THE TRILLIONAIRE GUARDIAN

THE TRILLIONAIRE GUARDIAN

Bab 1: Nasi Bungkus Terakhir

Suara hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti ratusan kerikil yang dilemparkan sekaligus. Di sudut ruangan berukuran 3x3 meter itu, sebuah ember plastik berwarna merah sudah setengah penuh, menampung air keruh yang menetes dari plafon yang jebol.

​Udara di dalam kamar kos itu lembap dan berbau apek, campuran dari aroma tembok yang berjamur dan obat-obatan murah.

​"Kak Atlas..."

​Suara itu lirih, nyaris tertelan suara hujan.

​Di atas kasur busa tipis yang digelar langsung di lantai, Orion menggigil. Selimut tipis bermotif kartun yang warnanya sudah pudar tak mampu menahan dinginnya malam Jakarta. Wajah gadis berusia 19 tahun itu pucat pasi, namun garis-garis kecantikannya masih terlihat jelas. Hidung bangir, bulu mata lentik, dan kulit yang—meski pucat—tetap terlihat halus. Dia seperti putri yang terbuang di tempat sampah.

​Pintu kayu yang rapuh terbuka dengan suara berderit.

​Seorang pemuda lain masuk. Tubuhnya tinggi tegap, bahunya lebar, namun basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Air menetes dari rambut hitam legamnya yang jatuh menutupi dahi, membingkai sepasang mata tajam yang kini terlihat sangat lelah.

​Itu Atlas.

​"Aku pulang, Rion," kata Atlas, suaranya berusaha terdengar ceria, meski napasnya masih terengah-engah setelah berlari dari halte bus.

​Dia segera melepas sepatu ketsnya yang sudah menganga di bagian jempol, lalu bergegas menghampiri adiknya. Tangan besarnya yang kasar menyentuh kening Orion.

​Panas. Sangat panas.

​"Maaf, Kak... Aku nggak bisa masak air," gumam Orion, matanya terpejam menahan pusing. "Gasnya habis tadi siang."

​Hati Atlas mencelos. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Dia baru saja dipecat sore tadi. Alasannya konyol: Istri bos toko bangunan tempatnya bekerja ketahuan diam-diam menyelipkan nomor telepon ke saku celana Atlas. Si Bos yang cemburu buta langsung mengusirnya tanpa pesangon.

​"Nggak apa-apa. Jangan dipikirin," Atlas tersenyum lembut, senyum yang hanya ia tunjukkan pada adiknya. Dia merogoh saku celananya yang basah.

​Dia mengeluarkan segumpal uang kertas yang lecek dan beberapa keping uang logam. Dia menghitungnya dalam hati.

​Lima ribu... Dua ribu... Lima ratus...

​Totalnya tujuh ribu lima ratus rupiah.

​Hanya cukup untuk satu bungkus nasi rames lauk telur dadar separuh, dan... tidak ada sisa untuk beli gas atau obat penurun panas yang bagus.

​"Kakak bawa makan," kata Atlas. Dia membuka bungkusan nasi yang tadi sempat ia beli di warung tegal simpang jalan. Uap hangat mengepul sedikit, membawa aroma sambal terasi yang menggugah selera.

​Perut Atlas berbunyi keras. Dia belum makan sejak pagi. Seharian dia mengangkut sak semen seberat 50 kilo, dan sekarang perutnya melilit perih.

​Orion membuka matanya perlahan. Dia melihat nasi bungkus itu, lalu menatap wajah kakaknya. "Kakak sudah makan?"

​Atlas mengangguk cepat, tanpa ragu sedikitpun. "Sudah. Tadi bos traktir sate kambing sebelum aku pulang. Kenyang banget, sampai mau muntah rasanya."

​Kebohongan itu meluncur mulus. Atlas sudah ahli dalam hal ini.

​"Ayo, duduk dulu. Kakak suapin."

​Atlas membantu Orion duduk bersandar ke dinding yang dingin. Dengan telaten, dia menyuapkan nasi bercampur kuah sayur nangka itu ke mulut adiknya.

​Setiap suapan yang masuk ke mulut Orion adalah kemenangan bagi Atlas, sekaligus siksaan bagi perutnya sendiri yang kosong. Dia memandangi wajah adiknya. Wajah yang sangat mirip dengan mendiang ibu mereka.

​Tuhan, batin Atlas, menatap langit-langit yang bocor. Aku nggak minta kaya. Aku cuma minta adikku nggak sakit. Itu saja. Apa itu terlalu banyak?

​"Kak, udah..." tolak Orion pelan saat nasi tinggal separuh. "Aku nggak habis. Kakak habisin aja."

​"Habiskan, Orion," nada bicara Atlas sedikit menegas, namun matanya memohon. "Kamu butuh tenaga buat lawan demamnya. Kalau kamu nggak makan, gimana mau sembuh? Kalau kamu nggak sembuh... Kakak kerja buat siapa?"

