Mentari
Ini pasti mimpi. Ya, mimpi. Saat aku terbangun dan membuka mata nanti, aku yakin semua akan kembali seperti semula. Aku akan melihat pemandangan yang sama seperti dua hari lalu, saat sanak saudara dan tetanggaku sedang sibuk membuat dodol. Aku akan kembali sibuk luluran dan berkhayal tentang malam pertamaku dengan Mas Bayu, si Lurah tampan dan masih muda itu.
Sekarang, aku hanya perlu membuka mataku dan semua akan kembali seperti dua hari yang lalu. Kubuka satu persatu mataku namun ternyata semua ini bukan mimpi. Aku tetap berada di acara resepsi.
"Kenapa? Ngantuk?" tanya lelaki yang sedang bersanding denganku di pelaminan.
Aku menatapnya dengan tatapan sebal. "Tidak. Aku masih tak percaya saja kalau semua ini nyata, bukan mimpi. "
Laki-laki menyebalkan di sampingku malah tersenyum lebar. "Kenapa? Masih nggak percaya ya, bisa nikah sama laki-laki keren kayak aku?"
Aku memanyunkan bibirku dengan sebal. "Ih... pede banget. Dari dulu pede kamu nggak pernah hilang ya?"
Senyum laki-laki itu semakin melebar. "Dari dulu kamu ternyata memang mengidolakanku ya? Kok tahu sih kalau aku lelaki yang penuh percaya diri? Tenang, karena sekarang aku sudah jadi suamimu, kamu bebas memilikiku kapan saja."
Ya Tuhan... baru beberapa jam Senja menjadi suamiku, rasanya darahku sudah mau naik ke kepala. Kenapa lelaki ini tak pernah berubah? Selalu menyebalkan dan kelewat percaya diri, huh!
Senja Gemilang -anak Om Kusno dan Tante Nur- yang juga saudara sepupu Mas Bayu, sejak kecil sering diajak main ke rumahku bersama kedua orang tuanya. Bapak adalah sahabat Om Kusno sejak Om Kusno hidup susah dan melarat dulu sampai kini menjadi petani sukses. Bapak yang menolong Om Kusno, bukan kakaknya -Pak Budi- meski Pak Budi hidup berkecukupan.
Setiap kali Senja datang, aku pasti akan dilanda rasa kesal seharian. Bukan hanya jahil, Senja itu laki-laki super pede dan paling menyebalkan yang aku kenal.
Aku pikir, Senja akan menolak saat Om Kusno menawarinya untuk menikahiku. Siapa sangka, Senja malah menerima tawaran tersebut tanpa ragu, gila kan? Kalau bukan karena aku terpaksa tak mau membuat malu kedua orang tuaku, aku tak akan mau dinikahi laki-laki seperti dia.
Alasan lain aku mau Senja nikahi adalah karena aku sudah tak tahan berada di kampung ini lagi. Bapak bilang, Senja selama ini tinggal sendiri di Jakarta. Aku bisa ikut pergi ke Jakarta dan melupakan omongan orang-orang kampung tentang gagalnya pernikahanku dengan Mas Bayu.
Mau bagaimana lagi? Aku tidak berani ke Jakarta sendirian. Yang aku dengar, kehidupan di Jakarta itu keras dan banyak orang yang nekat berbuat jahat hanya demi sepiring nasi. Setidaknya, Senja akan memberikanku rumah yang nyaman untuk kutinggali sampai aku menemukan pekerjaan tetap dan bisa hidup mandiri.
"Tuh kan melamun lagi? Udah deh, nggak usah terlalu dipikirin. Aku tuh memang selalu ganteng, dilihat dari sudut manapun juga ganteng. Sekarang, kamu senyum! Tuh, tetangga kamu sedang melihat kita. Jangan seperti Siti Nurbaya yang sedang dinikahkan dengan aki-aki tua. Kamu tuh dinikahin sama cowok ganteng kayak aku, pasang senyum biar nanti foto pernikahan kita hasilnya bagus," kata Senja dengan senyum lebarnya yang sangat menyebalkan. Rasanya aku pengen cubit bibirnya lalu aku jepit dengan jedai yang biasa aku pakai. Menyebalkan!
"Pede banget sih, dari dulu nggak pernah hilang. Gantengan juga Mas Bayu-ku," gerutuku dengan suara pelan.
"Tak apa aku super pede, yang penting aku tidak pengecut seperti Mas Bayu-mu itu, menghilang di hari pernikahan tak ada kabar. Lurah tapi tidak gentle. Kabur seenak jidatnya saja, buat semua orang repot." Ternyata Senja mendengar apa yang kukatakan. "Sudahlah, kamu harus move on. Nanti di Jakarta kamu bisa memulai hidup baru kamu lagi. Kamu bisa cari kerjaan yang enak lalu traktir aku. Aku suka makanan enak dan mahal. Ya... anggap saja sebagai balas budi karena kebaikan aku yang tiada tara ini."
