"Aku gak pernah ketemu mama sejak Papa mengusir mama dari rumah. Aku masih kecil saat itu, masih kelas 3 SD. Aku gak tahu apa masalah mereka, tapi aku sering dengar, Mama dan Papa berantem." Mata Aiden mulai berkaca-kaca saat ingat masa kecilnya di tengah keluarga yang tidak harmonis. "Aku selalu sembunyi saat mereka berantem. Aku takut Nom, karena gak sekali dua kali, aku melihat mamaku penuh luka setelah berantem dengan Papa." Air matanya mulai menetes, seiring dengan dada yang terasa amat sesak. Dia masih ingat kata terakhir yang diucap Mamanya sebelum pergi hari itu.
"Sampai kapanpun, Aiden adalah anak Mama. Dan Mama adalah ibunya Aiden. Maafin Mama Nak, Mama udah gak kuat. Tolong jangan benci Mama."
Setelah perpisahan itu, Aiden tak pernah lagi bertemu mamanya.
"Papa bilang, Mama udah nikah. Mama udah punya keluarga baru." Aiden tertawa sekaligus menangis. Disaat dia setiap hari menunggu kepulangan mamanya di halaman, dia malah mendengar kabar jika mamanya sudah memiliki keluarga baru. Hatinya sangat hancur kala itu.
Naomi menggeser duduknya lebih dekat dengan Aiden, lalu memeluk pria itu.
"Di dunia ini, gak ada orang yang bener-bener sayang sama aku, Yang."
"Itu gak bener. Aku sayang sama kamu, Ai. Dan aku yakin, mama kamu juga sayang. Tapi mungkin ada sesuatu hal yang membuat dia tak bisa menemui kamu."
Naomi melepas pelukannya, menyeka air mata Aiden. "Aku sayang sama kamu, Ai, sayang banget."
"Kamu gak akan pernah ninggalin aku kan, Yang?"
Naomi menggeleng, "Gak akan, kecuali kamu yang ninggalin aku."
Aiden terkekeh sambil menangkup kedua pipi Naomi. "Itu gak akan mungkin terjadi. Sampai kapanpun, aku gak akan pernah ninggalin kamu. Hatiku cuma satu, dan udah aku berikan sama kamu."
"Dasar, pinter gombal," Naomi menyingkirkan tanngan Aiden. "Udah ah, yuk belajar lagi."
Aiden mengangguk, lalu lanjut belajar hingga hampir magrib.
"Kamu gak gerah, Yang? Kenapa sih, gak dilepas saja hijabnya?" tanya Aiden saat tengah mengemasi buku. Mereka sudah harus menyelesaikan belajar karena Naomi harus pulang. "Disinikan hanya ada aku sama kamu."
Naomi menggeleng, "Gak boleh, bukan mahram."
"Halah, gak ada yang lihat juga, Yang. Nanti kamu juga bakal jadi istri aku."
"Jodoh itu ditangan Allah, jangan mendahului." Naomi mengambil cermin kecil di dalam tasnya, merapikan hijab sebelum pulang. Tadi dia izin pada mamanya jika pulang telat karena ada kerja kelompok.
Aiden meraih tangan Naomi lalu menggenggamnya. "Emang kalau kayak gini, bukan mahram boleh?"
"Ya gak boleh." Naomi menarik tangannya.
"Tapi kamu boleh-bolehin aja aku pegang tangan kamu. Bahkan kayak gini."
Cup
Aiden mengecup pipi Naomi, membuat cewek itu seketika langsung mendelik.
"Ai!" pekik Naomi sambil memegang pipi yang baru saja dicium Aiden.
"Cuma pipi, Yang," Aiden senyum-senyum.
"Ya tapi gak boleh."
"Boleh, dikit aja kok."
"Jangan diulangi lagi."
"Gak janji."
Naomi mendelik kesal melihat Aiden malah cengengesan.
"Lepas hijabnya dong... Pengen lihat kamu gak pakai hijab."
Naomi menggeleng. "Aku udah terbiasa berhijab sejak kecil. Rasanya, gak enak aja kalau buka hijab, apalagi di depan laki-laki."
"Aku cuma pengen lihat seperti apa saat kamu gak pakai hijab. Jangan-jangan, dalamnya kayak upin ipin."
Naomi langsung melotot dikatain seperti upin ipin alias botak. "Aku ada rambutnya kali."
"Ya udah, lihat. Buktiin kalau emang kamu ada rambutnya. Gak ada orang kok."
"Gak boleh!" tekan Naomi.
Aiden membuang nafas kasar. "Pelit."
"Udahlah, aku gak mau kesini lagi kalau kamu maksa-maksa."
"Jangan dong," Aiden langsung panik. "Iya, gak maksa lagi."
...----------------...
"Nom, kamu liburan kok gak pernah di rumah sih?" tanya Mamanya saat Naomi bersiap-siap keluar. Sudah 2 hari ini Naomi libur karena anak kelas XII ujian akhir.
"Nom ada tugas kelompok, Mah. Biasalah, kalau liburan, guru ngasih tugas biar pas libur, gak bener-bener libur, masih belajar."
"Kenapa gak ajak teman kamu belajar kelompok di sini aja sih, Mama pengen kenalan sama mereka."
"Kapan-kapan ya, Mah. Sekarang, udah terlanjur janjian di rumah Sekar."
Mama Zalfa menghela nafas panjang, lalu mengangguk. "Nom, kamu gak punya pacarkan?"
Deg
Naomi kaget ditanya seperti itu. Jangan-jangan, mamanya tahu jika minggu lalu, hampir seminggu full, dia ke apartemen Aiden setiap pulang sekolah. Dan hari ini, dia sebenarnya juga bohong, tidak ada kerja kelompok, tapi dia ke apartemen Aiden.
"Mama sering lihat, kamu senyum-senyum sendiri sambil main HP. Ngapain, chatingan? Sama cowok?"
Naomi tertawa untuk menyembunyikan kegugupannya. "Chatingan sama temen-temen di grup kelas, Mah."
"Benerankan, kamu gak punya pacar?"
Naomi menggeleng dengan penuh rasa bersalah. "Enggak kok, Mah."
"Jangan pacaran dulu. Sekolah yang bener. Nanti habis ujian, Kak Nayla pulang. Kalau bisa, lebih sering di rumah, temani kakak kamu. Sebentar lagi, dia mau ke Mesir, jadi makin susah ketemunya. Selagi ada waktu, jangan disia-siakan."
Naomi mengangguk faham.
Seperti kemarin, Naomi sudah berada di apartemen Aiden sebelum cowok itu pulang. Dia memasak disana, agak gila sih, sampai segitunya. Tapi memang saat ini, Naomi sedang tergila-gila sampai sedikit lupa diri. Mengabaikan nasihat mamanya, berbohong, bahkan kemarin, dia sudah membuka hijab di depan Aiden.
Bosan menunggu Aiden yang belum pulang juga, Naomi masuk ke kamar cowok itu. Ini memang bukan pertama kalinya dia masuk ke sana. Biasanya, dia sholat di kamar Aiden saat berada di apartemen cowok itu. Tapi hari ini, bukan untuk sholat, tiba-tiba saja, dia ingin melihat-lihat isi kamar Aiden. Saat membuka laci nakas, matanya dibuat membulat sempurna karena keberadaan benda yang tak seharusnya dimiliki anak seusia mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Mega Prasetya
ingat nasihat ibumu nom, kasihan ibummu dirumah
2025-03-22
0
Eti Alifa
aduh naomi kok buka hijab sihh kasihan ortumu😭
2025-01-17
0
🌷💚SITI.R💚🌷
astsghfirullah..imany trnyata goyah jg
2024-12-01
0