Dikampus
09.00
Hari ini kami belajar menginfus pasien.
"Percobaan siapa mau?" ucap ibu Zura
"Saya Bu" jawab Caca sambil maju kedepan duduk disamping ibu Zura
ibu Zura menerangkan tentang cara menginfus pasien. Dan mencobanya ditangan kanan Caca. Kemudian darah mengalir membuat kami teriak ketakutan.
"Aaaaaaaaaa"
"Ihhhhhhhh seremmmmm"
"Aghhhh gak mauuuuu" ucap beberapa teman lain
"Sutttttttttt semua jangan panik " ucap ibu Zura.
"Silakan yang lain mencoba cari temennya berpasangan ya" ucap ibu Zura tersenyum.
Melody sudah mencoba ditangan kanan Riri dengan bimbingan ibu Zura namun tidak berhasil. Gantian Riri mencoba ditangan kanan Melody.
"Ah aku takut Riri... " ucap Melody
"Jangan lihat" ucap Riri pada Melody
"Akkkkkkhhhh" rintih Melody saat jarum dimasukan kedalam kulitnya. " Aaaghh Rasanya mantap haha" ucap Melody berusaha tertawa padahal terasa perih.
"Haha" tawa ibu Zura "Cabut gak berhasil itu" ucap ibu Zura pada Riri.
kemudian Melody mencoba lagi ditangan kiri Riri dengan tangan kanan Melody masih terasa nyeri, Melody tidak berhasil menginfus Riri. Kemudian sebaliknya Riri mencoba menginfus ditangan Melody dan ia berhasil.
"Eh Alhamdulillah masuk" ucap Riri Senang.
"Wahh selamat ya" ucap Melody, Melody tak berani melihat tangannya rasanya raja membuatnya panas dingin. "Emm ayo kasih tau ibu Zura dan cepat lepas ini aku gemetar " ucap Melody takut.
"Ah sipp bagus Riri" ucap ibu Zura. kemudian Riri melakukan dokumentasi bersama pasiennya yaitu Melody.
"Emmm udah gak nih " ucap Melody seperti menahan kebelet
"Haha kenapa? Kebelet pipis?" tanya Riri sambil melepas infus
"Ngga aku takut jarum" ucap Melody
"Bidan kok takut jarum" ucap ibu Zura
"Agh Melo takut kalo disuntik tapi kalo nyuntik gapapa Bu" ucap Melody gemetaran
"Astaga hahah cepet ri nanti melody pingsan" ucap ibu Zura.
"Ibuuuu Ani bisa Bu" ucap Ani kegirangan. Ani menginfus ditangan Fifah.
"Wah bagus Ani!" ucap Ibu Zura. Tidak berselang lama Fifah pingsan. Langsung disambut oleh ibu zura
"Aaaaa" teriak yang lain.
"Heh! Heh ! Diam gak ada yang boleh panik!" ucap ibu Zura. Ambilkan minyak kayu putih. Kemudian meletakan dibawah hidung Fifah.
"Dek bangun dek" ucap Ibu Zura. Kemudian Fifah terbangun "Emm pusing Bu" ucap Fifah.
" Tadi kamu gak makan ya?" tanya ibu Zura.
"Iya Bu soalnya gak sempat" jawab Fifah lemes
"Ah kan ibu sudah bilang kemarin harus sarapan" ucap ibu Zura
"Maaf buu" jawab Fifah lemes. " Mau rebahan dulu?" tanya ibu Zura.
"Gapapa Bu duduk aja" jawab Fifah.
"Ani lepas infus Fifah ya" ucap ibu Zura
"Baik ibu" jawab Ani.
Selang beberapa waktu. Setelah sekian banyak drama yang mereka buat, darah berceceran, berisik, panik, ribut, pingsan dan sebagainya.
"Pokoknya kalian harus bisa menginfus! Nanti dicoba lagi sama temen dividio kasih ke ibu!" ucap Ibu Zura sambil meninggalkan kami di kelas.
" Baik ibu " ucap kami serentak.
"Duh gimana nih Riri aku gak bisa" ucap Melody
"Melody kamu belum bisa ya?" tanya Raida
"Iyaa belum. kamu?" tanya Melody balik
"Belum bisa. Kamu mau ikut belajar gak habis ini di kost aku sama Nazwa, Heny, Laila." ucap Raida
"Eh boleh. Kost kamu dimana?" tanya Melody
"Nanti ikut aja sama kami gak jauh kok " ucap Raida.
"Okedeh" jawab Melody.
...🍁🍁🍁...
Dikost Raida
14.50
"Eh Mel nanti kita gantian ya" ucap Nazwa
"Oh boleh" ucap Melody "Siapa yang duluan?" tanya Melody
"Aku aja deh" ucap Nazwa.
Setelah mereka mencoba-coba tapi tidak bisa. Melody menatap tangannya dengan sedih "Tanganku ada lobang nya" ucap Melody lirih
"Hahaha mana" tanya Raida sambil menarik tangan Melody
"Mana kiri kanan lobangnya 2 bekas jarum ishhh ngerii" ucap Heny
"Heh astaga kenapa jadi dua ditangan kiri kanan" ucap Laila
"Itu Nazwa pengen banget bisa" ucap Melody sedih
"Astaga gak sakit itu?" tanya Laila pada Melody
"aghhhh berlubang gini masih ditanya" ucap melody lirih
"ahaha sorry sorry... " ucap Nazwa tertawa. "Tapi masih bisa pake motor kan???" tanya Nazwa.
"Gak tau" jawab Melody melihat tangannya yang berlubang kecil.
"sedihnya" ucap Laila "Liat ni sama kok aku juga banyak lubang ditangan huhuu mana tiga lagi huhuh " sambung Laila
"Haha parah lagi" ucap Melody tertawa.
***
Selang beberapa waktu.
"Capekkk, gak bisaa ih" ucap Melody sambil merebahkan dirinya di ruang tamu kost Raida.
"Hahhhhhhh iya nih besok kita coba lagi" ucap Raida ikutan rebahan
"Tanganku belum pulih " ucap Laila menatap tangannya
"Besok pasti pulih kok" ucap Nazwa tertawa
"Yaudah aku pulang duluan" ucap Melody sambil bangun dari tempatnya
"Oh iya aku juga" ucap Nazwa
"Aku juga nih makasih ya Raida tempatnya" ucap Laila
"Iya gapapa gapapa" jawab Raida "Hati -hati dijalan kalian" sambungnya
"Ehh tadi keluarnya lewat mana? tarikan banyak belokan" ucap Melody
"Ouh ikutin aku aja" ucap Nazwa. Okedeh jawab Melody.
...🍁🍁🍁...
Sudah dua hari berlalu Melody belum bisa juga menginfus. Melody menceritakannya pada orang tua Melody. Melody bilang dia mau belajar menginfus ibunya saja sambil tertawa.
Sorenya Melody dipanggil Asisten bidan yang punya kost, Melody disuruh mengahadap diruang yang ada diklinik.
"Kamu cerita apa sama orang tua kamu??" tanya asisten bidan itu
"Kenapa ya kak?" tanya Melody bingung.
"Melody ya? Mel orang tua itu jauh dari kita jadi usahakan sembunyikan kesusahan kamu disini. Kamu berani banget ya mau nginfus ibu bidan!" ucap asisten bidan itu " Kami disini gak ada yang berani mau nginfus beliau! Kamu orang baru! Anak manja banget anak mami !" ucap asisten bidan itu lalu pergi meninggalkan Melody.
Melody tak mengerti semuanya. " Kenapa?" tanya Melody pada dirinya sendiri "Kenapa aku dibentak?" tanyanya.
"Dek..." panggil Kaka bidan jaga disana.
"Iya?" jawab Melody bingung
"Itu.. Katanya mamah kamu ngechat ibu bidan, izin mau nginfus beliau soalnya kamu belum bisa nginfus. kamu kalau ada apa-apa cerita aja sama kami jangan ke orang tua takutnya kan jadi salah. Emang kamu mau nginfus ibu bidan?" tanya Kakak itu
"Nggak ka" jawab Melody
"heheh tu kan salah.. Yah orang tua kita kan jauh jadi mereka itu disana khawatir usahakan sembunyikan aja ya" ucap bidan jaga itu.
"Iya kak." jawab Melody
"Nama Kaka Nisa" ucap bidan itu
"Oh iya...." jawab Melody tersenyum. "Yaudah kak saya mau balik kekamar aja" ucap Melody
"Oh iyaaa" jawab kak Nisa
🍁🍁🍁
"Aku tidak pernah dibentak sekali dibentak rasanya hancur sekali " batin Melody.
Triringgg... Triringg...
Orang tua Melody menelpon
Namun melody tak mau mengangkatnya. Bukan marah tapi ia ingin sendiri dulu. Melody merebahkan dirinya dikasurnya.
"Ternyata menjadi bidan bukan hanya tentang melahirkan" batin Melody menatap langit - langit kamar.
Melody juga sudah pindah dari kamar sebelah ia jadi teringat bagaimana respon dari semuanya.
"Udah dikasih kamar besar mau yang kecil"
"Udah gitu barangnya banyak banget kayak mau pindahan hahaha"
"Tau tuh banyak banget barangnya haha"
"Aku dulu cuma bawa baju aja"
Ucap orang-orang yang ngekost disana. Yang baik hanyalah kak Linda bagi Melody dia membantu Melody pindah kekamar sebelah.
"Gak apa-apa setidaknya masih ada orang baik disekitarku" batin Melody.
***
Melody bangun dari tempat tidurnya ia memakai gamis coklat dengan hijab hitam ia pergi ke kubah. Dia berdo'a disana agar semuanya dipermudah. Melody sedih sekali ia teringat Ridho yang jauh disana, ia mau cerita tapi tidak bisa, Melody merasa dirinya hanyalah seorang diri tanpa siapa siapa disini.
"Ridho..." panggil Melody lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments