Di dalam ruangan kepala penampungan yang remang-remang, Erhu berdiri dengan gelisah. Rak-rak penuh dengan berkas-berkas dan dokumen mengelilingi mereka, sementara sebuah meja besar di tengah ruangan dipenuhi dengan tumpukan uang. Sintra berdiri di dekat pintu, matanya terus-menerus melirik ke arah koridor yang sepi.
Erhu merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. “Apa yang kita lakukan di sini, Sintra? Kita bisa dapat masalah jika seseorang melihat kita,” bisiknya, suaranya bergetar.
Sintra mendekat, wajahnya tegang. “Makanya cepat masukkan uang ini ke dalam kantong yang kamu bawa, Erhu,” desaknya, suaranya rendah namun penuh tekanan.
Erhu memandang tumpukan uang di meja, tangannya gemetar saat ia meraih beberapa lembar. “Tapi ini bukannya uang penampungan. Bagaimana dengan anak-anak nanti?” tanyanya, matanya penuh keraguan.
Wajah Sintra memerah karena marah. Biasanya, Erhu selalu menurut dan pendiam, tetapi kali ini ia berani menentang. “Tutup mulutmu! Bukannya kau juga senang dengan makanan, minuman, dan barang yang kau beli? Turuti saja perintah Qisqa seperti biasanya,” bentaknya, suaranya tajam seperti pisau.
Erhu menggelengkan kepala, rasa muak terlihat jelas di wajahnya. “Aku sudah muak. Dari awal kau bilang akan mengajak aku bekerja dengan bayaran yang besar, tapi kau malah menjebak ku, melayani wanita gila itu,” katanya, suaranya penuh kebencian.
Sintra mendekat lebih dekat, menatap Erhu dengan mata tajam. “Kau pikir kau punya pilihan? Kita semua terjebak di sini. Jika kau tidak mau ikut, kau tahu apa yang akan terjadi padamu,” ancamnya, suaranya rendah dan berbahaya.
Erhu menelan ludah, rasa takut merayapi dirinya. Ia tahu ancaman Sintra bukanlah omong kosong. Dengan enggan, ia mulai memasukkan uang ke dalam kantong, sementara Sintra mengawasinya dengan mata tajam, setiap gerakan Erhu diawasi dengan cermat.
Saat semua yang dibutuhkan sudah mereka dapat dan hendak keluar, Erhu tiba-tiba berhenti. Ia memandang tumpukan uang di kantongnya, lalu dengan gerakan cepat, ia menghamburkan uang itu ke udara. Lembaran-lembaran uang berterbangan, memenuhi ruangan.
Wajah Sintra berubah merah padam. “Apa yang kau lakukan?!” teriaknya, suaranya penuh kemarahan. Ia melompat ke arah Erhu, mencekiknya dengan tangan yang gemetar. “Kau gila?! Kita bisa tertangkap karena ini!”
Erhu terbatuk, berusaha melepaskan cengkraman Sintra. “Aku… aku tidak bisa… terus seperti ini,” katanya terengah-engah. “Aku muak dengan semua ini.”
Sintra semakin mempererat cengkramannya, matanya berkilat marah. “Kau akan menyesal telah melakukan ini, Erhu,” desis dengan cepat meraih leher Erhu
Kuku Sintra menancap dalam, meninggalkan jejak ungu membekas di leher Erhu. Mata Erhu melotot, urat-urat lehernya menonjol seperti tali busur yang tegang. Napasnya tersengal, suara serak merintih, "Lepas... sakit..." Sintra hanya tersenyum sinis, jari-jarinya semakin mengerat, seolah ingin mencekik nyawa lawannya. "Nikmatilah," bisiknya, suaranya dingin menusuk.
Langkah kaki tergesa mendekat. Sintra menoleh, jantungnya berdebar kencang. Dengan cepat, ia menarik tali itu, tubuh Erhu terayun perlahan. Napasnya tersengal, tangannya gemetar saat merapikan posisi terakhir. “Sempurna,” gumamnya, tatapannya kosong menatap wajah pucat Erhu.
Langkah kaki tergesa mendekat. Sintra menoleh, jantungnya berdebar kencang. Dengan cepat, ia menarik tali itu, tubuh Erhu terayun perlahan. Napasnya tersengal, tangannya gemetar saat merapikan posisi terakhir. “Sempurna,” gumamnya, tatapannya kosong menatap wajah pucat Erhu.
