Bi Nilam berjalan keluar rumah dengan membawa kantong kresek berwarna hitam yang berisikan sampah, para bodyguard langsung menghadang langkahnya. Mereka memang ditugaskan khusus untuk menjaga Giselle dan Bi Nilam.
"Mau kemana kamu?" gertak salah seorang dari mereka.
"Saya mau buang sampah!" jawab Bi Nilam sedikit ketus, geraknya sekarang menjadi kurang bebas karena para bodyguard itu selalu mengawasinya dengan ketat.
Mereka mengambil kantong kresek hitam yang dipegang oleh Bi Nilam, setelah dibuka isinya memang benar sampah.
"Kan saya sudah bilang mau buang sampah, berarti ya isinya sampah! Nggak percaya banget sih kalian ini!" kesal Bi Nilam, para bodyguard itu hanya saling menatap dan mengangguk.
"Sudah, masuk saja sana, biar aku yang membuangnya!" lelaki itu menggeser sedikit pintu gerbangnya dan keluar untuk membuang sampah ditangannya.
Finn memperhatikan kejadian itu dari dalam mobilnya. Dia ingin turun dari mobil, namun segera ditahan oleh Riyan.
"Ayo Finn kita pergi, gadis itu tidak mungkin ada di daerah seperti ini. Nanti aku akan berusaha untuk melacak keberadaannya lagi," ujar Riyan.
Finn terdiam sejenak, mengambil nafas panjang. Kenapa gadis itu tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi setelah tidur dengannya, apakah mungkin gadis itu tertangkap oleh orang-orang yang waktu itu mengejarnya?
Finn menyalakan kembali mesin mobilnya dan melajukannya pergi meninggalkan tempat itu. Para bodyguard yang melihat kepergian mobil itu menduga jika itu adalah orang yang nyasar karena tidak tahu jalan. Disekitar sana memang sering ada kendaraan yang nyasar karena tidak tahu jalan, apalagi dalam keadaan gelap seperti ini.
💙
💙
💙
Reno berhasil menangkap kurir yang mengirimkan bungkusan ke kantor tuannya, pria itu langsung digeret ke markas. Tuan Andreas sudah ada disana dan ingin segera mengintegrasi kurir tersebut, dia ingin tau siapa yang sudah berani mengirimkan bangkai tikus dan surat ancaman padanya.
"Katakan, siapa yang sudah menyuruhmu untuk mengirim barang itu, hah?!!" Reno mencengkram kuat jaket yang dipakai oleh kurir itu, wajah kurir itu sudah babak belur karena tadi mencoba melawan saat akan ditangkap.
"A-ampun... Saya cuma menjalankan tugas, saya tidak tau apa-apa... Saya tidak tahu apa isi yang ada didalam bungkusan itu," kurir itu mengatakan yang sejujurnya, namun Reno malah memberikan bogem mentahnya.
Bughhh...
Tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai, Reno segera berjongkok dan meraih kembali jaketnya, memberikan kembali bogem mentahnya sebanyak dua kali.
Bughhh...
Bughhh...
"Jika kamu masih tidak mau bicara jujur, aku akan membunuhmu!" gertak Reno.
Tuan Andreas masih duduk santai di kursinya. Dengan saling menumpukkan kedua kakinya dan menikmati rokok ditangannya, dia begitu menikmati tontonan didepan matanya.
Sang kurir sudah lemas tak berdaya, tidak tau harus bicara jujur yang seperti apalagi supaya bisa dipercaya. Anak dan istrinya pasti sudah menunggu dengan khawatir di rumah.
"Bagaimana Tuan? Sepertinya dia memang sudah bicara jujur dan tidak tahu menahu isi dari bungkusan yang dia kirimkan itu," Reno sudah berdiri di depan Tuan Andreas untuk menunggu instruksi selanjutnya.
Tuan Andreas meniupkan asap ke udara, "Kamu tau apa yang harus kamu lakukan bukan?"
Reno mengangguk, lalu mengambil pistolnya dari atas meja dan mengarahkan pada kurir itu.
"Ja-jangan... Jangan bunuh saya, ampun..."
Dorrr...
Tembakan itu melesat tepat mengenai dada sang kurir hingga tubuhnya ambruk ke lantai, darah segar keluar bercucuran dan membasahi lantai berwarna sedikit gelap itu. Reno menurunkan pistolnya dan mengecek kondisi kurir itu.
"Bawa dia keluar dan kirimkan mayatnya kerumahnya!" titah Reno pada anak buahnya.
"Baik bos!" jawab mereka serempak. Mereka mengangkat tubuh kurir itu dan membawanya keluar dari markas.
"Saya punya kabar Tuan, beberapa hari yang lalu ada dua orang pemuda yang datang ke rumah lama Bram, mereka juga sempat bertanya pada warga sekitar tentang makam Bram dan istrinya," Reno mendapatkan informasi itu dari salah seorang warga, beberapa waktu lalu dia datang ke desa itu untuk mengecek rumah lama Bram. Tuan Andreas memang nyuruhnya untuk sering mengecek rumah itu, untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu anak Bram kembali.
Tuan Andreas menghela nafas panjang, "Dia sudah datang dan akan membalas dendam. Cari tau tentang dia dan peringatkan semua anak buahmu untuk tetap waspada, jangan sampai dia bisa menyelinap masuk markas kita dan kediaman utama keluarga Milano!"
"Baik Tuan!" jawab Reno disertai anggukan.
💙
💙
💙
Giselle tengah berdiri termenung di jendela kamarnya. Sudah satu minggu lebih sejak pertemuan terakhirnya dengan Finn, dan sekarang dia tidak bisa keluar lagi dari rumah itu karena papanya menjaga tempat itu dengan sangat ketat. Beberapa bodyguard berjaga di depan, samping dan belakang rumah.
"Finn... Apa kamu tidak pernah mencariku? Apa hanya aku yang terlalu berharap jika kamu akan mencari tahu tentang keberadaanku?"
Beberapa hari lalu Kayla memberitahunya jika Finn datang ke kediaman utama untuk menjemput Selena. Mereka pergi untuk memilih cincin pertunangan. Sepertinya Finn memang menyukai Selena dan berniat menjalin hubungan serius dengannya.
Kayla membuka pintu kamar, Giselle terkesiap kaget melihat kehadiran sahabatnya. Kayla sudah mengetuk pintunya berkali-kali, tapi Giselle tidak mendengarnya karena tengah asyik melamun.
"Kamu bawa obatnya?" tanya Giselle.
Kayla mengambil botol kecil berisi obat kapsul dari saku celananya, "Ini obatnya, memang kamu mau apa dengan obat itu, Gis?"
"Nanti juga kamu akan tau," Giselle menerima obat itu dari tangan Kayla dan menyimpannya di laci mejanya.
"Bagaimana? Apa Finn datang lagi kerumah?" tanya Giselle.
"Tidak, hanya hari itu saja," jawab Kayla. "Besok malam acara pertunangan Finn dan Selena, apa kamu jadi datang ke acara pertunangan mereka?"
Giselle mengangguk pasti, "Aku akan datang, aku harus bertemu dengan Finn disana,"
"Tapi ini sangat berbahaya Gis, jika papa kamu tau kamu kabur lagi, papa kamu akan memberikan hukuman yang jauh lebih berat dari biasanya. Aku nggak mau kamu sampai disakiti lagi Gis, aku nggak mau melihat kamu kesakitan,"
Giselle menggenggam kedua tangan Kayla, dia tersenyum hangat. "Terimakasih ya Kay, kamu sudah menjadi sahabat terbaik buat aku,"
"Tapi aku tidak pernah bisa menolong kamu jika papa kamu sedang menyiksa kamu Gis, aku hanya bisa diam dan menonton saja. Aku bukan sahabat yang baik!" Kayla menitikkan air matanya.
"Dengan kamu selalu ada dan menemani aku saja itu sudah lebih dari cukup. Lagipula pukulan-pukulan itu sudah tidak terasa sakit lagi ditubuhku, tubuhku ini kan sudah kebal," canda Giselle, dia mengusap air mata diwajah Kayla, lalu memeluknya.
Kayla tau jika Giselle mengatakan itu hanya untuk menghiburnya saja. Dibalik ketegarannya, Kayla bisa melihat hati yang sangat rapuh, namun sahabatnya itu selalu bisa menutupinya dengan baik, bersikap baik-baik saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku akan melakukan apa saja untuk kamu Gis, jika perlu aku akan meyakinkan Finn untuk membantu kamu supaya kamu bisa keluar dari sini dan terbebas dari siksaan papa dan mama tiri kamu!"
...✨✨✨...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
F.T Zira
obatt apaannn/Blush//Blush//Blush/ bukan mau bundirr kann/Blush//Blush//Blush/
2025-03-24
1
F.T Zira
dirimu yg hilang ditelan bumi lagi dicari.. jadi harap sabar menanti..
menunggu sesuatu kan emang syulitt/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ngomong apa sih aku
2025-03-24
1
F.T Zira
🐍 mu pengen ngreong atau gimana Finn😏😏
2025-03-24
1