Bab 5

Tuju bulan kemudian, tidak terasa bayi Amira sudah menginjak usia bulan ke tujuh, bayi yang dulu selalu dia titipkan pada Mbah Iyam ketika sedang berjualan sekarang sudah mulai ikut dengan ibunya berjualan di pasar.

  Sebenarnya ibu mana yang tega mengajak anaknya malam-malam berjualan, itu semua dia lakukan karena tidak tega dengan si Mbah yang usianya semakin menua dan faktor kesehatan pun jadi pengaruh kuat bagi Amira untuk memutuskan mengajak si kecil ikut serta berjualan.

  Gerobak dan juga berbagai jualannya sudah bertengger diatas sepeda motor, ibu muda itu mulai menggendong bayinya yang masih tertidur dengan menggunakan jarik yang sudah di lilitkan kuat di pundak.

  "Sayang, jangan rewel ya, bantu ibu bekerja, kita berjuang bersama-sama ya," pinta Amira pada anaknya yang masih terlelap di dalam mimpinya.

  Dinginnya angin malam tidak membuat bayi itu terbangun, mungkin sudah terbiasa? Semenjak satu bulan yang lalu ibunya sudah melatih bayinya itu melawan dinginnya udara malam.

  Amira sudah sampai di pasar, segera dia menggelar tikar yang diatasnya sudah di alasi dengan selimut bayi yang tebal dan halus setalah itu baru dia menidurkan anaknya dengan penuh hati-hati agar tidak terbangun.

Selesai memberi selimut yang hangat dan memastikan bayinya aman, ibu muda itu langsung menggelar tikar jualannya, setelah itu barulah dia menurunkan satu persatu jualannya dari gerobak, dan menatanya berjajar agar supaya para pembeli lebih muda mengambil dan memilih bahan yang mau ia beli.

  "Ayo Buk, mau cari apa," ucap Amira pada pembeli pertamanya.

  "Dek, cabe rawitnya satu kilo, dan juga cabe besarnya satu kilo," pinta pembeli tersebut.

  "Baik Bu," sahut Amira yang langsung sigap menimbang cabe yang di minta pembeli pertamanya itu.

  "Ini saja Ibu, apa tidak mau yang lainnya itu sayur mayur nya segar-segar nanti nyesel loh gak beli sayurku," ucap Amira begitu lihai dalam merayu pembeli agar tertarik dengan jualannya.

  "Bentar, aku minta sawi ijo nya dua ikat dan juga sawi putihnya dua ikat juga, dan jangan lupa wortelnya satu kilo," pinta ibu itu yang akhirnya mulai tertarik dengan tawaran Amira.

  "Baik ibu, nih aku timbang wortelnya dulu, oh ya harga kacang panjang anjlok Bu, ibu mau aku kasih, berhubung ibu pembeli pertamaku," tawar Amira.

  "Boleh Dek, orang di kasih mana mungkin aku nolak," sahut pembelinya itu.

  Amira segera memberikan kacang panjang tersebut ketika pembeli pertamanya itu membayar semua belanjaannya, Alhamdulilah pembeli pertama sudah datang setelah itu Namira mulai meneruskan kembali dagangan yang belum dia turunkan dari motornya.

  Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi, segera para pedagang menyeret dagangannya ke tempat yang tidak terkena hujan beruntung Amira berjualan di depan ruko yang mempunyai atap teras yang lumayan lebar, sehingga bayinya tidak terkena tetesan air hujan.

  "Mbak, itu bayinya kasian kedinginan," ucap salah satu pembeli.

  "Biarkan saja Pak, dia kuat lagian selimutnya sudah tebal kok," sahut Amira.

  "Memangnya Mbak gak punya keluarga?" tanya pembeli itu.

  "Ada Pak, tapi mereka susah tua aku tidak tega, lebih baik aku ajak jualan saja, Bapak tenang saja anakku kuat kok," jawab Amira mempertegas.

  Meskipun hujan turun lumayan deras, tapi tidak menyurutkan semangat pembeli, karena kebanyakan para pembeli di sini merupakan kang sayur yang menjajakan dagangannya di kampung-kampung, makanya jualan Amira selalu laris manis, karena setiap harinya sudah memiliki pelanggan tetap.

  "Mbak kangkung dan genjer lima ikat ya, juga jamur tiram yang satu kiloan 10 bungkus ya," ucap pembeli sambil berteriak karena suara hujan memang sedikit berpengaruh di indera pendengaran.

  "Iya Pak tunggu ya," ucap Amira dengan sigap mengambil permintaan pembelinya itu.

