Ih, bang Nugie kemanah, sih? ngaret betul! Udah capek bolak-balik kutengok angka di sudut layar HP-ku yang bentar lagi baterainya merah dan si abang yang udah janji mau jemput belum nongol-nongol juga. Kan malu kalau cemilan udah habis, trus milkshake tinggal beberapa kali sedot, trus masih duduk-duduk di sini aja, trus apalagi coba kalau gak Chacha diusir satpam.
Aku coba tengak-tengok lagi ke pintu depan kafe, siapa tau abangku yang tengil itu lupa diri gara-gara ketemu waitress cantik yang tadi ngebagiin brosur.
Pas Chacha baru mulai mau ngetik pesan lagi buat si Abang, eh, tiba-tiba ada mbak-mbak cantik lagi jalan dan kayaknya mau nyamperin kesini. Sepintas Chacha langsung ingat, bukanya itu cewek yang udah beberpa hari ini nongkrong di layar handphonenya bang Nugie?
"Alex, ya? " tanya tu cewek sambil nunjuk Chacha.
"Bukan, tapi Chacha," bukan Chacha namnya kalau gak niat ngisengin tu cewek duluan.
Cantik sih tapi klo pas lagi salah tingkah tengak-tengok salting gitu tetep aja kelihatan bodohnya.
"Maaf kukira adiknya, Nugie."
Aku sengaja kencengin suara sedotan milkshakeku yang hampir kandas.
"Hay.... Alex," sapa cowok yang baru nyusul sambil bawa dua cup milkshake.
Nah, tukan! ngapai abang ojol ganteng ikutan muncul juga. Chacha jadi mulai curiga, jangan-jangan mereka ini ada hubungannya sama muka jutek Bang Nugie beberpa hari ini.
"Hay, Bang," balas Chacha asal nyungir sambil lihat Bang Harris ngasih salah satu gelas minumannya untuk si cewek.
Trus Bang Harris ikutan duduk tuh di meja Chacha.
"Jadi beneran adiknya, Nugie? " eh, si cewek masih ngotot nanya lagi.
Chacah hanya pura-pura kedip dikit, gak tau kenapa Chacha auranya udah langsung gak suka gitu sama itu cewek. Entah karena dia duduknya nempel-nempel sama Bang Harris atau karena muka aslinya ternyata gak semanis yang dipasang Bang Nugie di layar ponselnya. Yang jelas pasti mereka berdua ini biang keladi yang bikin muka abangku jutek beberpa hari ini.
"Ehm.. Ehm.." Aku pura-pura berdehem, apaan juga tu cewek pakai pura-pura minta dibukain sedotan segala, norak!
"Ngomong-ngomong dari mana aja Bang?" tanyaku sekedar basa-basi biar kelihatan nyantai padahal aslinya lagi gemes.
"Mau jemputin kamu, " kata Bang Harris sambil majang senyum kayak biasanya.
"Eh, kok bisa?" ternyata mulutku emang otomatis nyeletuk begitu aja pas lagi kaget beneran.
"Nugie, bilang tadi mau jemput kamu, trus kebetulan kita pas lagi ada di sekitar sini juga," bang Harris hanya mengedikkan bahu, "gak papa kan, kita yang samperin?"
Chacha, sih, pura-puranya seneng aja dapat tumpangan gratis, tapi kayaknya cewek di sampingnya enggak.
"Eh, emang Bang Nugie lagi ngapain kok kayaknya sibuk amat? udah hampir satu jam Chacha kering nungguin di sini."
"Mungkin urusan kantor, gak tau kenapa dari kemarin juga susah banget diajakin jalan," keluh Bang Harris yang kayaknya serius.
Tapi sekali lagi Chacha curiga cewek di sebelahnyalah yang sebenarnya sedang nyimpan banyak rahasia. Chacha tuh sudah ahlinya urusan ngibulin cowok, gak bakal deh ada tandingannya kalau urusan begituan. Pasti tu abangku udah kena paksa buat nyombangin dia, aku aja yang baru tujuh belas tahun udah lama ninggalin trik begituan.