​Orion terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dia tahu kakaknya berbohong. Dia tahu kakaknya lapar. Tapi dia juga tahu, Atlas adalah orang paling keras kepala di dunia jika menyangkut kesehatannya.

​Dengan tangan gemetar, Orion memakan suapan terakhir.

​Atlas tersenyum lega. Dia meraih gelas plastik berisi air putih dingin, meminumkannya pada Orion, lalu membaringkan adiknya kembali.

​"Tidur yang nyenyak. Besok pagi kita cari obat," bisik Atlas sambil membetulkan letak selimut.

​Dia duduk di samping kasur, memeluk lututnya sendiri untuk menahan lapar dan dingin. Gelap malam semakin pekat. Ketakutan akan hari esok mulai merayap naik. Besok tagihan hutang jatuh tempo. Besok dia harus cari kerja baru. Besok...

​Saat Atlas menatap wajah damai adiknya yang mulai tertidur, sebuah air mata jatuh dari sudut mata Atlas yang tajam. Itu adalah air mata frustrasi. Rasa sayang yang begitu besar bercampur dengan ketidakberdayaan yang mencekik.

​Aku akan melakukan apa saja, sumpah Atlas dalam hati. Apa saja, asalkan Orion bisa hidup bahagia. Asalkan dia tidak perlu tidur di kasur basah ini lagi.

​Tepat saat air mata itu jatuh menetes ke punggung tangan Orion, dunia di sekitar Atlas mendadak hening.

​Suara hujan lenyap.

Suara tetesan air dari plafon berhenti.

​Sebuah cahaya biru transparan, seperti hologram dari film fiksi ilmiah, tiba-tiba muncul melayang tepat di depan wajah Atlas. Teks-teks aneh bergulir cepat dengan cahaya keemasan.

​[BEEP!]

​[Kondisi Terpenuhi.]

[Subjek terdeteksi: Atlas Wijaya.]

[Tingkat Ketulusan: 100%.]

[Pengorbanan Diri: Ekstrem.]

​Atlas mundur ketakutan, punggungnya menabrak dinding. "Apa... apa ini? Aku gila? Aku halusinasi karena lapar?"

​Sebuah suara mekanik, namun terdengar agung dan bergema, terdengar langsung di dalam kepalanya.

​"Selamat Datang, Tuan Rumah. The Supreme Guardian System telah berhasil diaktifkan."

​Layar itu berubah tampilan.

​[Misi Tutorial Dimulai: Berikan Kenyamanan Pertama untuk Adik.]

[Saldo Awal: Rp 0]

[Aturan Utama: Setiap 1 Rupiah yang Anda habiskan untuk Adik Anda, akan dikembalikan 100 kali lipat.]

​Atlas melongo. Dia menatap hologram itu, lalu menatap dompetnya yang kosong, dan kembali menatap wajah adiknya yang tertidur pulas.

​"Seratus kali... lipat?"

Episodes
1 Bab 1: Nasi Bungkus Terakhir
2 Bab 2: Matematika Orang Gila
3 Bab 3: Tamu Tak Diundang
4 Bab 4: "Kita Pindah Sekarang"
5 Bab 5: Di Balik Kain Lusuh
6 Bab 6: Makan Malam
7 Bab 7: Monster Jalanan
8 Bab 8: Berburu Istana
9 Bab 9: diagnosis
10 Bab 10: Rapat Direksi
11 Bab 11: Paman dan Bibi
12 Bab 12: Pesta di Negeri Dongeng
13 Bab 13: Kampus
14 Bab 14: Ratu Kampus
15 Bab 15: Kritikus Seni
16 Bab 16: Teror Sang Naga
17 Bab 17: Runtuhnya Naga Hitam
18 Bab 18: Sayap Emas & Jejak Masa Lalu
19 Bab 19: Dosa Masa Lalu
20 Bab 20: Bocoran Sang Dewa & Perisai Tua
21 Bab 21: Rumah Lelang Para Dewa
22 Bab 22: Roda Nasib di Monte Carlo
23 Bab 23: Tarian Sang Dewi
24 Bab 24: Tamu Tak Diundang
25 Bab 25: Mata-Mata di Marina Bay
26 Bab 26: Jejak Angsa Putih
27 Bab 27: Kebosanan Sang Raja & Misi Mulia
28 Bab 28: Malam di Kampung Rawa
29 Bab 29: Di Bawah Kaki Sang Raja & Titah Naga Tua
30 Bab 30: Bentrokan
31 Bab 31: Peta Kuno & Warisan Sistem
32 Bab 32: Teka-Teki Cahaya & Penjaga Makam
33 Bab 33: Badai Pasir dan Baja
34 Bab 34: Tamu di Rumah Kaca
35 Bab 36: Laboratorium Neraka Beku
36 Bab 37: Simfoni Api dan Es
37 Bab 38: Kota Harapan & Benteng Surga
38 Bab 35: Kereta Malam Menuju Siberia
39 Bab 39: Perang di Dasar Samudra
40 Bab 40: Naga Laut dan Mutiara Biru
41 Bab 41: Hari Tenang di Nirwana
42 Bab 42: Jatuh di Neraka Hijau
43 Bab 43: Sekutu di Kanopi
44 Bab 44: Bayangan di Balik Kawat Berduri
45 Bab 45: Pembalasan Hutan Hujan
46 Bab 46: Mata Tuhan di Akihabara
47 Bab 47: Raja Jalanan Bawah Tanah
48 Bab 48: Melawan Bayangan Digital
49 Bab 49: Pertemuan Para Raja
50 Bab 50: Menuju Tak Terbatas
51 Bab 51: Medan Perang Tanpa Suara
52 Bab 52: Gerbang Menuju Kiamat Purba
53 Bab 53: Jembatan di Atas Neraka
54 Bab 54: Kecepatan Melampaui Waktu
55 Bab 55: Pertempuran Segitiga Setan
56 Bab 56: Cermin Kebenaran
57 Bab 57: Teka-teki Babilonia
58 Bab 58: Belanja Terakhir Sang Raja
59 Bab 59: Kelahiran Sang Penjaga Agung
60 Bab 60: Penjaga Abadi (The Eternal Guardian) [ TAMAT ]
61 TAMAT
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1: Nasi Bungkus Terakhir
2
Bab 2: Matematika Orang Gila
3
Bab 3: Tamu Tak Diundang
4
Bab 4: "Kita Pindah Sekarang"
5
Bab 5: Di Balik Kain Lusuh
6
Bab 6: Makan Malam
7
Bab 7: Monster Jalanan
8
Bab 8: Berburu Istana
9
Bab 9: diagnosis
10
Bab 10: Rapat Direksi
11
Bab 11: Paman dan Bibi
12
Bab 12: Pesta di Negeri Dongeng
13
Bab 13: Kampus
14
Bab 14: Ratu Kampus
15
Bab 15: Kritikus Seni
16
Bab 16: Teror Sang Naga
17
Bab 17: Runtuhnya Naga Hitam
18
Bab 18: Sayap Emas & Jejak Masa Lalu
19
Bab 19: Dosa Masa Lalu
20
Bab 20: Bocoran Sang Dewa & Perisai Tua
21
Bab 21: Rumah Lelang Para Dewa
22
Bab 22: Roda Nasib di Monte Carlo
23
Bab 23: Tarian Sang Dewi
24
Bab 24: Tamu Tak Diundang
25
Bab 25: Mata-Mata di Marina Bay
26
Bab 26: Jejak Angsa Putih
27
Bab 27: Kebosanan Sang Raja & Misi Mulia
28
Bab 28: Malam di Kampung Rawa
29
Bab 29: Di Bawah Kaki Sang Raja & Titah Naga Tua
30
Bab 30: Bentrokan
31
Bab 31: Peta Kuno & Warisan Sistem
32
Bab 32: Teka-Teki Cahaya & Penjaga Makam
33
Bab 33: Badai Pasir dan Baja
34
Bab 34: Tamu di Rumah Kaca
35
Bab 36: Laboratorium Neraka Beku
36
Bab 37: Simfoni Api dan Es
37
Bab 38: Kota Harapan & Benteng Surga
38
Bab 35: Kereta Malam Menuju Siberia
39
Bab 39: Perang di Dasar Samudra
40
Bab 40: Naga Laut dan Mutiara Biru
41
Bab 41: Hari Tenang di Nirwana
42
Bab 42: Jatuh di Neraka Hijau
43
Bab 43: Sekutu di Kanopi
44
Bab 44: Bayangan di Balik Kawat Berduri
45
Bab 45: Pembalasan Hutan Hujan
46
Bab 46: Mata Tuhan di Akihabara
47
Bab 47: Raja Jalanan Bawah Tanah
48
Bab 48: Melawan Bayangan Digital
49
Bab 49: Pertemuan Para Raja
50
Bab 50: Menuju Tak Terbatas
51
Bab 51: Medan Perang Tanpa Suara
52
Bab 52: Gerbang Menuju Kiamat Purba
53
Bab 53: Jembatan di Atas Neraka
54
Bab 54: Kecepatan Melampaui Waktu
55
Bab 55: Pertempuran Segitiga Setan
56
Bab 56: Cermin Kebenaran
57
Bab 57: Teka-teki Babilonia
58
Bab 58: Belanja Terakhir Sang Raja
59
Bab 59: Kelahiran Sang Penjaga Agung
60
Bab 60: Penjaga Abadi (The Eternal Guardian) [ TAMAT ]
61
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!