Setelah selesai makan, Kala menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ekspresi puas. Ia menatap piring kosong di depannya, lalu melirik ke arah Anggun yang tengah menyesap teh hangat.
"Kau tahu," katanya tiba-tiba, suaranya terdengar santai. "Aku bisa makan seperti ini setiap hari kalau kau yang memasak."
Anggun menaruh cangkirnya dan menatapnya datar. "Kau bisa menyewa koki pribadi kalau ingin makan enak setiap hari."
"Tapi rasanya tidak akan sama." Kala menyeringai. "Masakanmu punya rasa yang berbeda. Ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa dibuat oleh koki lain."
Anggun mengangkat alis. "Apa itu?"
Kala mengangkat bahu. "Mungkin karena kau memasaknya dengan tangan sendiri."
Anggun mendengus pelan. "Aku tidak punya tenaga untuk memasak setiap hari. Jadi jangan berharap terlalu banyak."
Kala tertawa kecil dan menatapnya lama. Keheningan yang menyelimuti ruangan terasa nyaman. Mata mereka bertemu dalam diam, seolah ada sesuatu yang tidak terucapkan di antara mereka.
Kala akhirnya berdiri dan meraih piringnya. "Aku akan mencuci ini."
Anggun terkejut. "Hah?"
"Apa?" Kala meliriknya dengan bingung.
"Kau? Mencuci piring?" Anggun menyilangkan tangan di dada. "Jangan bercanda. Aku tahu kau bahkan tidak tahu cara menyalakan keran dengan benar."
Kala tertawa pelan. "Aku tidak seburuk itu, Anggun."
"Terserah." Anggun menghela napas dan ikut berdiri, membawa piringnya ke wastafel. "Aku akan mencuci. Kau bisa duduk manis di sana dan menikmati hidup mewahmu."
Kala mengangkat tangan seolah menyerah. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengganggu rutinitasmu."
Anggun mulai mencuci piring dengan cekatan. Kala tetap di tempatnya, memperhatikannya dengan tatapan lembut.
"Kenapa kau masih menatapku?" tanya Anggun tanpa menoleh.
"Karena aku ingin," jawab Kala tanpa ragu.
Anggun menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan perasaan aneh yang mulai tumbuh di dadanya.
Setelah selesai mencuci piring, ia mengeringkan tangannya dan berbalik. Kala masih berdiri di sana, menatapnya dengan intens.
"Apa lagi?" Anggun menghela napas.
Kala menyandarkan tubuhnya ke meja, menyilangkan tangan di dadanya. "Aku hanya penasaran..."
"Penasaran apa?"
"Kenapa kau masih di sini?"
Anggun mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Kala menatapnya lebih dalam. "Kau selalu mengatakan bahwa kau tidak suka dengan semua ini—perhiasan, kemewahan, pameran status. Tapi kau tetap di sini. Kau tetap bersamaku."
Anggun terdiam. Pertanyaan itu membuatnya sedikit gelisah.
"Aku..." Ia menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.
Kala tidak mendesaknya, hanya menunggu dengan sabar.
Setelah beberapa saat, Anggun menghela napas panjang. "Mungkin... karena aku masih ingin mencoba memahami dirimu."
Kala tersenyum tipis. "Jadi kau mulai tertarik padaku?"
Anggun mendelik tajam. "Jangan ge-er."
Kala tertawa kecil, lalu mendekatinya perlahan. "Tapi kau mengakuinya, kan?"
Anggun melangkah mundur, merasa jantungnya mulai berdebar tidak karuan.
"Sudah malam," katanya cepat. "Aku mau tidur."
Ia berbalik dan berjalan menuju kamar dengan langkah cepat. Kala hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, menikmati reaksi Anggun yang jelas-jelas canggung.
*
Di dalam kamar, Anggun menatap dirinya di cermin. Pipinya masih sedikit merah setelah percakapannya dengan Kala.
Ia menghela napas dan mengusap wajahnya. "Apa yang terjadi padaku?" gumamnya.
Ia tidak bisa memungkiri bahwa Kala mulai mengacaukan emosinya.
Tapi ini bukan sesuatu yang boleh ia biarkan begitu saja.
"Aku tidak boleh terbawa suasana," katanya tegas pada dirinya sendiri.
Ia pun merebahkan diri di tempat tidur, berusaha untuk tidur tanpa memikirkan pria itu lagi.
Namun, hatinya berkata lain.
Kala telah berhasil masuk ke dalam pikirannya. Dan itu membuatnya takut.
*
Sementara itu, Kala masih duduk di ruang tamu, menatap langit-langit dengan senyum kecil di wajahnya.
Ia tahu bahwa Anggun mulai berubah.
Dan itu berarti ia semakin dekat dengan tujuan
nya.
Namun, yang tidak ia sadari adalah...
Ia juga mulai berubah.
