chapter 10

Kondisi Lucas seperti kurva keuangan, kadang bagus sampai bagus banget dan kadang buruk sampai buruk banget.

Kondisi Lucas sudah membaik semenjak ia meminta untuk segera mati, dari pada hidup. Bahkan hari ini remaja itu duduk di ruang belajarnya.

"Saat seorang lady memberi sapu tangan, itu menandakan lady itu sedang memberi lamaran pada anda." Pria yang menjadi guru atikat Lucas memberikan pelajaran menjadi seorang pangeran yang baik dan benar.

Jonathan berdiri di ambang pintu ruang belajar adiknya, jujur saja keluarga Lucas sangat mengkhawatirkan kondisi remaja tersebut. Karena baru kemaren Lucas berkata ingin menyerah.

Jonathan terus menjaga ruang belajar adiknya hingga, sang adik menyelesaikan pelajarannya.

****

Lucas kini berjalan pelan bersama Jonathan menelusuri koridor istana.

"Uhuk! Uhuk!"

Lucas akhir-akhir ini sering pilek dan batuk. Setiap kali Luciana memberi obat, itu bukannya mengurangi sakit Lucas, malah membuat pilek Lucas semakin memburuk.

"Mau minum dulu?" tanya Jonathan khawatir.

Lucas mengelengkan kepalanya beberapa kali, entah mengapa ia malas sekali mengeluarkan suaranya.

"Tidak papa, minum air lemon sama madu bisa membuat tenggorokan lebih segar." Jonathan melirik ke arah Lucas yang berjalan sembari memeluk bukunya.

"Eum, boleh," jawab Lucas mengeratkan pelukannya pada buku.

"Capek?" tanya Jonathan sembari mengusap rambut sang adik dengan lembut.

"Dikit," jawab Lucas pelan.

"Setelah ini langsung istirahat," seru Jonathan.

"Eum," dehem Lucas pelan.

Langkah kaki kedua remaja itu sangat pelan dan santai.

Dua hari telah berlalu semenjak kondisi Lucas membaik namun kekhawatiran Erick tidak pernah berhenti di sana mereka yakin, keadaan Lucas tidak baik-baik saja. Tenaga remaja itu lebih lemah dari pada tenaga anak usia lima tahun.

****

Lucas kini membantu sang Bunda di rumah kaca.

"Lulu, beristirahat saja. Tidak baik terlalu memaksakan diri," seru Luciana khawatir saat melihat sang anak sibuk menanam tanaman lain di dalam rumah kaca.

"Aku baik-baik saja, Bunda," jawab Lucas tersenyum manis. Sudah lama sekali Lucas tidak membantu-bantu ibunya di dalam rumah kaca.

"Baiklah, beristirahatlah bila sudah lelah. Bunda harus pergi untuk bersiap-siap menyambut utusan kerajaan tetangga," seru Luciana tersenyum lembut.

"Iya, Bunda." Lucas mengangkat salah satu pot memindahkannya ke tempat lain.

"Pangeran, sebaiknya anda beristirahat saja terlebih dahulu. Memaksakan diri tidak baik untuk tubuh anda," seru seorang pekerja kebun laki-laki yang bertugas merawat tanaman di taman dan di rumah kaca.

"Saya baik-baik saja," jawab Lucas tersenyum ramah.

"Iya, anda harus beristirahat. Bila anda terus membantu di kebun maka tugas kami sebagai pekerja akan tergeserkan, kami tidak ingin menjadi pengangguran, pangeran. Gaji pekerja di istana bahkan lebih tinggi dari pada gaji seorang Baron," sambung seorang wanita mengambil pot yang berada di dalam pelukan Lucas.

"Ta— tapi ...."

Lucas di dorong lembut di tuntun udah duduk ke kursi meja minum teh di dalam rumah kaca.

"Tidak papa. Anda beristirahat saja," ujar seorang pria menarik kursi lalu memegang kedua pundak Lucas dan mendorong tubuh lemah remaja itu udah duduk ke atas kursi.

"Ini semua tugas kami. Anda hanya perlu duduk memperhatikan," seru seorang pria yang berada di belakang kursi yang Lukas duduki.

Lucas menoleh ke belakang menatap pria yang sebelumnya bersuara. "Eum ... baiklah," jawab Lukas pasrah.

"Bahkan, Baju anda menjadi kotor karena bekerja terlalu keras," seru seorang Maid langsung mengambil lengan Lukas lalu melipat lengan kemeja putih yang Lukas gunakan.

"A— aku bisa melakukannya sendiri," seru Lukas canggung. Jujur saja Lucas masih merasa kurang nyaman dengan pelayanan yang diterimanya di istana.

"Baiklah," jawab Maid langsung membiarkan remaja itu untuk melipat lengan bajunya sendiri.

Lukas langsung melipat kedua lengan bajunya lalu membersihkan tanah yang menempel di baju dan kulit lembut wajahnya.

Maid sebelumnya langsung menyuruh maid lain untuk membawakan teh dan cemilan untuk tuannya. Maid itu adalah Maid bawahan langsung kaisar dan permaisuri untuk menjaga Lukas.

"Aku mengantuk," ucap Lukas menguap sekilas.

Suasana rumah kaca sangat tenang dan menyejukkan mata, suasana itu sangat cocok untuk beristirahat. Karena itu Lukas merasa sangat mengantuk.

"Bagaimana bila anda mencuci tangan dan kaki anda terlebih dahulu?" tawar Wanita Maid sebelumnya.

"Ya," jawab Lukas bangkit dari duduknya.

"Tidak, anda tidak perlu bangun dari duduk anda," ujar Maid sebelumnya.

"Anda hanya perlu duduk dan kami akan mencucikan untuk anda," lanjut wanita maid itu.

"Apa aku harus melepasnya?" tanya Lukas bingung.

"Tidak. Duduklah. Anda tidak perlu terlalu banyak beraktivitas," seru Maid itu kembali mendorong pelan tubuh Lukas untuk duduk di atas kursi.

"Baiklah," jawab Lukas.

Maid itu melirik salah satu pria butler yang masih berdiri memperhatikan lukas, ia mengkode laki-laki itu untuk mengambilkan bantal dan selimut.

Lukas hanya duduk dan semua selesai. Remaja itu tidak mengerti kenapa hidupnya sangat mudah di sana? Tidak seperti kehidupan sebelumnya.

"Beristirahatlah sebentar. Di sini cukup tenang untuk menenangkan pikiran anda," ujar Maid sebelumnya sembari menyelimuti tubuh Lukas.

Kini kaki dan tangan lukas telah di bersihkan bahkan teh dan dessert, juga sudah di sediakan di atas meja.

"Ma— maaf merepotkan," ucap Lukas pelan.

"Apa yang anda katakan? Kami tidak repot melayani anda," jawab seorang wanita maid sembari mengangkat kepala Lukas lalu menaruh bantal di bawahnya.

"Bahkan kami sangat bahagia bisa di beri kepercayaan untuk melayani pangeran kesayangan kaisar dan permaisuri," lanjut wanita maid itu tersenyum manis.

Lukas hanya tersenyum tipis. Remaja itu tidak tau harus bereaksi seperti apa. Di kehidupannya dulu, semua orang tidak ingin menemaninya, ia selalu sendirian. Apapun yang ia lakukan, ia melakukannya sendiri. Lukas terlalu mandiri untuk di manjakan jadi hal tersebut terasa sangat canggung dan sulit lukas terima, ia takut merepotkan orang lain.

Lukas tak ingin meminum teh, jadi ia langsung tidur. Nafsu memakan sesuatu sangat minim di Lukas karena lidahnya kadang mati rasa kedinginan, jadi nafsu makannya sangat sedikit.

'Alurnya sudah sampai mana? Aku terlalu lelah untuk memikirkan alurnya jadi aku akan tidur sebentar.' Damian membatin pelan lalu memejamkan matanya. Jujur saja Lukas mulai kehilangan arahnya karena tidak tau perkembangan alur cerita, cerita romansa yang berada di dalam buku itu mencangkup banyak hal, jadi Lukas hanya bisa melewati alurnya begitu saja, tanpa tau informasi apapun di tambah kondisinya yang sangat lemah dan mudah lelah.

Kadang cerita di novel transmigrasi tidak semudah itu, walaupun itu fantasi. Lukas juga tidak memiliki hubungan yang kuat dengan bangsawan lain, jadi hanya tinggal menunggu waktu, bila ibunya jatuh sakit berarti alurnya sudah berjalan setengah sebelum peperangan seluruh kekaisaran dan kerajaan di dunia

[TBC]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!