratu Viora
12
Bab 12: Sabotase yang Mengundang Maut
13
Bab 13: Suaka Sang Ratu dan Ancaman Baru
14
Bab 14: Bayangan Hitam di Leonidas Tower
15
Bab 15: Gempuran di Langit Jakarta
16
Bab 16: Murka Sang Iblis
17
Bab 17: Pelarian ke Suaka Darah
18
Bab 18: Pengkhianat di Atas Awan
19
Bab 19: Menembus Badai Kematian
20
Bab 20: Terdampar di Samudra Kematian
21
Bab 21: Benteng di Ujung Dunia
22
Bab 22: Genderang Perang Rusia
23
Bab 23: Lahirnya Sang Ratu
24
Bab 24: Pelatuk Kematian dan Kehidupan
25
Bab 25: Jebakan Berselimut Salju
26
Bab 26: Neraka Putih Siberia
27
Bab 27: Jejak Darah di Taiga
28
Bab 28: Terperangkap di Ujung Dunia
29
Bab 29: Hujan Peluru di Padang Salju
30
Bab 30: Peti Mati Baja di Laut Laptev
31
Bab 31: Leviathan di Dasar Laptev
32
Bab 32: Pelarian di Bawah Es
33
Bab 33: Sinyal Kematian dari Dasar Arktik
34
Bab 34: Bayangan Kematian di Laut Barents
35
Bab 35: Runtuhnya Sang Musim Dingin
36
Bab 36: Eksekusi di Atas Geladak Berdarah
37
Bab 37: Tenggelamnya Sang Tikus dan Rahasia Koper Perak
38
Bab 38: Daftar Hitam Sang Dewa Perang
39
Bab 39: Bayangan Malam di Pulau Hantu
40
Bab 40: Perjamuan Berdarah Sang Pengkhianat
41
Bab 41: Penghakiman Sang Dewa Perang
42
Bab 42: Arsitek di Balik Bayangan
43
Bab 43: Kilau Berlian dan Belati Tersembunyi
44
Bab 44: Taruhan Darah di Meja Baccarat
45
Bab 45: Permainan Maut Sang Baron
46
Bab 46: Pengakuan di Ambang Kehancuran
47
Bab 47: Pelarian Udara di Pantai Azure
48
Bab 48: Benteng di Puncak Salju
49
Bab 49: Perangkap di Balik Dinding Es
50
Bab 50: Pembalik Papan Catur
51
Bab 51: Eksekusi Sang Arsitek dan Rahasia The Olympus
52
Bab 52: Terjun Menuju Jantung Olympus
53
Bab 53: Pendaratan Senyap di Olympus
54
Bab 54: Badai Darah di Lorong Emas
55
Bab 55: Runtuhnya Tiga Pilar dan Sapaan The Crown
56
Bab 56: Runtuhnya Olympus dan Penerbangan ke Delphi
57
Bab 57: Bayang-Bayang Masa Lalu di Delphi
58
Bab 58: Jejak Darah di Tanah Suci Delphi
59
Bab 59: Lima Menit Menuju Kehancuran
60
Bab 60: Runtuhnya Takhta Sang Pengkhianat
61
Bab 61: Fajar Baru Setelah Badai Usai
62
Bab 62: Beku di Ujung Dunia
63
Bab 63: Teror di Kedalaman Tartarus
64
Bab 64: Predator Puncak
65
Bab 65: Eksekusi Titik Beku
66
Bab 66: Hitung Mundur Menuju Kehancuran
67
Bab 67: Titik Koordinat Omega
68
Bab 68: Jatuh dari Langit
69
Bab 69: Penetrasi Superkavitasi
70
Bab 70: Ilusi Kematian dan Pasukan Abadi
71
Bab 71: Cacat Genetik
72
Bab 72: Lautan Amniotik
73
Bab 73: Menara Tirani
74
Bab 74: Kerapuhan Kaca Abadi
75
Bab 75: Detak Jantung Kehancuran
76
Bab 76: Anatomi Penderitaan
77
Bab 77: Ascensi Mematikan
78
Bab 78: Eksekusi Sang Tiran
79
Bab 79: Bayangan Ouroboros
80
Bab 80: Hujan Peluru di Atas Pasifik
81
Bab 81: Pusaran Baja dan Darah
82
Bab 82: Gelombang Kejut Elektromagnetik
83
Bab 83: Suar di Ujung Malam
84
Bab 84: Sindikat Teratai Emas
85
Bab 85: Penjemputan dalam Kabut
86
Bab 86: Labirin Beracun Teratai Emas
87
Bab 87: Eksekusi Siluman
88
Bab 88: Tarian Baja dan Darah
89
Bab 89: Eksekusi Nol Mutlak
90
Bab 90: Pelarian Gila di Puncak Teratai
91
Bab 91: Sayap Hitam Makau
92
Bab 92: Armada Hantu di Bawah Gelombang
93
Bab 93: Hantu di Bawah Samudra Beku
94
Bab 94: Menembus Jantung Erebus
95
Bab 95: Tarian Baja Merah
96
Bab 96: Badai Darah di Erebus
97
Bab 97: Monster di Puncak Dunia
98
Bab 98: Runtuhnya Sang Pemangsa
99
Bab 99: Takhta Sang Arsitek
100
Bab 100: Legenda yang Terlelap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!