Dan semua itu karena Anggun.
Anggun terbangun di tengah malam dengan perasaan gelisah. Ia menatap langit-langit kamar, mendengarkan suara detak jam yang berdetak pelan. Perasaannya masih berantakan sejak percakapannya dengan Kala tadi.
"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya pelan.
Ia mencoba menepis pikiran itu dan memejamkan mata kembali, tetapi bayangan Kala terus muncul di benaknya. Tatapan pria itu, kata-kata yang diucapkannya, bahkan senyuman kecilnya—semuanya terus menghantui pikirannya.
Dengan kesal, Anggun bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur. Ia berpikir bahwa segelas air mungkin bisa menenangkannya.
Namun, begitu ia tiba di dapur, ia terkejut melihat sosok Kala yang duduk di meja makan dengan lampu kecil menyala. Pria itu tampak santai dengan kaos dan celana tidur, satu tangannya memegang cangkir kopi.
"Kau belum tidur?" tanya Anggun, sedikit terkejut.
Kala menoleh ke arahnya, tersenyum tipis. "Aku tidak bisa tidur."
Anggun menghela napas dan mengambil gelas dari lemari, mengisinya dengan air dingin. Ia meneguknya perlahan sebelum menatap Kala lagi.
"Kenapa?"
Kala mengangkat bahu. "Mungkin karena aku berpikir terlalu banyak."
Anggun mengernyit. "Pikiran tentang apa?"
Kala menatapnya lama sebelum menjawab. "Tentang kau."
Anggun terdiam, jantungnya berdebar lebih cepat dari yang ia harapkan. "Apa maksudmu?"
Kala tersenyum, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. "Aku bertanya-tanya... bagaimana caranya membuatmu percaya bahwa aku serius."
Anggun menggigit bibirnya, merasa sedikit canggung. "Serius tentang apa?"
Kala meletakkan cangkirnya, lalu berdiri perlahan. Ia berjalan mendekati Anggun, membuat jarak di antara mereka semakin kecil.
"Serius tentang kau dan aku," bisiknya.
Anggun merasakan napasnya tercekat. Kala berdiri begitu dekat hingga ia bisa mencium aroma kopi yang masih melekat pada pria itu.
"Kau..." Anggun menelan ludah, mencoba menemukan kata-kata yang tepat.
Kala menatapnya dalam-dalam. "Aku tahu kau tidak percaya padaku, Anggun. Aku tahu kau mengira semua ini hanya permainan bagiku. Tapi aku ingin kau tahu satu hal..."
Anggun menunggu, merasa jantungnya berdetak kencang.
Kala mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya lebih lembut. "Aku tidak bermain-main denganmu."
Anggun merasakan tubuhnya membeku sejenak. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seakan menghilang.
Kala tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Anggun selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil dan melangkah mundur.
"Selamat malam, Anggun," katanya pelan sebelum berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya.
Anggun masih berdiri di tempatnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Dan untuk pertama kalinya... ia merasa benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri.
*
Keesokan paginya, suasana di rumah terasa sedikit canggung. Anggun mencoba bersikap biasa, tetapi ia tahu bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Kala, di sisi lain, tampak seperti biasa—tenang, santai, dan tetap dengan senyum kecilnya yang menyebalkan.
Saat mereka duduk untuk sarapan, Kala melirik ke arah Anggun yang sibuk dengan rotinya.
"Kau tidur nyenyak tadi malam?" tanyanya santai.
Anggun meliriknya sekilas sebelum menjawab, "Cukup."
Kala tersenyum. "Bagus."
Mereka makan dalam diam selama beberapa menit sebelum akhirnya Kala bersuara lagi.
"Aku punya rencana hari ini."
Anggun mengangkat alis. "Apa?"
Kala menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku ingin mengajakmu pergi."
Anggun meletakkan garpunya. "Kemana?"
"Kejutan," jawab Kala dengan nada misterius.
Anggun mendengus. "Aku tidak suka kejutan."
Kala tertawa kecil. "Terlalu buruk. Karena kau tidak punya pilihan."
Anggun memutar matanya tetapi tidak membantah. Ia tahu bahwa melawan Kala hanya akan membuatnya semakin penasaran.
"Aku harap ini bukan sesuatu yang aneh," gumamnya.
Kala tersenyum. "Tergantung bagaimana kau melihatnya."
Anggun menghela napas, merasa bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang.
Namun, di balik semua itu... ada bagian kecil dari dirinya yang penasaran dengan apa yang akan terjadi.
Dan mungkin, hanya mungkin, ia mulai membuka hatinya sedikit untuk pria yang selama ini ia hindari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
ayo dong Anggun,kamu yang harus lebih inisiatif menggoda Kala..
2025-03-15
0
yuning
- + mulai saling tarik menarik
2025-03-15
0
kaila
lanjut
2025-03-15
0