Bab 9

Marlin melepas blazer hitamnya, dan menggulung lengan kemeja hingga sesiku.

Dia menggulung rambutnya ke atas, untuk menghalau helaian itu mengganggu wajahnya.

Marlin mulai memunguti benda yang jatuh, dan merapikannya dibawah rak. Dia tak tau sistem penyimpanannya seperti apa, sehingga dia memilih menepikannya saja dari pada mengacak-acak tempatnya.

Dia mulai melihat data di map, dan mencari apa saja yang dibutuhkan timnya.

Satu persatu barang-barang itu mulai ditemukan, dan Marlin mencatatnya dengan hati-hati.

Dia pun mengumpulkannya di dalam sebuah peti kayu, yang memang diperuntukkan untuk itu.

Hingga waktu menunjukkan pukul delapan malam, dia masih perlu mencari satu benda lagi.

“Nona, apa Anda belum selesai?” tanya petugas gudang lain yang sudah bertukar shift dengan pak tua tadi.

“Maaf, aku masih mencari satu benda lagi. Apa mungkin Anda tau benda ini?” tanya Marlin mengharap bantuan.

“Benda apa itu?” taya si penjaga.

Marlin pun menyebutkan nama benda tersebut. Sang penjaga lalu mencari datanya di buku gudang yang ada di kantornya.

“Di sini tertulis masih ada dua buah,” ucap Si penjaga.

“Benar. Kata Tuan Howard juga tinggal dua. Tapi sudah ku cafi dan belum ketemu juga,” ujar Marlin.

Penjaga tadi pun masuk dan membantu Marlin mencari benda tersebut. Hingga satu jam lamanya, mereka tak menemukannya juga.

“Ini sudah sangat larut, Nona. Sebaiknya Anda pulang dulu, dan kembali esok. Akan kucoba cari malam ini, dan ku kabari nanti,” seru si petugas gudang.

Marlin memang sudah terlihat kelelahan. Dia bahkan sudah menghabiskan lima botol air minum selama tugasnya itu.

“Baiklah. Sepertinya itu ide bagus. Terimakasih atas bantuanmu, Tuan,” ucap Marlin yang benar-benar sudah lelah.

Dia pun menitipkan barang yang sudah ia kumpulkan sejak siang kepada penjaga, dan pamit pulang.

Rasanya dia ingin langsung pulang saja, namun tasnya masih tertinggal di lantai delapan belas, dan harus diambilnya lebih dulu, karena semua barangnya ada di sana.

Dalam perjalanan, Marlin yang kelelahan pun berkali-kali tertidur, dan kembali bangun karena guncangan dari kereta.

Bahkan saat dia menunggu di halte bus, dia benar-benar ketiduran, hingga melewatkan beberapa kali bus yang melintas.

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul setengah sebelas malam. Disaat Marlin sudah sangat pulas, sebuah mobil berhenti di depan gadis itu.

“Marlin?” gumamnya.

Orang itu pun turun dan mendekati Marlin.

Dia berjongkok di depan gadis yang terlihat berantakan tersebut.

“Marlin... Marlin...,” panggilnya dengan tepukan lembut dipunggung tangan Marlin.

Gadis itu pun sedikit menggeliat, dan menegakkan kepalanya, mencoba membuka matanya yang begitu berat.

“Ehm... Aiden,” sahut Marlin lirih.

“Naiklah ke mobilku. Biar ku antar kau pulang,” ucap orang tersebut yang ternyata Aiden.

Dalam kondisi belum sadar betul, Marlin pun bangun, dan berjalan dipapah oleh pria tersebut menuju mobil.

Begitu sudah duduk di dalam, Marlin kembali terlelap seolah tak peduli sedang berada dimana dan dengan siapa.

“Apa yang sudah kau lalui hingga selelah ini, hem?” tanya Aiden pada Marlin yang kembali tidur.

Dia pun kini kebingungan harus mengantar gadis tersebut kemana. Akhirnya, dia mencoba melihat kartu identitas Marlin yang ada di dompetnya.

Dari sana, dia tau dimana Marlin tinggal dan mengantarnya pulang.

...🐟🐟🐟🐟🐟...

Keesokan harinya.

“Ah... aku kesiangan, Bu. Bagaimana ini?” ucap Marlin yang panik, mendapati dirinya bangun disaat mentari sudah sangat tinggi.

“Siapa suruh kau susah dibangunkan. Cepatlah. Kau masih harus mengejar bus dan juga kereta bukan,” seru Nyonya Yang yang sejak tadi sibuk di dapur.

Sementara putrinya, dia nampak sedang memakai sepatunya dengan mulut penuh roti lapis, yang ia ambil untuk sarapan.

Setelah kedua sisi alas kaki berhak itu berhasil terpasang, dia pun meraih segelas susu yang ada di atas meja makan dan pamit pergi.

“Bawa bekalmu. Jangan lupa,” seru sang ibu.

Marlin berbalik kembali, dan segera menyambar tas makan siangnya.

“Aku sayang ibu,” ucap Marlin.

Dia pun bergegas menuju pintu. Namun, saat membukanya, nampak seseorang sudah berada di sana hendak menekan bel rumahnya.

Keduanya pun saling mematung dengan tatapan yang memasung.

“Aiden?” sapa Marlin.

Dia menoleh kebelakang, memastikan ibunya tak melihat keberadaan pria tersebut, dan segera menutup pintunya dari luar.

“Ada apa pagi-pagi kemari?” tanya Marlin bingung.

Pria itu tak menjawab dan hanya menunjukkan sesuatu di tangannya.

Marlin melihat sebuah dompet coklat tua, dengan ornamen Teddy Bear diatasnya, mirip dengan yang dia miliki.

“Itu...,” ucap Marlin terbata.

Aiden pun langsung menyodorkannya kepada gadis tersebut, dan seketika diraih oleh Marlin.

Dia membuka benda itu, dan memastikan apa isinya benar-benar miliknya.

“Itu tertinggal semalam di mobilku. Tadinya aku ingin langsung mengembalikannya, tapi sudah sangat malam. Jadi, baru sempat ku kembalikan. Maaf,” sahut Aiden.

“Ah... aku justru berterimakasih. Karena kau, semalam aku aman sampai di rumah. Tapi, aku harus buru-buru. Ini sudah sangat terlambat,” ujar Marlin gugup.

“Ehm... ikut mobilku saja. Akan lebih cepat sampai jika ku antar,” tawar Aiden.

Marlin nampak berpikir sejenak.

“Apa kau tak sedang sibuk?” tanya Marlin.

“Sama sekali tidak. Ayo,” ajak Aiden.

Keduanya pun pergi bersama menuju pusat kota Metropolis, tempat La’ Grande berada.

Selama perjalanan, mereka banyak berbincang dan bercanda. Namun lebih tepatnya, Marlin yang lebih banyak bicara dan Aiden hanya menyahuti ocehan gadis tersebut.

“Ah... syukurlah aku sampai tepat waktu berkat kau. Terimakasih, Aiden,” ucap Marlin, ketika mobil Aiden hampir sampai di depan gedung.

Saat mobil hendak berbelok, Marlin dengan cepat mencegahnya, dan meminta Aiden untuk menurunkannya di tepi jalan saja.

“Kenapa? Apa kau malu datang denganku?” tanya Aiden.

“Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin terlihat menonjol dari segi apapun ditempat ini. Lagipula, kau tidak tau tempat parkir di sini bukan,” tolak Marlin.

“Ah... kau benar juga. Baiklah. Tapi, ku antar sampai depan lobi saja ya,” sahut Aiden yang sontak membuat Marlin membola.

“Hei... Aiden,” pekik Marlin yang disahuti kekehan pria tersebut.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba tepat di depan pintu masuk gedung, dimana banyak orang berlalu lalang untuk masuk kerja.

Marlin terlihat begitu malu, karena harus keluar dari mobil Aiden yang bisa dibilang sebagai mobil mewah.

Terlebih jika orang-orang melihatnya bersama pria tampan, pasti akan muncul gosip menjengkal di sekitarnya.

“Kau ini benar-benar menyebalkan. Aku keluar dulu. Kau cepatlah pergi,” gerutu Marlin.

Dia pun lalu keluar denga berhati-hati, melihat kesana kemari berharap tidak ada yang menyadari kedatangannya.

Gadis tersebut segera berjalan menjauh menuju pintu masuk.

“Nanti mau aku jemput?” teriak Aiden, yang sontak membuat semua orang menoleh melihat ke arah pria tampan itu.

Begitupun Marlin yang mematung dengan kesal, dan menoleh ke arah Aiden.

“Aiden!” pekiknya kesal.

“Hahahaha... baiklah. Aku pergi dulu. Nanti ku hubungi lagi,” ucap Aiden terkekeh melihat reaksi Marlin yang kelimpungan karena malu.

Mobil melaju pergi, dan Marlin cepat masuk ke dalam menuju ke lift untuk mengantri.

Dari kejauhan, nampak seseorang memperhatikan kedatangan Marlin dengan penuh rasa penasaran.

“Bagaimana mereka bisa sedekat itu?” gumamnya.

Bersambung▶️▶️▶️▶️▶️

Jangan lupa like, komen, rate dan dukungan ke cerita ini 😄🥰

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!