Dia tetaplah Istriku

Keesokan paginya seperti biasa matahari bersinar begitu teriknya hingga menembus gorden tebal dan membuat pemilik mata yang saat ini masih tertidur lelap di bawah selimut hangatnya mulai terbangun dan melihat atap langit yang mulai tidak terlihat asing lagi baginya.

Gadis itu bangkit dari tidurnya dan melihat banyaknya tumpukan baju wanita yang tersusun rapi di sampingnya. Dengan hanya mengenakan kemeja hitam oversize milik Leo, gadis itu mengambil salah satu stel baju dan masuk kedalam kamar mandi untuk merendam dirinya untuk menghilangkan rasa nyeri yang luar biasa di bagian area sensitifnya.

Setelah satu jam lamanya akhirnya Yoona keluar dari kamar itu, dengan kakinya yang masih tertatih pincang dia perlahan mulai menuruni anak tangga yang begitu tinggi, hingga beberapa saat kemudian dia pun masuk ke dapur dengan msksud untuk mencari air minum.

"Kau sudah bangun." Ucap Leo yang menyadari kedatangan Yoona dan membuat gadis itu sontak menatap kearahnya yang saat ini sedang sibuk dengan alat dapurnya.

"Aku kemari hanya untuk minum." Sahutnya.

"Kau mau minum? Duduklah aku akan mengambilnya untukmu." Jawab Leo yang langsung meletakan pisau dapurnya dan membuka lemari es lalu mengambil salah satu botol air mineral di dalam sana.

Sementara itu Yoona pun duduk di salah satu bangku disana dan Leo menyodorkan sebotol air tersebut padanya. Dan beberapa saat kemudian pria itu kembali menghampiri gadis itu dan menyodorkan semangkuk sup padanya.

"Ini untukku?"

"Sup itu bisa menghilangkan rasa pengar karena alkohol, Kau tenang saja, aku tidak memasukan racun kedalam." Jawabnya.

"Jika pun kau memasukan racun kedalam sup ini itu juga tidak akan jadi masalah bagiku, iyakan." Sahut Yoona yang kemudian meminum sup itu sebab kepalanya benar benar sakit karena kadar alkohol yang ia konsumsi terlalu tinggi, sementara Leo hanya menghela nafas menatap wajah sedu gadis yang ada di depannya itu.

"Kau terbunuh oleh harga dirimu sendiri, aku tidak tahu apa saja yang sudah kau alami, tapi yang ku tahu kau hanya menjadikan ku pelampiasan amarah, dan aku juga tidak masalah akan hal itu." Jawab Leo.

"Dan saranku jika kau merasakan hal yang sama, seharusnya kau minum lima belas botol bukan hanya delapan botol, setidaknya itu bisa membuat mu melupakan semuanya." Lanjutnya.

"Kau tenang saja aku tidak akan membunuhmu sebelum tujuanku terselesaikan, sebab urusan ku bukan hanya dirimu, tapi masih banyak lagi." Ucapnya lagi lalu perlahan ia mulai duduk dan berlutut di depan gadis itu.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Yoona namun Leo sama sekali tidak menghiraukannya dan mengangkat celana pada kaki kanan Yoona hingga terlihat luka di lututnya yang saat ini masih tertutup plaster.

"Sudah ku duga kau tidak menggantinya." Ucapnya yang langsung membuka paksa plaster Luka.

"Akhhhhh YYAKK kau pikir tidak sakit!!!" Rintihnya.

"Dasar cengeng"

"Cengeng? Aku cengeng, Cih dengar, semut saja tidak pernah melihat ku menangis, kau bilang aku cengeng." Protes Yoona yang tidak terima sementara Leo sama sekali tidak menghiraukannya dan mulai mengoleska salep yang ia bawa pada luka nya itu.

"Ssttt, pelan pelan sakit." Rintihnya lagi.

"Aneh, kau begitu merintih kesakitan saat mendapat luka kecil, tapi kenapa kau happy fine saat mendapat luka serius."

"Luka yang terasa sangat menyakitkan adalah luka di lutut, aku bisa saja tertawa happy fine saat mendapat tusukan tapi tidak untuk lutut ku, itu benar benar sangat sakit." Bantahnya namun Leo tetap diam sembari menggeleng heran pada istrinya itu.

Sementara itu disisi lain Yoona terus termenung menatap Leo yang saat ini tengah sibuk mengobati lukanya yah meski tidak ada yang menyuruh ataupun memintanya, bahkan yoona sendiri lupa akan luka yang ia dapatkan itu.

"Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Tanya Leo saat mulai tidak nyaman dengan semua itu.

