Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mobil yang dikemudikan oleh William, sampai juga di tempat tujuan. Tidak banyak percakapan yang terjadi antara Wiliam dan anaknya, tapi setidaknya mereka mulai saling membuka diri agar bisa lebih dekat satu sama lain.
Tidak mudah bagi Miko untuk memanggil William dengan sebutan ayah. Hampir semalaman dia merenungkannya hingga dia mengambil keputusan tersebut.
Tentu saja, Miko memiliki niat terselubung, kenapa dia sampai memutuskan memanggil Wiliam dengan panggilan ayah.
Kedatangan Miko ke gedung milik sang Ayah, tentu saja langsung mengalihkan perhatian semua mata yang ada di sana.
Banyak yang bertanya, siapa anak muda yang datang bersama bos mereka. Namun, tak sedikit pula yang menyangkut pautkan sosok Miko dengan berita yang menerpa rumah tangga William.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Thomas yang datang beberapa menit lebih awal dari William. "Selamat pagi, Tuan Miko."
Miko agak terkejut mendengar sapaan yang ditunjukan untuknya. Dia pun melempar senyum tipis karena merasa aneh saat dia dipanggil Tuan oleh asisten ayahnya.
"Selamat pagi, Thomas," balas William. "Bagaimana? Apa semuanya sudah kamu persiapkan?" tanya William sembari terus melangkah, menuju lift khusus untuknya.
"Semua sudah dipersiapkan, Tuan," balas Thomas. "Beberapa awak media serta influenser juga sudah saya hubungi."
Miko kembali nampak terkejut begitu mendengar kata awak media. "Awak media?" Gumamnya lirih.
Namun William dan Thomas justru malah mendengarnya. Bahkan sampai keduanya menoleh, menatap Miko sampai tubuh Miko agak mengejang.
"Kenapa? Kamu penasaran kenapa ada awak media segala?" Tanya William.
Miko mengangguk pelan. "Iya, apa ada acara penting di kantor ini?" tanya Miko dengan suara pelan.
William tersenyum dan kembali menatap lampu lift. "Ayah lupa, tadi saat ayah ngasih tahu yang lain, kamu sedang mencoba baju. Hari ini, ayah akan melakukan konferensi pers. Tujuan ayah ngajak kamu, karena ayah pengin semua dunia tahu kalau kamu lah anak ayah yang sebenarnya."
Miko tercenung beberapa saat. Hingga pintu lift terbuka, anak itu masih terdiam dengan pikiran yang sudah kemana-kama.
"Anda tidak keluar, Tuan Miko?" ucap Thomas mengingatkan.
Miko tersentak. "Eh, iya," dia sedikit gugup dan dia langsung keluar lift sambil tersenyum malu.
"Anda jangan panik," ucap Thomas kala dia melangkah berjejeran dengan Miko. "Tindakan Tuan William memang sudah benar. Sudah saatnya gosip murahan tentang ibu anda diakhiri. Kasihan kalau terlalu lam dibiarkan."
Miko tercenung beberapa saat, lalu tak lama kemudian dia kembali tersenyum tipis. "Maaf, kalau bisa, anda jangan terlalu formal sama saya. Saya kurang nyaman dipanggil Tuan."
Kali ini gantian Thomas yang keningnya agak berkerut. Thomas merasakan perbedaan sikap antara Miko dan Kelvin.
"Kenapa? Bukankah anda memang pantas dipanggil Tuan?" tanya Thomas penasaran.
"Saya rasa tidak," jawab Miko. "Saya masih terlalu muda dan anda juga lebih tua dari saya. Sudah sepantasnya saya yang seharusnya menghormati anda."
Seketika senyum Thomas terkembang tipis, tapi pria itu memilih diam. Keduanya pun masuk ke ruangaan William sembari menunggu waktu dimulainya konferensi pers.
####
Setelah menunggu hampir dua jam, kini Miko beserta William dan Thomas nampak memasuki ruangan serba guna, dimana para wartawan dan orang-orang yang diundang secara khusus sudah berkumpul dalam satu tempat.
Kehadiran Miko tentu saja kembali mengundang tanda tanya besar, setiap orang yang hadir di sana, dan sudah dipastikan mereka juga langsung menyangkut pautkan kehadiran Miko dengan berita yang sedang menerpa pemilik sekaligus pemimpin Lion Heart grup.
Karena tidak ingin terlalu membuang banyak waktu, Thomas pun segera membuka acara dengan serangkaian kata yang biasa dia ucapkan setiap kali memulai suatu acara.
Semua kamera langsung tersorot kepadanya, hingga banyak mata yang dapat menyaksikan Thomas sedang membuka acara.
Acara konferensi tersebut bukan hanya disaksikan orang-orang yang hadir dalam ruangan konferensi saja. Tapi juga disiarkan secara langsung oleh berbagai media karena William merupakan orang yang cukup berpengaruh di negara tersebut.
"Harusnya yang duduk di sana tuh aku, Mom, bukan anak nggak jelas itu," ucap Kelvin penuh kebencian pada anak muda yang duduk diantara William dan Thomas.
Renata tersenyum, mencoba menghibur anak kesayangannya. "Kamu tenang aja Kelvin, dia di sana tidak akan lama. Karena yang pantas berada di sisi Daddy, memang cuma kamu."
"Sepertinya William sedang menggali kuburannya sendiri," ujar Daniel. "Kok berani-beraninya dia mengadakan konferensi pers."
John nampak menyeringai. "Bukankah ini bisa mempermudah jalan kita? Aku yakin, setelah acara konferensi pers berlangsung, harga saham Lion Heart bakalan terjun bebas. Kalau bukan kita yang bisa menolong Wiliam, siapa lagi?"
"Benar juga," sahut Daniel. "Berarti, kita tinggal menunggu, William mengemis pada kita ya?"
"Nah, itu yang aku maksud," balas John begitu yakin. "Setelah ini, kita bisa mengendalikan William sesuka hati kita."
Dua laki-laki dan satu wanita yang berada di ruangan yang sama, nampak menyeringai dan merasa kemenangan sudah berada di depan mereka.
Sementara itu, pihak lain yang mengharapkan jatuhnya kerajaan bisnis milik keluarga Dixion juga sedang fokus menyaksikan acara tersebut dari ruang pribadinya.
"Sepertinya, Tuan William terlalu berani mengambil keputusan seperti itu, Tuan," ucap seseorang yang tak lain adalah asisten dari seorang pria lain yang ada di sana.
"Yah, begitulah, William," jawab sang Tuan. "Tapi jangan salah, dia pasti sudah memperhitungkannya dengan sangat matang, sampai dia berani mengadakan konferensi pers."
Sang asisten pribadi mengangguk paham. "Lalu, apa rencana Tuan berikutnya? Apa Tuan masih membutuhkan Renata?"
Sang Tuan terdiam sejenak. Jelas terlihat kalau pria itu sedang berpikir meski tatapan matanya, mengarah pada layar televisi yang ada di ruangannya.
"Kita tunggu saja hasil konferensi pers ini," ucap sang Tuan. "Kita harus mencari celah, yang bisa kita manfaatkan untuk menghancurkan Lion Heart. Aku juga akan meminta Micela untuk mendekati anak muda di sebelah William itu."
Sang asisten mengangguk mengerti. Seketika kedua pria itu kembali diam dengan mata fokus menatap ke arah yang sama.
Sementara itu di kediaman William, para penghuninya juga sedang menyaksikan acara tersebut dalam satu ruangan.
"Jangan panik," ucap Amelia pada wanita yang lebih muda dan saat ini sedang duduk di sisinya. "Percayalah, William pasti akan melakukan yang terbaik."
Seruni tersenyum tipis. Tatapannya tidak bisa membohongi isi hati Seruni yang sedang dilanda rasa cemas.
"Semoga, setelah berlangsungnya acara ini, hati orang tuamu terbuka, dan kamu bisa kembali menjalin hubungan baik dengan mereka."
"Semoga saja, Tante," balas Seruni pelan. Dia pun berharap demikian. Meskipun nanti hubungannya dengan orang tua terasa hambar, setidaknya Seruni bisa lebih tenang jika orang tuanya tahu akan kebenaran yang dia pendam selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Reogkhentir
Kesalahan fatal Wiliam terlalu lama membiarkan ular iblis betina berserta teman dan anaknya hidup dalam keluargamu sekarang akan agak sulit mengendalikan mereka karena sudah faham dengan karakter mu Wiliam hingga mudah menjatuhkan keluarga besar mu
2024-12-23
1
Was pray
wiliam memelihara ular berbisa yg siap menggigit kalau sedikit aje lengah, harusnya dimusnahkan renata dan antek2nya, kamu kejam terhadap orang lemah seperti miko, wiliam tapi lemah terhadap org terdekatmu walaupun dia jelas jelas salah
2024-12-23
1
Apriyanti
lanjut thor
2024-12-23
1