Bab 10

Satu hari di rumah Anila yang sibuk dengan novelnya. Saat itu Harits pergi keluar. Bani yang juga pergi untuk menjual barang. Baki yang masih tinggal di rumah untuk menjaga tokonya. Anila yang masih terdiam diri di kamar. Merasa lelah sehingga dia keluar.

“Anila bagaimana dengan novel yang kamu buat, apa berjalan lancar?,”tanya Baki.

“Sudah selesai. Tapi kamu tidak pergi kak Baki,”kata Anila.

“Bukan aku sudah bilang kalau aku akan tetap di rumah kerena merasa lelah. Tapi kamu Anila apa kamu akan pergi setelah menemukan lokasi tempat itu,”tanya Baki.

“Tentu saja aku akan pergi, kenapa?,”jawab singkat Anila dengan santai.

Baki hanya tersenyum saja sampa Anila kembali ke kamar. Seharian Anila sibuk di kamar dengan beberapa novel ide baru. Kadang juga Anila sibuk membut blog kecil-kecilan untuk mendapatkan penghasilan. Tepat tengah malam Anila mendapatkan ide membuat desain senjata yang sesuai dengan kriteria dia.

“Kurasa aku harus mencari pembuat senjata ini,”ucap Anila setelah selesai. Anila berjalan ke teras melihat Harits ada di teras.

“Kak Harits apa yang kamu lakukan disana, kenapa belum tidur?,”tanya Anila melihat dengan wajah ramah.

“Aku belum mengantuk. Kenapa kamu masih bangun,”jawab Harits dengan wajah datar dan biasa saja. Tapi dalam dirinya hatinya berdebar. Perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.

“Aku baru saja selesai dengan laptopku. Jadi aku ingin menghirup udara seger saja,”ucap Anila tersenyum. Di saat angin berhempus mengenai wajah Anila. Harits yang melihat senyuman itu merasa terpesona.Harits segera berdiri dari tempat duduk berjalan masuk. Anila melihat Harits masuk dengan tiba-tiba tambah bingung.

“Kenapa dengan kak Harits.Apa aku melakukan hal yang salah,”batin Anila dengan pikirann dia.  Kerena sudah terasa dingin Anila segera masuk ke dalam kamarnya. Anila segera tidur untuk besok pergi ke museum.

Di sisi lain kamar Harits yang ada dikamar melihat Anila yag sudah masuk ke dalam merasakan sedikit ada rasa kecewa.”Ada apa dengan diriku ini,”guman Harits yang sama sekali tidak sadar dengan perasaannya.

Pagi datang Harits yang sudah pergi dulu. Anila yang turun dengan rapi melihat Baki dan Bani tapi dia tidak melihat Harits.”Hanya kalian berdua dimana Kak Harits. Kenapa aku tidak melihat dia,”tanya Anila yang duduk.

“Harits pergi dari tadi katanya mau pergi ke suatu tempat,”kata Bani. Anila yang paham hanya tersenyum saja. Di saat mereka hendak makan Baki mendapatkan panggilan dari temannya.

“Ada ada Baki?,”tanya Bani yang melihat wajah tersenyum Baki.

“Tidak ada. Anila nanti kita pergi ke museum Seca ya. Kurasa ada lukisan yang sesuai dengan kakak dari raja Armaan disana,”kata Baki dengan wajah serius.

“Baiklah,”jawab Anila dengan singkat.

Di perjalanan mereka menuju ke museum Seca mereka melihat Harist dari jauh.”Bani kita berhenti disana,”ucap Baki.

“Ada apa?,”tanya Bani setelah dia berhenti. Pintu terbuka dari luar datang Harits.

“Ohhh kamu Harits. Aku kira siapa yang datang masuk. Apa urusan kamu sudah selesai,”ucap Bani segera menyalakan mobilnya.

“Sudah,”jawab Harits dengan singkat. Sementara Anila yang melihat Harits masuk hanya tersenyum saja.

“Kak Harits dari pergi kemana?,”tanya Anila yang ingin tahu.

“Toko senjata,”kata Harits yang duduk dengan tenang.

“Toko senjata. Apa disana bisa membuat senjata juga,”tanya Anila yang penasaran.

“Kenapa, apa kamu ingin membuat senjata?,”tanya balik Harits. Anila mengangguk dengan perasaan ingin.

“Senjata apa yang kamu ingin buat. Aku bisa bertanya kepada pemiliknya nantinya,”sambung Harits yang menawarkan diri. Sementara itu Bani dan Baki yang mendengar itu sedikit aneh dan penuh kecurigaan. Karena mereka tahu kalau Harits sama sekali tidak ingin membantu orang lain.

Karena keduanya penasaran mereka melihat dari spion kaca belakang didepan mereka. Melihat wajah Harits yang tampak berbeda. Membuat mereka berdua berpikir,”Kurasa ada perasaan ini.” Setelah mengamati dengan seksama mereka hanya bisa tersenyum. Anila melihat itu bertanya kepada mereka berdua,”Kalian sedang memikirkan apa sampai tersenyum itu.”

“Ohhh Anila tidak ada kok,”ucap Bani.

“Itu benar,”jawab Baki juga. Tapi keduanya saling bertukar pandang hingga mereka telah sampai di musemum Seca.

Anila dan Harits segera turun disusul oleh Baki dan Bani. Tapi saat mereka berjalan menuju pintu masuk Baki merasakan ada seseorang yang mengamati mereka. Harits yang juga sadar memberikan isyarat kepada Bani yang ada disamping Anila untuk masuk dulu. Bani yang paham menyeret Anila segera masuk.

“Mereka berdua tidak masuk bersama kita,”tanya Anila menoleh ke belakang.

“Mereka akan menyusul nanti,”kata Bani seperti menyembunyikan sesuatu.

Tapi Anila yang juga sadar dengan perasaan itu hanya diam saja. Karena dia tidak ingin ikut campur. Setelah mereka masuk mereka berkeliling melihat beberapa lukisan di dalam. Sementara itu Harits dan Baki yang datang ke arah mereka sempat berbincang.

“Untuk apa kalian datang ke sini. Siapa yang menyuruh kalian,”tanya Baki dengan wajah tegas.

“Baki aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Kami hanya lewat saja kenapa kamu berburuk sangka seperti itu,”ucap orang asing itu.

Harist yang hendak maju ke depan. Tapi salah satu dari mereka membawa mobil karena tidak ingin ada perkelahian.

“Kenapa mereka ada disini,”kata Baki sambil berpikir.

“Sebaiknya kita harus tetap berhati-hati dengan mereka. Kita tidak tahu niat apa yang mereka rencanakan sebenarnya,”ucap Harits berucap.

“Kamu benar sebaiknya kita masuk agar mereka tidak curiga dengan kita,”ucap Baki. Harits bersama dengan Baki segera masuk bersama. Di dalam museum Anila masih melihat beberapa peninggalan. Bani yang juga menjelaskan apa yang dia ketahui tentang abad dari barang yang ada di museum.

“Kalian sedang apa?,”tanya Baki yang datang.

“Kalian berdua sudah kembali,”ucap Bani dengan wajah ingin tahu.

“Bukan hal yang berbahaya,”kata Baki dengan suasana santa. Anila melihat sikap mereka yang santai berpikir,”Apa mereka memiliki musuh.”

Di saat yang sama juga Anila mendapatkan panggilan. “Maaf kakak aku keluar dulu sebentar ya ada panggilan masuk,”ucap Anila berjalan bergeges keluar sambil mengangkat teleponnya.

“Anila bagaimana dengan novel yang aku minta. Apa kamu sudah siapkan,”tanya editor lewat telepon.

“Kakak kamu tenang saja aku sudah siapkan. Hanya belum aku kirim saja. Maaf ya kak. Tapi bagaimana dengan novel yang lain apa banyak yang terjual,”ucap Anila yang ingin tahu.

“Kamu tenang saja novel yang kamu buat sangat menarik. Pembaca suka dengan alurnya malah mereka ingin tahu kelanjutan ceritanya,”ucap editor.

“Bagus kalau mereka suka. Nanti setelah kamu kembali dari museum aku akan mengirim seseon duanya,”kata Anila dari balik telepon dengan wajah senang.

“Ok, aku tunggu kabar baik dari kamu lagi ya,”ucap editor segera menutup teleponya. Anila segera berjalan menuju pintu masuk. Tapi dia melihat mobil yang tadi mengikuti mereka.”Siapa mereka sebenarnya. Sudahlah ini bukan urusanku juga sih,”guman Anila masuk ke dalam. Tapi akan Anila bisa menemukan petunjuk untuk perjalanan kedua ini?.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!