  Satu persatu pembeli mulai berdatangan hingga suara adzan subuh terdengar, jualan Amira sudah hampir habis tinggal sedikit, perempuan itu terlihat lelah, karena dari tadi melayani pembeli sambil terkena rintikan hujan. Namun ketika netranya melihat mahluk kecil yang tidur di emperan sana membuat rasa lelahnya hilang begitu saja.

  "Ya Allah Nak, kau begitu menggemaskan rasanya ibu pingin cubit kamu, bayangkan saja suara rintik hujan dan dinginnya angin subuh tidak membangunkan tidurmu sama sekali," gumam Amira sambil menatap bangga bayinya itu.

  Seperti biasa Amira mulai mengisi perutnya, kali ini ibu muda itu memilih nasi rawon yang begitu hitam pekat menggoda, membuat perutnya meronta-ronta untuk di isi.

  "Sayang, ibu makan dulu ya, untuk mengisi tenaga, setelah ini kita pulang ya," ijin Amira pada bayinya yang masih belum bangun.

  Amira pun mulai mengisi perutnya, setelah itu dirinya langsung mengangkat dagangannya yang tinggal sedikit, mumpung bayinya masih tertidur, karena kalau terbangun bisa menghambat pekerjaannya.

Selesai mengemasi dagangan yang tinggal sedikit, akhirnya Afifah mulai terbangun, suara tangisnya begitu melengking, mungkin makhluk kecil itu mulai kelaparan dan mencari-cari botol susunya.

"Cup ... Cup ... Cup ... Anak ibu sudah bangun ya, sini minum susu dulu," ucap Amira sambil menggendong dan memberinya susu.

Sejenak bayi itu mulai terdiam, di sinilah Amira tidak membuang-buang waktunya untuk menggendong anaknya lalu mengemasi peralatan bayinya karena waktu shalat Subuh hampir habis makanya cepat-cepat ibu muda itu langsung pulang dengan menaiki sepeda sambil menggendong anaknya.

*****

Sedangkan di Jakarta sana, saat ini keluarga Arya begitu bahagia karena Nadine mulai dinyatakan positif hamil, semua keluarga Arya turut bahagia dengan kebahagiaan yang sekarang tengah dirasakan oleh salah satu anggota keluarganya.

"Wah selamat ya kalian berdua, Akhirnya Mama bisa nimang cucu juga," ucap Husna Mamanya Arya.

"Iya Ma, doakan saja semoga Nadine dan bayi yang di kandung baik-baik saja," sahut Arya.

"Pokoknya pas tujuh bulan nanti kita harus adakan acara yang besar-besaran Pa, untuk menyambut kehadiran cucu pertama kita," ucap Sarita pada suaminya.

"Iya, Ma, itu harus," sahut Mahesa papa dari Arya.

'Kalian semua tidak ada yang tahu kalau sebenarnya ini bukan anak pertamaku, melainkan bayi yang dikandung Nadine adalah anak keduaku, Ya Allah selamatkan anakku dan juga Amira lindungilah dimanapun mereka berada,' ucap Arya di dalam hatinya.

*****

Yang di kota sedang berbahagia menyambut kehadiran calon keluarga baru mereka, sedangkan bayi yang di sini terlahir sendiri bahkan sampai usianya tujuh bulan makhluk kecil itu masih belum merasakan sentuhan tangan ayah biologisnya.

"Anak ibu, terima kasih ya, sudah mau temani Ibu berjualan, kamu tahu gak ibu begitu bahagia memilikimu, terima kasih ya sudah mau hadir di dalam kehidupan ini menemani ibu yang sejatinya tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini selain kamu," ucap Amira, sedang bayi gembul itu asyik duduk sambil bermain dengan gigitan bayi yang ia pegang.

Siang Kakak ... Maaf ya agak telat, si kecil dari tadi rewel terus makanya baru bisa up he he🙏🙏🙏

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

berbahagialah skrg Arya dan Nadine. meraikan kehamilan mak lampir. suatu saat kebahagiaan sudah tdk akan menemani kalian berdua lagi. apa yg kalian tuai itu yg akan kalian dpt nnti

2025-03-19

1

dapoer Nita

dapoer Nita

percayalah mau dinovel ato di kehidupan nyata pelakor mah sejahtera aja, Jd bingung Tuhan itu adil ga nya. menunggu balasan dari akhirat mana ada yg tau

2025-02-05

3

Larasati

Larasati

sekarang kamu senang Nadin sama si Arya suatu saat kesengsaraan mu dtng tabur tuai pasti ada
semoga Amira dan Afifah sehat selalu kalian 🥰🥰🥰💪

2025-02-05

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!