"Kak kita mau kemana, ini kan bukan jalan ke apartment?" Tanya Tisya.
"Nanti kamu juga tahu kok." Jawab Dimas.
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki perumahan elit di tengah kota. Dimas memberhentikan mobilnya lalu melepas sabuk pengamannya.
"Kita mau ngapain kak?" Tanya Tisya.
"Pulang." Jawab Dimas.
"Pulang, ini rumah siapa?" Tanya Tisya.
Dimas keluar dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Tisya.
"Selamat datang di rumah baru kita" Ucap Dimas.
"Rumah kita? Jadi ini rumah kakak?" Tanya Tisya.
"Rumah kita" Jawab Dimas
Dimas memutari mobilnya lalu mengeluarkan koper Tisya dari bagasi.
Kedua tangannya menarik koper satu persatu.
"Sini kak biar aku bawa satu" Ucap Tisya.
Dimas memberikan satu kopernya pada Tisya lalu mereka berdua memasuki rumah itu.
'Klek'
Pintu terbuka, mereka melangkahkan kakinya bersama.
Tisya melihat isi rumah tersebut, rumahnya luas dan didesain modern.
"Gimana kamu suka?" Tanya Dimas.
"Suka" Jawab Tisya.
"Syukurlah kalau kamu suka, sengaja kakak desain satu lantai, soalnya kakak ga suka rumah tingkat." Ucap Dimas
"Kenapa?" Tanya Tisya.
"Sebab keseringan naik turun tangga membuat tubuh mudah lelah dan kesehatan lutut terganggu." Jawab Dimas.
"Kan bisa pakai lift" Ucap Tisya.
"Oh iya ya kenapa ga kepikiran, baiklah kalau gitu besok kita renovasi rumahnya" Ucap Dimas.
"Eits ga usah ga usah, biar gini aja" Ucap Tisya.
"Yakin?" Tanya Dimas.
"Heem"
Mereka berdua menarik kopernya lagi. Tisya berjalan di belakang Dimas yang tengah menuju kamar.
"Ini dia kamar kita" Ucap Dimas.
Dimas membuka pintu kamar utama dan terlihat kamar itu sangat luas. Kamar bernuansa warna putih layaknya kamar di hotel-hotel bintang 5.
Mereka berdua memasuki kamar itu.
"Kamu suka?" Tanya Dimas.
"Emmm suka sih, tapi apa kamarnya cuma satu?" Tanya Tisya.
"Engga, masih ada 3 kamar lagi." Jawab Dimas.
"Kenapa?"
Dimas melihat istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Emm boleh ga kalau kita pisah kamar dulu?" Tanya Tisya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia takut kalau Dimas akan marah.
"Boleh boleh aja, mari ikut kakak" Ajak Dimas.
Dimas keluar dari kamar diikuti oleh Tisya di belakangnya.
'Klek' Dimas membuka pintu kamar yang berada di samping kamar utama.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang tidak seluas kamar utama namun lebih luas dari kamar Tisya.
Kamar tersebut di desain seperti kamar anak-anak sebab banyak lukisan-lukisan kartun lucu.
"Kamu mau tidur di sini?" Tanya Dimas.
"Emmm emangnya yang 2 lagi dimana?" Tanya Tisya.
"Ada, di belakang. Yang 1 buat kamar pembantu, yang 1 lagi masih kosong, rencananya mau dibikin gudang, kamu mau di kamar belakang?" Tanya Dimas.
Dengan segera Tisya menggelengkan kepalanya. Mana mungkin dia berani tidur di belakang.
"Terus kamar ini buat kamar siapa?" Tanya Tisya.
"Rencananya sih buat anak-anak kita nanti, tapi kalau mamanya anak-anak mau tidur sini duluan juga ga papa sih" Jawab Dimas.
Hari Tisya tiba-tiba terasa hangat ketika Dimas mengatakan anak-anak.
Ia tersenyum kemudian berjalan ke arah ranjang dan duduk di sana.
Kasurnya empuk namun tidak terlalu luas, karena memang untuk anak-anak.
"Istirahat dulu aja nanti kakak bantuin bongkar kopernya." Ucap Dimas.
Tisya melirik jam yang menempel di dinding kamar tersebut
"Udah hampir isya kak, nanti aja istirahatnya." Jawab Tisya.
"Ya sudah kalau gitu" Ucap Dimas.
Dimas menyalakan AC kamar itu kemudian memeriksa kamar mandinya. Ia memastikan bahwa semua fasilitas di kamar itu berfungsi semua.
"Allahu Akbar Allahu Akbar"
Adzan isya sudah berkumandang. Mereka berdua mengambil air wudhu kemudian mengerjakan sholat Isya berjamaah.
Setelah selesai sholat, Dimas membuka koper istrinya dan mengeluarkan isinya.
"Lemarinya hanya kecil, nanti sebagian ditaruh di kamar sebelah aja." Ucap Dimas.
"Iya kak" Jawab Tisya
Tisya menyusun pakaiannya ke dalam lemari dan menata barang-barang yang lainnya di sana.
Setelah selesai beberes Dimas langsung keluar dari kamar dan masuk ke kamar utama. Ia membersihkan tubuhnya di kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Sedangkan Tisya masih sibuk dengan barang-barangnya.
Ia membongkar tas make up mungilnya lalu menatanya di meja belajar
Maklum kamar anak-anak tidak ada meja riasnya adanya meja belajar.
Setelah selesai ia kemudian mengambil tanktop dan hotpants dari lemari dan mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
Sudah terbiasa Tisya tidur mengenakan pakaian seperti itu, sebab ia merasa tidak nyaman mengenakan pakaian panjang ketika tidur.
Malam itu Tisya dan Dimas terlelap di kamarnya masing-masing.
Keesokan harinya tidur Tisya terusik dengan suara adzan yang berkumandang. Ia menyalakan lampu kamarnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai wudhu ia langsung mengerjakan sholat subuh sendirian.
Setelah selesai sholat subuh Tisya kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal karena di luar sedang hujan deras.
'Tok tok tok'
Di luar Dimas mengetok pintu kamar istrinya. Ia berniat membangunkan istrinya dan mengajaknya sholat subuh berjamaah.
'Klek'
Dimas membuka pintu dan melihat istrinya tengah memainkan ponselnya.
"Udah sholat subuh?" Tanya Dimas.
Tisya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa ga nungguin kakak?" Tanya Dimas.
"Hehe aku pikir kakak belum bangun." Jawab Tisya sambil tersenyum kuda.
"Besok besok kalau kakak di rumah harus sholat berjamaah." Ucap Dimas
"Iya kak" Jawab Tisya.
Dimas menutup pintu kamar Tisya kembali lalu mengerjakan sholat subuh sendiri di kamarnya.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Tisya membuka selimut yang menutupi tubuhnya lalu mengenakan baju yang sopan.
Ia keluar dari kamar menuju kamar Dimas.
'Klek'
Ketika pintu terbuka ia melihat Dimas tengah duduk di sofa sambil memangku laptop.
Dimas melihat istrinya sekilas kemudian kembali menatap laptopnya. Ia memeriksa laporan yang seharusnya ia periksa semalam.
"Kak mau mandi dulu apa sarapan dulu?" Tanya Tisya.
"Mandi dulu" Jawab Dimas namun pandangannya tetap menatap laptop.
Tisya berjalan ke arah lemari Dimas dan menyiapkan pakaian kerja Dimas.
Tisya sudah terbiasa melakukan itu, sebab dulu setiap pagi ia juga menyiapkan pakaian kerja untuk Bian.
Dimas sama sekali tidak memerhatikan keberadaan Tisya di sana, Tisya merasa didiamkan lalu ia segera keluar dari kamar itu
"Cuma gara-gara ditinggal sholat subuh aja marah" Gerutu Tisya.
Tisya berjalan ke dapur untuk membuat sarapan namun ia tidak menemukan bahan makanan apapun di sana.
Ia memutuskan untuk kembali ke kamar untuk mengambil dompetnya.
Di dalam kamar membuka jendela dan melihat ada beberapa ibu-ibu sedang berkerumun.
"Untungnya ada tukang sayur" Ucap Tisya.
Tisya segera keluar sebelum tukang sayurnya pergi.
TBC
Jangan lupa LIKE dan VOTE ❤️ ❤️ ❤️ ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
nick
kenapa pas ada Allahu Akbar gue baca nya kaya orang kaget 😭
2024-12-14
0