Pertengkaran

Senyum manis yang biasa menyambut kedatangan Arman saat pulang bekerja, kini hilang entah kemana. Sepanjang hari Camila murung tanpa sebab yang jelas. Bahkan, Arman yang tidak tahu apa-apa itu harus merasakan imbasnya.

"Yang. Duduk sini sebentar," suruh Arman seraya menepuk sofa yang ada di sisinya.

"Ada apa?" tanya Camila tanpa berani menatap Arman.

"Apa kita ada masalah sebelumnya? Aku perhatikan dari tadi kamu murung terus ya." Arman menatap lekat Camila.

Camila tak segera menjawab. Dia menyandarkan tubuh di sandaran sofa sambil mengela napas berat. "Gak ada sih, Mas. Aku juga gak murung kok," elak Camila dengan tatapan lurus ke depan. Dia tidak berani menatap Arman.

"Udahlah. Cerita saja. Sejak aku pulang ngajar sampai detik ini, gak ada tuh kamu senyum dan sumringah seperti biasanya," desak Arman tanpa melepaskan pandangan dari istrinya itu.

Camila memejamkan mata sambil mengela napas beberapa kali. Rasanya begitu lelah menghabiskan waktu seharian ini di rumah dengan segala ulah Sinta. Ada banyak hal yang terjadi di rumah ini hingga membuat Aminah ikut campur mengatur Camila.

"Aku capek, Mas. Hari ini banyak sekali yang terjadi. Mbak Sinta itu lebay banget!" keluh Camila.

"Lebay bagaimana?" Arman mengernyitkan kening.

Camila menceritakan apa saja yang diminta kakak iparnya itu selama sehari ini. Camila sampai kuwalahan menghadapi keinginan kakak iparnya itu yang selalu berdalih 'ngidam'. Aminah pun tak membela dirinya. Justru mertuanya itu menyuruh agar mengikuti segala keinginan Sinta.

"Ibu itu gak kasihan sama aku, Mas. Kalau melayani ibu aku sih gak masalah ya, lah ini mbak Sinta loh! Ibu itu gak adil sama aku!" ujar Camila dengan suara bergetar menahan tangis.

"Ya mungkin ibu gak bermaksud seperti itu, Sayang. Memang siapa lagi kalau bukan kamu yang membantu di rumah ini?" Arman mencoba memberikan pengertian kepada Camila agar lebih santai menghadapi masalah seperti ini.

Tentu saja Camila tidak bisa menerima ucapan Arman. Dia menatap heran suaminya itu. Wajahnya semakin murung setelah mendengar penuturan yang dianggapnya kurang pantas itu. "Kamu kok ngomong begitu sih? Kamu pikir aku ini pembantu di rumah ini?" cerocos Camila. Emosinya mulai tersurut.

"Loh! Kok jadi salah paham begini? Gak ada yang menganggap kamu sebagai pembantu di rumah ini. Jangan berlebihan begitu dong!"

Emosi Arman terpancing. Dia tidak habis pikir kenapa istrinya berubah menjadi sensitif seperti ini. Bukannya mendapat solusi, mereka berdua justru bertengkar lagi. Perdebatan itu tak kunjung selesai, yang ada pembahasan semakin melebar kemana-mana.

"Kalian ini kenapa?" Tiba-tiba saja Aminah menghampiri Arman dan Camila yang sedang berdebat di ruang keluarga lantai dua. "Suara kalian itu terdengar sampai bawah loh!" ujar Aminah.

Camila terhenyak dari tempat duduknya ketika melihat kehadiran Aminah di sana. Masa bodo jika sikapnya dianggap buruk oleh Aminah. Satu hal yang pasti, pergi ke kamar jauh lebih baik dari pada memperburuk keadaan di sana.

"Kalian bertengkar masalah apa?" tanya Aminah seraya menatap Arman. "Kasih tahu istrimu tuh, agar lebih sopan! Main pergi begitu saja!" ujar Aminah.

"Gak ada apa-apa, Bu. Tadi hanya salah paham saja," kilah Arman seraya beranjak dari tempat duduknya.

"Ya sudah kalau begitu. Jangan sering-sering bertengkar. Bikin ibu jantungan saja!" tutur Aminah sebelum pergi meninggalkan Arman.

Arman mencengkram rambutnya setelah sang ibunda hilang dari pandangan. Putra bungsu Aminah itu membuang napas kasar untuk meredam emosinya. Dia sendiri merasa heran karena beberapa hari ini lebih sering bertengkar dengan Camila. Padahal tidak ada masalah serius di antara mereka.

"Ini tidak boleh dibiarkan," gumam Arman seraya berjalan menuju kamar.

Arman bergegas menyusul Camila ke dalam kamar. Melanjutkan kembali perdebatan yang sempat terjadi. Tak lupa Arman memberitahu tentang sikap Camila yang dianggapnya kurang pantas itu. Cukup lama mereka beradu pendapat hingga pada akhirnya Arman lah yang mengalah.

"Terus kamu mau nya bagaimana?" tanya Arman.

"Aku tuh pengennya kamu membela aku, Mas. Kamu tuh seharusnya gak memihak ibu atau mbak Sinta. Kalau aku ngeluh cukup dengarkan saja. Jangan dikasih nasihat. Kamu itu gak pernah tahu rasanya ikut mertua, Mas!" ujar Camila dengan diiringi isak tangis.

Kalau sudah seperti ini, Arman tak memiliki jawaban lagi. Dia hanya diam sambil mendengarkan celotehan Camila yang tidak ada habisnya. Entah sudah berapa ribu kata yang dikeluarkan istrinya itu.

"Sekali lagi aku minta maaf kalau sikapku menyinggung perasaanmu. Oke, aku gak akan mengulang kesalahan ini. Tapi aku minta kamu lebih bersabar lagi menghadapi semua orang yang ada di sini. Jangan diulangi lagi sikap yang seperti tadi," ucap Arman seraya menatap wajah Camila.

...🌹TBC🌹...

Terpopuler

Comments

Bunda dinna

Bunda dinna

Dear Camila..Jangan buang air mata percuma hanya untuk orang yg sengaja menyakiti..
Jika Sintia sama bu Aminah main halus,,balas dengan cara halus..
Harus punya jiwa licik juga buat menghadapi tipe orang macam mereka

2024-12-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!