Melihat itu semua, Karie tertegun, matanya membelalak. “Ini mimpi…” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. Ia merasakan dingin yang menusuk, seolah-olah kenyataan di depannya adalah bayangan yang tak nyata.
Suara lain terdengar, lembut namun tegas, tidak lain itu Elinalis. “Itu ingatan yang terkubur, bangunlah sebelum kau kehilangan seseorang lagi.”
Karie merasakan tarikan kuat, seolah-olah ada yang menariknya keluar dari kegelapan. Perlahan, bayangan di sekitarnya memudar, digantikan oleh cahaya yang semakin terang. Ia terbangun di pangkuan Mishka, yang wajahnya pucat menahan sakit. Darah mengalir deras dari luka di kaki Mishka, membasahi tanah di bawahnya, menciptakan genangan merah yang semakin besar.
Karie baru sadar bahwa ia juga terluka. Rasa sakit menjalar di tubuhnya, namun ia menggertakkan giginya, menolak untuk menyerah, ia mengalirkan Mayanya ke arah pecahan kaca jendela dan gelas di dalam bar. Dengan gerakan cepat dan lincah, meski tubuhnya berteriak kesakitan, ia menangkis pedang Qisqa yang meluncur ke arahnya, menghasilkan dentingan tajam yang memecah keheningan.
Kaca itu hancur, dan pedagang kehampaan itu terlempar keluar. Karie tahu ia harus mengakhiri semua ini sebelum para penjaga Tjimala datang. Dengan cepat, ia menciptakan ruang dengan banyak cermin yang memantulkan refleksi bayangan objek, menciptakan ilusi ruang tak berujung. Namun, Qisqa hanya perlu mengangkat tangannya untuk memanggil kembali pedangnya. Pedang itu menghancurkan setiap cermin yang ada di hadapannya.
Karie bergerak menuju Sintra. “Ini sudah berakhir,” katanya dengan tegas. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, Qisqa berhasil menemukannya. Dengan cepat, Karie memanfaatkan refleksi dirinya dari cermin untuk mengunci pergerakan Qisqa.
“Kamu telah menyakiti banyak orang. Sekarang, rasakan penderitaan yang mereka alami karena ulahmu,” kata Karie, suaranya penuh kemarahan dan kepedihan. Karie menggunakan kekuatan mayanya untuk merefleksi sifat Maya milik Qisqa, mengubahnya menjadi pedang dan mengambilnya.
Qisqa terkejut, matanya melebar saat tubuhnya berubah menjadi pedang. “Bagaimana bisa?” teriaknya, mencoba bergerak namun terjebak oleh refleksi Karie.
Karie melangkah menuju Sintra yang ketakutan, memohon ampunan sambil menawarkan badge pengenal milik Karie. “Tolong, ampuni aku. Kamu tahu aku hanya mengikuti perintahnya. Aku akan beritahu keberadaan Aileen,” kata Sintra dengan suara gemetar.
Karie menatap Sintra dengan tajam. “Kamu tidak usah bicara…” Mata mereka saling bertemu, namun mata kiri Karie tiba-tiba berubah, menampilkan pola seperti bunga Kamboja. Sintra terdiam, terpaku oleh pandangan Karie, mengungkapkan semua ingatannya. Kilasan-kilasan masa lalu Sintra terpantul di mata Karie, memperlihatkan setiap tindakan kejam yang pernah dilakukan.
Para penjaga tiba, namun yang mereka dapati hanya Sintra yang basah kuyup seperti orang linglung, tidak ingat apapun kejadian yang telah ia lewati. Mereka saling bertukar pandang, bingung dengan apa yang terjadi, sementara Sintra hanya berdiri di sana, gemetar dan kehilangan arah.
Karie bergegas menuju lokasi Aileen berada, langkahnya mantap meski tubuhnya masih terasa sakit. Mishka, yang tertatih-tatih di belakangnya, mencoba mengejar. “Kenapa kamu masih mengikuti? Tidak kembali ke penampungan?” tanya Karie, suaranya sedikit melembut.
“Kamu lupa kaki ku terluka. Kau bisa temui dia besok,” jawab Mishka dengan senyum lemah, berusaha menahan rasa sakit yang menjalar di kakinya. Karie berhenti sejenak, menatap Mishka dengan rasa bersalah yang samar.
“Maaf, aku terlalu terburu-buru,” kata Karie, membantu Mishka untuk duduk. “Kita akan temui Aileen besok. Sekarang, kita perlu istirahat.”
Mereka berdua duduk di bawah pohon besar, mencoba mengumpulkan tenaga untuk perjalanan esok hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments