Dulu, entah sekarang masih ada atau tidak, setiap dua bulan sekali di musim panen, sebuah kebun besar yang menanam puluhan buah selalu membuka kebun secara cuma-cuma dan membebaskan pengunjung mencabut buah sesenang hati, secara gratis. Itu yang selalu aku tunggu-tunggu setiap bulan. Ya, hanya Eja satu-satunya teman terbaik yang mudah diajak ke mana-mana.
“Eja! Dengar baik-baik! Aku ke kanan ambil semangka, kamu ke kiri ambil Melon.” Eja mengangguk paham. Tapi setelah matanya melihat situasi dari ujung ke ujung kebun, wajahnya nampak bimbang. Aku tanya pelan-pelan, "kenapa?" Dia malah menunjukkan matanya yang berkaca-kaca.
"Memang harus, ya, mencar-mencar?" wajahnya gelisah. Astagfirullah, mataku rasanya ingin sekali melotot, terus memukul kepalanya biar sadar.
"Apaan sih, Ja. Biar lebih cepat, mangkanya harus pisah, bagi-bagi tugas," gerutku setengah melotot.
"Tapi di sana ramai," ujar Eja gelagapan. Jari telunjuknya mengarah ke sembarang tempat.
Aku menghela napas lalu berusaha meyakinkan si Eja. "Ya sudah gini, aku ralat, kamu ambil semangka, aku yang ambil melon, di bagian semangka gak ada orang, sepi, kamu aman, kamu tinggal pilih yang besar, terus tarik, langsung aja ke sini lagi," jelasku seksama.
Eja lagi-lagi mengangguk paham. Daripada dia mengalami kebimbangan lagi, aku langsung lari tanpa aba-aba menuju Barisan para melon. Namun sedikit-sedikit aku melirik jauh mengamati Eja yang masih berjalan pelan mencari semangka pilihan. Yang jelas, berjalan pelan-pelan dengan wajah bingungnya seperti biasa. Huh, sebenarnya dia yang terlalu ke putra soloan atau aku yang terlalu putri mekanik?
Aku sudah excited banget mencari melon, sementara Eja harus ngurusin semangka dengan segala keruwetannya. Sudah gitu, beberapa menit kemudian, pas aku lagi sibuk seneng-senengnya mencabut melon, tiba-tiba teriakan Eja nyaring banget, sampai semua orang nengok ke arah kita.
"Elija!" teriakannya mirip di film horor yang tengah klimaks. Aku langsung mempercepat gerakan mengambil melon lalu berlari mendekatinya.
“Kenapa Eja?" tanyaku melihatnya sudah mengeluarkan aliran deras air mata. Tangannya gemetar, dan semangka yang ia target belum terlepas dari akar.
"Tanahnya Elija!"
Dia teriak kepadaku. Oh, aku lupa. Eja takut tanah basah. Kenapa sedari tadi dia diam saja kalau memang aku belum menyadari hal itu.
“Kenapa sih, kamu selalu maksa aku melakukan hal-hal aneh kayak begini, aku sudah bilang, aku gak suka tanah basah, jijik. Aku sama kamu beda El, nggak bisa disamakan.” Eja marah-marah, lantas pergi tanpa aku. Meninggalkanku bersama semangka dan melon, beserta sorotan mata semua pengunjung.
***
Kalian tahu, wajar tidak di usiaku yang saat itu menduduki 13 tahun sudah dihadang pengalaman memalukan yang akan membekas mungkin seumur hidup. Dia bilang hal aneh? Sejahat itu ternyata seorang Eliza yang pemberani di mata Reza, anak laki-laki teraneh yang pernah aku temui. Tapi sejujurnya semua harus tahu, di balik keberanianku itu, pasti ada banyak ketakutan saat merasakan kelakuan Reza akan terbawa sampai dia dewasa.
Setelah di kebun, tidak ada lagi tempat lain atau hal lain yang aku kunjungi bersama Eja selain di sekolah. Dia enggan menyapaku, menatapku, dan mengajak berbicara. Bahkan dia rela terus-terusan mendapat nilai merah karena tidak mau meminta bantuan padaku. Semarah itu ternyata hanya karena tanah basah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Kustri
lucu jg takut ama tanah basah☹️
2024-08-16
0