Keesokan paginya, seperti biasa para perawat sudah stay di dalam kamar Leo untuk memeriksa kondisinya, mereka juga membantu Leo untuk mengganti perban sebab sejak saat itu Yoona sama sekali tidak pernah lagi muncul di hadapannya, sementara Leo sendiri dilarang untuk sering menggerakkan tubuhnya untuk beberapa saat ini. Tidak hanya para perawat, disamping itu ada Luca, sang asisten pribadinya yang selalu menemaninya.
"Apa kondisi ku seburuk itu, sampai kapan aku akan terus bersarang di dalam kamar ini?" Tanya Leo pada suster disana, sebab ia sendiri sudah merasa sangat baik baik saja.
"Kondisi Tuan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, luka tuan juga lima puluh persen sudah membaik."
"Jadi aku bisa beraktivitas seperti biasa bukan?"
"Tentu saja tuan, tapi jauhi beraktifitas berat agar jahitan luka tuan bisa cepat membaik lagi." Jawabnya.
Luca menghela nafas panjang ketika melihat perdebatan dua orang yang ada di depannya itu. "Tuan Leo, maafkan saya, tapi memang Pasien dengan kasus luka seperti tuan ini biasanya opname di rumah sakit sampai seminggu dua Minggu, jadi wajar saja." Tutur Luca dan mengingat ini baru hari ke tiga Leo terus berada di dalam kamar itu.
"Bukan seperti itu Luca, tapi urusanku sangatlah banyak, aku tidak bisa terus diam disini tanpa tahu kabar apapun." Tangkas Leo.
Cleklek!!!!
Seseorang baru saja membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam menghampiri mereka. "Bagaimana keadaan mu Leo?" Tanya Vigor yang baru saja tiba disana.
"Sudah lumayan baik paman." Jawabnya singkat.
"Baguslah kalau begitu."
"Oh iya, paman bilang ingin berangkat ke Italia, kapan paman akan kesana?" Tanya Leo tiba tiba sebab terakhir kali ia bertemu dengan Vigor, ia berkata akan pergi setelah Leo siuman.
"Baik tuan, saya sudah mengganti semua perbannya, kalau begitu saya izin keluar." Ucap suster itu dan membuat ketiga pria disana sontak mengangguk.
Vigor menghela nafas berat sembari sekilas menatap ke arah Luca, "Luca, tolong tinggalkan kita berdua." Pinta Leo pada asisten pribadinya.
"Baik Tuan," responnya yang lalu pergi dari dari hadapan mereka berdua.
"Sebenarnya aku memang berencana kesana, tapi aku masih belum tahu pasti dimana letak gunung itu Leo, dan aku juga tidak punya banyak informasi mengenai tempat itu." Ucapnya, yang membuat Leo seketika merenung dan memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada pamannya itu.
"Sebenarnya, aku juga tidak tahu pasti dimana letaknya paman, aku bahkan juga tidak tahu informasi apapun mengenai brankas itu, tapi banyak orang bilang brankas itu terletak di pegunungan Italia bagian Barat, tapi aku tidak tahu pegunungan apa itu. Yang kutahu hanyalah keluarga Anthony menyimpan semua kekayaannya di Italia itu saja."
"Tapi paman, bukankah pergi kesana bukanlah pilihan yang tepat, kita sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan saat ini disana, kita juga belum tahu pasti bagaimana si mafia hitam itu," lanjutnya.
"Kau tenang saja Leo, aku sudah menyiapkan hal ini dari lama, aku kesana hanya ingin mencari tahu keberadaan brankas itu, untung untung kalau aku bisa membukanya, aku dapat informasi kalau brankas itu sama sekali belum dibuka, bahkan mafia hitam itupun belum bisa membukanya." Jawab Vigor.
"Jika rencana paman memang seperti itu baiklah, tapi paman harus menyusun satu rencana lagi, untuk berjaga jaga jika ada hal yang tak terduga disana, apa aku perlu ikut paman pergi kesana?" Tawarnya.
