COLD WORD ----5

Detak jantung yang semakin menggebu, mempermainkan nafas tama, membuatnya sesak dan kewalahan menangani permainan pikirannya sendiri.

Dalam pelariannya menuju rumah, Tama berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang semakin mencekik. Kerongkongannya terasa kering. Entah kemana perginya, ia seakan kehilangan seluruh ludahnya, membuat lidahnya mengelu dan mengering sepenuhnya.

Tama berusaha membasahi kerongkongannya dengan air putih yang ia bawa. Namun rasanya tenggorokannya semakin sakit untuk menelan. Tama mengguyurkan sisa air minumnya kekepalanya, berharap semoga mampu membantu kepalanya menjadi dingin dan segar, namun semua sia-sia.

Tama menepuk dadanya berkali-kali dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya berpegangan pada sebuah pohon rindang yang berdiri kokoh di pinggir jalan sebagai penghijauan.

Rasa sakit ini sungguh menyiksa Tama. Nafasnya semakin terengah, pandangannya mulai kabur, sekuat tenaga ia berusaha menguasai diri,mengembalikan kesadarannya, namun ketakutan akan banyak hal semakin menyerang pikiran Tama.

"Aaaaaarrrrrggggghhhhh" dengan susah payah, akhirnya Tama mampu berteriak, mengeluarkan sedikit beban yang mengisi seluruh benaknya.

Air mata pun ia biarkan menari bebas di pipinya, pipi tangguh seorang pria dengan hati yang terlanjur mengeras karena berbagai macam pengalaman masa lalu yang begitu tajam menekan seluruh kesadarannya.

Berbagai peristiwa kelam yang sering mengambil kesadaran dan akal sehatnya. Membuatnya sering kali kalap, tanpa sadar menyakiti diri sendiri bahkan sekali pernah hampir mengambil nyawanya sendiri.

Bersyukur seluruh keluarga Tama begitu menyayangi dan tak henti mendukungnya, mendampingi di masa-masa sulit Tama. Hingga akhirnya satu tahun terakhir ini, Tama mulai mampu bangkit perlahan, kembali berusaha hidup normal seperti pria lajang pada umumnya.

"Tama..." pak Badi berlari dan segera menghampiri Tama.

Pak Badi memapah Tama, merangkul anak bujangnya yang tentunya sedikit lebih tinggi dari dirinya.

Perasaan getir pun kembali menyambangi batin pak Badi. Ia kembali ingat bagaimana perjuangan putranya agar bisa kembali pulih, meski pun belum sepenuhnya pulih.

Dengan tertatih, pak Badi terus mengajak Tama ngobrol, dengan maksud agar sang putra tetap fokus dan tidak kehilangan kesadarannya.

"Jalan perlahan, mamah sudah menunggu, mengajak kita sarapan." kata Pak Badi berusaha tenang.

"Hmmm..." Tama tak mampu membuka mulutnya, namun tetap harus berusaha menjawab sang ayah.

"Mamahmu sudah masak bubur rumput laut kesukaanmu, ditambahkan kedelai yang digoreng tanpa minyak, habiskan semua itu." pak Badi terus mencari bahan obrolan agar Tama mampu mengalihkan perhatiannya dari semua ketakutan yang akan membuat Tama kembali jatuh.

Tama menjawab dengan memberikan anggukan kecil untuk ayahnya, tangan kiri Tama memijat perlahan tengkuknya, dengan maksud membantu mengurangi rasa sakit di kepalanya yang semakin memuncak.

"Ah, iya, mamahmu juga membelikanmu kerupuk kulit kesukaanmu. Itu... Kerupuk yang biasa kamu menyebutnya kerupuk angin." pak Badi terlihat tabah terus mengajak Tama berbicara.

Hanya kalimat-kalimat ringan dan sepele yang dibicarakan pak Badi, dengan senyum yang sedikit dipaksakan, ia terus memapah dan membimbing sang putra.

.

.

.

Di rumah, bu Yani sudah selesai mempersiapkan sarapan di meja makan. Tinggal menunggu putra dan suaminya kembali kerumah.

Selesai membereskan dapur, Bu Yani duduk di teras rumah sambil melihat-lihat album foto lama keluarganya.

Bu Yani tersenyum-senyum ketika melihat foto bayi anak-anaknya.

"Ini foto MarLina saat masih bayi. Sungguh menggemaskan, dan cantik." gumam Bu Yani sambil mengusap-usap dan memandangi foto putri pertamanya.

"Nenek... Nenek!!!" suara gemas kedua cucunya membuyarkan lamunan Bu Yani.

"Eh, sudah cantik dan ganteng cucu nenek, sini-sini..." sambut Bu Yani sambil merentangkan kedua tangannya.

Bu Yani memeluk kedua cucunya dengan penuh kasih sayang.

"Kami mau berangkat sekolah,Nek." kata Berta si cucu pertama masih sambil memeluk Bu Yani.

"Hmm... Baiklah... Baik-baik Kaka di sekolah. jawab Bu Yani sambil mencium kening cucu pertamanya. "Adek juga mau sekolah?" tanya bu Yani sambil mengusap kepala cucu keduanya.

"Iya, Nenek. Biar punya banyak teman,seperti kakak." jawab polos Miko, adiknya Berta.

"Hmm... Cucu-cucu nenek sangat menggemaskan." Bu Yani berulang kali mengecup kening ke dua cucu nya dengan perasaan bahagia.

Marlina adalah putri pertama Bu Yani dan pak Badi. Marlina sudah menikah beberapa tahun lalu, dan memiliki seorang putri berusia 8 tahun, dan seorang putra berusia 3 tahun.

Rumah tempat tinggal Marlina hanya bersebelahan dengan Bu Yani.

"Mah, kami berangkat sekolah dulu ya." Kata Jun suami Marla berpamitan pada Bu Yani.

"Baiklah, hati-hati." jawab Bu Yani pada menantunya.

Saat itulah Tama muncul bersama pak Badi. Melihat hal yang tak biasa, Bu Yani segera menghampiri putra dan suaminya. Jun yang lebih dulu melihatnya, membantu pak Badi memapah Tama yang semakin pucat.

Merasa tak kuat lagi, Tama merebahkan diri, telentang di lantai teras rumah. Tama masih mengatur nafas, detak jantung, dan melawan sakit di kepalanya yang sangat menyiksa.

"Tama..." suara lirih Bu Yani sambil mengusap kepala putranya. Pilu rasanya melihat Tama seperti itu.

"Om... Om..." Berta dan Miko memeluk tubuh Tama tak peduli dengan semua orang orang dewasa yang terlihat panik.

Namun hal tak terduga, membuat lega semua orang dewasa itu. Tama menyambut pelukan kedua ponakannya yang ikut telentang di sisi kanan dan kirinya.

"Meski masih dengan mata yang enggan terbuka, namun Tama tampak bisa perlahan kembali.

"Kalian mau kemana? Om mencium aroma wangi dari tubuh kalian." Suara Tama mulai keluar.

"Ke sekolah dong, Om." jawab polos Miko.

"Hmmm? adek mau sekolah?" Tama membuka mata. Dahinya mengernyit, mengingat sesuatu.

"Om lupa ya, hari ini kan hari pertama adek masuk sekolah." Berta menjelaskan.

"Ah, om benar-benar pelupa." jawab Tama sambil tersenyum tipis.

"Om nggak mau nganter kita?" tanya Miko lalu naik dan duduk di perut Tama.

"Om capek, dek. Kita berangkat sama papah saja." kata Berta seakan sangat mengerti kondisi Tama.

"Baiklah, om ikut ke sekolah. Tapi tunggu om mandi sebentar." jawab Tama lalu berusaha bangkit.

"Yeeeeaaay!!!!" seru girang kedua bocah sambil memeluk Tama.

Pemandangan yang sangat melegakan bagi semua orang dewasa yang hadir disana. Mata Bu Yani yang berkaca-kaca merasa sangat berterima kasih pada kedua makhluk kecil polos yang selalu bisa membuat Tama tersenyum tanpa diminta.

Marlina yang muncul dari balik pagar, segera menghampiri ibunya dan memeluknya. Kedua perempuan itu saling menguatkan. Tanpa ada yang membuka mulut, orang-orang dewasa itu saling mengerti harus bagaimana.

Pagi yang begitu berat untuk Tama dan keluarga itu. Namun semua berakhir dengan air mata haru saat kepolosan dua makhluk kecil mampu membuat Tama kembali bangkit dengan cepat.

Tama memang sangat menyayangi kedua ponakannya. Tama tak pernah menolak sekalipun semua keinginan kedua ponakannya. Tak jarang bermain boneka, masak-masakan, petak umpet, semua rela Tama lakukan demi menyenangkan kedua ponakannya.

Begitu juga dengan Berta dan Miko. Kasih sayang tulus dua bocah ini pun tanpa syarat. Setiap ada Tama dirumah, kemanapun Tama bergerak, kedua bocah ini akan selalu mengekor Tama.

"Om... Jangan lama-lama mandi, nanti kesiangan!" seru Berta di depan kamar mandi.

"Ya! Ini sudah selesai." jawab Tama, tak lama keluar dari kamar mandi.

Tama menuju kamarnya untuk berganti baju, tak ketinggalan Berta dan Miko pasti mengekor.

"Nona Luna, siapa Om? Ada telepon." kata Berta sambil memandangi hape Tama yang diletakkan Tama di meja kamarnya.

"Diamkan saja!!" tanpa sadar Tama sedikit membentak kedua ponakannya dengan suara keras. Kedua mata Tama membulat sempurna.

Berta dan Miko terdiam karena kaget. Miko menghampiri kakaknya dan langsung memeluknya.

...****************...

To be continue....

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

nunggu UP burn out, cus ksni

2024-06-17

0

Mira NR

Mira NR

lumayan Thor. beda genre ya dari yang burn out.
👍👍

2024-06-12

0

Mira NR

Mira NR

parahnya, trauma ditinggal pacar atau apa ya?😰

2024-06-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!