Yoona memalingkan pandangannya dari Leo. "Tidak, siapa juga yang melihatmu, aku hanya sedang berpikir dari mana aku bisa mendapatkan luka seperti itu." Elaknya.

"Benarkah? Kau tidak ingat sama sekali" Tanyanya lagi sembari tangannya yang semakin turun ke pergelangan kaki Yoona.

"Tentu saja, sepertinya aku terlalu banyak minum semalam hingga jadi pelupa seperti." Elaknya lagi sementara membuat Leo seketika menampilkan senyuman miliknya lalu dengan kuatnya langsung langsung menekuk pergelangan kakinya ke arah yang berlawanan dengan lukanya saat ini.

"AARGHHH! YYAKK!" teriaknya yang langsung menendang Leo hingga menjauh darinya.

"KAU MAU MEMATAHKAN KAKIKU, KAU MAU MEMBUNUH KU?" Protes nya.

"Itu karma untuk mu?" Sahut Leo

Yoona menampilkan senyum smiriknya. "Cih Karma?"

Leo mengangguk." Karma, karma karena berusaha untuk berselingkuh dariku iya kan." Jawab Leo.

"Selingkuh dari mu?"

"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau diam diam bertemu Luan di belakang ku, dan inilah hasilnya" celoteh Leo yang membuat Yoona benar benar tidak bisa habis pikir dengan perkataan pria itu.

"Hasilnya? Dengar ini semua juga karena dirimu, jika kau tidak berbohong pada papa semua ini tidak akan terjadi, kakiku sekarang benar benar terkilir karenamu." Tegasnya.

"Kau ini bicara seakan akan kau tidak pernah berbohong, seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah menyembuhkan luka mu itu." Sahutnya.

"Cih menyembuhkan dari sisi mana coba." Celetuk Yoona sebab yang ia rasakan hanyalah rasa sakit.

"Dari pada kau terus mengomel, cepat habiskan sarapan mu dan bersiaplah, aku akan mengajakmu ke kantor hari ini." Lanjut Leo yang pergi begitu saja dari hadapan istrinya itu tanpa harus menunggu jawaban darinya.

Sementara itu dengan tatapan kesalnya Yoona terus menatap kearah pria itu pergi. "Dia pikir dia siapa bisa mengatur ku seenak jidatnya." Kesalnya yang tidak terima sebab entah kenapa akhir akhir ini ia merasa ada hal yang aneh dengan dirinya.

"AKU TIDAK SUKA MENUNGGU YOONA, CEPAT BERSIAP JANGAN MEMBUAT KU MENUNGGU LAMA!!!" teriaknya dari kejauhan dan membuat suaranya menggema di setiap sudut rumah.

Yoona menghela nafas berat dan dengan langkah kasarnya ia pun akhirnya pergi ke kamarnya kembali untuk menggati pakaian nya, "Eoh.... kenapa sudah tidak terasa sakit" girangnya sembari menghentakkan kakinya yang memang sudah bisa ia gunakan seperti biasanya.

...***...

Beberapa saat kemudian Leo pun akhirnya keluar serlah menyelesaikan beberapa sisa pekerjaannya di ruang kerjanya, dengan membawa beberapa dokumen di dalam tasnya, pria itu memutuskan untuk langsung masuk kedalam mobilnya sembari menunggu istrinya yang sedari tadi belum usai juga.

"Aneh sekali kenapa clien perusahaan ini lebih banyak yang berasal dari luar negeri, padahal banyak perusahaan besar yang bisa di manfaatkan disini." Ocehnya dengan kedua bola matanya yang terus tertuju pada layar tab miliknya.

Leo terus fokus dan konsentrasi membaca satu persatu kalimat dan huruf pada forum tab nya, hingga beberapa menit kemudian pintu mobil itu tiba tiba terbuka dan seorang wanita yang sedari tadi ia tunggu akhirnya masuk kedalam mobilnya itu.

"Sudah ayo pergi." Ucapnya dengan singkat padat dan jelas setelah berhasil menutup pintu mobilnya itu.

Leo yang menyadari hal itu sontak menatap ke arahnya yang sedikit termenung melihatnya penampilan istrinya itu. "Tunggu, kenapa kau tidak mengganti pakaianmu, apa kau tidak mengerti maksud perkataan ku tadi?" Tanya Leo saat melihat istrinya yang masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya yaitu training hitam panjang dengan Hoodie Jumper berwarna hitam.

"Sudah jangan banyak bicara, aku tidak mau memakai pakaian bocah seperti itu." Jawabnya yang membuat pria yang ada di sampingnya seketika menghela nafas panjang dan benar benar tidak habis pikir dengan perkataan istrinya itu.

"Yoona aku akan mengajakmu ke kantor, apa mungkin kau akan masuk kantor dengan pakaian seperti ini."

"Memang apa salahnya, lebih baik aku memakai pakaian seperti ini dari pada harus terlihat seperti bocah TK mengerti."

"Lalu,,,,lalu apa yang kau lakukan selama satu jam di dalam kamar Yoona, astaga aku sudah menunggumu bersiap dari tadi."

"Salah siapa menunggu ku, siapa juga yang menyuruhmu mengajak ku ke kantor." Sahutnya.

Sementara Leo yang sudah pasrah itupun akhirnya memilih mengalah tidak meladeni perkataan istrinya itu dan langsung melajukan mobilnya itu pergi meninggalkan halaman rumahnya.

Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mobil milik Leo itu terparkir di tempat tujuan. Sesampainya mereka disana mereka disambut oleh beberapa penjaga kantor termasuk luca yang sudah sampai disana dari pukul 8 pagi tadi.

Dan untuk pertama kalinya Yoona menginjakkan kakinya di perusahaan Alexander, meskipun hanya mengenakan Hoodie dan celana training tidak membuat nyali gadis itu menciut, dengan begitu percaya diri, ia tetap berjalan tegap melewati sorot mata yang tertuju padanya.

"Mereka benar benar sangat serasi, lihatlah sorot mata mereka begitu dingin seakan akan ingin membunuh kita semua disini." Bisik salah satu pegawai disana.

"Pasangan yang menakutkan, aku tidak membayangkan bagaimana putra mereka nanti."

"Jika papanya kulkas 7 pintu maka anaknya adalah kulkas 14 pintu." Sahutnya sementara pasangan suami istri itu sama sekali tidak menghiraukan ubrisan mereka.

Leo membawa Yoona dan Luca masuk kedalam ruang kerjanya yang sudah di renovasi beberapa hari yang lalu oleh Luna.

"Cukup mengesankan." Ucap Yoona saat melihat sendiri bagaimana ruang kerja Leo saat ini dimana ruangannya begitu luas, ditambah lagi ada satu ruangan pribadi disana.

"Tentu saja, aku sendiri yang merenov ruangan kecil ini menjadi sebesar ini." Sahutnya.

"Kau bisa menungguku disana, atau mungkin di dalam, Selagi aku masih bekerja." Lanjutnya sembari duduk di kursi jabatannya yang empuk.

"Aku tidak ingin menjadi patung disini." Sahutnya.

"Kalau begitu kau bisa berkeliling kantor sesuka hatimu, tapi ingat jangan sampai keluar dari tempat ini."

"Cihh, terserah aku mau keluar atau tidak." Cetusnya yang kemudian langsung keluar begitu saja dari dalam ruangan itu.

"Apa saya perlu memantau dan mengikutinya tuan?" Tanya Luca.

"Tidak perlu, dia tidak akan bisa keluar dari dalam tempat ini tanpa izin dariku, lagi pula kau saat ini sedang sibuk dengan ku Luca.." Jawabnya

Dan tidak lama setelah pintu ruangan itu tertutup oleh Yoona seseorang pun masuk dengan membawa dua file berkas di tangannya..

" Selamat pagi Leo. " Sapa seorang wanita berpostur tinggi dengan menggunakan rok mini ketat dan kemeja biru langit.

Mendengar namanya yang tersebut, Leo pun seketika menatap ke arahnya begitu juga dengan Luca yang sedari tadi tengah berdiri di sampingnya.

" Apa kau tidak pernah belajar sopan santun saat masuk ruang kerja atasanmu? " Dinginnya sembari mengalihkan pandanganya dari wanita itu.

"Sopan santun, kurang sopan bagaimana aku, aku baru saja masuk kemari." Jawab Julia dengan entengnya.

" Jangan mentang mentang mama mempercayai mu, membuatmu menjadi sejenak nya disini, jadi bersikap wajarlah dan panggil aku dengan sopan." Tegasnya.

Julia menghela nafas panjang sembari berjalan mendekati bos nya itu. "Iya tuan,,,,sayang sekali padahal aku suka memanggil langsung dengan namamu, tapi ya sudahlah lagi pula sebentar lagi aku bisa memanggil mu dengan panggilan yang lebih spesial lagi bukan?" Ucapnya namun Leo sama sekali tidak menggubris dirinya

"Aku sebenarnya benar benar heran, kenapa aku tidak bisa menemukan satu jejak perusahaan Anthony. Semuanya seakan akan musnah tidak tersisa." Gerutu Leo sembari membolak balik buku yang sempat ia bawa dari perpustakaan kemarin.

"Ada tuan, saya menemukan beberapa informasi kecil dari perusahaan itu, lihat ini adalah file file klien lama yang pernah bekerjasama dengan perusahaan kita." Sahut Julia sembari memberikan tumpukan File yang ia temukan.

" Dari mana kau menemukannya?"

"Di gudang bawah tanah, Bu Henny bilang semua file file yang umur nya sudah lebih dari sepuluh tahun disimpan disana." Jawab nya yang membuat Leo langsung mengambil berkas itu begitu saja dan melihat satu persatu lembar file disana.

Dengan begitu fokusnya Leo mengamati satu persatu lembar kertas yang ada di tangannya, seakan akan ia begitu tidak asing dengan tempat tempat yang tersebut disana. "Ada apa tuan?"

"Luca coba kau cek perkembangan tempat tempat ini, cari tahu dimana letaknya dan siapa yang menjalankan nya sekarang." Ujar Leo sembari memberikan file file itu pada asisten pribadinya itu.

"Umm apa mungkin biar saya saja yang melakukannya tuan, sepertinya tidak masalah jika saya bantu cari." Sahut Julia.

"Tidak usah, kau tidak punya kaitan dengan kehidupan luarku." Cetusnya sementara Luca mulai duduk di sofa yang berada jauh dari meja kerja Leo sembari mengeluarkan laptopnya dan mencari informasi mengenai tempat tempat yang pernah dibangun megah oleh perusahaan Anthony.

"Tugasmu sudah selesai bukan? Kau bisa pergi dari sini." Lanjutnya yang seakan akan ia benar benar tidak ingin wanita itu berada begitu lama dengannya.

"Kenapa kau terus mengusirku tuan, aku kesini juga ingin meminta tandatangan ini padamu" pintanya sembari memperlihatkan map kuning yang ada di tangannya.

"Cepatlah, sebab aku tidak punya waktu untuk meladeni pekerjaan mu." Ucapnya sembari berjalan mendekat kembali dengan Leo yang masih stay di tempat duduknya.

"Ini tuan nyonya Luna meminta untuk minta tanda tangan anda disini." Ucapannya sembari memberikan lebih dari lima kertas di dalam map hitam miliknya.

Leo memeriksa satu persatu file file yang sekretaris nya itu berikan, ia membaca dengan penuh teliti tanpa meninggalkan satu kalimat pun, sementara itu Julia semakin lama posisinya semakin dekat dengan pria itu, dan tanpa Leo sadari mereka kini begitu terlihat dekat dan hanya menyisakan tiga sentimeter jarak diantara mereka.

"Ekhhemm,,,," seru seorang wanita yang baru saja datang dan berdiri diambang pintu ruangan itu.

Mendengar hal itu membuat pandangan mereka Buyar begitu juga dengan Luca yang sontak menatap ke arah sumber suara dan kemudian ke arah tuannya.

"Ahh tidak tidak, aku tidak bermaksud merusak nuansa kalian, tidak mengapa lanjutkan saja, dan jangan merubah posisi mu itu." Ucap Yoona yang sontak membuat Leo menatap Yulia yang memang begitu dekat dengannya dan langsung menjauhkan tempat duduknya dari wanita itu.

"Kenapa kau menjauh, tidak apa apa, kalian berciuman di depanku juga tidak masalah, aku kemari hanya mau tanya, apa kantor sebesar ini tidak punya kantin?" Tanyanya.

"Kantin kantor ini sedang di renovasi, jadi untuk saat ini semua karyawan membeli makanan ke luar kantor." Jawab Julia.

"Ahh begitu rupanya, baiklah, aku akan pergi keluar kalau begitu, terimakasih untuk infonya." Ucapnya yang pergi begitu saja dari hadapan mereka bertiga.

"Luca,,,,ikuti dia." Ucap Leo pada pria yang sedari tadi tengah sibuk disana.

"Umm tapi tuan, ini,,,,,"

"Bawa saja, kau bisa mencarinya sambil memantau nya." Potongnya

"Ahh baik tuan." Ucapnya yang langsung merapikan file file miliknya dan pergi dari tempat itu.

"Dia sudah besar Leo, kau tidak perlu memantau nya sampai seperti itu, lagi pula bukankah asisten mu itu punya tugas yang lebih penting dari pada harus memantau gadis itu." Sahut Julia.

" Kau siapa berani mengaturku, aku lebih baik kehilangan pekerjaan ku dari pada harus kehilangan dirinya." Tangkas Leo yang seketika membuat Julia terdiam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!