Gempar

Di depan rumah yang tidak terlalu mewah, nampak seorang wanita, yang usianya tidak muda lagi, terlihat sedang duduk menyendiri. Meski wajahnya lurus ke depan, tapi tatapan matanya kosong dengan pikiran yang entah kemana.

Bahkan, raut wajahnya tersirat kesedihan mendalam, akibat berita yang dia dengar dari adik sepupunya pagi tadi. Rasanya campur aduk ketika wanita itu teringat kabar tentang anaknya yang telah pergi dari dekapannya selama bertahun-tahun.

"Ibu," seseroang memanggil wanita itu, begitu melewati gerbang rumah yang tidak terlalu tinggi.

Wanita itu agak tersentak. Seketika pikirannya buyar dan dia langsung tersenyum kala melihat kehadiran salah satu anaknya.

"Ibu kenapa melamun di sini?" tanya sang anak begitu mendekat dan duduk di samping wanita yang melahirkannya.

"Karena Ibu sudah tidak ada kerjaan, Bas, makanya Ibu duduk di sini," jawab sang ibu sedikit berbohong.

Sang anak yang biasa dipanggil Abas nampak tersenyum. "Lebih baik ibu masuk, kita lihat televisi aja yuk?"

Wanita itu sontak menoleh, menatap Abas dengan kening berkerut. "Ngapain lihat televisi? Paling acara gosip."

Abas menggeleng dan masih setia dengan senyum tipisnya. "Bukan, Bu. Hari ini, William sedang melakukan klarifikasi mengenai hubungannya dengan Mbak Seruni."

"Klarifikasi?" tanya sang Ibu dengan nada bergetar. "Apa jangan-jangan, yang diberitakan itu benar, kalau Seruni..." wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak tahu, berita tentang Mbak Runi itu benar atau tidak. Agar semuanya jelas, lebih baik, kita nonton yuk, Bu, biar kita tidak penasaran."

"Apa Seruninya juga ada?"

"Tidak kelihatan, Bu. Mungkin, Mbak Runi juga sedang nonton di suatu tempat."

"Apa jangan-jangan dia sudah bersama William?"

Abas mengangkat kedua pundaknya. "Makanya kita lebih baik nonton, agar kita tahu berita yang benar itu seperti apa."

Wanita itu mengangguk. Dengan semangat sang Ibu bangkit dari duduknya dan mengajak Abas untuk segera masuk ke dalam rumah.

####

Sementara itu di ruang konferensi, Thomas baru saja menyelesaikan pidato singkatnya. Dia pun segera membuka bagian paling penting dalam acara konferensi tersebut.

"Maaf, Tuan William, saya mau tanya, apa benar rumah tangga anda sedang mengalami keretakan?" Tanya seorang wartawan, begitu sesi tanya jawab dimulai.

William tersenyum. "Bukan hanya retak, tapi memang sudah hancur. Bahkan saya sudah mengajukan gugatan cerai," William menjawab tanpa beban.

"Tapi, apa alasannya, Tuan? Bukankah selama ini rumah tangga anda baik-baik saja?" tanya wartawan yang lain. "Apa berita itu benar, kalau anda memilki wanita lain?"

William kembali tersenyum. Dari senyum yang terkembang di wajahnya, tersirat tanda kalau dia merasa tidak ada beban yang berat dalam menghadapi masalah yang terjadi padanya.

Tentu saja sikap William itu menimbulkan rasa terkejut luar biasa pada pembenci William terutama Renata, dan tiga pria yang bersamanya.

Sungguh Renata sangat sakit hati menyaksikan William sebahagia itu, dalam menyikapi rumah tangganya.

"Tentu saja bukan!" tegas William. "Penyebab utama dari hancurnya rumah tangga saya, bukan karena hadirnya wanita lain. Justru penyebabnya karena kesalahan besar yang dilakukan Renata selama menjalani rumah tangga dengan saya."

"Apa! Selama menjalani rumah tangga? Maksud anda?"

William tak henti-hentinya menebar senyum. "Yah, selama menjalani rumah tangga, Renata sudah sering melakukan pengkhianatan. Bahkan, pengkhianatan tersebut dilakukan sebelum kami menikah."

"Apa!"

Hampir setiap mata yang menyaksikan acara konferensi tersebut, terkejut mendengar pengakuan William.

Begitu juga dengan Renata, John dan Daniel. Mereka tidak menyangka kalau William justru akan membongkar semuanya. Ketiga orang itu seketika dilanda panik luar biasa.

"Seperti yang kalian dengar, Renata mengkhianati kepercayaan saya. Bahkan dia tega melakukan pengkhianatan itu bersama dua pria yang sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri," ucap William dengan tenang, meski hatinya sakit kala mengatakan hal tersebut.

"Dua pria? Maksud anda?"

"Yah, dua pria," William menjeda ucapannya. "Dua pria itu adalah sahabat dekatku, John dan Daniel. Kalian mengenal mereka bukan?"

"Hah! Bagaimana bisa?" semua nampak terkejut. Tentu saja mereka sangat mengenal dua pria yang namanya baru saja disebut oleh William.

"Tentu saja bisa," sahut William meyakinkan. "Mereka benar-benar seperti sampah, yang berusaha terlihat istimewa sampai tega melakukan cara apapun termasuk menusuk orang yang menolong mereka. Bayangkan saja, bagaimana rasanya bertahun-tahun kalian hidup bersama orang-orang yang memiliki tujuan terselubung dibalik sikapnya yang terlihat tulus? Mengerikan sekali bukan?"

Semua yang hadir hanya terpaku, meski ada yang membayangkan bagaimana perasaan William saat ini

"Maaf, Tuan William, sedari tadi anda terlihat begitu yakin, mengatakan pengkhianatan yang dilakukan istri dan dua sahabat anda? saya ingin bertanya, darimana anda tahu itu semua? Apa anda memiliki bukti kuat yang menunjukan kejahatan mereka?"

Untuk kesekian kalinya, William kembali menebar senyumnya. "Saya tahu, kalian pasti akan menanyakan hal penting itu. Baiklah, saya harap, kalian kuat melihat semua bukti yang saya dapatkan."

Seketika William melempar tatapan pada sang asisten. Thomas mengangguk. Pria itu tahu apa yang harus dia lakukan.

Sementara itu di tempat lain.

"John, Daniel, kenapa malah jadi kaya gini, sih?" tanya Renata dengan wajah terlihat panik.

"Aku juga tidak tahu, Renata. Aku pikir, William tidak akan berani melakukan tindakan sejauh ini," ucap Daniel.

"Tidak, Daniel, tidak! Aku tidak mau nama baikku tercemar. Aku nggak mau tahu, Daniel. Cepat, ambil tindakan, cepat!"

"Bagaimana caranya, Renata?" Daniel pun nampak kesal. "Kamu pikir, kamu aja yang namanya bakal hancur? Aku juga! Bagaimana ini John? Kenapa malah jadi seperti? Bukankah seharusnya William mendatangi kita, dan meminta maaf agar nama baiknya tidak tercemar? Kenapa dia malah melakukan tindakan itu?"

"Aku juga tidak tahu," balas John. "Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan."

"Mom, terus, aku bagaimana?" rengek Kelvin.

"Tenang, Kelvin, tenang," ucap Renata.

"Kamu lagi! Jadi anak laki-laki nggak berguna banget sih?" bentak Daniel semakin emosi melihat tingkah Kelvin. "Kamu sadar nggak sih?Semua yang terjadi saat ini tuh gara-gara tindakan bodoh kamu!"

"Daniel!" Renata tidak terima.

"Apa! Memang benar, kan?" Daniel juga tidak terima dibentak Renata. "Dasar, anak nggak berguna!" Daniel langsung pergi hingga membanting pintu kamarnya.

####

Sedangkan di dalam ruang konferensi pers, maupun di tempat lain, semua mata dibuat tercengang dengan apa yang mereka saksikan pada layar datar.

Beberapa bukti video yang sedang diputar, nampak begitu jelas menunjukan wajah tiga orang yang sedang bermain ranjang, lengkap dengan pembicaraan mereka.

"Jadi, Kelvin bukan anak anda?"

William menggangguk ringan. "Ya, seperti yang kalian dengar."

"Gila..." semua hampir tak percaya dengan fakta lainnya.

"Darimana anda memiliki bukti seakurat ini, Tuan?"

William menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembus nafasnya secara perlahan.

"Dari wanita yang dituduh sebagai penghancur rumah tangga saya," jawab William.

Terpopuler

Comments

Was pray

Was pray

mau liat seberapa besar usaha wiliam utk melindungi miko dan seruni dari renata dan antek2nya, krn kamu sering bertindak sembrono tanpa dipikir dulu, kamu sering otaknya di dengkul kl menyangkut kelvin

2024-12-24

2

Reogkhentir

Reogkhentir

Bias apa kau sekarang ular iblis betina tunggu saja kehancuran dalam hidup serta mental mu karena semua bukti keburukan sudah tersebar

2024-12-24

1

Apriyanti

Apriyanti

lanjut thor 🙏

2024-12-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!