"Tidak perlu Leo, kau disini saja jaga Yoona untuk paman, dan aku juga akan menitipkan perusahaan ku padamu saat aku pergi, lagi pula kondisimu juga masih seperti ini, kau tetaplah disini, jika kau dapat informasi mengenai mafia itu segera hubungi paman."
Leo mengangguk mengerti. "Baik paman."
"Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa minta tolong ke sekretaris pribadiku atau pun ke Yoona, meskipun dia jarang sekali ada di rumah, tapi dia sangat tahu mengenai perusahaan." Lanjutnya dan tak lama kemudian terdengar suara dering handphone milik Vigor yang sedari tadi memang ada di dalam genggamannya.
"Ohh aku keluar dulu Leo." Ucapnya yang langsung keluar dari dalam kamar itu meninggalkan Leo sendirian disana, dan senggang berapa saat kemudian Luca pun kembali masuk kedalam kamar itu.
"Aku tidak yakin rencana paman akan berjalan dengan lancar." Gumam Leo.
"Bagaimana tuan bisa seyakin itu, bukankah tuan sendiri yang sudah memberikan sampel iris tuan Bert pada tuan Vigor, mungkin ada 50 persen peluang tuan Vigor bisa membuka ruangan brankas itu jika si mafia hitam itu tidak menyadari hal ini."
"Tidak Luca, di dalam ruangan itu ada dua pintu masuk yang harus di lewati sebelum sampai kedalam brankas, aku sengaja tidak memberi tahu hal ini pada paman. Sebab aku sangat curiga bahwa semua rencana ini tidak hanya paman yang menyusunnya."
"Maksud tuan?"
"Aku sudah kenal paman Vigor sejak kecil, seserakah serakahnya dia, dia tidak seserakah istrinya, dia juga tidak pernah segegabah ini, itulah kenapa coba rasakan bagaimana sifat paman dan bibi saat bersama Yoona, mungkin saja ini rencana bibi Evie, agar dia bisa mendapatkan kekayaan yang lebih, tapi aku tidak tahu pasti apa dugaanku ini benar atau tidak, tapi aku yakin ada orang lain lagi dalam semua rencana ini, yang mungkin saja bisa merugikan ku meskipun itu hanya lima persennya." Jelasnya.
"Lalu bagaimana sekarang tuan, tuan Vigor akan segera pergi ke sana, sementara kita sama sekali tidak mempunyai informasi apapun tentang Mafia hitam itu, saya juga sudah berusaha keras mencari jejaknya dan identitasnya namun tidak satupun petunjuk itu merujuk padanya." Tanya Luca.
"Jangan selidiki mengenai mafia itu Luca, kita tidak akan mendapatkan informasi apapun sebab semua ini sudah ia atur dengan sedemikian rupa, cari tahu tentang tuan Anthony, perusahaan tuan Anthony pernah bekerja sama dengan perusahaan Alexander puluhan tahun yang lalu, cari tahu dimana saja dia membangun usahanya, aku yakin si mafia itu pasti meninggalkan satu atau tidak dua gedung untuk dijadikan sumber uang."
"Tapi tuan Leo, dimana kita bisa mendapatkan informasi seperti itu, kita bahkan tidak tahu apa perusahaan kita masih menyimpan arsip mengenai perusahaan Anthony itu, di tambah lagi kita juga tidak tahu apa nama perusahaan itu."
Leo terdiam sejenak Sembari berpikir keras, sebab dia juga tidak yakin hal sepenting itu akan disimpan, di tambah lagi perusahaan itu sudah musnah dan bangkrut di waktu yang lama, sehingga mustahil jika perusahaan masih menyimpan datanya. "Perpustakaan." Ucapnya tiba tiba.
"Perpustakaan?"
"Perusahaan Alexander mempunyai satu perpustakaan yang besar di dalam kantor, mungkin aku bisa menemukan beberapa informasi disana, papa pernah bilang dia selalu rutin menulis sejarah berdirinya perusahaan itu sebab dia harus meneruskan apa yang di lakukan kakek dahulu, tapi semua itu berhenti sejak mama yang memimpin perusahaan itu." Jelasnya.
"Buku sejarah perusahaan Alexander, pasti buku Kitu cukup tebal, kita bisa menanyakan nya pada Nyonya Luna, beliau pasti menyimpan buku itu."
"Tidak mungkin Luca, mama tidak pernah menyimpan barang yang tidak berguna."
"Kalau begitu saya akan mencari buku itu untuk tuan, setelah saya mendapatkan nya nanti, saya akan langsung memberikannya pada tuan." Jawabnya dan Leo mengangguki nya.
Otak Leo kini terus berputar dan berpikir dimana lagi dia bisa mendapatkan informasi yang pasti mengenai perusahaan yang pernah berkerja sama dengan perusahaan Alexander puluhan tahun yang lalu, meskipun tahu buku itu tidak akan membantunya banyak, bahkan bisa saja buku yang ia cari itu sama sekali tidak membantunya, tapi setidaknya dia mendapatkan beberapa informasi lain di balik itu.
"Oh iya Luca, bagaiman dengan Luan, dan dimana dia sekarang?" Tanyanya ketika mengingat akan sesuatu.
"Waktu itu tuan Luan mendapatkan perawatan di rumah tuan Laurent, sebab diingat kembali, yang membawa tuan Luan keluar dari dalam tempat itu adalah tuan Laurent."
"Laurent?"
"Iya tuan, tapi bukankah kita juga harus waspada pada mereka, termasuk tuan Laurent, kita tidak tahu bagaimana latar belakang dia yang sebenarnya." Ucap Luca yang berusaha memeringatkan.
"Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya Luca, tapi proporsi wajah nya sangat tidak asing bagiku, tapi mungkin saja dia bukan orang yang perlu kita risaukan, dia satu satunya pria yang begitu dekat dengan Yoona jadi dia bisa saja bukan orang yang berbahaya, lalu dimana Yoona?"
"Saya tidak tahu tuan, tapi kemarin Noona Yoona pergi ke rumah tuan Laurent untuk sesaat."
"Kita urus Laurent belakangan Luca, yang terpenting sekarang kita harus mendapatkan informasi mengenai perusahaan Anthony dan juga terus pantau pergerakan Luan, dia bisa saja menyerang kita secara diam diam, kita tidak tahu apa tujuannya kembali." Ujarnya.
"Baik Tuan, lalu bagaimana dengan keluarga William tuan, ditambah lagi permintaan Nyonya Luna."
"Permintaan mama itu berawal ketika aku memberitahu dirinya tentang tujuanku masuk kedalam keluarga ini adalah untuk memusnahkan semuanya, mungkin setelah ini dia akan terus meneror dan mendesak ku. Memang saat ini bisa dibilang paman dalam kondisi terancam, tapi jika aku bisa menyelesaikan semua ini lebih awal, semuanya mungkin akan baik baik saja."
***
Sore harinya dipukul 5 sore, Yoona baru saja keluar dari dalam kamarnya, dengan menggunakan dress birunya gadis itu berjalan menuruni anak tangga dan melihat mama papanya sedang bersiap ingin pergi ke suatu tempat.
"Kalian mau pergi?" Tanya Yoona saat sampai di penghujung tangga.
Evie mengangguk. "Kita ada urusan sebentar di luar Yoona, mungkin kita akan pulang subuh nanti." Jawabnya dan Yoona hanya mengangguk tipis karena dia sudah tidak kaget lagi dengan orang tuanya yang sering pergi malam pulang pagi, bahkan pernah tiga hari tidak pulang entah kemana.
Vigor menatap penampilan rapi Yoona dari ujung kaki sampai ujung rambut yang sepertinya gadis itu juga hendak ingin pergi. "Kau ingin kemana Yoona."
"Ada sesuatu yang ingin ku beli di luar pa."
"Jangan terlalu lama pergi, kasian Leo sendirian di rumah."
"Siapa yang peduli dengan nya." Sahutnya.
"Tidak boleh seperti itu Yoona, dia sedang sakit sekarang." Tuturnya.
"Pa Yoona ingin bicara sebentar dengan papa, papa tidak sedang buru buru kan."
"Tentu saja." Jawab Vigor yang membuat Yoona langsung menarik pergelangan tangan papanya itu untuk menjauh dari hadapan mamanya.
Yoona menarik dan membawa Vigor pergi ke dapur yang letaknya cukup jauh dari tempat asalnya.
"Ada apa sayang, kenapa kau terlihat serius sekali?"
"Apa papa sungguh akan pergi ke Italia?" Tanya Yoona tiba tiba membahas mengenai perjalanan bisnis papanya yang memang dari awal dia sama sekali tidak peduli akan hal semacam itu.
"Tentu saja, papa mungkin akan pergi besok siang."
"Aku selama ini memang tidak pernah ikut campur dalam urusan papa, tapi tolong kali ini saja, tolong jangan pergi kesana pa." Pintanya yang sontak membuat Vigor mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu sayang."
"Aku tidak ahu apa misi papa sebenarnya, tapi sepertinya aku punya firasat buruk akan hal ini, jadi jangan pergi kesana."
Vigor mengangkat kedua ujung bibirnya setelah mendengar kalimat yang baru saja putrinya itu ucapkan. "Baru kali ini aku merasa dikhawatirkan oleh putriku sendiri, kenapa Yoona, papa tidak akan lama disana sayang, lagi pula kau tidak kesepian lagi karena ada Leo sekarang. Kau bisa menyusul papa kesana dengannya nanti." Jawabnya sembari membelai rambut panjang Yoona.
Yoona mendengus kesal ketika mendengar satu nama yang tidak ingin ia dengar. "Kenapa papa begitu percaya dengannya, aku melarang papa karena dia, bisa saja dia sudah merencanakan sesuatu yang bisa mencelakai papa disana, pa, dia adalah manusia licik yang sengaja masuk kedalam keluarga kita, jadi tolong mengerti pa,,,," jelas Yoona yang berusaha untuk memeringatkan dan mencegah papanya untuk pergi.
Vigor menepuk pundak kanan putrinya itu. "Yoona, kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, dia bukan orang seperti itu percayalah pada papa, lagi pula dia adalah suamimu sayang, dan lagi pula kepergian papa kesana tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya."
"Pa~,,,,,papa tidak tahu apa yang Yoona tahu, jangan terlalu percaya dan berlebihan pada nya,,,," keluhnya sementara Vigor hanya tersenyum tipis menatapnya.
"Sudah papa pergi dulu." Ucapnya lalu pergi begitu saja dari hadapan Yoona tanpa memberi jawaban yang pasti tentang ucapannya itu, sementara Yoona hanya bisa menatap kepergian papanya dengan tatapan kesal, dia tidak tahu bagaimana caranya dia memberitahu dan meyakinkan papanya itu.
Dipukul 8 malam hari, setelah puas mandi dan menyelesaikan makan malamnya, Leo akhirnya bisa keluar dari dalam kukungan kamar rawat itu setelah sekian lama dirawat di dalam sana, meskipun kondisi nya sudah lebih baik dari sebelumnya tapi dia terkadang masih merasakan nyeri sakit pada bekas lukanya.
Pria itu keluar, dan menutup pintu kamarnya, dan ketika ia keluar dia merasakan hawa yang begitu dingin dan hampa, seakan akan rumah itu sangat kosong hanya ada para penjaga dan para maid yang sibuk merapikan dan membersihkan rumah itu.
