Malam Minggu

Babak baru dalam kehidupan Camila telah dimulai. Setelah keluar dari rumah sakit, Aminah pun memutuskan untuk berdamai dengan anak dan menantunya. Dia minta maaf atas segala perbuatan yang sengaja dilakukan akhir-akhir ini. Tentu Aminah melakukan semua ini setelah mempertimbangkan segalanya. Wanita lanjut usia itu menyadari jika Camila tulus dalam merawatnya selama sakit. Justru menantu yang pernah dibanggakan itu telah mengecewakannya. Sinta selalu beralasan setiap Aminah meminta tolong untuk merawatnya.

Sudah satu minggu Aminah pulang dari rumah sakit. Keadaanya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sementara Camila mulai belajar menerima keadaan yang mengharuskan dirinya mengalah. Hidupnya kembali ceria karena sejak kemarin Sinta pulang ke Solo untuk mengurus beberapa hal bersama saudaranya di sana.

"Mas," panggil Camila saat menghampiri Arman yang sedang duduk santai di teras rumah. "Mbak Sinta sampai kapan pulang ke Solo?" tanya Camila dengan suara yang sangat lirih.

"Kurang tahu. Mungkin semingguan karena Mas Yudi baru bisa menjemput dia minggu depan. Memangnya ada apa?" Arman mengernyitkan keningnya.

"Ya gak papa sih. Paling gak minimal selama satu minggu ini aku bisa merasakan suasana rumah seperti dulu. Gak banyak drama," jawab Camila dengan diiringi senyum tipis. "Mumpung malam minggu, jalan yuk! Aku pengen ke skywalk alun-alun. Ada live music nya, Mas," ajak Camila.

"Ya sudah siap-siap sana," ujar Arman.

Ribuan bintang menghiasi gelapnya malam. Alun-alun kota terlihat ramai karena banyak pengunjung datang untuk bersantai dan menghabiskan waktu di tempat itu. Sama halnya seperti Camila dan Arman. Sepasang suami istri itu bergegas menuju skywalk untuk menikmati berbagai macam kuliner yang ada di sana. Setelah memesan beberapa macam makanan, mereka memilih tempat di dekat panggung live music.

"Untung kita dapat tempat di sini, Mas. Aku bisa lihat langsung live music nya," gumam Camila setelah duduk di tempatnya.

"Bilang aja kalau mau lihat yang bening-bening," gumam Arman dengan nada sinis setelah melihat penyanyi pria yang sudah standby di atas panggung.

"Ih, enggak, Mas. Masih gantengan kamu lah dari semua pria yang ada di Mojokerto." Camila menatap Arman dengan sorot mata penuh arti.

"Pinter gombal ya sekarang? Diajari siapa sih?" Arman menatap Camila dengan penuh kasih.

"Kamu lah." Camila mengulum senyum saat beradu pandang dengan Arman.

Malam itu, suasana hati Camila berubah total. Dia benar-benar menikmati waktu kebersamaannya dengan Arman di sana. Beberapa jajanan tersaji di atas mejanya untuk menemani malam minggu Camila.

"Pak Arman."

Sepasang suami istri itu menoleh ke sumber suara. Ternyata ada salah satu anak didik Arman di sekolah berdiri di belakangnya. "Eh Siska," sapa Arman seraya mengembangkan senyum tipis. Dia mengulurkan tangannya saat gadis itu pun mengulurkan tangan.

"Boleh gabung di sini, Pak, Bu?" tanya Siska seraya menatap Arman dan Camila bergantian.

Arman tak segera menjawab. Dia menatap Camila sekilas dan setelah itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata semua tempat sudah dipenuhi pengunjung. "Ya, silahkan." Akhirnya Arman terpaksa menyetujui permintaan muridnya itu.

Camila memalingkan pandangan ke arah lain begitu mendengar sang suami menyetujui permintaan gadis yang kini duduk di sebelahnya. Pasalnya Camila tak seberapa suka dengan gadis bernama Siska itu. Seringkali Camila membaca chat di handphone Arman dan Siska lah yang sering mengirim pesan secara pribadi ke Arman.

"Pak Arman dan Bu Mila juga suka nongkrong di sini?" tanya Siska dengan antusias.

"Enggak. Sesekali aja kami di sini. Ya 'kan Sayang?" Arman menatap Camila dengan diiringi senyum manis.

"Iya, sesekali aja, Dek, kami di sini. Kamu tadi datang dengan siapa?" Camila terpaksa bersikap ramah untuk menjaga nama baik suaminya.

"Sendiri, Bu. Saya sering nongkrong di sini. Rumah saya dekat kok dari sini. Barangkali mau mampir," jelas Siska sambil melirik ke arah Arman.

"Jangan keseringan nongkrong, Siska. Tugas kamu itu jarang sekali beres. Lagi pula dua bulan lagi kamu itu sudah masuk ujian kelulusan. Harusnya di rumah atau bimbel buat menghadapi ujian nanti," tutur Arman dengan sesekali menatap Siska.

Siska mengulum senyum mendengar penuturan Arman. Wajahnya terlihat merona serta hidungnya kembang kempis. Siska mendadak salah tingkah. Beberapa kali dia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. "Duh, pak Arman kenapa perhatian gitu sih sama aku di depan istrinya. Aku kan malu," batin Siska saat kepalanya tertunduk.

Camila hanya bisa melongo melihat sikap anak didik suaminya itu. Terlihat jelas jika Siska salah tingkah layaknya seorang gadis yang mendapat perhatian dari kekasihnya. Tentu hal ini semakin membuat Camila geram. Andai saja Siska bukan murid Arman di sekolah, pasti Camila sudah mengusirnya sejak awal.

Malam minggu romantis yang diharapkan Camila ternyata hanya angan belaka. Pada kenyataannya, dia terganggu dengan kehadiran Siska di sama. Beberapa kali Siska mencoba mencari perhatian dari Arman tanpa tahu malu sedikitpun.

"Masih ingusan loh ini! Berani banget salting ke mas Arman di depanku. Awas saja kalau sampai berani macam-macam!" Camila hanya bisa membatin apa yang ada di hadapannya. Dia melipat kedua tangannya di depan dada tanpa mengalihkan pandangannya dari Siska.

...🌹TBC🌹...

Terpopuler

Comments

Bunda dinna

Bunda dinna

Niatnya keluar cari hiburan malah dapat masalah,,pusing kan..
Anak sekarang benar2 bikin tepok jidat

2024-12-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!