"Eh, Bang, Chacha masih haus nich, bisa gak pulangnya agak entaran? "
"Alex mau minum lagi? ni, punya Abang belum diminum."
Nah, kan! bang Harris malah nyodorin minumannya buat Chacha. Cewek di sebelah bang Harris langsung berhenti nyedot milkshakenya trus ngelihatin Chacha yang beneran lagi narik gelas yang di kasih oleh Bang Harris. Chacha, sih, pura-pura nggak lihat, trus langsung minum aja tu milkshake.
"Masih mau jalan lagi? " tanya Bang Harris sepertinya serius beneran mau ngajakin chacha jalan-jalan, dan masih gak nyadar temen ceweknya lagi kepingin nyakar Chacha.
"Gak sih, Bang, udah capek tadi keliling ke toko buku."
"Emang beli buku apa? "
Chacha nyungir aja sambil geleng, "Gak dapet bukunya. "
"Emang nyari buku apa? "
"Kayaknya emang baru terbit di US aja."
"Entar kalau kebetulan ke US, Bang Harris beliin. "
"Eh, jangan, Bang, gak enak, entar Chacha punya utang, pakai dolar lagi!" tolakku buru-buru karena memang gak ada niatan sampai ke situ. Tapi Bang Harris cuma nanggapinya pakai senyum aja.
Niat Chacha tadi cuma mau nemenin si Mira nyari buku puisi, sekalian iseng-iseng aja Chacha nyari buku yang kemarin referensinya paling rame dapat coment di grup.
"Gak papa anggap aja bonus, kan Alex pernah juga ngasih bonus ke Bang Harris."
Sumpah Chacha malu kalu di ajak ngungkit-ngunkit lagi itu bonus ojol yang cuma sepuluh ribu.
"Jangan, Bang, tetep jangan, Chacha gak enak."
"Ya, udah, sudah mau pulang belom? kayaknya kak Sisca mau keburu ada acara juga tadi," kata bang Harris sambil ngelirik cewek di sampingnya, yang ternyata dari tadi banyak diam.
****
Sebagai penumpang yang tau diri, Cahcaha tetap berusaha menikmati duduk di kursi belakang sambil ngelihatin ceweknya Bang Harris yang kayak sengaja banget megang-megang tanganya di depan Chacha. Sebelnya Chacha, kenapasih Bang Harris harus cakep gitu? Chacha kan jadi kesel kalau ceweknya sengaja pamer-pamer kemesraan di depan mata kayak gini. Sesekali Chacha juga ngelihatin mata Bang Harris yang juga sengaja ngelihatin Chacha dari kaca sepion, trus kadang Chacha nyungir dikit biar dia ikut kesel tapi nyatanya malah dia ketawa.
"Apa yang lucu? " tanya cewek di sampingnya, bingung. Trus noleh ke belakang, ngelihatin Chacha yang pura-pura cuek trus Bang Harris yang cuma menggeleng tanpa bermaksud ngejelasin apa-apa.
Chacha setuju itu cewek pasti kesel, dan kali ini balik Bang Harris yang balas nyungir dikit dari kaca sepionnya, dan yang Chacha heran biar lagi nyungir ternyata tetap aja cakep. Ih, jangan gitu-gitu amat lah bang, nanti Chacha beneran suka loh sama cowoknya orang. Tapi dosa gak sih kayak gitu? Aku balik ngelihatin Bang Harris dari kaca sepion, dia lagi gak ngeliatin Chacha, tapi lagi nanyain sesuatu sama ceweknya, dan Chacha malas ikut nyimak.
"Alex, mau iku? " tanya Bang Harris tiba-tiba.
"Apa ,Bang?" Chacha bingung karena memang gak ngerti apa yang tadi mereka omongin.
"Abang, anter Kak Siska dulu baru anterin Alex pulang? "
"Oh. "
"Alex, mau ikut ke rumah Kak Siska dulu, kan? "
"Ya, Bang, gak papa, " emangnya Chacha boleh nolak, Chacha kan cuma numpang. Jadi bukan salah Chacha klo kayaknya ceweknya Bang Harris jadi kesel.
"Aku ada urusan dikit sama, Nugie, sekalian aja nanti nunggu dia balik kantor."
Chacha paham kalau Kak Siska pasti gak bakal mau ketemuan sama Bang Nugie, entah apa masalah mereka tapi Chacha gak bodo-bodo amat buat baca ekspresi cewek kayak gitu.
"Kak Siska, tinggal di mana? "
"Di Graha Indah," jawab Bang Harris sebelum ceweknya sempet ngomong.
"Wah, berarti, Abang, tadi putar balik dong, buat jemputin Chacha?" karena kalau gak salah bang Harris tadi cerita mereka baru dari kampus buat minta beberapa berkas.
Apa seharusnya tadi Chacha gak nanya, ya? Karena selanjutnya mereka berdua pada dieman kayak sengaja gak ada yang mau jawab. Aku jadi gak enak, dan akhirnya sengaja ikutan diem sepanjang sisa perjalana hingga sampai di rumah Kak Siska. Kami gak turun dari mobil karena Bang Harris langsung kembali jalan setelah Kak Siska turun. Beneran rasanya gak enak kayak tiba-tiba kejebak di tengah-tengah pasangan yang sedang perang dingin, trus Chacha dipaksa pura-pura gak lihat apa-apa.
"Alex, mau temenin Bang Harris makan siang? "
"Bang, ini udah jam lima sore, masak belum makan? " tanyaku spontan, dan langsung nyesel karena Bang Harris trus diam.
"Sebenarnya Chacha, juga lapar, sih, Bang."
Walaupun tadi cuma beli cemilan sama milkshake lantas bukan berarti sekarang Chacha lagi kelaparan banget sampai pingin makan di tengah jalan, aku cuma gak enak aja dan buat coba nyairin suasana kayaknya gak ada salahnya ngomong duluan.
"Alex mau makan apa? "
Suara Bang Harris udah kembali terdengar ceria pas ngelihatin Chacha dari kaca spion karena dari tadi Chacha memang masih duduk di kursi belakang.
"Bang Nugi, suka ngajakin Chacha makan ramen yang di depan sana itu, lo, Bang, " tunjuk Chacha ke plang nama besar di dekat jembatan sebelum lampu merah. "Ramennya enak."
"Alex, suka makan ramen? "
Aku buru-buru ngangguk, pas Bang Harris noleh bentar.
"Bang Harris pinter, loh, bikin ramen, nanti lain kali Abang bikinin."
"Wah, beneran, Bang?"
Bang Harris udah mulai belokin mobilnya ke parkiran restoran.
"Kalu Bang Nugie, bisanya cuma bikinin mie instan buat Chacha, itupun kalau pas baik hatinya lagi kambuh," candaku yang sudah mulai siap-siap turun.
Chacha turun lebih dulu dari pintu sebelah kiri, trus nungguin Bang Harris yang jalan ngitarin mobilnya.
Kami langsung masuk ke dalam restoran yang kebetulan sedang gak begitu ramai.
"Sebelah sini, Bang," Chacha gak nyadar udah narik lengan Bang Harris buat nyamperin meja favoritku sama Bang Nugie.
"Kita bisa lihat lampu jembatan dari sini, " terangku, pas Bang Harris masih kelihatan bingung apa bedanya meja yang sama-sama persegi.
"Tu, Bang, indah kan?" kataku sambil nujuk lampu-lampu jembatan yang sudah mulai nyala.
Bang Harris, sepertinya juga seneng, trus ikutan duduk sambil lihatin lampu jembatan yang terus bergonta-ganti warna.
Seorang pelayan yang baru datang langsung ngasih beberpa daftar menu untuk kami pilih.
"Alex, suka makanan pedas? " tanya Bang Harris pas lihat pilihan menuku.
"Ya, Bang," Chacha cuma nyungir.
"Pesan menu yang sama ya, Mas," kata Bang Harris sama pelayan di sampingnya.
Sembari menunggu pesanan kami Chacha sengaja ngelihatin Bang Harris.
"Bang Harris bohong, ya, mau nungguin, Bang Nugie?"
Tanyaku tiba-tiba bikin Bang Harris mungkin agak terkejut pas balik ngelihatin Chacha.
Chacha masih nunggu, kira-kira mau ngomong apa si abang.
"Ya, " katanya kemudian kembali diam masih ngelihatin Chacha dari sebrang meja.
"Ya," kutip ku, " cuma itu, Bang?" Chacha pura-pura agak kecewa.
"Maafin, Kak Siska, "______ lanjutnya, "bukanya dia gak suka sama, Alex, tapi tadi memang Bang Harris yang agak maksa buat jemputi, Alex. "
Serius aku gak nyangka bakal dengar pada ngakuan sejujur itu, walaupun tadi sebenarnya juga gak terlalu ingin tau masalah pertengkaran mereka.
"Kenapa, Bang? " tanyaku kemudian, tapi perasaan dadaku mulai aneh antara siap sama gak siap jika harus dengar alasannya. Karena aku sudah bisa menilai jika Bang Harris ini tipe orang yang akan selalu jujur mengatakan apapun.
"Karena, Abang, pingin jemput, Alex."
Ih, sial! Bang Harris jawabnya malah udah sambil kembali senyum kayak gak ada beba mentalnya sama sekali, gitu, padahal Chachanya udah sempat deg-degan, loh ....
"Chacha kira, Abang, cuma mau bikin Kak Siska kesel."
Bang Harris cuma balas senyum sambil ngedikin bahu merasa tak bersalah.
"Jangan gitu dong, Bang, gimana kalau tadi Kak Siska sampai nyakar Chacha beneran? " candaku sambil pura-pura merinding.
Sebenarnya aku kepingin nanya juga maslah Kak Siska sama Bang Nugie tapi Chacha masih belum terlalu berani, sampai akhirnya Bang Harris kembali ngomong.
"Besok ikut, ya? Teman-teman mau ngumpul di rumah, bang Nugie udah Bang Harris kasih tau buat ngajakin Alex main kerumah minggu ini."
Chacha belum jawab, karena masih bingung gimana ngebayangin harus gabung sama obrolan mereka nanti.
"Mamanya Bang Harris kepingin tau adiknya Bang Nugie."
Dan Chacha hanya tambah bengong, untung ramennya tiba-tiba datang.
Chacha langsung ngelihatin mangkuk ramen di depan Chacha yang masih panas mengepul dengan berbagai topping pilihan ku yang agak nyeleneh buat selera umum tapi Bang Harris malah ikut-ikutan.
"Beneran, Bang Harris bisa masak ramen? " tanya Chacha kemudian, karena Bang Harris kayaknya juga agak bingung ngelihatin tampilan ramen di depannya.
"Ini unik, " katanya kemudian.
"Coba, Bang, " kataku lebih terdengar seperti tantangan sebenarnya. Karena tidak ada orang makan ramen dengan buah dan cabai seperti Chacha, Bang Nugie aja gak pernah sudi buat nyoba. Dan kali ini Chacha benar-benar penasaran buat ngelihatin reaksi si abang ganteng itu pas mungkin kepingin muntahin makanan yang gak kepingin ia telan.
Chacha udah mulai makan duluan dan enjoy-enjoy aja pas ngangkat alis dikit buat Bang Harris yang masih bengong.
"Tiup dulu, itu masih panas!"
Ternyata si abang malah ngomong gitu, sambil narik mangkuk Chacha yang udah mau dia kipasin pakai tangan. Aku tau itu cuma reaksi spontan tapi Bang Harris kadang lucu, emangnya dia pikir sampai kapan ramen itu bakal dingin hanya dengan dikipasin pakai tangan kayak gitu, tapi sepertinya dia memang benar-benar khawatir tenggorokan Chacha bakal terbakar.
"Jangan khawatir, Bang, Chacha masih keturunan Ibu naga," candaku sambil ketawa.
"Beneran, Abang, gak mau coba? " Chacha balik ngingetin ke mangkuk Bang Harris sendiri yang masih utuh.
Kulihat Bang Harris sempat aduk-aduk sebentar sebelum akhirnya mulai makan. Chacha sendiri berhenti ngunyah buat nunggu reaksinya.
"Lumayan, unik, kayak kamu," katanya kemudian setelah nelan ramen pertamanya.
"Coba buah yang lainnya, " aku nunjuk beberpa varian untuk di makan bersama, dan sepertinya Bang Harris memang enjoy-enjoy aja sampai tiba-tiba ramen kami sudah habis dan Bang Harris hanya kelihatan sedikit kepanasan gara-gara ngikutin gaya makanku yang sembrono.
"Beri tau Chacha besok pagi, jika Abang gak keracuna makanan baru Chacha lega," dan kami kembali kompak tertawa. Sepertinya Chacha memang suka, Bang Harris itu ganteng, sopan plus gak jaim.
Hampir jam delapan malam pas Bang Harris nganterin Chacha pulang, karena tadi si abang juga ngajak mampir buat beli cemilan. Akhirnya Chacha pulang sambil nenteng tas karton yang isinya cemilan kesukaan Chacha semua, dan bang Nugie sudah di rumah pas kami datang.
"Apaan tuh? " si Abang penasaran sama bawaan Chacha.
"Cemilan buat Chacha, " jawabku enteng sambil naruh itu tas karton di depan bang Nugie.
"Lo, di palak, ya, sama adik gue? " tanya si abang pas Bang Harris baru ikut masuk.
"Iss..., lagian kemana sih, Abang? Chacha sampai hampir kering nungguin."
"Kan, udah ada Bang Harris yang jemputin, plus dapat cemilan, lagi!"
"Kalau gak bisa jemput itu konfirmasi, biar Chacha naik ojol aja mumpung uang saku masih sisa."
"Nanti biar Bang Harris yang jemput kalau, Bang Nugie lagi gak bisa, " kali ini Bang Harris yang ngomong.
Saat itu Chacha masih belum tau jika sebenarnya memang Bang Nugie yang telfon Bang Harris buat minta tolong jemputin Chacha.
Chacha masih ngelihatin Bang Harris yang baru ikut duduk di samping Bang nugi yang udah makan cemilan Chacha.
"Nah, seneng lo, kan? abang ojolnya ganteng, " goda Bang Nugie pas ngedip ke Bang Harris yang baru ikutan nyomot cemilan di tangannya.
"Ih, Abang, mulai deh, " beneran Chacha malu kalau harus diingatin lagi sama kejadian itu.
Saat melihat bang Harris dan Bang Nugie yang udah mulai becanda seperti itu sebenarnya Chacha ikut senang dan lega, seolah masalah Kak Siska memang tidak pernah ada di antara mereka. Apa memang seperti itu saat para cowok yang sudah lebih dewasa dalam bersahabat, wanita bukanlah sesuatu yang harus di persoalkan lagi. Chacha dan Mira juga sudah lama bersahabat tapi kami memang belum pernah suka sama cowok yang sama, selera kami terlalu berbeda jadi mustahil kami bakal berselisih masalah cowok. Paling Mira cuma cerewet kalau aku lagi deket sama cowok yang menurutnya gak bener, dan begitu pula sebaliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
tenny
alur ceritanya bagus, gaya bahasanya juga, walaupun ada beberapa yg typo tapi masih bisa kita ngerti kok. semangat yaa ❤️
2023-05-23
0
zaky hisyam
sampai sini ceritanya bagus...alurnya juga gak terlalu cepat...bahasa bagus...soal typo itu manusiawi ya thor....semangat ya...saperti gue bacanya semangat banget
2020-07-18
1
Rian Sutra
sisa perbaiki typox aja thor
2020-02-29
1