Chapter 12

Lucas duduk di meja makan Istana dengan menatap isi piring. Rasa gundah selalu ada di benak Lucas, rasa gundah dan gelisah tak jelas menghantui pikirannya dengan tak jelas. Hal yang di khawatir Lucas itu sangat sepele. contohnya, ia takut makan karena masalah indra pengecapnya sering hilang tiba-tiba.

Karena hal tersebut membuat remaja itu tidak nyaman dan selalu merasa takut untuk mencoba memakan sesuatu, terakhir kali ia mencoba sup yang sangat panas karena mulutnya mati rasa jadi ia tak tau bahwa sup itu melukai lidahnya.

"Sini, biar Bunda periksa," seru Luciana langsung menarik piring di depan sang anak, lalu mencoba makanan yang berada di dalam piring Lucas.

"Hemm ... rasanya enak, hangat. Enak kok!" ucap Luciana sembari mengunyah makanan di mulutnya.

" .... " Lucas masih saja menatap makanannya dengan ragu.

"Di coba dulu," ujar Klaus khawatir. Bila adiknya terus-terusan kehilangan nafsu makan, maka masalah lain akan timbul.

"Biar Kakak suapin mau?" tawar Amira ikut mengkhawatirkan kondisi sang adik.

Walaupun mereka selalu sibuk dengan urusan mereka hingga jarang berbicara dengan anggota keluarga, kakak-kakaknya Lucas selalu mengharapkan yang terbaik untuk remaja tersebut.

"Saya, makan nanti saja," ucap Lucas lirih.

"Enggak boleh, nunda-nunda makan. Setidaknya sedikit saja untuk mencoba tidak akan membuat Lulu menderita," ujar Luciana meyakinkan sang anak.

Sepertinya Lucas sudah pasrah dan langsung mengambil sendok makan serta piring makanan yang di tarik sang bunda sebelumnya.

Lucas memakan makan siangnya seperti biasanya, di tambah lidahnya tidak mati rasa jadi ia langsung menghabiskan seluruh isi piring makan siangnya.

Setelah rumah kaca yang menyakitkan kini ruang makan yang menyedihkan. Lucas sungguh tak terbiasa dengan tubuh lemahnya, ia tidak suka. Tapi— ia harus menerimanya dengan lapang dada.

Setelah makan siang bersama keluarga dan beberapa tamu dari kerajaan tetangga. Lucas pergi ke taman untuk jalan-jalan, ia tak tau bahwasanya Jonathan sedang mengadakan pesta minum teh kecil setelah makan siang bersama beberapa teman dan ksatrianya.

Jonathan terus menatap adiknya yang sejak tadi mondar mandir di sekitar Gazebo Taman.

"Mau kemana?"

Akhirnya Jonathan memberanikan dirinya untuk bertanya.

Lucas menoleh ke arah tempat Jonathan duduk. "Saya ingin mencari tempat untuk duduk membaca buku, Pangeran." Lucas langsung menjawab saat mengerti pertanyaan yang dilontarkan oleh Jonathan di berikan untuknya.

"Duduk di sini saja," jawab Jonathan sedikit bergeser memberikan tempat untuk Lucas duduk.

"Tidak usah, saya akan duduk di bawah pohon itu saja," ujar Lucas melirik ke arah pohon besar yang ia maksud.

"Tidak usah, di sini saja. Tidak baik duduk di antara rerumputan saat Lucas sedang kurang sehat," ucap Jonathan memaksa adiknya untuk duduk di sampingnya.

"Tidak! Tidak! Saya akan kembali ke kamar saya saja Pangeran," jawab Lucas mengibaskan tangannya lalu berjalan berbalik kembali ke arah istana.

"Apa adik anda baik-baik saja?" tanya salah satu teman Jonathan.

"Ya. Mungkin," jawab Jonathan sedikit bergumam.

"Tunggu sebentar. Aku harus pergi sebentar," seru Jonathan langsung bangkit dari duduknya berlari ke arah Lucas, ia sedikit khawatir membiarkan adiknya untuk kembali sendirian.

Lucas berjalan pelan lalu menghela nafas berat, sepertinya ia sulit untuk bersantai di Taman karena sering di gunakan oleh saudara-saudaranya.

"Aku juga ingin duduk di Taman," gumam Lucas mengenggam erat buku di tangannya.

"Ingin apa?" tanya Klaus yang tiba-tiba muncul di belakang Lucas.

"Arghhhhhhh!" teriak Lucas histeris karena kaget dengan suara kakak sulungnya yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

Remaja itu bahkan menjatuhkan buku di tangannya saking kagetnya.

"Kenapa?!" tanya Jonathan langsung berlari menghampiri adik dan kakaknya.

"Ini Kakak!" seru Klaus langsung menarik Lucas untuk berada di dalam pelukannya.

Anastasia yang bersama Klaus ikut kaget saat melihat Lucas berteriak kaget tiba-tiba.

"ITU TIDAK LUCU!" bentak Lucas berusaha menenangkan detak jantungnya yang terus berdebar kencang hingga terasa sangat sakit.

"Maaf, maaf, maaf. Kakak tidak bermaksud untuk mengagetkan Lulu," jawab Klaus sembari mengusap punggung sang Adik dengan lembut.

"Kaget," gumam Lucas dengan wajah sudah memerah sepenuhnya.

"Kakak apain adek sampai teriak?!" tanya Jonathan panik.

Bila terjadi sesuatu pada Lucas maka kedua orang tua mereka akan marah besar.

Anastasia mengambil buku yang Lucas jatuhkan sebelumnya. "Lucas hanya kaget," jawab Anastasia sembari membersihkan kulit buku milik Lucas.

Jonathan terlihat langsung lega, ia pikir adiknya kesakitan seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

"Loh? Kok? Lulu lagi demam? Kok jalan-jalan keluar?" tanya Klaus saat memegang leher bagian belakang Lucas yang terasa sangat panas.

"Saya baik-baik saja!" jawab Lucas ketus sembari berusaha mendorong tubuh Klaus, menyuruh pria itu menjauh darinya.

"Ba— baiklah." Klaus langsung melepaskan pelukannya pada sang adik lalu melihat wajah remaja itu yang sudah merah dan basah dengan keringat.

Lucas menarik buku di tangan Anastasia dengan kesal, lalu pergi dari sana.

"Sepertinya Lulu marah." Jonathan menatap punggung adiknya gelisah.

"Aku harus meminta maaf," ucap Klaus merasa khawatir.

Anastasia mengigit bibir bawahnya kuat, entah mengapa setiap kali melihat Lucas. Gadis itu akan merasa bersalah dan kembali mengingat tentang kejadian burung mati.

****

Lucas menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan kesal, apa-apaan dengan sikap tidak sopan pangeran mahkota itu? Pikir Lucas kesal.

"Seharusnya aku tidak kesana," gumam Lucas kesal.

Remaja itu memegang bagian dadanya yang masih berdebar tak karuan, rasanya jantungnya perlahan kembali tenang dan rileks saat ia itu menyendiri.

Lucas diam menatap langit-langit kamarnya dengan raut wajah tak dapat di artikan. Tatapannya kosong dengan otak yang terus berpikir keras. Akhir-akhir ini Lucas lebih sering banyak berpikir tentang keadaannya yang sebenarnya tidak sanggup mengeluarkan kekuatannya, di tambah ia harus bisa melindungi ibunya bahkan bila taruhannya adalah nyawa.

****

Luciana menghela nafas lega saat dirinya benar-benar terlepas dari tamu kerajaan tetangga yang tiba-tiba datang berkunjung ke istana untuk bertemu kaisar.

"Ada apa?" tanya Luciana saat melihat Klaus nampak gelisah.

"Bunda?" jawab Klaus langsung menatap sang bunda dengan raut wajah khawatir.

"Ya? Apa terjadi sesuatu?" Luciana kembali bertanya sembari berjalan mendekati putra sulungnya tersebut.

"Sepertinya, Lucas sedang demam. Suhu tubuhnya sangat tinggi," jawab Klaus gelisah.

"Lulu tidak pernah demam karena suhu tubuhnya selalu rendah," ucap Luciana heran dengan penuturan putranya itu.

"Lucas memang demam, Bunda. Tadi aku tidak sengaja mengangetkannya hingga membuat Lucas kaget dan berteriak. Saat aku memeluknya, tidak sengaja aku menyentuh kulit Lucas dan itu terasa sangat panas. Aku pikir Lucas mungkin sedang demam," ujar Klaus serius.

"Tidak mungkin. Lucas baik-baik saja, tadi pagi bahkan Lucas membantu membersihkan rumah kaca," seru Luciana tidak percaya.

"Dia, baik-baik saja," lanjut Luciana.

"Aku serius, Bunda," jawab Klaus serius, "bahkan wajah Lucas sangat merah tadi!" lanjut Klaus meyakinkan Bundanya itu.

"Haish! Baiklah. Bunda akan memeriksa Lulu sekarang," ucap Luciana menghela nafas kasar.

[TBC]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!