Sekarang tahu kan kenapa aku nggak suka sama dia? Dia itu laki-laki yang super duper paling menyebalkan di dunia ini. Aku masih ingat saat kami kecil dulu, saat aku merasa diriku paling cantik setelah dikuncir dengan jepitan baru oleh Ibu, Senja malah menarik ikat rambutku dan membuangnya ke sawah. Saat aku nangis karena marah, dia malah tertawa tanpa rasa penyesalan. Benar-benar lelaki aneh kan?
Aku pikir setelah kami dewasa dia sudah berubah tingkat keanehannya tapi ternyata malah semakin menjadi. Gila! Belum ada 3 jam kami menikah, aku sudah stress begini. Bagaimana aku akan melanjutkan hidupku nanti dengan laki-laki seperti ini?
.
.
.
Akhirnya acara resepsi pernikahanku selesai juga. Harus kuakui, Senja dan kedua orang tuanya berhasil mengurangi rasa malu yang harus ditanggung keluarga kami karena aku gagal menikah dengan Mas Bayu.
Kulupakan masalahku dengan Mas Bayu karena aku harus fokus dengan masalah yang akan kuhadapi sebentar lagi. Malam ini adalah malam pertamaku dengan Senja. Apa Senja akan menuntut haknya sebagai suamiku malam ini? Tidak, aku tidak bisa melakukan hal itu dengan laki-laki yang tidak aku cintai, apalagi laki-laki aneh seperti Senja.
Bagaimana ini? Kayaknya, aku harus atur strategi. Cepat-cepat kubersihkan tubuhku lalu aku memakai baju gamis dan jilbab panjang sebagai baju tidur. Aku taruh guling di tengah-tengah kasur agar ada jarak di antara kami, pokoknya jangan sampai kulit kami bersentuhan!
Kudengar suara pintu kamarku dibuka, pasti itu Senja yang baru selesai mandi. Aku harus pura-pura tidur. Kupejamkan mataku dan menunggu apa yang akan dia lakukan. Dengan jantungku yang berdebar kencang ini, rasanya 5 menit seperti 1 jam. Kudengar Senja mengunci pintu kamar.
Sambil mengintip, kulihat dia sedang mengganti baju. Ish... kenapa aku harus mengintip dia? Memang aku perempuan mesum apa?
"Udah... akting pura-pura tidurnya?" Senja dengan santainya berjalan menuju tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya disampingku.
"Ah... Lelahnya jadi pengantin dadakan." Senja menghela nafas dalam. "Sudah, tak usah kebanyakan akting, Mbak. Muka kamu tuh merah kayak kepiting rebus. Kenapa? Seru ya ngintip aku ganti baju?"
Aku hembuskan nafas kencang agar Senja tahu betapa sebalnya aku dengan ucapannya. "Ish... pede banget!"
Senja tertawa kecil melihatku kesal. "Kenapa kamu taruh guling di antara kita? Kamu takut tidak bisa menahan diri ya tidur di sampingku lalu menerkamku saat aku lengah?" ledek Senja.
Aku makin kesal dibuatnya. Aku segera duduk dan menatapnya sebal. Senja tertawa terbahak-bahak karena ucapannya berhasil membuatku kesal. "Heh, siapa yang tidak tahan sama kamu? Enak saja kalau bicara!"
"Ya... kamu. Tuh, pakai dibatasi segala. Tenang aja, aku tidak akan memaksa kamu melakukan apa yang tidak kamu sukai. Kamu juga tak perlu pakai gamis seperti itu untuk tidur, memangnya tidak gerah apa? Tidurlah! Besok kita pulang ke Jakarta. Ingat ya, aku mau tidur pulas. Jangan sesekali kamu menggerayangi tubuhku yang seksi ini. Percayalah, kamu akan menyesal nanti!" Senja kembali menertawaiku sebelum tidur membelakangiku.
Ih... dasar orang aneh. Ingin aku jambak rambutnya dan aku tinju wajahnya yang menyebalkan itu.
"Kenapa? Kamu tak bisa tidur, apa kita harus melakukan hal lain?" Senja kembali berbalik badan dan tersenyum menggodaku.
Kutarik cepat selimut menutupi tubuhku. "Ih... jangan harap!"
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Muhammad Dimas Prasetyo
bukan nya menyenangkan itu punya suami ga baperan jadi hidup jadi enteng
2025-05-04
7
tehNci
Setuju sama Senja....
Ayo, Tari move on, kerja yg bener di JKT nanti dan traktir suami menyebalkan mu itu, karena walau bagaimanapun juga, Senja suamimu dan SDH menolong keluargamu dari rasa malu
2025-05-04
2
tehNci
Butuh waktu berapa lama ya, Mentari akan jatuh cinta sama Senja? Kayaknya gak bakalan lama deh...Ntar kalo Senja gak ngeledekin Mentari malahbkangen loh. Jangan sebel² sama senja...entar malah jadi SEneng BEtuL loh
2025-05-04
0