"Tuan Leo,,,,kenapa tuan tiba tiba keluar, tuan mau kemana?" Tanya Luca yang baru saja masuk kedalam rumah itu dan melihat Tuannya itu sedang ada di ruang depan, sebab memang kamar yang di tempati Leo begitu dekat dengan ruang depan.
"Aku ingin keluar meregangkan otot kakiku Luca, tiga hari terbaring membuat kakiku terasa kaku, dan kau ada apa kemari?" Tanya Leo balik.
"Tidak ada apa apa tuan, saya hanya mau bilang mengenai tuan Luan saat ini masih berada di rumah tuan Laurent, dan saya dengar besok dia baru akan pindah ke apartemennya." Jawabnya.
"Apartemennya?"
"Iya tuan, dan nyonya tadi juga menanyakan kondisi tuan."
"Lalu apa yang kau katakan."
"Saya bilang kalau kondisi tuan masih belum pulih sepenuhnya, meskipun luka lukanya sudah mulai membaik." Jawabnya lagi dan membuat Leo mengangguk.
"Kalau begitu sekarang kau bisa pulang luca, kau tidak perlu khawatir padaku, aku baik baik saja, aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang ku ingin bicarakan padamu." Ujarnya.
"Baik tuan, terimakasih." Responnya sembari sedikit membungkukkan badannya, sementara Leo dengan langkah yang sedikit tertatih dia pergi begitu saja dari hadapan Luca.
"Dimana Yoona sekarang? Kenapa aku sama sekali tidak melihatnya seharian ini?" Tanya nya pada salah satu bodyguard yang sedang berjaga disana.
"Noona sekarang sedang berenang Tuan." Jawab Bodyguard itu.
"Berenang? malam malam seperti ini?"
"Iya tuan, Noona sedang berenang di kolam renang belakang." Jawabnya lagi dan membuat Leo sedikit terdiam dan pergi kembali meninggalkan ruangan itu dan pergi ke tempat yang bodyguard tadi maksud.
Sementara disisi lain, Yoona kini sedang asik berenang di dalam kolam renang dengan di temani beberapa maid disana, dia memang sering melakukan aktivitas seperti ini ketika ia sedang kesulitan tidur atau mungkin dia sedang memiliki banyak pikiran yang sulit ia pecahkan.
"Sepertinya kau sedang berusaha menghindar dariku, aku sudah mencari mu dimana mana, ternyata kau sedang ada disini." Ucapnya yang tiba tiba datang dan membuat Yoona langsung menampakkan dirinya dari dalam air.
Yoona mengusap keras wajahnya dan membuah semua percikan air di wajahnya. "Siapa bilang aku berusaha menghindari mu, aku hanya tidak ingin melihatmu, dan yang membuat ku sangat kesal adalah kau yang tiba tiba datang menampakkan wajah mu padaku." Jawab Yoona.
Yoona menepikan dirinya dan keluar dari dalam kolam. "Lagi pula kenapa kau mencari ku, bukankah tugasku sudah selesai, lihat kau sudah terlihat sangat baik baik saja." Lanjutnya sembari berjalan mengambil handuk dari maid disana dengan keadaan yang basah kuyup.
Mendengar hal itu membuat Leo menampilkan senyuman manisnya dan berjalan menghampiri Yoona yang kini sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk miliknya.
"Ada beberapa hal yang ingin ku bicarakan padamu" ucapnya dan berhasil membuat Yoona berbalik menghadapnya.
"Aku juga ada yang perlu ku katakan padamu, tapi jangan disini." Sahutnya, lalu pergi begitu saja dari hadapan Leo.
Leo mengikuti arah pergi nya langkah Yoona itu, dan Yoona membawa pria itu naik ke lantai atas dan masuk ke kamar pribadi miliknya, ketika ia masuk, dia melihat rungan itu begitu gelap hanya di terangi beberapa lilin kecil yang beberapa di antaranya berupa lilin aromaterapi sehingga membuat ruangan itu tercium begitu harum saat memasukinya.
'Apa yang dia rencanakan kali ini.' batin Leo sebab yang penuh dengan kewaspadaan sebab pencahayaan disana benar benar sangat terbatas dan remang remang.
Hingga tak lama kemudian ketika ia sibuk berpikir, Yoona pun akhirnya keluar dari dalam ruang gantinya dengan menggunakan pakaian lingerie seksi warna abu abu dengan rambut yang masih terlihat basah dan berantakan.
Yoona menutup dan mengunci pintu kamarnya itu dan menghampiri Leo yang masih berada di depan pintu. "Apa yang kau ingin kau bicarakan Yoona." Tanyanya saat dia terus memojokkannya dan menatapnya dengan begitu tajam.
"Aku ingin menyelesaikan semua sandiwara dan permainan ini Leo." Jawabnya singkat.
"Dan perlu kau ingat, hanya kau pria yang bisa melihat ku seperti ini, lihatlah aku sepuas hatimu karena malam ini adalah malam pertama dan terakhir pernikahan kita serta malam terakhir kehidupan mu."
Leo menghela nafas panjang "sebenarnya apa yang membuat mu sebenci ini padaku hmm, aku sama sekali tidak pernah melukai mu, dan aku juga tidak ada maksud untuk menyakiti mu."
"Cihh, kau jangan sok bersandiwara di depanku Leo, aku sudah tahu apa tujuan dan rencanamu kemari, kau pikir aku tidak tahu apa yang tengah kau bicarakan dengan Luca si asisten pribadi mu itu, kau memang bisa membodohi papa, tapi kau tidak bisa membodohi ku."
Leo mengerutkan keningnya, "Sepertinya ada satu kalimat yang membuatmu salah faham padaku Yoona."
Yoona tersenyum smirik menatapnya. "Salah faham, lihatlah kau sedang berusaha untuk membela dirimu sendiri, coba aku ingin dengar apa tujuanmu sebenarnya masuk kedalam keluarga ini Leo."
Mendengar hal itu membuat Leo Langsung menarik pinggang ramping Yoona dan menyudutkan nya ke dinding kamar itu, "inilah tujuanku sebenarnya Yoona, tujuanku kemari hanya untuk menjadikan mu milikku." Ucapnya yang langsung memangut bibir gadis itu.
Yoona mendorong keras tubuh Leo hingga berhasil melepaskan pangutannya. "Aku benar benar akan membunuhmu malam ini." Yoona mengeluarkan pistol miliknya yang sedari tadi ia sembunyikan dan mengarahkannya pada Leo dan siap untuk mengeluarkan peluru nya itu.
Namun ketika jari jemari gadis itu hampir berhasil mengeluarkan peluru itu, dengan begitu cepat Leo meraih tangan nya dan memutar 180 derajat keatas.
DORRR!!!!DORRR!!!!DORRR!!!
Dia melesatkan semua perlu itu hingga menancap di atap langit kamar itu. "Brensek kau, lepaskan aku!!!!" Berontak Yoona yang sama sekali tidak bisa lepas dari cengkraman tangan Leo.
"Menikahi mu adalah impian terbesar dalam hidupku Yoona, aku rela menipu seribu orang demi bisa memiliki mu, kau tidak akan pernah mengerti maksud dan tujuanku kemari, tapi kau bisa merasakan semua maksudku dari semua perbuatan ku selama ini." Ucapnya dan berhasil membuat gadis itu terdiam dan teringat akan peristiwa beberapa hari yang lalu.
"kenapa kau begitu percaya dengan pembicaraan ku dengan orang lain, dengar Cinta tidak harus terungkap dari kata kata, tapi mereka bisa mengungkapkan nya dari perasaan dan tindakan."
"Kau bilang kau ingin menyelesaikan sandiwara ini bukan, aku akan bantu menyelesaikan nya, dan malam ini bukan malam terakhir kehidupan ku, tapi malam ini adalah malam pertama kau akan menjadi milikku." Lanjutnya.
"Kau pikir aku akan termakan omongan malaikatmu itu, jangan berharap kau bisa mendapatkan ku seutuhnya, ingat, jangankan kau, sepuluh pria itu saja tidak mampu menyentuh ku." Tegasnya.
"Tapi aku bisa, kau tidak tahu sayang, seseorang bisa saja hilang kendali saat lawan bermainnya lebih brutal darinya, kau sudah berani meminta dan memancingku, kini giliranku untuk memancing mu agar kau mabuk gila bersamaku."
"Leo jangan harap kau....." Ucapan Yoona terpotong ketika Leo tiba tiba mengunci dan melumat bibirnya dengan begitu agresif nya, Yoona terus memberontak dan berusaha mendorong tubuh pria itu dari nya, namun semakin ia memberontak semakin erat Leo memeluknya hingga membuatnya benar benar sulit bergerak.
Lidah pria itu terus bertarung dengan lawan mainnya di dalam sana, sembari memijat keras bongkahan daging besar di bawah.
Tangan Leo perlahan masuk kedalam lingerie nya itu dan membuka ikatan tali surga yang sedari tadi menyangga dua bola yang sedari tadi terus menggoda dan memanggil nya, meskipun tidak terekspos sepenuhnya dia hanya memainkan dua bola itu dari dalam sembari menghisap belahan dadanya.
"Oughh hentikan,,,,," keluh Yoona saat pria itu meremas kuat dua bolanya itu.
"Aku akan membuat nya tiga kali lebih besar sayang."
Leo kembali memangut bibir Yoona dengan memainkan mainan barunya. "Apa kau ingin pemanasan." Ucapnya ketika ciumannya itu turun dan menjajah ke area leher jenjangnya, begitu juga tangan Leo yang perlahan turun dan dengan lancang masuk kedalam kain segitiga milik Yoona. Pria itu langsung memasuknya dua jari tangan nya dan bermain di dalam dinding basah miliknya.
Dan disaat itulah lenguhan dan desahan pertama Yoona akhirnya keluar dari dalam mulutnya, Leo terus bermain ria dan menikmati aksinya dia terus memasukan lebih dalam dua jarinya itu sehingga membuat Yoona terus melenguh panjang.
"Aku tidak percaya akan masih sesempit ini, ku kira sudah banyak yang pernah berpenghuni di sini." Ucap Leo.
"Aku bukanlah J4lang yang mau memberikan tubuhku dengan suka rela."
"Berarti aku yang pertama singgah iyakan." Ujar Leo kembali yang membuat Yoona langsung menarik tengkuk leher pria itu dan melumat bibir nya.
Sebuah senyuman akhirnya muncul di setiap ujung bibirnya sehingga membuat Leo langsung meraih dan menggendong tubuh Yoona. Pria itu dengan perlahan meletakan tubuh gadis itu di atas ranjang namun karena Yoona yang sudah terlalu terpancing hingga kini ia terkelabuhi oleh hasrat dan nafsu nya sendiri itupun langsung menarik tengkuk lehernya sehingga membuat terkungkung olehnya.
"Apa ku bilang, makannya jangan suka memainkan hasrat seseorang." Ucap Leo sementara Yoona hanya diam menatapnya.
"Malam ini aku akan memberimu hadiah yang bisa kau mainkan setiap hari sayang." Lanjutnya hingga seketika malam yang dingin itu berubah menjadi begitu panas, lenguhan mereka terdengar di setiap dinding kedap suara kamar itu dan hanya beberapa lilin yang menjadi saksi bisu penyatuan dua pasangan yang beraksi tanpa adanya perasaan cinta, hanya hawa nafsu yang mengelabui mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments